
Pulang dari sekolah, Alvaro langsung membawa Tiara menuju apartemen yang belum lama ini ia beli. Dimana sekarang ia akan membina rumah tangga di sana. Merajut masa depannya dengan Tiara, membuat kenangan yang akan mereka ceritakan kepada anak cucu mereka kelak di tempat itu.
Barang-barang yang di perlukan miliknya dan milik istrinya telah di antar oleh orang kepercayaan ayahnya. Alvaro masih membutuhkan bantuan ayah dan mertuanya untuk beberapa hal.
"Kita gak pamit dulu Al, ke orang tua kita?" tanya Tiara saat mereka menaiki lift untuk menuju unit dimana apartemen mereka berada.
"Kita kan udah dapat restu untuk tinggal sendiri pas nikah kemaren. Gue rasa itu udah sama aja pamit kan?" jawab Alvaro acuh.
Tiara masih berat sebenarnya meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, kini dia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemana pun suaminya pergi.
Alvaro memencet beberapa angka di pintu apartemen mereka. "Passcode-nya tanggal pernikahan kita." ujar Alvaro agar istrinya mengingat. Tiara hanya mengangguk paham.
Memasuki ruangan yang akan mereka tinggali, Tiara merasa nyaman. Entah siapa yang mendesain tata letak semua prabot, hingga ruangan itu tidak terasa asing baginya. Ruang tamu yang sekaligus ruang televisi, sama dengan ruang keluarga di rumah kedua orang tuanya. Bedanya hanya ruangan itu tidak sebesar di rumahnya.
"Siapa yang desain Al?" tanya Tiara dengan mata berbinar menatap suaminya yang masih bersandar di dinding samping pintu dengan kedua tangan di lipat di depan dada.
"Gue tau lo bakalan berat ninggalin rumah orang tua lo. Makanya gue desain sama kaya di sana biar lo betah!" jawab Alvaro masih dengan nada dingin. Padahal dalam hati pemuda itu tersenyum melihat binar di mata istrinya. Ah kenapa gengsinya begitu besar seperti ini? padahal mereka sudah menikah, Alvaro tidak perlu berusaha membuat hatinya membenci Tiara lagi untuk bisa mencintai gadis yang di jodohkan dengannya bukan?
Alvaro akan tetap seperti ini, hingga Tiara ada sedikit saja rasa untuk dirinya. Baru saat itu, dia akan mengungkapkan perasaannya sejak dulu.
"Makasih ya Al." satu lagi perubahan Tiara. Gadis itu tidak pernah lagi berkata ketus kepada dirinya. Entah karena gadis itu menuruti perkataannya pada saat acara pernikahan mereka, atau memang karena dirinya tidak lagi mengganggu gadisnya itu. Apa pun alasannya, Alvaro tetap senang dengan perubahan istrinya. Dan dia akan berusaha membuat gadis yang tadinya membencinya itu, berbalik untuk mencintainya.
"Hmm." Alvaro hanya berdeham sebagai jawaban, dan berlalu menuju kamar yang akan mereka tempati mulai saat ini.
Lagi-lagi mata Tiara berbinar, sebagian boneka kesayangannya berada di kamar itu. Walau warna kamarnya bukan warna kamarnya yang girly tapi dia cukup nyaman dengan perbaduan warna coklat kayu dan putih yang teduh untuk mengistirahatkan mata mereka yang lelah. Prabot yang juga dominan warna hitam dan coklat tua. Kamar mandi luas dengan bathup yang nyaman untuknya berendam, karena Tiara paling suka berendam saat mandi.
"Gak ada ruang gantinya Al?" tanya Tiara saat tidak mendapati ruangan lain di kamar mereka selain kamar mandi.
__ADS_1
Alvaro berjalan mendekati Tiara dan mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga istrinya yang mualai menegang itu. "Gak ada. Lo kan bisa ganti baju di depan gue. Gue udah sah buat ngeliat seluruh tubuh lo." bisik Alvaro, membuat Tiara merinding geli dan langsung menyilangkan tangannya di depan dada dengan melirik sebal ke arah Alvaro yang berdiri tepat di depannya.
