
"Alvaro!" panggil gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai dengan rambut yang terurai panjang.
Namanya adalah Lupita, atau lebih sering di panggil Pita. Mahasiswi pindahan dari luar jawa, satu tahun lalu. Satu-satunya gadis dikelas yang tidak mengetahui jika Alvaro telah beristri.
"Eh, Ta. Kenapa?" tanya Alvaro yang sedang berjalan menuju ruangan dosen pembimbing.
"Mau bimbingan, ya?" gadis itu balik bertanya.
Alvaro hanya menangguk. Karena sebenarnya mereka satu dosen pembimbing.
"Judul skripsi gue di tolak lagi." keluh gadis itu dengan mengendurkan bahunya.
Mereka memang cukup dekat. Atau setidaknya Pita menganggap mereka cukup dekat. Karena memang sikap Alvaro kepada semua teman wanitanya biasa saja. Tidak terlalu dekat dan tidak juga menjauh. Membuat Pita lebih berani mendekati Alvaro. Disaat tidak ada gadis manapun yang berani mendekat.
Padahal Pita saja yang tidak tahu, jika gadis-gadis lain tidak berusaha mendekati Alvaro karena tahu pria itu sudah menikah. Dan tahu juga betapa Alvaro mencintai istrinya.
Dan mahasiswi lain sepakat untuk tidak memberitahu status Alvaro pada Pita. Mereka dapat melihat jika Pita tertarik pada Alvaro sejak pertama gadis itu masuk sebagai mahasiswi pindahan.
"Bantuin gue dong, Al.. Gue kan juga mau lulus tahun ini. Pengen wisuda bareng lo dan yang lain.." rengek Pita dengan gaya manjanya. Siapa saja juga tahu dengan sikap manja Pita itu.
"Nanti kalau gue ada waktu, gue coba bantuin." jawab Alvaro datar. Kasihan juga melihat teman sekelasnya kesusahan.
Pita sudah bersorak kegirangan. "Kalau abis lo ketemu dosen aja gimana? lo gak ada acara kan?" tawar gadis itu.
"Acara sih gak ada. Tapi gue ada kerjaan."
"Lo kerja?" sahut Pita dengan tatapan kagum.
Alvaro kembali mengangguk. Tidak ingin menjelaskan lebih.
"Waaahh.. kerja apa, Al?" cecar Pita yang merasa belum puas dengan jawaban Alvaro.
"Sesuai jurusan kita." jawab Alvaro sembari melihat pergelangan tangannya. Dimana jam tangan melingkar di sana.
"Hebat. Hebat. Lo udah bisa kerja padahal belum lulus. Lo ikut orang?"
"Emm.. Nanti lagi ya, Ta. Gue udah di tungguin dosen."
Alvaro yang memang bukan tipe orang yang suka basa-basi memotong pertanyaan Pita yang tidak ada habisnya.
Waktu untuknya begitu berharga. Lebih baik untuk segera menyelesaikan skripsi atau pekerjaan sehingga ia bisa lekas berkumpul dengan keluarga kecilnya di rumah.
"Eh iya. Maaf.. Gue malah jadi nyegat lo begini."
__ADS_1
Alvaro hanya tersenyum dan pamit pergi.
Pita memegang dadanya. Dimana jantungnya berdegup kencang melihat senyum Alvaro. Pria pujaan hatinya.
"Ganteng banget sih lo, Al..."
***
Usai bimbingan, Alvaro di kagetkan dengan kemunculan Pita yang tengah bersandar di pintu mobilnya.
"Udah, Al?" todong gadis itu langsung.
"Udah. Gue duluan." pamit Alvaro yang kini membuka pintu kemudi.
"Eh, gue ikut Al." seru Pita yang langsung membuka pintu samping kemudi dan masuk begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik.
"Gue mau keja, Ta. Lain kali aja ya gue bantuinnya." tolak Alvaro halus.
"Kata Bobby, lo kerja di perusahaan lo sendiri kan? jadi gak masalah dong gue ikut. Gue janji gak bakal ganggu lo kerja. Gue cuma mau lihat doang. Dan kalau lo udah gak sibuk-sibuk amat, baru bantuin gue." cerocos Pita seenaknya sendiri memutuskan sesuatu. Tadi memang gadis itu sempat bertemu Bobby untuk bertanya Alvaro kerja dimana.
Alvaro menggeleng. Untung istrinya tidak semenyebalkan ini.
