
Tiara dan Alvaro memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya. Lagi pula sudah lama mereka tak menginap di sana. Mungkin malah belum pernah sejak mereka pindah rumah.
Mereka tidur mengapit kedua buah hati mereka. Memberi usapan lembut pada anak yang berada tepat di sebelah mereka.
Tiara tengah bersenandung menyanyikan lagu pengantar tidur kesukaan anak-anak. Wanita itu bukannya tidak tahu jika suaminya sejak tadi menatapnya lekat. Hanya saja ia masih enggan untuk menatap balik suaminya.
Bukan karena nasehat mommy Shevi dan teman-temannya tidak berarti. Hanya gengsi Tiara masih terlalu tinggi untuk mengaku kalah dan memaafkan. Apa lagi tiba-tiba dirinya kembali baik. Wanita itu tidak mau harga dirinya jatuh.
Ketika Fari yang tengah Alvaro berikan usapan lembut sudah tertidur, tangan pria itu dengan ragu terulur menyentuh pipi Tiara yang mulai ikut terlelap.
Tiara sempat menegang saat merasakan tangan suaminya, tapi wanita itu membiarkan saja. Ia tidak akan terlalu keras membenci suaminya. Ia akan mencoba kembali membuka diri dan memperbaiki hubungan rumah tangga mereka. Meski tidak dengan terang-terangan dan signifikan.
Alvaro tersenyum, tahu istrinya belum tidur dan membiarkan dirinya menyentuh wanitanya itu. Hatinya menghangat dengan penerimaan istrinya yang mulai ada kemajuan. Tidak langsung menepis atau menatapnya tajam.
"Aku kangen yank." bisik Alvaro di tengah keheningan malam yang membelai telinga Tiara dan menggetarkan hati wanita itu.
Tiara menggigit bagian dalam bibirnya. Mencegah agar isaknya tak pecah. Berusaha keras menahan air mata agar tidak tumpah.
Dia juga rindu. Dia juga tersiksa.
Kecupan hangat mendarat di dahinya. Terdengar bisikan setelahnya.
"Besok aku wisuda. Kamu mau kan, datang?" suara Alvaro terdengar lemah. Tahu jika permintaannya itu tidak akan terpenuhi.
"Tapi kalau kamu gak mau juga gak papa kok. Nanti biar aku sama ayah sama ibu aja." gumaman putus asa itu kembali terdengar.
Tiara bahkan kaget saat tahu Alvaro akan di wisuda besok. Sejahat itu memang dirinya hingga tidak tahu kapan jadwal suaminya untuk wisuda.
"Tapi kalau kamu mau datang. Aku udah siapin bajunya. Besok mungkin aku berangkat pagi. Mau jemput ayah sama ibu dulu soalnya."
Tiara tidak tahu harus menjawab apa. Hingga wanita itu benar-benar terlelap dan tak menemukan kata yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka.
***
Tiara menggigit jarinya dengan satu tangan melipat di dada. Berjalan mondar-mandir dalam kamar luas miliknya. Jam menunjukan angka sepuluh pagi. Tapi Alvaro sudah pergi sebelum ia bangun tadi.
Dia bingung akan datang atau tidak. Anak-anak sudah melesat bermain di bawah. Tidak merasakan kegundahan yang ibunya rasakan.
__ADS_1
Tiara mendekat ke tempat tidur. Duduk bersila menatap kotak berisi baju yang Alvaro siapkan untuknya jika mau datang ke acara wisuda suaminya.
"Lho. Kakak belum siap-siap?" mommy Shevi yang baru memasuki kamar anaknya kaget melihat Tiara masih duduk di atas tempat tidur lengkap dengan baju tidur. Padahal acara wisuda jam satu siang. Belum lagi perjalanan yang pastinya macet. Setidaknya mereka harus berangkat jam sebelas atau setengah dua belas untuk mengantisipasi waktu jika terjebak macet.
"Mommy mau datang di wisuda Alvaro juga?" Tiara bahkan lebih kaget melihat mommy-nya sudah cantik dengan kebaya modern yang warnanya senada dengan yang diberikan Alvaro untuknya, hanya minus make up karena memang belum waktunya berangkat.
"Datang lah. Masa anak mommy wisuda, mommy gak datang. Udah sana mandi. Biar anak-anak mommy yang urus."
Tiara menatap mommy Shevi dengan bibir tergigit. Dia belum memutuskan apakah akan datang atau tidak.
"Kenapa lagi?"
