
Shevi sedang duduk dibalkon kamarnya yang menghadap samping rumahnya. Dimana tepat dibawahnya adalah kolam renang.
Setelah kemarin dua hari lelah sekaligus senang saat camping. Hari ini dia bisa menikmati libur dengan membaca novel ditemani berbagai macam cemilan, buah serta jus segar yang tadi dia pesan kepada bibi untuk mengantarkannya ke kamar usai sarapan.
Shevi menoleh saat mendengar pintu kamarnya dibuka. Ternyata bunda Kirana yang membuka kemudian menghampirinya.
Bunda berdiri tepat disampingnya sambil mengusap lembut rambut putri keduanya itu sebelum berucap.
" Kak tolong anterin obat sama bubur buat bang Alvin ya " pinta bunda Kirana kepada putrinya yang kembali menyibukan diri dengan novel dipangkuannya.
" Yaaah kakak aja deh bun.. Shevi masih cape " tolaknya dengan nada manjanya.
" Kakak kan mau kontrol makanya bunda masih dirumah nggak ke kantor "
" Ooh iya ya.. Emang abang kenapa si bun dianterin obat segala. abang sakit ? "
" Iya tadi mami telfon katanya abang demam dan nggak mau makan padahal mami lagi keluar kota nemenin papi. Makanya minta tolong bunda buat maksa abang makan. Jadi tolong ya kak, kasihan abang sendiria. " Rayu sang bunda yang memang Shevi juga tidak tega jika Alvin yang selama ini baik pada keluarganya sakit seorang diri.
" Ya udah deh sini obat sama buburnya bun.. "
Bunda mengulurkan paperbag yang berisi tempat makan dan obat yang dia bawa ketangan putrinya yang langsung keluar kamar untuk mengantarkannya kepada Alvin.
***
Shevi mengayuh sepeda kesayangannya menuju rumah Alvin. Karena jarak yang memang dekat dan setiap gadis itu kesana memang selalu memnggunakan sepeda atau tidak dijemput oleh Alvin.
Sesampainya dia dirumah Alvin pak satpam yang memang sudah kenal dengan Shevi langsung membukakan pintu untuk Shevi.
" Assalamualaikum.. " Shevi langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau memencet bell terlebih dahulu. Karena dia sudah terbiasa keluar masuk rumah ini.
" Waalaikumsalam.. eeh non Shevi. mau ketemu aden ya non ? " Tanya bi wati yang memang sedang menyapu ruang tamu.
" Iya bi. Abang ada kan ? "
" Ada non. Langsung ke kamar aden aja non. Aden lagi sakit dari pagi nggak mau makan. "
" Ya udah deh bi. Aku ke kamar dulu ya " Shevi berlalu meninggalkan bi Wati tanpa menunggu jawaban dari bibi.
Sesampainya didepan kamar dia langsung mengulurkan tangannya untun mengetuk daun pintu dihadapannya ini.
__ADS_1
TOK TOK TOK
" Abang.. Gue masuk ya? " Teriaknya lalu memutar handel pintu untuk membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam.
Setelah pintu dibuka betapa khawatirnya dia mendapati Alvin yang pucat tak bertenaga. Bahkan saat dia mendudukan dirinya disamping Alvin, pemuda itu hanya melirikan matanya tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.
" Lo sakit bang ? " tangannya terulur untuk menyentuh dahi Alvin. Shevi terkejut saat merasakan panas Alvin begitu tinggi.
" hmmm. Lo nga - pain ke - sini ? " Alvin bergumam dengan sisa tenaga yang dia miliki dengan sedikit terbata.
Shevi mengacungkan papperbag yang dia bawa.
" Disuruh bunda bawain bubur sama obat buat abang. Tapi abang demamnya tinggi banget. Kita kedokter aja ya bang ? " Ajaknya dengan nada khawatir. Kemana abangnya yang biasa usil dan gagah itu.
" Nggak usah.. gue gak papa. " ucapnya lirih tapi masih terdengar oleh Shevi.
" Tapi bang - " Shevi tidak jadi menyelesaikan kalimatnya karena Alvin menempelkan jarinya telunjukknya dibibir Shevi.
" Ssttt.. gue gak papa. Oke ? "
" Ya udah kalo abang gak mau ke dokter sekarang abang makan terus minum obatnya "
Shevi mengeluarkan obat dan bubur dari dalam papperbag yang dia bawa. Dan membantu Alvin untuk duduk bersandar. Saat dirasa buburnya sudah tidak lagi panas dia mulai menyuapi Alvin
Setelah bubur itu habis Shevi juga membantu Alvin untuk minum obat dan meminum air putih.
