
Bagi sebagian orang, rumah hanyalah tempat singgah. Sibuknya aktifitas di luar sana, membuat mereka menganggap rumah hanya sebagai tempat untuk istirahat sebelum esok kembali pada segudang aktifitas masing-masing.
Sebagian lagi menganggap rumah adalah surga dunia mereka. Tempat ternyaman untuk melepas penat dan rindu pada orang-orang yang mereka cintai.
Tempat kembali pulang dalam segala rasa yang mereka bawa dari luar sana. Berharap kehangatan dan cinta di dalam rumah dapat kembali membuat mereka merasa damai dan bahagia.
Pun ada yang menganggap rumah hanya sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari. Berteduh dari derasnya hujan. Dan berlindung dari dinginnya malam.
Mereka tidak peduli bentuk rumah yang mereka tempati. Asal masih bisa memberikan fungsi sebagaimana mestinya, itu sudah cukup bagi kalangan menengah ke bawah.
Tapi ada juga orang yang menganggap rumah adalah bentuk pencapaian hidup yang mereka dapatkan. Semakin banyak pundi uang yang mereka dapat, semakin besar dan mewah juga rumah yang mereka bangun.
Berharap keluarga yang mereka miliki akan bahagia dengan rumah yang mereka persembahkan. Rumah untuk mereka berkumpul dan berbagi rasa.
Di ulang tahun ke dua anak-anak. Alvaro rayakan di rumah baru yang berhasil ia bangun dari jerih payahnya selama ini.
Bukan pesta meriah nan mewah. Hanya acara syukuran atas bertambahnya usia buah hatinya yang tumbuh sehat. Sekaligus syukuran atas rumah yang akan mereka tempati mulai hari itu.
Hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat, serta anak-anak panti asuhan untuk mendoakan segala kebaikan dan keberkahan untuk keluarga mereka. Terutama si kecil yang tengah berulang tahun.
Tapi yang empunya hajat malah masih sibuk dengan kerjaan. Membuat sang istri bersungut-sungut dengan benda pipih yang menempel di telinganya.
"Jam berapa ini Alvaro Kaisar! kenapa belum pulang juga? tamu juga udah pada dateng semua?!" seru Tiara setengah berbisik. Merasa tidak enak pada tamu undangan karena waktu yang ngaret dari waktu yang di tentukan.
"Iya sayang, maaf. Ini baru selesai. Aku langsung pulang."
Tiara menghela napasnya kasar dan langsung mematikan panggilan telepon.
Padahal Alvaro sendiri yang memilih hari dan waktu acara. Tapi malah pria itu sibuk di hari special untuk mereka.
"Gimana sayang?" tanya daddy Alvin yang menyusul Tiara ke halaman samping.
"Al baru selesai dad.." jawab Tiara lesu.
Rasanya wanita itu sangat kecewa kepada suaminya. Alvaro terlalu disibukan dengan pekerjaan dan tugas akhir.
Merasa tidak penting lagi bagi hidup Alvaro. Merasa suaminya tidak selalu ada untuknya dan anak-anak. Bahkan di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk keluarga kecil mereka.
Untung disediakan wahana permainan. Sehingga para tamu undangan yang memang kebanyakan anak-anak tidak bosan karena menunggu.
"Ya sudah, kita mulai dulu saja doa'nya. Bisa-bisa selesai malam kalau kita nungguin Alvaro."
__ADS_1
Tiara mengangguk dengan lesu. Rengkuhan di bahu dari sang ayah membuat ia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Memasang senyum manisnya untuk semua orang. Terutama untuk kedua jagoan kecilnya.
"Mama.. Ayoo.. iup iyin (tiup lilin)" teriak abang yang berlari dan memeluk kakinya. Di susul juga oleh adiknya.
Tiara tersenyum dan mengangguk. Menggandeng kedua buah hatinya yang sudah sangat tampan dengan jas semi formal yang di padu dengan kaos putih dan celana jeans warna navy senada dengan jas. Tak lupa juga sneaker putih.
***
Acara di mulai dengan doa bersama yang di pimpin seorang pemuka agama. Mendoakan segala kebaikan untuk keluarga kecil mereka.
Alvaro datang tepat anak-anak tengah menyanyikan lagu ulang tahun.
Bukan hanya tamu undangan, kedua bocah kecil itu pun terlihat sangat senang dengan banyaknya teman yang berada di rumah mereka. Tidak ada rasa takut atau pun malu bagi keduanya. Mereka dengan percaya diri ikut bernyanyi dengan suara cadel yang kadang lebih terdengar seperti gumaman.
"Maaf telat." bisik Alvaro yang mencium pipi istrinya yang cemberut melihat kedatangannya.
Tapi raut wajah itu berubah cerah kembali begitu melihat betapa antusiasnya kedua buah hati mereka ketika akan meniup lilin.
Acara selesai tepat sebelum petang. Jika saja Alvaro tidak terlambat, pasti acara sudah selesai lebih awal.
Seluruh tamu undangan satu persatu meninggalkan kediaman mereka. Termasuk orang tua mereka. Karena baru kamar utama dan anak-anak yang sudah di isi. Juga kamar asisten rumah tangga juga baby sitter anak-anak.
"Oke mama." seru keduanya bersamaan.
