DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Apartemen


__ADS_3

Kadang hatinya lelah dengan perang dingin yang ia kibarkan. Tapi hatinya juga belum bisa menerima kesalahan sang suami begitu saja.


Inginnya bisa seperti dulu lagi. Rindu suasana hangat di dalam rumah yang di penuhi gelak tawa mereka berempat.


Bukan hanya anak-anak dan Alvaro. Atau hanya anak-anak dan dirinya.


Tiara ingin semua kembali seperti semula. Mereka bisa tertawa bersama dengan hati yang sama-sama membutuhkan. Sama-sama merasa bahagia bukan hanya kepura-puraan.


Tapi masalahnya, susah untuk Tiara melupakan semua yang sudah terjadi kemarin. Kalaupun ia bisa memaafkan. Mungkin hubungan mereka tidak akan kembali menghangat seperti dulu. Atau sulit untuk kembali seperti semula.


Karena selamanya bayang-bayang kesalahan Alvaro akan membekas dalam hati dan pikirannya.


Selama ini ia terlihat tegar hanya demi anak-anak. Tertawa dan kembali ceria di dalam rumah hanya karena tidak ingin masalahnya berpengaruh pada kedua jagoannya.


Cukup dirinya yang tersakiti. Jangan sampai anak-anaknya ikut merasakam sakit melihat kedua orang tuanya bertengkar. Seperti dirinya saat kecil dulu.


"Lho kok lewat sini?" Tiara yang baru tersadar dari lamunannya protes karena jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju rumah mereka.


"Kita ke apartemen dulu. Udah lama kan, kita gak kesana berdua."


"Tapi gue capek. Pengen pulang terus istirahat!"


Alvaro menghela napas. "Mommy minta kita ke rumah nanti malam. Ada acara katanya. Anak-anak juga udah pada di sana. Kalau kamu istirahat di apartemen akan lebih dekat ke rumah mommy kan?"


"Acara apaan?"


Alvaro mengedikan bahunya. "Bibi bilang sahabat-sahabat mommy mau pada ngumpul di rumah. Dan kita di suruh datang."


***


Entah kapan belinya, Alvaro mengeluarkan bahan makanan dari jok belakang.


Disaat suaminya sibuk menurunkan barang-barang belanjaan, Tiara lebih dulu berlalu menuju unit mereka.


Matanya meremang begitu membuka pintu apartemen. Aroma pewangi ruangan menyambut kedatangannya. Aroma yang sama seperti dulu.

__ADS_1


Suasananya masih sama seperti saat mereka tinggalkan terakhir kali. Dulu sekali, sebelum anak-anak lahir.


Tiara meraba setiap benda yang dulu ia tata dengan tangannya.


Foto pernikahannya. Foto-foto kebersamaan mereka berdua.


Hatinya semakin bergemuruh ketika mengingat seperti apa mereka dulu.


Terkekeh dalam tangis ketika mengingat hubungan mereka ketika masih jauh dari kata suami-istri. Ketika hubungan mereka masih seperti Tom and Jerry.


Tiara ingat betul di karpet ruang tamu itu ia sering belajar bersama suaminya. Atau hanya sekedar mengobrol dan menemani Alvaro bermain game hingga larut malam ketika mereka belum mengenal dunia malam sebuah pernikahan.


Jemarinya menyusuri punggung sofa. Tempat dimana ia sering berteriak kesal atau bahkan bermanja pada suaminya.


Tiara membekap mulutnya ketika isak tangis akan lolos dari bibir yang sudah ia gigit erat.


Masa-masa itu. Masa dimana mereka saling memiliki satu sama lain. Masa dimana mereka berjuang berdua. Berpegangan dengan satu dan lainnya agar tidak terjatuh.


Dimana hanya dirinya tempat bersandar sang suami di saat lelah. Begitu juga sebaliknya. Hanya Alvaro tempat ia mengadu segala keluh kesah.


Ditempat ini semua dimulai. Mimpi mereka untuk memiliki masa depan, ada di rumah itu.