" Bentar ya bang. gue ke dapur dulu naro bekas bubur sama ambil kompresan "
Alvin hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Lima menit kemudian Shevi kembali dengan mangkok berisikan air dingin dan beberapa handuk kecil diatas nampan.
Dia meletakan nampan diatas nakas samping Alvin dan mulai mencelupkan handuk kedalam Air dan memerasnya kemudian meletakkanya diatas dahi Alvin.
Entah karena pengaruh obat yang barusan dia minum atau karena ada gadis cantik disebelahnya yang membuat dia merasa nyaman hingga akhirnya dia memejamkan matanya karena mengantuk.
Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Alvin yang menandakan bahwa pemuda itu sudah tertidur.
Shevi mengambil handuk yang ada di dahi Alvin untuk kembali ia celupkan kedalam mangkok dan memerasnya kemudian ia letakan kembali di dahi Alvin. Dia beranjak ingin kembali pulang kerumahnya karena dirasa tugasnya telah selesai dan lagi Alvin juga sudah tidur.
__ADS_1
Tapi baru dia mau melangkah tangannya dipegang Alvin. Mencegahnya untuk pergi.
" Jangan pergi.. disini aja " Alvin bergumam pelan masih dengan mata terpejam.
Akhirnya Shevi mengurungkan niatnya untuk pulang. Kasihan juga kalau Alvin butuh sesuatu lagi.
Shevi kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang sambil memainkan Handphone nya unuk melihat sosial medianya.
Lama kelamaan dia cape dan merebahkan tubuhnya disamping Alvin, hingga tidak terasa dia tertidur.
***
Sore hari Alvin bangun dan merasa sudah lebih baik. Saat dia menoleh senyumnya mengembang saat mendapati gadis cantik sedang terlelap disampingnya dengan tangan yang masih memegang handphone. walau ada bantal guling sebagai pembatas.
Dia bangun dan menumpu tubuhnya dengan tangan kanan dan tangan kirinya terulur untuk merapikan anak rambut Shevi yang berantakan dan menyelipkan kebelakang telinga gadis itu. Kemudian tangan beralih untuk mengelus lembut pipi Shevi dan tanpa sadar dia mendekatkan kepalanya unuk mengecup pipi halus tersebut.
" Makasih ya dek udah jagain abang " ucapnya lirih kemudian bangun dan menuju kamar mandi. Dia sudah merasa sangat lengket seharian belum mandi. Apa lagi pengaruh obat yang menambah banyak keringatnya.
Sepuluh menit kemudian Shevi mulai mengerjap - kerjapkan matanya serta meregangkan otot - ototnya. Dan betapa terkejutnya dia saat baru sadar kalau sedari tadi dia ketiduran dikamar Alvin dan.... DISEBELAH ALVIN !!!
Alangkah malunya dia jika ada orang yang tahu. Apa lagi kalu bundanya tahu pasti dia bakalan habis kena marah. ANAK GADISNYA TIDUR DENGAN COWOK !!
Pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Alvin yang hanya mengenakan handuk yang di lilitkan dipinggangnya.
" AAAAKKKKHHHH ABANG KENAPA CUMA PAKAI HANDUK !!! " teriaknya kaget dan langsung menutup mukanya dengan bantal. Betapa malunya dia mendapati pemandangan yang seperti itu.
Alvin hanya terkekeh melihat kelakuan Shevi dan melihat wajah Shevi yang merona dia jadi semakin ingin menggodanya.
Dia melangkah ke lemari dan memakai kaos dan celana pendeknya.
" Sudah tuan putri.. tuan putri baru bangun " Shevi bisa bernafas lega dan menjauhkan bantal dari mukanya.
" Kenapa kamu yang tidur dek ?? padahal abang yang sakit lho?? gimana ya kalo bunda tahu anak gadisnya tidur berdua cowo?? " Alvin meletakkan satu tangannya didepan dada dan satu lagi mengelus - elus dagunya pura - pura berfikir.
" Pasti kita berdua bakalan dinikahin deh.. Tapi gak papa si enak juga jadi kita bisa "begituan" kaya orang dewas " Alvin berusaha keras mengulum senyumnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Ekspresi Shevi jangan ditanya lagi. Sudah merah seperti kepiting rebus. Coba tadi dia yang bangun duluan pasti nggak bakal begini jadinya. Alvin nggak akan tahu kalau dirinya tidur disebelah pemuda itu.
" IIIIHHHH ABANG MESUM !! " Shevi melempar semua bantal ke arah Alvin kemudian lari keluar dari kamar untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
Saat gadis itu sudah keluar tawa Alvin meledak sampai dia membungkukan badannya karena perutnya sakit menertawakan Shevi.