
Tiara tak pernah tahu rasanya hidup tanpa cinta. Karena meski tanpa seorang ayah, mommy-nya selalu melimpahkan cinta yang tiada habisnya.
Ketika keluarganya sempurnya. Cinta yang ia dapatkan pun berkali-kali lipat.
Bahkan meski sudah menikah, cinta kedua orang tuanya tak pernah berkurang sedikitpun.
Baik secara materi dengan daddy Alvin yang membantu menjembatani usaha sang suami.
Juga secara keutuhan rumah tangga dengan menegur yang salah.
Kedua orang tua Tiara seakan berusaha membuat semua berjalan sempurna untuk putri sulung mereka. Dan akan mereka lakukan untuk anak mereka yang lain juga.
Mommy Shevi tersenyum kikuk, ketika semua menatapnya tajam. Apa lagi yang bisa di lakukan orang tua jika bukan menasehati.
Bukan hak mereka untuk menentukan pilihan. Memaksa Tiara untuk bertahan dengan Alvaro yang melukainya. Atau memintanya untuk pergi menjauh dari pria itu.
Itu bukan sikap yang bijak untuk mereka sebagai orang tua.
"Mommy sih tadinya gak tau yang mereka sering ngerjain TA bareng. Mommy hanya pernah melihat bagaimana gadis itu berusaha mengambil perhatian suami kamu."
"Dimana?" ucap Tiara mewakili yang lain yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
"Kamu ingat saat suami kamu ngajakin kamu buat datang ke pesta ulang tahun temennya?" mommy Shevi balik bertanya sebelum menjawab. Dan Tiara hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mommy sama daddy datang di pesta yang sama. Itu pesta ulang tahun gadis yang suka sama suami kamu. Mommy juga kesel banget liat gadis itu nempel mantu mommy terus. Tapi itu tempat umum dan banyak klien daddy. Jadi mommy gak mau mempermalukan menantu dan diri mommy sendiri."
"Tunggu. Tunggu. Jadi Alvaro ngajakin Tiara buat datang di pesta ulang tahun selingkuhannya?" Indah bingung dibuatnya. Mana ada pria sebodooh itu. Mengajak istri ke ulang tahun selingkuhan. Apa lagi, Tiara bilang gadis itu tidak tahu Alvaro sudah berkeluarga. Kecuali memang tidak ada perselingkuhan di sini.
"Itu Alvaro yang begoo? apa emang sebenernya Alvaro gak ada rasa sama cewek itu?" Nurin menyuarakan maksud di dalam pertanyaan sahabatnya. Karena ia juga berpikiran yang sama.
__ADS_1
Mommy Shevi menjentikan jarinya dan menunjuk Nurin dengan senyum seperti 'Nah. itu maksudku'.
"Kalau memang Alvaro benar-benar selingkuh, dia gak mungkin lah ngajakin kamu ke acara itu." terang mommy Shevi. "Cari mati namanya nemuin selingkuhan sama istrinya, tuh!" imbuhnya.
Semua mengangguk setuju. "Dulu, sebelum aunty Indah menikah. Bunda aunty pernah pesen. 'kenyangin suami kamu sebelum keluar rumah. Baik perut maupun hasratnya."
"Kita gak pernah tahu kejamnya bibit pelakor di luar sana. Dan kita juga tidak bisa menyalahkan suami kita jika tergoda begitu saja." sejak mengalami lika-liku rumahtangga, Indah menjadi lebih bijak dan tidak gesrek lagi bagi sahabat-sahabatnya. Atau kegesrekannya bisa menyesuaikan waktu dan tempat.
"Kita harus introspeksi diri kita sendiri juga. Mungkin kita kurang merawat diri. Atau kita kurang memperhatikan suami kita." Indah mengangkat bahunya. "Suami juga lebih butuh perhatian dari anak-anak lho Ra.. Kadang, justru anak-anak bisa lebih mengerti jika kita sedang lelah. Tapi tidak dengan suami."
Tiara menunduk mendengar nasihat akhir dari sahabat mommy-nya. Karena semenjak sibuk kuliah, ia hampir tak pernah memperhatikan suaminya. Bahkan akhir pekan saja ia masih sering gunakan untuk bermain dengan anak-anak dan mengerjakan tugas kuliah dari pada memanjakan suami dan mendengar keluh kesah suaminya itu. Ia kira yang penting kebutuhan biologis suaminya terpenuhi, itu sudah cukup.
