
Kabar dari mami Lyra yang mengatakan bahwa Shevi tidak mau makan dan banyak melamun karena tidak diijinkan masuk menjenguk oleh Shera membuat hati Alvin tak tega.
Haruskah dia menuruti keinginan Shevi agar Shera tidak marah dan membenci Shevi lagi ?? Haruskah dia mengorbankan perasaannya untuk Shevi agar gadis itu mau makan dan kembali ceria ??
Alvin menghela nafasnya sedih saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Shevi saat ini.
Alvin mendekati gadis itu dan duduk disebelahnya. Sesaat kemudian pandangan mereka bertemu dan saling terkunci untuk waktu yang cukup lama. Menyuarakan rasa sakit dihati mereka masing - masing lewat pandangan mata.
Shevi benar - benar berantakan. Ada lingkaran hitam dibawah matanya. Matanya tak lagi berbinar, hanya ada tatapan sendu dan kesedihan didalamnya.
Pandangan mereka terputus saat Alvin mengalihkan pandangannya kedepan dan memecah keheningan.
" Dari kapan lo gak tidur dan gak makan ?? " Sungguh bukan seperti ini yang dia harapkan saat mengungkapkan perasaanya waktu itu.
Setidaknya jika cintanya tidak diterima bukan seperti ini selanjutnya yang dia bayangkan. Dia tidak pernah berharap dihadapkan dengan pilihan lain. Apa lagi pilihan itu adalah tunangan dengan saudara kembar gadis yang dia cintai. Tapi melihat keadaan Shevi seperti ini, Tegakah dia membiarkannya ?? AKKHHH SIAL !! Alvin mengumpat dalam hati.
Alvin menghela nafas untuk sedikit memantapkan keputusannya. Keputusan yang berat untuknya. Tapi apapun akan dia lakukan asal Shevi tidak sedih lagi.
" Gue mau kabulin permintaan lo waktu itu asal lo mau makan dan pulang istirahat dirumah " Air mata menetes dari kedua manik mata Shevi. Ada rasa lega dan harapan kakaknya akan membaik dan tidak membencinya lagi. Tapi ada sayatan dihatinya yang menorehkan rasa sakit untuknya. Tapi dia mengabaikan rasa sakit itu asal kakaknya kembali semangat untuk sehat kembali.
" Makasih bang " Shevi langsung memeluk Alvin dan menumpahkan tangisnya di dada bidang pemuda itu. Mungkinkah ini pelukan terakhirnya untuk Alvin ??
" Ya udah pulang sana ! Gue udah bawa mang udin didepan. Biar gue yang ngomong ke Shera " Shevi hanya menganggukan kepalanya dan berlalu meninggalkan Alvin dengan langkah beratnya.
***
Alvin memasuki ruang rawat Shera. Gadis itu sedang tidur dengan wajah pucat, nafas berat. Gadis itu terlihat sangat rapuh dan tak bersemangat.
" Alvin " Panggil bunda Kirana yang baru saja keluar dari toilet. Alvin menoleh dan tersenyum.
" Alvin boleh ngomong berdua sama Shera bun ?? "
" Boleh. Ya udah bunda keluar dulu mau ajakin Shevi makan " Bunda mengambil tasnya yang tergeletak diatas meja dekat sofa.
" Shevi udah pulang bun. "
" Ooh ya ? Kamu yakin Shevi pulang bukan kabur?? Soalnya anak itu sudah dari kemarin bunda suruh pulang dan makan tapi gak mau. " Ada sorot kesedihan di mata lelah wanita paruh baya itu.
__ADS_1
" Alvin yakin kok Shevi pulang. Tadi Alvin ajak mamang kesini buat anter Shevi. "
" Ya sudah bunda keluar dulu sebentar. Bunda titip Shera ya " Bunda berlalu dan menepuk pundak Alvin sebelum keluar.
Alvin berjalan mendekati brangkar tempat Shera berbaring. Dia menarik kursi disebelah brankar dan mendudukkan dirinya disana.
Alvin menarik lembut telapak tangan nan ringkih itu seakan takut akan menyakiti gadis tersebut.
" Raaa.. " Palnggil Alvin lembut sambil mengusap lembut pipi pucat itu dengan tangan satunya.
" Bang Alvin. Ngapain abang disini ?? " Shera langsung memalingkan wajahnya dari Alvin.
" Jangan marah dong... Abang sedih tau kamu sakit kaya gini "
" Gak usah sok peduli bang " Shera menampik tangan Alvin yang sedang mengusap rambutnya.
" Kata siapa Abang sok peduli. Abang emang beneran peduli kok. Kan abang sayang sama kamu "
" Abang tuh gak sayang sama aku. Abang tuh sayangnya sama Shevi " Seru Shera dengan marah merasa Alvin membohonginya.
