DEMI DIA

DEMI DIA
Bertemu Dengannya Lagi


__ADS_3

Alvin mengamati setiap penjuru ruangan yang ada didalam apartemen nya. Apartemen dengan ukuran sedang berisi dua kamar plus kamar mandi, Ruang tamu, Dapur yang sekalian untuk ruang makan. Tapi tetap bisa dibilang besar jika hanya ditempati dia seorang.


" Inget ya vin, mami beli apartemen dua kamar bukan berarti agar kamu bisa masukin cewek kedalam sini !! itu kamar biar kalau mami sama papih main kesini bisa nginep disini !! " Belum apa - apa Alvin sudah di wanti - wanti untuk tidak membawa wanita.


" Iya mam. Emang sejak kapan si Alvin suka bawa - bawa cewek? " Serunya tak terima


" Kecuali Shevi " tambahnya lirih hanya bisa didengar olehnya saat dia ingat pernah tidur berdua gadis itu walau tidak melakukan apa - apa.


" Ya kali aja nanti kamu terpengaruh gaya orang sini. Disini kan bukan Indonesia dan lagi kamu diluar pengawasan mami. Awas aja kalo pulang - pulang bawa cewek hamil. Mami sunat kamu sampai habis !! " Ancam mami sungguh - sungguh.


Mendengar kata sunat bikin Alvin ngilu saja.


" Inget ada Shera sama Shevi dirumah. Disini kamu kuliah aja yang bener gak usah lirik sana sini. Mami lebih setuju salah satu dari sikembar yang jadi mantu mami !! iya kan pih ?? " Papih Dion hanya mengedikan bahunya sebelum menjawab.


" Papi si terserah Alvin aja. Asal Alvin suka dan bahagia papih fine fine aja.Yang penting bener kata mami belajar yang bener biar bisa ngurus perusahaan nantinya. " Papih Dion kembali sibuk dengan leptop dipangkuannya untuk memantau bisnisnya yang dia tinggalkan.


Ngomong - ngomong tentang Apartemen ternyata papinya sudah membelikannya sejak masih di Indonesia. Lengkap dengan mobil sport untuk transportasinya selama di Belanda.


Semua disediakan oleh asisten papinya sampai dengan sopir yang menjemput mereka di bandara tadi.


Mereka bilang akan membantu mencarikan apartemen yang aman ternyata hanya alibi agar mereka bisa mengantar Alvin. Karena mereka yakin Alvin tidak akan mau diantar karena sudah besar.


***


Seminggu kemudian Alvin sudah mulai masuk kuliah. Kedua orang tuanya hanya berada di Belanda selama dua hari dan langsung pulang ke Indonesia.


Selama waktu seminggu Alvin sudah cukup hafal jalanan yang ada. Sekarang dia sedang menuju basmen untuk mengambil mobilnya yang terparkir rapi disana.


Saat lift terbuka sisil melenggang masuk dan melihat sosok yang pernah dia temui di bandara.


" Alvin ? " Alvin yang mendengar namanya dipanggil mendongakkam kepalanya dari handphone yang dia pegang dan melihat Sisil disana.


" Alvin ? ngapain lo disini ? " Sisil menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Alvin.


" Gue tinggal disini. Dilantai tiga belas " Alvin menunjuk atas untuk mempertegas ucapannya.

__ADS_1


" Ooh ya ? kebetulan dong. Gue juga tinggal disini di lantai sepuluh. " Senyum sumringah merekah diwajah Sisil. Alvin hanya manggut - manggut seoalah tak peduli.


" Mau kemana ? " Alvin bertanya basa basi saat melihat penampilan yang rapi gadis itu. Tidak mungkin kan dia mau ke mini market dengan full make up seperti itu.


" Mau ngampus. Lo sendiri ? "


" Gue juga "


Sepanjang jalan menuju basment keduanya banyak mengobrol yang ternyata mereka juga satu kampus bahkan satu angkatan walau beda jurusan. Walau lebih banyak Sisil yang bercerita dan bertanya dan hanya dijawab sekenanya oleh Alvin.


Sisil senang dapat bertemu lagi dengan Alvin. Dia berharap bisa semakin dekat dengan pemuda itu. Apa lagi mereka tinggal dilingkungan yang sama dan kuliah ditempat yang sama. sama - sama mahasiswa baru dari Indonesia. Bukankah itu kebetulan yang luar bisa. Bukankah seharusnya itu bisa mempermudah jalannya.