Rumah pertama mereka. Rumah yang sang suami sediakan untuk mereka yang hanya seorang pelajar dan terpaksa menikah dan hidup mandiri.


Banyak kenangan yang mereka miliki di apartemen ini. Itu alasan kenapa Tiara tidak ingin suaminya menjual dan menggantinya dengan yang lebih besar.


Baginya tak akan berarti sebesar apa pun rumah itu jika tanpa kenangan. Dan kenangan di dalam apartemen ini akan ia kenang hingga tua bahkan mau menjemput nanti. Karena kenangan tentang mereka begitu berharga baginya.


Apartemen ini masih terawat dan selalu dalam kondisi bersih. Karena setiap dua atau tiga hari sekali akan ada orang kepercayaan Alvaro yang akan membersihkan tempat itu.


Tiara beralih menuju kamar mereka. Membuat air matanya kian menderas. Di tempat tidur itu mereka biasa tidur bersama. Dari jarak yang sangat jauh-Alvaro tidur di ujung kanan dan Tiara di ujung kiri dengan bantal sebagai pembatas mereka. Hingga jarak terdekat dan saling melekat tak ingin terpisahkan.


Tiara mendudukan dirinya di atas ranjang ternyaman yang mereka miliki saat itu. Menumpahkan tangisnya di tempat peraduan cinta mereka dulu.


Menangisi kenapa hubungan hangat dan indah yang mereka miliki di tempat ini, bisa sedingin dan semenyesakan sekarang?

__ADS_1


Alvaro yang baru memasuki apartemen dan meletakan bawaannya di dapur mencari dan menemukan istrinya tengah sesenggukan di dalam kamar.


Pria itu kaget dan langsung berlari memeluk istrinya. "Hei. Kenapa? apa yang sakit? atau ada yang yakitin kamu?" tanyanya khawatir.


"Kamu! kamu yang jahat yang udah ngerubah kenangan manis kita jadi buruk! kamu yang jahat, Al! kamu!"


Hati Alvaro serasa di remas mendengar teriakan sang istri disela sedu sedannya.


"Kenapa kamu tega! dan kenapa kamu lupain janji kamu untuk gak bikin aku nangis karena hal yang sama kaya mommy! nangis karena pengkhianatan!"


Setelah beberapa lama kejadian itu berlalu. Ini pertama kalinya Tiara histeris dan menumpahkan segala kesedihannya lewat tangis yang memilukan serta teriakan.


Dia biarkan istrinya memukuli dadanya di dalam dekapannya. Biarkan istrinya berteriak untuk mengurangi sesak dan beban di hatinya.


"Disini kan, Al?" Tiara melepas paksa pelukan suaminya dan menunjuk arah tempat tidur dengan tatapan tajam serta terluka. "Disini kamu ngucapin janji itu! tapi kenapa kamu lupain, HAH?! KENAPA?!"


Alvaro yang tak kuasa melihat istrinya seperti itu kembali memeluk wanita yang tengah histeris itu. Berucap lirih di telinga sang istri.


"Aku janji akan bahagiain kamu lagi. Aku janji gak akan sakitin kamu lagi. Aku janji akan mengukir setiap kenangan yang kita lewati selalu indah untuk di kenang. Aku janji yank."


"Tolong maafin aku. Tolong jangan seperti ini." pinta Alvaro dengan suara bergetar. Air mata juga tak kuasa untuk lelaki itu bendung.


Sungguh hatinya teramat sakit melihat istrinya seperti ini. Melihat tatapan istrinya yang begitu terluka. Melihat gadisnya menangis dengan pilu.


Hatinya tersara tersayat-sayat. "Gue emang brengseek! gue udah nyakitin wanita yang pantas untuk gue puja!" makinya dalam hati.


Keduanya saling menumpahkan tangisan. Yang satu menumpahakan rasa bersalahnya. Dan yang satu menumpahkan segala rasa sakit yang menghimpitnya. Membunuhnya secara perlahan.


Cahaya jingga yang menerobos masuk lewat celah jendela menjadi saksi bisu kesedihan yang terjadi di dalam kamar itu.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2