
"Ra.. Kamu gak papa." tanya Dika yang langsung lari ke kelas Tiara saat bertemu dengan Pricilla dan memberitahu bahwa Tiara sakit.
Tiara duduk tegak dan tersenyum ke arah Dika. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi.
"Gue gak papa kok."
"Nih makan dulu rotinya. Pricil lagi ke UKS minta obat!" menyodorkan satu bungkus roti dan air mineral.
"Eh? gak usah, aku udah makan kok!" serunya merasa tidak enak dengan penolakannya.
"Makan apa?" tanya Dika aneh. Karena tadi Pricilla bilang Tiara belum makan dan minum obat.
"Makan bekel tadi. Udah minum obat juga."
Dika hanya mengangguk saja. Dia berfikir Tiara membawa bekal dari rumah.
Sedangkan Alvaro yang masih serius dengan ponselnya mendengus mendengar jawaban Tiara.
"Sory ya Ra.. gara-gara nemenin aku, kamu jadi sakit kaya gini." Dika menyesal melihat gadisnya sakit seperti ini.
"Gak papa kok. Badan gue aja yang lemah, keujanan gitu aja sakit." kekehnya agar Dika tidak merasa bersalah lagi.
"Padahal nanti pulangnya mau aku ajakin pulang bareng. Besok Kimia aku masih banyak yang gak paham." menggaruk tengkuknya, malu dengan pengakuannya. Gadis yang dia kejar, termasuk siswi unggulan. Sedangkan ia kalau sudah di hadapkan dengan angka, lebih baik menghitung kancing untuk mendapat jawaban.
"Sory ya Dik.. Gue pengen istirahat aja di rumah."
"Iya gak papa. Aku juga gak sekejam itu lah Ra, maksa kamu ngajarin aku pas kamu-nya lagi sakit begini." mengusap rambut Tiara pelan. Membuat gadis itu tersenyum dan pandangan mereka sejenak beradu sebelum kedatangan Pricilla.
"Nih Ra, minum obat dulu!" dengan nafas yang masih ngos-ngosan dia duduk di kursi yang ada di hadapan Tiara.
"Gue udah minum obat sayang.. Gue juga udah mendingan." mencubit pipi Pricilla yang masih terlihat khawatir.
"Iya sih, muka lo gak sepucet tadi? emang tadi lo bawa obat?" pertanyaan Pricilla di jawab gelengan gadis itu.
"Terus obat dari mana? lo ke UKS sendiri?"
"Pusing begini, mana mampu gue ke UKS. Tuh, tadi di bawain makan sama obat sama cowok usil" menunjuk Alvaro dengan dagunya.
Pricilla dan Dika melihat arah yang di tunjuk oleh Tiara.
__ADS_1
Pricilla tersenyum penuh arti. Sedangkan Dika merasa kurang menyukai ada yang lebih dulu memberika makanan dan obat untuk Tiara.
"Di kasih makan apa lo?" tanya Pricilla kepo. Tak menyadari perubahan ekspresi tidak suka di wajah Dika.
"Ada deeehh.. mau tau aja!!" kelakar Tiara. Bukan tidak ingin memberitahu Pricilla, tapi di sana masih ada Dika, yang takutnya Alvaro malu jika ada yang tahu dia masih membawa bekal lucu seperti itu.
Berdecak dan tertawa. "Special banget emang? sampe gak mau kasih tau gitu!"
"Specialnya bukan buat gue mungkin. Tapi sayangnya gue yang makan." terkekeh mengingat tulisan di atas bento.
Alvaro tersenyum mendengarnya. Ibunya memang tidak pernah lupa untuk membuatkannya bekal setiap hari. Dan pemuda itu tidak pernah menolak, meski tak jarang jika teman sekelasnya ada yang melihat pasti meledeknya. Namun sekali pun Alvaro tidak pernah malu. Untuk apa malu dengan limpahan kasih sayang orang tua kita.
Banyak anak yang mengharapkan kasih sayang dari orang tua mereka. Entah yang orang tuanya sibuk bekerja, model orang tua yang cuek, atau bahkan mereka yang sudah tidak memiliki orang tua lagi di sisi mereka.
Alvaro bersyukur punya ibu yang amat menyayanginya, ayah yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Dan sebisa mungkin Alvaro tidak akan membuat mereka kecewa.
"Cieee Aa Alvaro.. perhatian bener sama si eneng." goda Pricilla menghadap pemuda itu.
