
Setelah memikirkan semalaman hari ini Alvin bertekat untuk menyatakan perasaanya terhadap Shevi. Apapun jawaban gadis itu nanti akan dia terima. Yang penting sekarang Shevi tahu perasaanya agar mau mempertimbangkan atau minimal memikirkan lagi kemana hatinya akan berlabuh.
Dengan penuh tekad Alvin menuju rumah Shevi. Mengendarai mobil Shevi yang semalam dia bawa saat gadis itu menjemputnya di bandara.
Alvin membunyikan Klakson mobil dan satpam rumah Shevi langsung mempersilahkannya masuk. Dia memarkir mobil itu dihalaman depan rumah keluarga Shandika kemudian turun dan menutup pintu mobil dibelakangnya.
Alvin menaiki tangga teras dua dua sekaligus. Ditariknya nafas dalam sebelum dia memencet bell rumah tersebut. Hingga tak lama terdengar suara seorang gadis dari dalam yang menyuruhnya menunggu.
Shevi yang sedang menonton televisi dengan kakak, adik dan bundanya yang memang sengaja menunggu kedatangan Alvin karena tadi pagi Shevi bilang pemuda itu mau berkunjung setelah sekian lama baru pulang dari Belanda. Dengan malas Shevi membuka pintu karena asisten rumah tangganya sedang memasak untuk makan siang.
Shevi yang hanya mengenakan celana pendek warna krem dengan kaos berwarna putih gambar beruang dan rambut dikuncir kuda asal-asalan dengan poni dan anak rambut yang menjuntai di sebagian wajahnya yang menambah kesan cantik gadis itu. Dia membuka pintu dan nampaklah Alvin dengan senyuman terbaiknya.
" Bang Alvin.. Masuk bang " ajaknya sambil membuka pintu lebar-lebar.
" Ada waktu gak Shev.. Gue mau ngomong berdua sama lo penting." belum-belum jantung Alvin dag dig dug tak karuan.
Shevi mengerutkan alisnya bingung. Tumben Abangnya mau ngomong serius.
"Ya udah masuk aja bang.." ajaknya lagi
Shevi mendahului Alvin duduk di sofa ruang tamu. Tak lama Alvin mengikutinya dan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Shevi.
***
Alvin menatap wajah cantik dihadapannya untuk mencari ketenangan. Tapi sialnya, dia malah tambah gerogi. Kenapa sekarang Shevi tambah cantik begini si ? Haruskah dia langsung to the poin saja biar tidak berbelit - belit ? Iya, Dia harus jujur. Dia tak mau Shevi ada yang memiliki. Karena pasti banyak pria diluar sana yang mengejar dan mengidam - idamkannya. Setelah lama hening akhirnya Alvin memberanikan diri.
" Dek. Gue mau jujur sama lo. Gue mau lo tau perasaan gue yang sebenernya dengan jelas " Alvin menautkan jari - jarinya dan menopangkan kedua sikunya di kedua pahanya.
" Lo masih ingit apa yang gue bisikin ke lo waktu dibandara dua tahun lalu waktu gue mau berangkat ke Belanda ?? " Shevi mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Bagaimana tidak ingat kalau kata - kata Alvin selalu menghantui pikirannya dan menumbuhkan sedikit harapan dihati Shevi walau sekeras apapun Shevi menolak rasa dihatinya itu.
" Dan lo tahu maksudnya kan?? " Wajah Shevi merona tapi dia menggelngkan kepalanya. Dia ingin Alvin yang menjelaskannya secara jelas. Dia tidak mau berasumsi sendiri dengan kesimpulan yang dia buat.
" Gue tau lo gadis cerdas dek. Dan gue yakin lo pasti tahu maksud gue. " Jantung Shevi sudah seperti genderang perang yang tidak bisa dia kendalikan. Begitu juga dengan Alvin. Ini pertama kalinya Alvin menyatakan perasaannya kepada wanita di kehidupan dua puluh tahunnya ini.
