DEMI DIA

DEMI DIA
Ekstra Part 7 (Mom and Son)


__ADS_3

Dika dan Sheril keluar di saat yang sama dengan Alvaro beserta Tiara dan juga Pricilla beserta Aldo.


"Wah.. Wah.. Wah.. Kalian tuh iri banget ya sama gue?" hardik Dika begitu melihat ke-empat orang itu keluar bersamaan dari kamar yang juga berada di sebelah kamarnya menginap.


Alvaro mengedik. Sedangkan Pricilla berdecak. "Rumah gue jauh kalau harus pulang tengah malam."


Dika mendengus. "Rumah lo emang jauh, tapi rumah nyokap lo deket."


Mereka saling memicing, hingga akhirnya tergelak bersama.


"Jalan bareng aja yuk? lama banget kayaknya kita nggak liburan bareng?" ajak Tiara dengan mata berbinar. Merasa bangga dengan ide yang ia berikan. "Kamu bisa cuti kan, yank?" imbuhnya menatap sang suami.


"Apa yang gak buat istriku yang cantik. Asal kamu senang, aku si oke."


Tiara terkekeh. "Uuuuhhh manis banget sih suami aku iniiiii..." yang lain bergidik jijik melihat interaksi keduanya, kecuali Aldo yang hanya menggeleng.


"Bos mah bebas.. Padahal mereka baru pulang honeymoon." cibir Pricilla.


"Honeymoon yang udah telaaaattt banget." imbuh Sheril. Mana ada honeymoon setelah pernikahan berjalan sepuluh tahun.


"Biarin, wleeee... iri bilang boosss." degus Tiara yang tengah memeluk pinggang suaminya.


Sheril dan Pricilla kembali mencibir. Status boleh dengan dua anak yang sudah besar-besar. Tapi kelakuan masih saja kekanak-kanakan. Bahkan mungkin lebih dewasa anak-anaknya.


"Ya udah. Sekalian aja lo honeymoon, Dik. Gue bayarin dah full mau berapa hari lo di sana. Lo klaim aja biaya yang lo abisin buat nyenengin bini lo nanti." ujar Alvaro membuat wajah Dika semakin sumringah. Siapa yang tidak senang mendapat hadiah honeymoon gratis, setelah ia menghabiskan banyak biaya untuk pernikahannya.


"Tapi cuti cuma gue kasih seminggu." imbuhnya dengan tawa berderai.


"Itu sama aja lo nyuruh gue honeymoon cuma seminggu, bosss."


"Masih mending seminggu. Tadinya gue cuma mau kasih cuti dua hari."


"Bunuh aja gue, Al! gak kira-kira emang lo jadi bos. Karyawan setia nih." ucap Dika dengan wajah masam.


"Justru karena lo setia. Harusnya lo juga setia ngikutin jejak gue yang gak punya kesempatan buat honeymoon. Masa bos lo aja abis nikah langsung sekolah, lo mau leha-leha."

__ADS_1


Dika melongo takjub. Sedangkan yang lain sudah terkikik geli.


"Itu mah salah lo sendiri kali, Al. Siapa suruh masih kecil udah ngebet banget kawin."


"Sorry bro. Gue mah nikah bukan kawin. Lo aja yang kebelet kawin baru di nikahi."


Wajah Sheril sudah memanas. Malu dengan kelakuannya dengan sang suami selama ini yang di ketahui teman-temannya ini.


Mereka menuju restoran untuk sarapan dengan saling menggoda satu sama lain. Sebelum sore nanti mereka berangkat berlibur bersama.


***


Beruntung anak-anak Alvaro dan Tiara sudah besar-besar. Tidak ada yang merengek dari keduanya saat kedua orang tua mereka pamit untuk berlibur.


"Pergi saja. Kami ada mommy dan daddy." jawab Fari. Mereka memang senang bisa lebih lama di rumah kakek nenek mereka. Orang yang lebih sayang dan memanjakan mereka di saat kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja.


"Tumben liburan terus. Biasanya sibuk kerja." ucap Vindra sedikit mencibir. "Mama sama papa nggak berniat kasih kami adik, kan?" imbuh pemuda kecil itu sembari memicingkan matanya.


