
Dijam istirahat kedua Alvin menepuk pundak Gio saat pemuda yang duduk disebelahnya akan beranjak pergi.
Gio hanya menoleh dan mengangkat dagu dan sebelah alisnya seperti bertanya kenapa ?
" Lo masih punya vidio yang kemaren lo kasih lihat ke gue kan yo ?? "
Gio kembali duduk dan mencari benda pipih keluaran terbaru di sakunya dan mencari vidio yang Alvin mau.
" Yang ini maksud lo ?? " Alvin menjentikan jarinya sembari tersenyum.
" Tepat bro.. gue butuh vidio itu buat kasih pelajaran. "
" Gila. lo mau nyebarin vidio ini ?? Jangan laahh kasin man.. yang ada nanti dia dikucilkan disekolah "
Alvin menepuk kembali pundak Gio beberapa kali menenangkan cowok tersebut. Karena dia tahu jika Gio menyukai gadis itu.
" Tenang.. Gue gak sejahat itu.. anggap aja sebagai ancaman. "
***
Alvin sedang bersandar didinding kelas IPS2 sambil memasukan tangannya kedalam saku. Bell tanda sekolah telah usai baru beberapa menit yang lalu berbunyi. Dia langsung menuju kelas itu untuk menunggu salah satu gadis penghuni kelas tersebut.
Saat ekor matanya menangkap sosok yang sudah dia tunggu dia langsung menegakkan tubuhnya dan menghampiri gadis tersebut.
" Eeehhh bebep Alvin.. tumben disini. mau jemput Luna ya ?? " Luna bertanya dengan nada yang mendayu manja sambil mengalungkan tangannya pada lengan Alvin.
" Gue ada perlu sama lo.. bisa ikut gue sebentar ?? " Alvin bertanya dengan nada pelan namun terdengar dingin oleh telinga siapa saja yang mendengarnya.
" Buat Alvin mah Luna selalu ada waktu kok " Katanya genit dan mengikuti Alvin yang mulai melangkah pergi.
Alvin menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Dia tidak ingin ada siswa lain yang mengetahuinya. Walau semarah apapun Alvin terhadap Luna yang sudah menyakiti gadisnya, Pemuda itu masih memiliki hati dan tidak mungkin setega itu untuk memberitahu yang lainnya.
Alvin menghentikan langkahnya saat sudah berada di rooftop, dia membalikan tubuhnya dan melipat tanggannya didepan dada. Dia menyoroti Luna dengan tatapan tajam sebelum dia mulai berkata.
__ADS_1
" Lo apain adek gue tadi pagi ?? " Alvin masih bertanya dengan nada yang dibuat biasa saja namun dingin ditelinga Luna. Alvin masih menahan emosinya.
" ma mak sud kamu apa si vin ?? aa aku gak ngerti. " Luna menjawab terbata karena mulai takut jika Alvin akan balas menyakitinya karena tidak terima gadisnya dia ganggu. Tatapan Alvin begitu mengintimidasinya.
" Lo gagu lun?? gue rasa lo masih bisa ngomong dengan lancar " Seringai tipis muncul dibibir Alvin saat melihat gadis itu ketakutan.
Alvin semakin melangkah mendekat saat melihat Luna semakin memundurkan langkahnya dan berhenti dipembatas rooftop. Luna tidak menjawab ataupun mengeluarkan sepatah katapun.
" Gue peringatin ya lun.. gak usah gangguin Shevi LAGI !! " Alvin menekankan kata lagi agar tidak ada kejadian seperti itu lagi.
Emosi Luna terpancing saat mendengar Alvin mengancamnya cuma gara - gara cewe sialan itu.
" Kenapa si vin, lo selalu belain dia. Apa si bagusnya tuh cewek ?? " Luna mulai melangkah dan berdiri tepat didepan Alvin yang menjulang tinggi diatasnya.
" Gak usah sok - sokan kakak adekan deh. Gue tau dia bukan adek lo " Tambahnya sambil berkacak pinggang.
" Jadi lo ngakuin kalo lo yang udah ngerjain Shevi ?? " Alvin masih berusaha menahan gejolak emosinya sambil tersenyum sinis.
" Gue tuh cuma peringatin adek sialan lo itu aja!! lagian kapan si vin lo bakal lihat gue?? gue tuh sayang sama lo vin !! gue udah nunggu lama dan sekarang lo hadirin cewek lain dihidup lo ?? " Luna berteriak frustasi.