" Abang beneran sayang sama kamu, Walaupun belum bisa mencintai kamu. Tapi maukah adek membantu abang untuk belajar mencintai adek sebagai seorang wanita ?? bukan seorang adek lagi ?? " Shera kembali menatap Alvin sambil mencerna kata - kata Alvin.
" Ayo kita tunangan !! ajari abang buat mencintai kamu " Luluh lantak sudah hati Alvin. Hancur tak bersisa dengan keluarnya kalimat tadi. Membunuh dirinya sendiri dengan keputusan yang dia ambil.
" Aaa-abang see-serius ? Abang gak lagi bohongin Shera kan ?? " Mungkin Shera egois jika menerima ajakan Alvin untuk bertunangan. Tapi dia akan mengambil harapannya yang tersisa. Harapan untuk bahagia dengan Alvin.
" Abang serius. Mau kan bantu abang buat mencintai kamu ?? Dan kamu harus semangat biar cepet sembuh biar kita bisa langsung tunangan. Soalnya abang harus balik lagi kuliah. "
Shera menangis haru dan menganggukan kepalanya semangat. Dia akan berusaha sembuh secepatnya agar biasa keluar dari rumah sakit.
***
Dilain sisi Shevi yang baru sampai dirumah langsung lari kekamarnya dan menangis sejadi jadinya. Menuangkan segala kesedihan yang ada didalam hatinya.
" Benarkah ini keputusan yang tepat ? Tapi kenapa rasanya sakit banget si cuma ngerelain bang Al tunangan sama kakak. kenapa dada gue nyesek banget !! " Shevi bermonolog sambil memukul - mukul dadanya untuk mengurangi rasa sesak didadanya.
" Gue harus ikhlas. Gue harus ikut bahagia dengan kebahagiaan kak Shera. Gue harus mendukung hubungan mereka. Apapun kak asal lo gak marah dan benci lagi sama gue " Shevi menguatkan hatinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
Setelah lama menagis akhirnya Shevi kelelahan dan tertidur.
Bunda pulang kerumah untuk memastikan anaknya benar pulang kerumah. Bunda langsung naik ke kamar Shevi untuk melihat keadaanya.
Tok Tok Tok
" Kak, bunda masuk ya ? " Tidak ada jawaban dari dalam sehingga bunda membuka kamar yang kebetulan tidak dikunci.
Dilihatnya Shevi tertidur dengan menelungkupkan badannya. Bunda mendekat dan duduk disamping putrinya.
Mata Shevi sembab dan ada bekas air mata dipipinya.
" Kamu kenapa sayang?? " Tanya bunda pelan tanpa ada keinginan untuk membangunkannya. Shevi sudah dua hari tak bisa tidur. Paling cuma tidur satu atau dua jam. Biarlah sekarang dia istirahat mengembalikan tubuhnya agar kembali segar.
Biar Shevi menenagkan hati dan pikirannya. Karena dia sangat sedih dan terpukul dengan penolakan Shera.
Diusapnya rambut Shevi dengan sayang. Diberinya ciuman bertubi - tubi di pipi dan kening anak gadisnya itu sebelum keluar meninggalkan kamar itu.
Bunda turun kedapur berniat memasakkan masakan kesukaan Shevi. Sehabis memasak rencananya Bunda akan ke rumah adik dari suaminya yaitu Julian untuk melihat Rasya. Rasanya kangen dua hari tak bertemu anak nakal itu. Rasya bunda titipkan di rumah Julian selama dia di rumah sakit. Kasian jika Rasya sendirian di rumah. Dan lagi Rasya senang disana karena sepupunya laki - laki.
Setelah selesai memasak bunda hidangkan semua masakannya di meja makan dan menutupinya.
" Bi Nah " Panggil bunda kepada salah satu asisten rumah tangganya yang paling senior dirumah itu
" Iya bu... " Bi Nah menghampiri Bunda dimeja makan.
" Saya sudah masak buat Shevi. Nanti kalau Shevi sudah bangun tolong suruh dia makan ya Bi. Soalnya dari kemarin dia nggak mau makan " Perintahnya kepada bi Nah
" Inggih bu " Bi Nah memang orang jawa. Yang sangat setia terhadap keluarga Shandika. Bi Nah sebelumnya juga bekerja dikeluarga orang tua Bunda Karina. Karena kesetiaannya makanya Bi Nah dikirimkan oleh ibu dari Bunda Karina untuk mengikuti putrinya.
*
*
*
Happy Reading 💕
__ADS_1
Bagi Like, Komen dan Votenya kakak biar semangat 😍😍