
Pengalaman Alvaro yang hanya mengenal cinta dari Tiara, yang bahkan tidak berawal dengan baik. Membuat jiwa mudanya bergejolak.
Keceriaan Pita, kenyamanan saat bertukar cerita dengan gadis itu, membuat Alvaro serasa menemukan hal yang baru.
Jika dengan sang istri dari awal menikah yang di obrolkan hanya tentang bagaimana mereka membangun masa depan. Dan kini setelah ada anak-anak, mereka lebih sering membicarakan tumbuh kembang buah hati.
Sedangkan obrolan bersama Pita adalah obrolan-obrolan ringan sesuai usia mereka. Usia dimana seharusnya belum ada beban berat yang mereka tanggung di atas punggung mereka.
Beban berat apa yang dimiliki mahasiswa seperti mereka jika bukan tugas kuliah. Masalah terbesar apa yang mereka hadapi jika bukan cinta masa remaja.
Alvaro masuk ke dalam restoran yang cukup ramai. Selain hari libur, itu juga merupakan jam makan siang, jadi hanya ada beberapa meja saja yang kosong.
"Alvaro!" seru seorang gadis melambaikan tangannya dari salah satu meja.
Alvaro yang baru datang langsung menghampiri dan duduk di kursi yang berseberangan.
"Maaf telat." ucap pria itu begitu duduk.
"Gak papa, gue juga belum lama kok." jawab gadis itu dengan senyum cerahnya.
Pita dandan maksimal hari itu. Bisa makan berdua dengan Alvaro di hari minggu seperti ini rasanya seperti mendapat hadiah keliling dunia dari orang tuanya. Sesuatu hal yang sangat langka dan menyenangkan. Tentunya.
Mereka berdua kemudian memesan menu. Sembari menunggu pesanan mereka di buat, obrolan-obrolan kecil mulai mengalir.
"Ooh iya, Al. Gue mau kasih lo undangan. Minggu depan gue ulang tahun. Gue gak mau tau lo harus datang." ucap Pita dengan nada di buat mengancam. Membuat Alvaro terkekeh dan menerima undangan dengan warna soft pink itu.
"Lo baru 20 tahun?" tanya Alvaro tidak percaya. Pasalnya Pita meski terlihat manja, tapi wawasan gadis itu bisa dibilang cukup luas. Dan Alvaro mengira Pita seusianya atau tidak seusia istrinya.
"Yap. Gue kelihatan lebih tua ya?" bukan tersinggung, gadis itu malah tertawa renyah.
"Gue pernah locat kelas pas SMP, makanya gue setahun lebih cepet. Tapi pas SMA udah kebanyakan main." tawa gadis itu semakin terlihat geli. Membuat Alvaro ikut tertular tawanya.
"Kalo lo, berapa tahun?" meski sebenarnya gadis itu sudah tahu, tapi sebagai basa-basi boleh kan? atau agar dia tidak begitu terlihat menggilai pria di depannya ini.
"Gue sebentar lagi 22. Pas TK sempet ngambek, gak mau naik kelas. Soalnya sayang banget sama gurunya." keduanya kembali tertawa. Metertawakan alasan konyol Alvaro itu.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti ketika pesanan mereka datang. Dan kembali berlanjut setelah pelayan yang mengantarkan pesanan berlalu.
Sebelum pulang, Alvaro sempat memesan makanan untuk anak serta istrinya.
"Buat siapa, Al?" tanya Pita setelah Alvaro selesai memesan.
"Orang rumah." Alvaro merasa tidak perlu menjelaskan. Karena ia kira Pita sudah tahu statusnya sebagai suami dan seorang ayah. Karena tidak ada yang tidak tahu akan hal itu di jurusan dan angkatan mereka.
"Makanan anak kecil?" tanya Pita ketika mengingat Alvaro menyebutkan pesanannya.
"Iya. Buat jagoan-jagoan gue." ucapnya dengan nada bangga.
Pita mengangguk-angguk saja. Ia pikir mungkin untuk adik atau keponakannya.
Memang jika melihat Alvaro, siapa yang akan mengira jika pria itu sudah mempunyai anak.