"Alvaro mesummm!!!" seru Tiara membuat Alvaro tegelak. Semakin membuat Tiara kesal dan memukulkan bantal sofa di dekatnya berkali-kali kepada suaminya yang menebalkan itu.
"Ampunn Ra.. Lo suka banget sih menganiaya gue! KDRT tau!" seru Alvaro yang berhasil menahan tangan istrinya, membuat tubuh mereka tidak berjarak.
Tiara mendongak menatap wajah suaminya yang memang lebih tinggi darinya. Dadanya berdetak tak karuan. Mereka saling diam dalam satu garis lurus, menatap iris mata pasangam masing-masing. Hingga Alvaro yang lebih dulu memutus pandangan takut khilaf, karena setelah menikah rasanya bibir istrinya itu menggoda untuk dia cium.
"Gue mandi dulu." Alvaro berlalu ke kamar mandi.
Tiara menghembuskan nafasnya legas dan meremas kain berlapis yang menutup dadanya yang berdetak tak karuan. "Duh kenapa sih gue!" makinya pada diri sendiri dan memukul dahinya berkali-kali.
"Nagapin lo mukul-mukul kepala lo sendiri?" tanya Alvaro heran.
Tiara berbalik dan mendapati suaminya yang hanya memakai celana sekolahnya saja. "Aaa ALVAROOO ngapain lo gak pake baju!" teriak Tiara dengan menutup matanya dengan kedua tangan.
"Lo gak pengin pegang Ra?" Alvaro mendekat dan meraih satu tangan Tiara dan meletakkan di atas dadanya membuat gadis itu menjerit dan memukul dada Alvaro lumayan keras.
"Gak usah macem-macem deh Al! buruan sana ambil baju terus mandi!"
Alvaro yang masih tertawa melangkah menuju lemari dimana bajunya dan baju Tiara sudah tertata rapi. Mengambil kaos dan celana khaki pendek yang nyaman di pakai di dalam rumah.
"Dasar Alvaro gila." maki Tiara setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup.
Berkeliling rumah barunya lagi. Saat akan membuka kamar di sebelah kamar yang dia tempati dengan Alvaro, ternyara kamar itu terkunci.
"Kenapa di kunci? katanya ruang kerja. Emang rahasia banget apa?" monolog Tiara dan mengedikkan bahunya tidak ingin ambil pusing.
__ADS_1
Dapur rapi dan nyaman, dengan mini bar yang hanya berisi dua kursi. Tiara membelai kursi yang akan di duduki hanya oleh dirinya dan Alvaro. Semakin membuatnya sadar kini dia dan Alvaro adalah pasangan.
Belum juga merasakan namanya pacaran, sudah jadi istri saja. Tapi lebih baik seperti itu bukan? Semua akan terasa lebih indah untuk mereka jalani. Senyum mengembang di wajah cantik Tiara. "Istri." gumamnya pelan dengan wajah merona. Gadis itu masih belum terbiasa dengan setatusnya saat ini.
Membuka isi lemari dan kulkas, mengecek bahan makanan yang ternyata sudah lengkap.
Membuka YT dan mencari tutorial memasak. Berniat untuk memasakan makan malam untuk suami dan dirinya. Meski tidak lihai dalam memasak, tapi Tiara pernah beberapa kali di ajari memasak oleh nenna-nya. Mommy-nya terlalu sibuk untuk mengajarkannya memasak. Mommy Shevi lebih baik mengajar di sekolah musik miliknya dari pada mengajari anaknya memasak.
Pusing melihat begitu banyak resep yang ia lihat, hingga perutnya berbunyi minta di isi. Akhirnya dia memutuskan membuat pasta saja yang mudah dan cepat. Sudah ada pasta dan saus instannya. Tinggal menambah daging biar enak.
"Ngapain lo?" suara Alvaro mengagetkannya yang sedang memotong bawang bombai.
"AAAWWW!" pekiknya saat jarinya teriris pisau ketika menoleh ke arah suaminya.
*
Liat Al, panik. Aku juga pengen di panikin 😍
*
*
*
Ayo dong kencengin semangat nya 💕
__ADS_1