Senyum selalu menghiasi wajah sisil sampai mereka berpisah di mobil masing - masing.


Berbeda dengan Alvin yang merasa biasa saja dengan Sisil. Dia hanya merasa setidaknya ada orang yang dia kenal dinegara orang yang akan dia tinggali untuk beberapa tahun kedepan.


***


Dikampus Alvin tidak susah dalam mendapatkan teman. Karena sifat Alvin yang bersahabat jadi banyak yang merasa nyaman dengannya. Walaupun kepada wanita dia tetap saja dingin dan tak tersentuh sama seperti saat dia masih SMA dulu.


Alvin tak masalah berteman dengan siapapun asal tidak mengajaknya ke hal negatif. Karena dia sangat menyayangi maminya dan tak mau membuat beliau kecewa.


Alvin dan Alex sedang duduk di cafe tidak jauh dari kampus mereka setelah pulang kuliah. Tiba - tiba ada dua orang gadis mendekati mereka.


" Haii Vin.. " Sapa salah satu gadis itu dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Alvin hanya tersenyum samar dan menganggukan kepalanyanya.


" Kita boleh gabung tidak " Tambah gadis itu dalam bahasa Inggris karena dia belum fasih bahasa Belanda.


" Silahkan cantik " Alex yang menjawab. Alvin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Alex. Selalu saja seperti itu jika berurusan dengan wanita cantik.


Alex menyenggol kaki Alvin bermaksud memberi kode agar dikenalkan dengan gadis itu.


" Hhmm Sil kenalin ini teman aku namanya Alex. Alex ini Sisil " ya gadis itu siapa lagi jika bukan Sisil.

__ADS_1


Sisil menjabat tangan Alex dan saling berkenalan dan mengenalkan temannya yang ternyata bernama sabrina.


" Gimana vin kuliah lo. Udah bisa beradaptasi ? " Sisil bertanya dengan bahasa Indonesia. Senang rasanya bisa menggunakan bahasanya lagi.


" Baik.. " Alvin menjawab sambil menganggukan kepalanya.


" Gue susah nih beradaptasi disini. Mana belum hafal jalanan juga lagi. " Sisil berharab Alvin sama seperti kebanyakan cowok yang akan merespon dan mengajukan diri untuk menemaninya berkeliling. Tapi ternyata setelah menunggu lama tak juga ada respon dari pemuda itu.


Sisil menghela nafasnya pelan. Bagaimanapun dia harus bisa mengajak Alvin untuk jalan berdua.


" Gimana kalau akhir pekan nanti temenin aku keliling. " Sisil kembali menggunakan bahasa Inggris agar mendapat dukungan dari yang lain.


" Sory sil, Aku tidak bisa. Mungkin Alex bisa ? lagian dia lebih tau jalanan disini."


Alex yang mendapatkan lampu hijau dari Alvin untuk jalan dengan gadis itu tentu saja sangat senang.


" Oke.. kamu mau keliling seharian baby " Goda Alex dengan mengedipkan sebelah matanya pada Sisil.


Sisil hanya meringis dipaksakan. Sungguh tidak peka Alvin. Padahal kan dia hanya ingin jalan berdua sama Alvin. Kalau hanya berkeliling menghafal jalanan dia bisa melakukannya dengan Sabrina dari pada harus jalan bersama cowok yang baru dikenalnya itu.


Alvin tidak lagi mendengarkan obrolan ketiga orang yang berada satu meja dengannya. Dia sedang memikirkan Shevi. Bagaimana keadaan gadis itu ? Apakah dia merindukannya ? Apakah gadis itu sudah tahu maksud kode yang dia berikan dibandara waktu itu ?


Haaa Alvin menghela nafas berat. Jika bukan karena papinya dan bukan karena dia ingin memantaskan diri untuk Shevi. Dia tak akan jauh - jauh kesini dan menahan rindu pada gadisnya.


Baru sebulan saja hatinya sudah begitu merindukannya. Belum lagi Shevi yang akhir - akhir ini sulit dihubungi karena sibuk latihan piano untuk pertunjukan yang akan diadakan disekolah mereka.



*


*


*


Happy Reading 💕

__ADS_1


Minta semangatnya dengan Like, Komen, Rate dan Vote 😍


__ADS_2