Beberapa bulan ini pengetahuan tentang perusahaan suaminya bahkan nol. Padahal biasanya setiap ada proyek baru atau jika ada masalah dengan pekerjaan, Alvaro selalu berbagi dengannya.
Beberapa kali memang Alvaro mencoba mengajaknya mengobrol jika malam sebelum tidur. Tapi karena dia sering lelah, Alvaro tidak pernah lagi bercerita kesehariannya. Ia kira Alvaro memahaminya.
"Aku emang sibuk dan jarang merhatiin dia sih aunty." Aku Tiara dengan menunduk dan suara yang terdengar lemah.
Semua tersenyum mengerti. Masalah rumahtangga untuk anak seusia Tiara pasti terasa berat. Bagi mereka yang sudah cukup matang saja masih berat untuk menjalani.
Apa lagi untuk usia Tiara. Yang kebanyakan baru merasakan namanya putus cinta dan menangis selama seminggu penuh.
Tiara termasuk gadis kuat. Bisa menghadapi masalah dengan begitu tenangnya. Tanpa lari pulang ke rumah orang tua untuk mengadu. Atau tanpa mengucap kata cerai yang sering menjadi kasus pernikahan muda yang kebanyakan menyelesaikan masalah dengan perceraian.
Usia labil yang belum siap menghadapi sebuah masalah yang rumit. Apa lagi bawa dua nama keluarga dan mengorbankan anak-anak yang terlahir di dalamnya.
Tapi lihat Tiara..
Dia bahkan masih mau tinggal di rumah bahkan ranjang yang sama. Masih mau datang ke rumah orang tua berdua dengan suaminya.
__ADS_1
Buat Indah itu sih keren abis. Dia saja jika di posisi Tiara pasti lebih memilih berlari pulang dan mengadu.
"Tidak ada kata terlambat untuk kalian saling memperbaiki. Kalian masih muda, masih panjang perjalanan yang akan kalian lewati." kali ini Nay angkat bicara.
"Masih banyak kerikil tajam di depan sana." Lidia ikut menimpali.
"Kalau Alvaro sudah mengaku salah dan mau meminta maaf juga memperbaiki diri. Sekarang giliran kamu yang harus lapang melupakan semua dan memperbaiki rumah tangga kamu lagi." wanita yang begitu serupa dengan mommy-nya ikut menambahkan dengan memeluk mama muda itu dari samping.
"Tapi kan, Alvaro juga sadar karena daddy yang nyadarin. Bukan karena hatinya sendiri!" Tiara masih belum bisa membuka maaf untuk suaminya.
"Terlepas dari siapa dan karena apa suami kamu itu sadar, alasan itu gak penting." mommy Shevi tidak setuju dengan sanggahan putrinya.
"Kadang kita memang perlu orang lain untuk menyadarkan diri kita jika berbuat salah! karena kita tidak selalu sadar dengan kesalahan yang kita perbuat. Atau jika pun kita sadar, kita sudah terlalu jauh berjalan dan gak ada lagi jalan untuk putar arah. Dan kalau sudah seperti itu, kita cuma bisa menyesal dan gak bisa memperbaiki semuanya." usapan lembut di kepala mommy Shevi berikan.
"Yang paling penting, suami kamu sudah menyadari kesalahannya. Kalau saat kamu nakal dulu pas kecil, terus mommy tegur. Memang kamu tetap gak tau kalau yang kamu lakuin itu salah?" Mommy Shevi mengambil perumpamaan untuk membuat anaknya mengerti.
Tiara menggeleng. "Tau mom."
"Sama halnya dengan Alvaro! meski dia sadar karena di tegur daddy. Bukan berarti dia tidak benar-benar menyadari kesalahannya. Gak akan ada orang jahat di dunia ini kalau semua menyadari kesalahannya sendiri."
"Dan kamu harus merasa beruntung dengan daddy menyadarkan Alvaro. Suami kamu jadi tidak semakin tersesat." Shera masih mengusap lengan keponakannya itu.
Tiara tidak menyesal datang ke rumah orang tuanya malam itu. Dan ia beruntung memiliki mommy juga para sahabatnya yang sangat menyayangi dan peduli padanya.
*
*
*
__ADS_1