Muda, tampan, berprestasi, entreprenuer muda. Siapa yang akan memilih menikah muda dengan itu semua.
Mereka berpisah di area parkir. Karena mereka membawa kendaraan masing-masing.
***
Meski dengan wajah cemberut, tapi tangan wanita muda itu cekatan membuka makanan yang suaminya bawa.
"Iya. Tadi di telfon temen, mau ngasih undangan." jawab Alvaro jujur.
"Undangan nikah?" Tiara langsung memakan makanan dari restoran yang ia kenali dari nama yang tertera.
"Undangan ulang tahun, minggu depan. Temenin aku ya?" pinta Alvaro yang merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Sedangkan kedua buah hati mereka sedang tidur siang.
"Boleh aja." jawab Tiara sekenanya.
Tapi mungkin Tuhan masih ingin menyenangkan hati Pita. Pada hari ulang tahun gadis itu, Tiara ada praktikum dan tidak bisa ikut menemani sang suami.
Alhasil, Alvaro berangkat ke acara dengan Bobby.
__ADS_1
"Lo jangan terlalu dekat sama Pita, Al. Takut tuh cewek salah sangka sama lo." nasehat Bobby yang melihat kedekatan sahabatnya semakin hari semakin dekat dengan Pita.
"Salah sangka gimana. Gue sama dia cuma temenan kan, gak lebih."
"Tapi kalau gue lihat. Tuh cewek kayaknya suka sama lo, Al. Kelihatan baget lagi, dari tatapan matanya."
Alvaro malah tergelak. Merasa sahabatnya ngaco dan tidak masuk akal.
"Gue cuma bantuin dia bikin skripsi. Ya, bisa di bilang kita saling tukar pendapat lah dalam ngerjainnya."
"Terserah lo lah kalau susah di bilangin. Tapi kalau sampai bu bos tau dan bom waktu itu meledak. Jangan sampe lo nangis-nangis minta bantuan gue."
"Tenang aja. Tiara gak seberlebihan itu kalau cemburu. Dia tau gue gak bakal main api."
Bobby berdecih. "Yang lo lakuin sekarang namanya main api begoo! lo kira lo gak cerita tentang Pita ke bini lo, itu bukan main api!"
Jalanan cukup macet di depan sana. Acara memang di adakan pada siang hari. Katanya Pita lahirnya siang. Jadi lebih tepat ngerayainnya juga siang hari.
"Main api gimana? gue gak cerita, karena ini bukan hal yang penting. Gue gak pernah ada kontak fisik sama Pita. Kita cuma ngerjain skripsi bareng. Itu juga masih tau batas waktu."
Memang Alvaro selalu mengerjakan skripsi bersama Pita di kantor. Dari siang hingga sore hari. Itu pun bukan di dalam ruangannya. Mereka mengerjakan di ruang tunggu lantai atas Kaisar Company. Ditempat semua karyawan bisa melihat.
Setelah sore hari Pita pulang. Baru Alvaro mengerjakan pekerjaannya yang bahkan kadang hingga larut malam, di kantor bersama Bobby atau kadang Dika.
Dia bukan bermalam dengan Pita di kantor. Dia masih tahu batasan sebagai seorang suami kepada lawan jenisnya.
Meski tak di pungkiri, rasa nyaman saat bersama Pita itu ada. Gadis ceria yang juga selalu menularkan senyum dan tawa untuknya.
Mereka sampai di hotel berbintang. Pita memang anak pengusaha batu bara. Jadi tidak heran, meski sudah seusianya masih merayakan ulang tahun di tempat yang prestisius pula.
Mereka berdua memasuki ballroom yang di hias dengan warna soft pink untuk segala pernak pernik. Sepertinya Pita penggemar warna tersebut. Melihat dari undangan dan juga dekorasi ruangan.
Yang datang di acara tersebut juga bukan hanya teman-teman kuliah mereka. Banyak kalangan sosialita dan juga beberapa pengusaha yang mungkin undangan dari orang tua Pita. Diantara mereka ada yang Alvaro kenal sebagai klien bisnisnya. Dan juga, ayah dan ibu mertuanya juga menjadi salah satu di antara banyaknya undangan.
*
__ADS_1
*
*