Tiara meminta babysitter yang menjaga kedua anaknya untuk membersihkan tubuh abang dan ade dan mengganti baju mereka. Sedangkan wanita itu beralih masuk ke kamarnya untuk menyiapkan baju suaminya yang tengah mandi.
Meski hatinya sedang merasa dongkol. Namun tugasnya sebagai seorang istri tidak bisa ia abaikan.
"Terimakasih sayang." bisik sebuah suara dengan tangan yang memeluknya dari belakang.
Tiara menghela napas. "Kamu beneran kerja kan, Al?"
Alvaro yang bingung dengan pertanyaan istrinya langsung melepas pelukan dan mengangkat dagu yang sebelumnya pria itu sandarkan pada bahu istrinya.
"Kerja lah sayang. Memangnya aku kemana lagi?" jawab Alvaro dengan tangan yang memutar tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan.
"Tapi kenapa cuma kamu? Apa gunanya punya karyawan kalau mereka gak bisa hendle masalah kantor?" tadi hampir seluruh karyawan penting Alvaro datang ke acara mereka. Termasuk Dika dan Bobby.
"Kalau gak ada acara penting kaya sekarang, oke lah Al, aku bisa ngerti! tapi ini acara anak-anak. Acara penting mereka!" ada getaran emosi dalam suara Tiara. Sejak suaminya berangkat pagi tadi, wanita itu sudah sangat jengkel. Di tambah keterlambatan suaminya yang membuat emosinya pada ujung tanduk dan siap ia muntahkan.
"Iya sory. Aku emang salah. Tapi tadi klien penting-"
__ADS_1
"Dan kami gak penting buat kamu?! kami kalah penting dengan klien itu?! uang lebih segalanya buat kamu dibanding aku sama anak-anak?!" sela Tiara dengan suara yang mulai meninggi.
"Kamu tuh kenapa sih Ra. Suami kamu ini kerja cari uang juga buat kamu sama anak-anak. Jadi kurang penting apa kalian buat aku?!" suara Alvaro ikut meninggi.
Sudah lelah dengan segudang pekerjaan dan tuntutan klien yang banyak maunya.
Inginnya pulang ke rumah bisa menemukan kedamaian. Sambutan hangat istri dan tawa anak-anak yang selalu bisa mengembalikan semangatnya.
Bukan malah mendapat serentetan kemarahan seperti ini. Jiwa lelah dan mudanya juga bisa bersikap yang nantinya akan ia sesali.
Tiara tertawa sumbang. "Seharusnya kamu sadar dengan kesalahan kamu. Bukan malah ikut menaikan nada suara kamu itu!"
"Dan seharusnya kamu bisa melayani suami kamu dengan baik setelah seharian kerja diluar sana demi kamu sama anak-anak. Bukan malah marah-marah gak jelas kaya gini!" Alvaro tidak mau kalah. Rasa lelah dan banyaknya pikiran dengan pekerjaan membuat ia tidak bisa mengontrol emosi yang sebelumnya tidak pernah ia tunjukan pada sang istri.
"Kamu gak takut sikap manis wanita di luar sana yang sering kali berusaha menggoda aku akhirnya aku tanggapi hanya karena sikap kamu yang seperti ini?"
Tiara terlihat kaget. Tidak menyangka suami yang selama ini ia percaya seutuhnya bisa berbicara seperti itu. Seakan-akan menegaskan bahwa banyak wanita yang lebih baik darinya di luar sana.
Tidak hanya Tiara, Alvaro sendiri juga kaget dengan apa yang ia ucapkan. Sungguh tidak ada niat sedikitpun untuk mengatakan hal seperti tadi. Tidak pula ia pernah berniat selingkuh. Itu murni hanya karena dirinya sedanag emosi.
Setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya, lagi-lagi tawa sumbang itu terdengar.
"Jadi sekarang kamu nyesel nikah sama cewek yang gampang ngambek kaya aku? dan sekarang kamu mulai berpikir bawa wanita di luar sana lebih manis dan lebih ngertiin kamu dari pada istri yang sudah gak lagi menarik di mata kamu ini? istri dari dua anak yang kamu miliki sekarang, iya?!" Tiara kembali tertawa. Tawa sumbang yang semakin lama semakin terdengar menyakitkan. Tawa yang kini di bumbui dengan air mata yang mulai luruh.
"Bu-bukan maksud aku gitu yank." Alvaro yang terlihat menyesal mencoba meraih istrinya. Tentu saja Tiara langsung menghindar.
"KELUAR!! Keluar dan silahkan cari wanita yang lebih menarik dari aku!! keluar!!" Tiara mendorong tubuh Alvaro, melempar baju yang masih di pegangnya dan langsung mengunci pintu.
Wanita itu terduduk di balik pintu. Meremas kain berlapis di dadanya. Berharap rasa nyeri pada hatinya bisa menghilang.
Tidak peduli seberapa keras gedoran dan teriakan Alvaro yang memintanya untuk membuka pintu. Suara yang semakin lama semakin melemah dan memelas.
Ini adalah pertengkaran hebat mereka setelah empat tahun menjalin rumah tangga. Pertengkaran yang menyisakan sakit di hati keduanya. Juga pertengkaran yang membuat bocah kecil di kamar sebelah menangis ketakutan mendengar teriakan ayah dan ibu mereka.
*
*
*
Wiih panjang yaa.. Biar kalian gak kangen wkwkwk
__ADS_1