" Oke gue tegesin lagi sama lo !! "
Alvin berdiri berjalan mendekat dan pindah disebelah Shevi. Mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Shevi sambil menatap mata indah didepannya.
Jantung Shevi berdetak lebih keras seperti sehabis maraton. Sampai dia takut Alvin mendengar detak jantungnya. Dia memang sudah sering duduk berdekatan dengan Alvin. Tapi jika Alvin berbicara serius begini entah kenapa jantungnya bereaksi berlebihan seperti itu. Belum lagi Alvin yang sekarang menjadi pria yang semakin memiliki daya tarik tinggi.
" Ngapain lagi bang Alvin harus pindah dekatan begini " batinnya Shevi
" Gue sedang berusaha memantaskan diri buat bersanding dengan lo. Biar gue bisa jadi pria yang pantes buat lo. Biar bisa jadi pacar pertama dan terakhir buat lo. "
" Gue udah lama memendam perasaan buat lo. Tapi selama ini gue pegang teguh kalau lo itu adek gue. Tapi nyatanya gue gak bisa ! "
" Hati gue udah jadi milik lo seutuhnya. Gue udah jatuh cinta sejatuh - jatuhnya sama lo Shavina Almahyra Shandika.... Gue cinta lo !! " akhirnya tersampaikan semua perasaan yang telah bertahun-tahun dia pendam untuk gadisnya ini. Ada sedikit rasa lega seperti ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya.
PRAANKKK
mereka berdua menengok kearah pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga. Disana ada seorang gadis yang sedang mematung dengan mata berkaca - kaca.
Kenapa Alvin harus bohong kalau dia hanya menganggapnya dan Shevi sebagai adik kalau pada kenyataannya pemuda itu punya perasaan kepada adik kembarnya.
Sakit? Itu pasti. Dia yang penasaran siapa yang bertamu akhirnya memutuskan untuk melihatnya. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang dan apa yang sedang pria itu katakan. Hingga tanpa sengaja dia menyenggol vas bunga yang ada di meja sebelahnya.
" Kak Shera ! " Shevi bergumam pelan dan berjalan mendekatinya. Tapi belum sampai Shevi didekatnya Shera lari pergi kekamarnya dengan berurai air mata.
__ADS_1
Bunda yang melihat Shera berlari sambil menangis menanyakannya kenapa tapi tak diindahkan oleh Shera.
" Shevi. Kakakmu kenapa nak? " tanya bunda khawatir.
" bentar ya bun.. Ini cuma salah paham aja kok. Biar Shevi jelasin dulu sama kakak. " Shevi mengusap lengan sang bunda dan berlalu menyusul Shera ke kamarnya.
***
Tok tok tok
" Kak. Shevi boleh masuk ga? " Suaranya bergetar takut terjadi apa-apa dengan kakaknya mengingat kondisi jantung sang kakak.
" Aku ga mau ngomong sama kamu Shev. Lebih baik kamu pergi ! Aku benci sama kamu ! " Shera berteriak dari dalam sambil nangis sesenggukan.
" Kak. Gue bisa jelasin sama lo. Gue ga punya perasaan apa-apa sama bang Alvin kak. Ini semua ga kaya yang lo kira. " Shevi sakit mendengar kakaknya membencinya.
Dulu saja hanya melihat Alvin menyuapinya, Shera bisa marah dan mendiamkannya sampai enam bulan lamanya. Apa lagi sekarang yang melihat Alvin menyatakan cintanya untuk Shevi.
" Gue bilang PERGIIII !!! " baru kali ini Shevi mendengar Shera berteriak sekeras itu. Segitu besarkah semua ini menyakitinya. Tapikan dia belum menjawab apapun tadi.
Tak lama kemudian terdengar pekikan Shera dan terdengan sesuatu terjatuh. Shevi semakin khawatir dengan Shera.
" Kaakkk buka kak " Shevi terus menggedor - gedor pintu kamar Shera dan tak ada respon dari dalam. Shevi menempelkan sebelah telinganya didaun pintu dan hening tak ada suara apa pun.
" BUNDAAAA... BANGGG ALLLLL "
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading 💕