"Tergantung." jawab Alvaro yang mengambil keripik dari atas meja ruang keluarga mertuanya. Mereka tengah berkumpul di sana siang itu.


"Tergantung kalian sudah siap belum memiliki adik."


"Kalau kami nggak mau punya adik?" tantang Vindra. Baginya anak kecil itu merepotkan karena sering menangis. Ia tak mau seperti temannya yang memiliki adik kecil yang selalu merengek meminta ikut bermain dengan mereka. Dan temannya itu selalu di marahi ibunya jika tidak mau mengajak sang adik bermain.


"Kalau kalian tidak mau ya sudah. Biar kalian saja yang menjadi anak-anak papa dan mama." Vindra sudah tersenyum senang, sebelum kemudian mencebik mendengar imbuhan dari sang ayah. "Meskipun papa juga pengen punya anak cewek."


"Aku juga mau." sahut Fari. "Aku mau punya adik perempuan yang lucu."


"Abang apaan sih! aku nggak mau punya adik."


"Kalau kamu nggak mau punya adik ya sudah. Biar aku yang jagain adik kita. Aku sudah biasa jagain kamu, jadi biasa aja."


Vindra mencibir. "Jagain aku apaan?"


"Kenapa malah bertengkar? mama sama papa juga belum ingin memiliki anak lagi kok. Mama masih sibuk belum bisa cuti untuk mengurus adik kalian."

__ADS_1


"Memang kalau kita punya adik, mama bakal berhenti bekerja?" tanya Vindra lagi.


"Iya dong dek. Kan kalau mama hamil, mama nggak boleh cape. Terus kalau adiknya sudah lahir kan butuh mama sampai dia dua tahun."


Vindra mengangguk-angguk. "Jadi mama bakal lama ya, di rumah?"


Alvaro dan Tiara mengangguk. Membuat senyum di bibir pemuda kecil berkacamata itu mengangguk. "Kalau begitu, aku mau punya adik, mah." ujarnya bersemangat.


"Good boy." Alvaro tersenyum cerah mendapatkan dua pendukung sekaligus. Mengacungkan ibu jarinya pada putra keduanya. Sedangkan Tiara terperangah mendengar ucapan anaknya itu.


"Kenapa berubah pikiran?"


"Biar mama bisa di rumah lama. Biar mama nggak sibuk kerja. Bisa nemenin adek sama abang juga."


Jawaban putranya seperti menampar hati Tiara. Sebegitu jarangkah waktu yang ia miliki dengan anak-anak sehingga mereka merindukannya?


Sebegitu sibukah ia bekerja sampai tidak sadar telah mengabaikan anak-anaknya?


"Emang mama nggak pernah ada waktu buat adek sama abang?" tanya Tiara lagi, mendekat dan merangkul putranya.


"Mama sibuk. Pulang dari klinik sudah malam, sudah capek langsung istirahat. Ketemu cuma pagi atau weekend aja. Adek pengen mama selalu di rumah kaya teman-teman adek, mah. Kaya mama Lintang juga yang selalu ada buat om kecil Rafi dan Rafa." jawab Vindra membalas pelukan sang ibu.


"Maafin mama ya, dek." penturan anaknya membuat wanita itu merasa bersalah dan meneteskan air matanya.


Selain ia mencintai dunia kedokteran, itu juga karena dulu perekonomian mereka belum semapan saat ini. Ia dulu berusaha membantu suaminya untuk menabung demi masa depan anak-anak.


Meski Alvaro melarang, tapi ia sudah terlanjur cinta dengan profesinya. Dan meski saat ini ia yakin suaminya amat mampu menghidupi dan menjamin masa depan anak-anaknya, tapi ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang ia kerjakan. Akan aneh rasanya jika ia hanya berdiam diri di rumah. Belum lagi anak-anak yang sudah sekolah hingga sore.


"Mama nggak bisa berhenti bekerja. Tapi mama janji akan mengurangi jam kerja dan pulang sore. Biar bisa menemani adek dan abang."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2