***
Alvaro sudah pasrah ketika jam setengah satu dan istrinya belum terlihat. Mungkin wanita itu masih terlalu marah padanya.
Pria itu mengajak ibu dan ayahnya untuk masuk dan duduk di kursi untuk para undangan, sebelum dirinya bergabung dengan para wisudawan yang lain.
Ketika dirinya di panggil sebagai lulusan terbaik pun tidak ada rasa bahagia di hatinya.
Rasa sedih itu masih menggerogoti dirinya saat ayah dan ibu memeluknya bangga. Memberinya selamat juga ciuman hangat dari ibunya.
"Ibu bangga sama abang. Meski semakin banyak tanggungjawab yang abang emban, tapi abang tetap bisa menyelesaikan kuliah dengan baik." suara bangga dibalut getaran haru dari ibu, mampu mengundang mata Alvaro untuk ikut memanas.
"Terimakasih bu. Terimakasih untuk setiap doa yang ibu panjatkan. Terimakasih untuk dukungan yang selalu ibu berikan. Abang tidak akan seperti ini jika bukan karena ibu."
Bagi Alvaro. Ibu adalah segalanya. Wanita yang paling mengerti dirinya.
Bahkan saat hari ini Tiara tak hadir menemaninya pun ibu tidak menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Selamat bang. Ayah bangga sama kamu." suara berat ayahnya merasuk ke hatinya. Ayah yang biasanya jarang seklai memuji anak-anaknya kini bilang bangga.
"Weiii selamat broo.. Cumlaude nih.. Keren.. Keren.. Dari dulu emang tak terkalahkan." Dika memeluk dan menepuk punggung Bos sekaligus sahabatnya selama dua tahun ini.
Bukan hanya Dika. Tapi hampir semua anak-anak Kaisar Company datang untuk memberinya selamat. Dan tak ingin ketinggalan untuk berfoto dengannya yang memakai Toga.
"Selamat pak bos.. selamat bang Bobby.." Nila membawa buket bunga untuknya dan Bobby yang sama di wisuda hari ini.
__ADS_1
Anak-anak bergantian memberi mereka selamat. Juga teman seangkatannya yang sama-sama di wisuda hari ini.
"Selamat man.. Selalu pemenang. Padahal gue udah berusaha keras buat ngalahin lo." Alvaro hanya terkekeh menanggapi selorohan teman-temannya.
"Eeh bidadari dari mana tuh cantik bener."
"Mau nyamperin gue kayaknya." dengan percaya dirinya teman Alvaro merapikan toga yang ia kenakan.
Alvaro hanya terkekeh dan tak ikut melihat siapa yang teman-temannya maksud. Masalah dengan Pita membuat Alvaro lebih tidak mempedulikan kehadiran wanita di sisinya kecuali sang istri.
"Dasar kuya! bini temen sendiri mau lo embat!" Bobby menoyor kepala temannya itu.
"Eh? bini siapa?" tanyanya cengo.
"Bini pak bos, lah!"
Seketika Alvaro langsung berbalik setelah Bobby berkata pak bos. Maksudnya dia kan? dan berarti wanita yang di maksud temannya...
"Tiara!" seru Alvaro dengan hati yang berbunga-bunga. Senyumnya terkembang sempurna. Apa lagi melihat wanita itu juga tersenyum manis padanya. Senyum yang sudah lama tak ia lihat. Senyum yang sangat ia rindukan.
Tak salah temannya bilang Tiara bidadari. Wanitanya terlihat sangat cantik dengan kebaya modern yang ia belikan.
Wanita itu berdiri di apit mommy Shevi dan daddy Alvin dengan anak-anak yang berdiri di depan mereka.
Pria itu berjalan dengan langkah lebar menghampiri istri dan anak-anaknya. Tak ada rasa sungkan untuk langsung memeluk sang istri. Selagi istrinya tidak mungkin menolak pelukannya di tempat umum dan di hadapan orang tua mereka.
"Selamat papa.. Maaf telat datang."
Sungguh tiada yang lebih membuatnya bahagia dari pada panggilan papa yang keluar dari mulut istrinya. Dia bahkan rela mempertaruhkan segala yang ia miliki agar selalu mendengar panggilan itu dari sang istri.
"Makasih..." balas Alvaro "Makasih..." hanya itu yang bisa Alvaro ucapkan. Rasa terimakasih untuk Istri yang sudah mau memaafkannya. Dan terimakasih untuk istri yang sudah mau hadir di acara terpentingnya.
*
*
*
__ADS_1