"Memberi sama yang membutuhkan pahalanya banyak." jawab pemuda itu dingin seperti biasa, tanpa mengalihkan pendangannya dari ponsel.
"Hahaha lo kaum dhuafa Ra?" Pricilla tergelak dengan jawaban Alvaro. Dika tersenyum tipis, meskipun tahu tidak mungkin Alvaro memberikan makanan kepada Tiara dengan alasan seperti itu. Pasti Alvaro juga menaruh perhatian kepada gadisnya, meski pun mereka lebih sering terlihat bertengkar.
***
"Assalamualaikum.. kakak Ara yang cantik pulang." salamnya saat baru membuka pintu utama.
"Waalaikumsalam.. udah baikan kak?" tanya mommy Shevi, saat anak pertamanya mencium punggung tangannya.
"Mendingan mom, cuma pusing dikit aja." merebahkan kepalanya di pangkuan sang mommy yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Tadi obatnya gak di bawa, mommy liat di meja kamar."
"Ara lupa.."
"Terus kamu gak minum obat?" mengecek suhu tubuh anaknya yang memang sudah tidak terlalu panas seperti tadi pagi.
"Di kasih makanan sama obat sama temen." jawab Tiara, bangkit untuk mengambil kotak bekal di dalam ranselnya dan memberikan kepada Shevi.
"Suruh bibi cuciin ya mom. Terus besok mommy isiin sama bekel, tapi jangan nasi! soalnya dia tiap hari di bawain bekel kayaknya."
__ADS_1
Mommy Shevi memandang kotak bekal dengan mengernyitkan dahi. "Terus mau di isi apa?"
"Di isi buah, brownies, sama susu UHT atau jus kemasan aja mom." jawab Tiara dengan ekspresi yang masih berfikir.
"Eh jangan mom! bawain puding buah aja sama minuman kemasan. Terserah mau susu, atau sari kacang hijau, yang penting yang sehat ya mom."
"Emang kamu di kasih sama siapa sih?" tanya mommy Shevi penasaran, sebegitunya perduli sama isi bekal yang bukan untuk dia sendiri.
"Buat Alvaro." cicit Tiara dengan senyum yang menampilkan sederet giginya.
"Hahaha jadi sekarang udah gak musuhan? lagi PDKT ceritanya?" mommy Shevi tergelak. Ternyata sedari tadi anaknya memikirkan bekal untuk cowok yang katanya di anggap musuh selama ini.
"Iiih mommy mah ngeselin! mana ada PDKT sama cowok nyebelin kaya dia! orang dia pas ngasih bekelnya ke aku juga bilangnya gini. 'ngasih sama yang membutuhkan pahalanya gede'. Gitu coba mom. Emang aku kaum dhuafa apa?!"
Mommy Shevi semakin tertawa dengan penuturan anaknya. "Ya ampun kasihan banget anak mommy di bilang membutuhkan hahaha." membawa anaknya kedalam dekapannya. Tiara cemberut melihat mommy-nya malah menertawakannya.
"Oke! besok mommy buatin yang special untuk calon mantu mommy yang ganteng itu. Kirain mau ganti sama si Dika? ternyata tetep sama Alvaro aja?" goda mommy Shevi lagi.
"Mommy maaahh.. Kapan aku bilang suka sama mereka berdua coba?!" melepaskan pelukan dan melipat tangannya di depan dada.
"Jadi gak mau sama dua-duanya nih?" tanya mommy-nya lagi dengan menaik turunkan alisnya.
"Gak!" jawabnya pendek dengan melengoskan wajahnya.
"Bilang daddy ah, anak gadisnya ada yang deketin."
"Jangan mom!!" seru Tiara takut. Karena jika daddy-nya tahu, pasti dia kemana pun akan di ikuti.
"Kenapa? kamu udah gede. Gak mungkin juga daddy ngikutin kamu main kaya pas jaman kamu SMP, saat tahu ada yang suka sama kamu! buktinya kemarin gak di ikutin pas main sama Dika."
"Tetep aja mom, Jangan!" daddy Alvin memang bukan orang kolot yang menentang pacaran. Tapi daddy juga bukan orang yang mudah membiarkan anak-anaknya begitu saja. Karena dia tidak ingin kesalahannya dulu saat muda terulang kembali.
*
*
*
Ayo dong Like-nya jangan melemah, biar akunya juga semangat 😁
__ADS_1