
Nafas mereka masih terengah - engah berebut udara setelah menuntaskan kegiatan mereka yang memakan waktu cukup lama. Kenikmatan yang telah lama tidak mereka rasakan.
Shevi menarik selimut menutupi tubuh polosnya yang masih lengket hasil pergumulan dirinya dan Alvin tadi, kemudian mendorong Alvin menjauhinya. " Pulang sana !! Jagain Tiara. "
Menoleh dengan wajah terkejut, Alvin tidak percaya istrinya mengusir dirinya setelah tadi mereka meraih kenikmatan bersama.
" Yank.. Kok tega sih ngusir aku.. Aku kira kamu udah maafin aku makanya kamu mau tadi " Dengan muka memelas Alvin beringsut ingin memeluk istrinya namun tangan Shevi menahannya mendekat.
" Tadi itu gue ngejalanin kewajiban gue sebagai istri.. Bukan karena gue udah maafin lo ya !! " Melilitkan selimut keseluruh tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lama - lama bersama Alvin hanya akan membuatnya semakin emosi dan semakin sakit hati mengingat penghianatan yang di lakukan suaminya itu.
Shevi berhenti didepan pintu kamar mandi dan berbalik menghadap Alvin saat teringat sesuatu " Eh tapi kan sekarang lo punya istri dua ya vin ?? Jadi kayaknya gue gak wajib - wajib amat buat nuntasin hasrat lo "
" Apa sih yank ?? Istri aku tuh cuma kamu !! Lagian juga tadi kamu ikut nikmatin " Bagi Alvin Tania bukanlah istrinya. Dia hanya sedang menunggu bukti saja untuk meninggalkan wanita yang mengacaukan rumah tangganya ini.
Shevi melengos malas masuk kamar mandi tidak perduli dengan kata - kata Alvin barusan.
Tak lama Shevi keluar sudah lengkap dengan pakaian dan terlihat lebih segar. Melangkahkan kakinya keluar dari kamar mengacuhkan Alvin yang masih ada diatas tempat tidur yang terus menatapnya. Shevi mengabaikan keberadaan Alvin seakan suaminya itu tidak ada. Karena percuma juga mengusir Alvin dengan tenaga jelas dia tidak mungkin lebih kuat dari Alvin. Sedangkan dengan kata - kata ? Shevi tahu Alvin kekehnya seperti apa kalau sudah ada maunya. Jadi terserah saja Alvin mau apa yang jelas dia tidak akan menganggap kalau di apartemennya ada Alvin. Biar suaminya itu bosan dan pergi dengan sendirinya.
Shevi duduk di mini bar dapur setelah mengambil nasi beserta lauk pauknya untuk dirinya makan malam yang sudah lewat dari jamnya. Tidak perduli kalau dirinya akan berubah menjadi gendut karena makan di tengah malam seperti ini. Karena nyatanya perutnya sangat lapar karena sedari pagi belum makan apapun. Bahkan sandwich yang diberikan Nathan padanya tadi siang saja tidak ia makan karena tidak nafsu. Dan sekarang cacing dalam perutnya sedang berdemo meminta jatah makannya hari ini. Belum lagi kegiatannya bersama Alvin yang menguras sisa tenaga yang dimilikinya. Jika bukan karena lapar dia lebih memilih tidur karena kakinya sudah sangat lemas seperti jelly.
__ADS_1
Alvin menghampirinya hanya dengan menggunakan celana pendeknya dan duduk disebelah Shevi yang tidak membuat wanita itu menoleh sedikitpun.
" Aku mau makan juga dong yank.. Laper nih.. " Rengek Alvin ingin dimanja istrinya. Kegiatan yang dulu biasa ia lakukan selepas pulang kerja.
" Yankkk " Rengeknya lagi karena sedari tadi Shevi tidak bergeming.
" Punya tangan kan ?? Ambil aja sendiri " Ucap Shevi dengan malas dan membawa piring makannya menuju sofa depan TV.
" Jahat banget si sekarang kamu yank ??!! " Gerutu Alvin sambil menyendok nasi dan kawan - kawan kemudian menyusul dan duduk di sebelah Shevi yang sedang menonton acara yang entah apa.