Luna amat sakit hati saat Alvin membela gadis lain. Dia marah karena perasaanya tak pernah terbalaskan. Apa si bagusnya Shevi sampai Alvin segitunya jagain tuh cewek?? Luna nggak habis fikir. Bagi Luna dia tak kalah cantik dan seksi dari pada Shevi. Tapi kenapa Alvin tak pernah melihatnya, Tak pernah merespon perasaannya.
" Bukan masalah cantik atau seksi. Ini masalah hati Lun. Dan hati gue sudah jatuh pada Shevi " Jawab Alvin tenang, dia merasa kasihan juga terhadap gadis didepannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya tidak bisa lagi melihat gadis lain selain Shevi.
" Gue harap lo bisa ngerti lun. Dan gue minta kejadian tadi gak akan terulang lagi. Gue minta lo jauhin gue dan Shevi, atau... " Alvin menjeda kalimatnya untuk mengambil handphonenya
" Atau apa ?? " Suara Luna bergetas diantara isak tangisnya. Dan matanya terbelalak saat melihat vidio yang Alvin tunjukkan.
" Atau berita tentang bokap lo yang bandar narkoba dan mucikari di club akan gue sebar luasin !! " Ancam Alvin dengan nada tegas dan berlalu meninggalkan Luna yang terduduk lemas dan menangis sesenggukan.
Alvin tidak mungkin tega menyebar luaskan vidio tersebut. Dia hanya menggertak Luna, tapi kalau gadis itu masih berulah juga apa boleh buat.
***
__ADS_1
Sementara Shevi yang sedang diantar Nurin sedang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi.
" APA ?? Jadi nenek lampir itu yang udah berani menindas lo ?? " Nurin tak terima sahabatnya dikeroyok tiga lawan satu seperti itu.
Setidaknya jikat dia ada disana dia akan membela walau hanya menampar atau Menjambak rambut si nenek lampir sialan itu.
" Bisa nggak si lo gak usah teriak - teriak kaya gitu. Bisa rusak nih gendang telinga gue !" Sungut Shevi sambil menutup sebelah telinganya.
" Ya abis gue gak terima aja lo digituin. Maknya kalo istirahat tuh gak usah kabur - kaburan. Mending istirahat sama kak Alvin sama gue kan, pasti lo tetep aman huuu !! "
" Ya kan gue kira dengan ngejauhin Kak Alvin, kak Luna jadi gak gangguin gue " Shevi berdalih alasanya menjauhi Alvin. Dia tidak mungkin bercerita kepada Nurin kalau alasan yang sebenarnya adalah dia malu karena ketiduran berdua dikamar Alvin. Mau dirtaruh dimana mukanya.
" Tapi lo beneran kan gak ada hubungan spesial sama kak Alvin ?? " Nurin masih penasaran.
" Harus gue jelasin berapa kali lagi si riiin ?? "
" Ya gue gak yakin aja gitu. Karena tadi pagi tuh Kak Alvin kayaknya marah banget pas datengin gue buat pinjem celana buat lo. " Nurin masih ingat betul bagaimana ekspresi wajah Alvin yang memerah menahan amarahnya.
" Ya dia khawatir lah sama gue. Kan gue adeknya " Shevi menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran dibelakangnya.
" Tapi gue rasa kak Alvin kayaknya suka deh sama lo vi "
" Ya suka lah.. kalo gak suka mana mungkin dia mau ngakuin gue adek ! "
" Bukan itu maksud gue bege !! " Nurin yang geregetan menjitak kepala Shevi sampai membuat Shevi memanyunkan bibirnya sambil mengusap kepalanya yang tidak seberapa sakit itu.
" Maksud gue kak Alvin CINTA sama lo ! " Nurin sengaja menekankan kata cinta agar gadis yang tidak peka itu sadar.
Siapapun dapat melihat kalau tatapan Alvin ke Shevi itu beda. Buka tatapan abang ke adeknya apa lagi tatapan sahabat.
Nurin saja yang masih awam tentang cinta bisa merasakan kalau perhatian Alvin itu beda dari pada ke yang lainnya.
Entah Shevi yang tidak peka terhadap perhatian Alvin, atau dia hanya pura - pura tidak tahu. Entahlah Nurin pusing memikirkannya. Apalagi gadis disebelahnya itu cukup keras kepala untuk mengakui perasaanya.
__ADS_1
Happy Reading 💕