Tidak sampai 30 menit, mereka sudah sampai di pelataran ruko tempat dimana Alvaro membangun usaha.
Cafe di sebelah yang juga miliknya tampak rame meski hari belum menunjukan waktu makan siang.
"Tiara ke sini?" tanya Alvaro. Karena memang tidak tahu jika istrinya akan mengantar makanan.
"Enggak sih bang. Tadi di anter kurir. Tapi kak Tiara juga telfon."
Pita tidak menganggap serius siapa itu Tiara yang mengirim makanan. Dalam pikirannya mungkin saja itu gadis yang menyukai Alvaro sama seperti dirinya. Atau mungkin kakak atau adiknya.
Alvaro mengangguk. "Ya udah, nanti kita makan bareng di ruang meeting aja." karena hanya itu satu-satunya ruangan yang mampu menampung mereka semua.
Pita masih mengekori Alvaro naik ke lantai dua. Disana ada Dika duduk di sofa ruang tunggu tengah mengerjakan pekerjaannya.
"Ruangan lo kebanjiran?" sindir Alvaro yang melihat anak buahnya tidak bekerja di ruangannya sendiri.
"AC gue mati, benerin dong bos. Omset gede tapi asistennya panas-panasan." cibir Dika yang tak mengubah pandangannya dari berkas-berkas yang sedang ia cek sebelum di serahkan pada Alvaro.
"Kenapa gak bilang Nila suruh panggil tukang service?"
"Udah. Cuma belum dateng juga dari kemarin. Eh, ada tamu." Dika yang baru mengangkat kepalanya di kagetkan dengan gadis yang berdiri di samping bosnya. Sama seperti kepada Nila tadi. Pita juga tersenyum cerah pada Dika.
__ADS_1
"Pita kenalin, dia Dika. Dan Dika, ini Pita. Temen kuliah. Lagi minta bantuan bikin skripsi."
Dika mengernyitkan dahi. Untuk apa juga Alvaro bantuin temennya untuk bikin skripsi. Padahal skripsinya sendiri saja belum selesai.
Dika menjabat tangan Pita dan memperkenalkan diri.
"Jangan main api, kalau lo gak mau repot madaminnya sendiri." ucap Dika lirih menepuk bahu Alvaro sambil berlalu.
***
Alvaro semakin sering bertemu dan menghabiskan waktu dengan Pita. Meski hanya di kantor yang jelas di sana banyak karyawan Kaisar company.
Kesibukan Alvaro dengan skripsi dan pekerjaan juga membantu Pita membuat skripsi, begitu menyita waktunya untuk berkumpul bersama keluarga.
Setiap pria itu pulang, anak dan istrinya sudah tertidur.
Wajar saja, Tiara juga sedang sibuk-sibuknya kuliah dan menjaga dua buah hatinya yang sedang dalam masa paling aktif.
Jarangnya waktu bersama istri semakin membuat setan berbisik dan membuat Alvaro merasa nyaman bersama Pita.
"Yank, gue ke kantor ya." pamit Alvaro di minggu pagi menjelang siang.
Tiara yang sedang bermain bersama kedua jagoannya menoleh dengan mengerutkan dahi.
"Ini kan weekend, Al. Masa masih kerja aja sih?" protes Tiara. "Biasanya juga di kerjain di rumah!"
Tiara emosi mendengar suaminya akan ke kantor hari libur seperti ini. Tidak cukupkah lima hari kerja, pria itu habiskan di kantor hingga malam hari. Tidak cukupkah waktu yang terbuang tanpa quality time di antara mereka.
"Sebentar aja kok yank. Ada yang harus aku kerjain buat meeting besok pagi."
Tiara menghela napas. "Terserah lah, Al."
Alvaro pemit kepada kedua putranya. Kemudian mencium dahi sang istri sebelum melenggang pergi.
Alvaro memang akan mengambil berkas untuk meeting dengan klien besok pagi. Tapi begitu pria itu sampai di kantor. Ponselnya berbunyi. Nama Pita tertera di layar ponselnya sebagai pemanggil.
"Halo."
"Al. Makan siang bareng yuk. Gue kan udah janji mau traktir lo kalo judul skripsi gue di acc." suara riang di seberang terdengar.
Setelah berpikir beberapa saat, kemudian Alvaro menyetujui ajakan Pita dan langsung menuju lokasi restoran yang gadis itu kirim.
*
__ADS_1
*
*