" Iisshh sofanya tuh lega ya.. Jadi gak usah deket - deket kan bisa duduknya !! " Risih sekali rasanya, orang yang sedang sangat ia benci terus saja menempel padanya seperti ulat.
Shevi menggeser duduknya dengan cepet membuat Alvin hampir saja terjatuh ke arahnya kalau saja pria itu kehilangan keseimbangannya
" Udah deh viinn.. Lo pulang aja sana.. Gue cuma butuh waktu aja kok.. Biarin gue nyembuhin luka hati gue dulu.. Semakin lo deket - deket, gue tuh rasanya semakin sakit tau ga ?? " Suara Shevi sudah bergetar menahan sakit. Padahal dirinya sudah berusaha terlihat kuat dengan cara berkata sinis kepada Alvin. Tapi toh rasanya tetap saja sakit setiap matanya menatap suaminya ini. Suami yang baru tadi pagi menikah dengan wanita lain menuruti keinginannya yang sedikit dia sesali setelah tau sakitnya seperti ini rasanya dimadu.
" Lagian lo juga punya tanggung jawab di rumah. Ada Tiara dan istri lo yang lain kan yang lagi nungguin lo pulang ?? Lo gak kasian apa sama istri lo yang lagi hamil muda begitu.. Gue tau gimana rasanya viinn.. Jadi lo jangan kaya gini.. Kasian Tania.. " Setetes air mata mengalir disebelah matanya yang langsung Shevi hapus.
Selera makan Alvin hilang sudah. Momen makan bersama istri tercintanya yang dia rindukan hancur dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya itu.
__ADS_1
" Mau sampe kapan si yank ?? Ini udah sebulan dan tetep aja kan hati kamu masih belum tenang juga ??!! Masih aja kan kamu benci sama aku ??!! Terus aku harus nunggu sampe kapan ??!! Sampe aku mati ??!! Biar kamu gak liat muka aku yang terus - terusan ngingetin sama rasa sakit yang kamu rasain ??!! IYA ??!! "
Shevi terkejut dengan kemarahan dan bentakan suaminya. Air matanya meleleh deras setelah Alvin meletakkan piringnya dengan keras diatas meja dan berlalu ke dalam kamar untuk memakai kembali bajunya dan pergi meninggalkan apartemen Shevi dengan membanting keras pintu itu.
Tangisan Shevi mulai mengeras. Shevi memukul dadanya yang terasa sangat menyesakkan. Bukan maksud Shevi membuat Alvin untuk menunggu dirinya lama. Tapi semua ini masih terlalu menyakitkan untuk Shevi. Rasa kehilangan dan penghianatan bukanlah hal yang mudah untuk seseorang jalani.
Shevi tidak sekuat itu jika harus pulang ke rumah mertuanya dan tinggal bersama madunya. Tapi Shevi juga tak ingin Alvin berada di apartemnnya ini karena ada Tiara dirumah yang membutuhkan orang tuanya. Dan ada Tania juga yang sedang hamil muda yang tentunya terasa berat jika harus dijalani seorang diri. Dia tidak ingin menjadi wanita yang egois seperti itu.
Kalau ingin bersikap egois, sudah sedari Tania bilang kalau dia hamil Shevi tidak perduli. Mau hamil anak Alvin atau bukan dia akan mempertahankan rumah tangganya dan hidup bahagia tanpa memikirkan nasib Tania dan bayi dalam kandungannya itu. Tapi Shevi tidak bisa melakukan itu. Karena dia sendiri pernah mengalaminya, dan dia punya anak perempuan yang Shevi harap tidak akan pernah mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
Shevi berharap Alvin bisa menjadi ayah dan suami yang baik. Walaupun jika nantinya dirinyalah yang kalah dan harus merelakan Alvin untuk Tania. Dia hanya berdoa untuk kebahagiaan suaminya itu.
Shevi terus terisak dan memukul - mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakit yang menghujam jantungnya itu. Hingga kepalanya terasa pusing dan jatuh tak sadarkan diri.
*
*
*
__ADS_1
Kasih semangatnya kakak 💕