DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Waktu


__ADS_3

Semenjak bisa berjalan menggunakan tongkat, Alvaro membatalkan cuti kuliahnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ia miliki hanya karena hal kecil.


"Malu Ra, kalau nanti anak kita tau aku telat wisuda cuma gara-gara patah kaki. Nanti di kira aku papa yang lemah buat mereka. Cuma karena gitu aja menye-menye gak mau kuliah."


Begitu kata Alvaro malam itu ketika meminta ijin pada istrinya untuk kembali kuliah.


Sedangkan Tiara, dilarang keras baik oleh suami dan kedua orang tuanya. Membuat gadis itu cemberut seketika.


"Masa Al wisuda, aku gak dad.."


"Kamu lebih sayang dengan pendidikan atau dengan anak-anakmu?" pertanyaan telak dari daddy Alvin yang tak membuatnya berkutik.


Dan protesnya yang tidak membuahkan hasil membuat gadis itu mengalah. Semua demi anak-anak yang ada dalam kandungannya.


Jangankan untuk seharian berada di kampus dan menerima mata kuliah. Di rumah yang hanya menonton televisi saja ia sering mengeluh lelah. Belum lagi matanya yang gampang mengantuk. Membuatnya menuruti nasehat orang-orang tercintanya.


Tugasnya hanya menjaga kesehatanya serta kedua bayinya. Mensuport Alvaro baik dalam terapi, kuliah mau pun kerja.


Terkadang tak tega melihat Alvaro. Pagi sudah harus kuliah sampai siang. Siangnya sudah terapi. Setelah itu menghabiskan waktunya untuk menggambar sketsa Mall yang di minta Om Andrian.


"Istirahat dulu Al.." ucap Tiara yang menyimpan teh beserta kudapan di ujung meja yang jauh dari jangkauan alat kerja suaminya.


"Makasih ya sayang.." Alvaro mendongak pada istri yang berdiri di sampingnya dan merangkul bahunya.


"Makasih juga buat anak-anak papa.. semangat papa.." imbuhnya dengan memberi kecupan pada perut Tiara yang sudah lebih terlihat besar dari terakhir kali mereka periksa kandungan bersama.


"Maaf ya.. waktuku berkurang buat kalian." mengusap lembut perut yang ukurannya lebih dari orang hamil empat bulan.


Kata Tiara, hasil pemeriksaan kemarin-saat ia tidak bisa menemani kerena ada meeting- anak-anak mereka tumbuh sehat. Bahkan hasil USG yang istrinya dapat dan di bingkai untuk di pajang di kamar, anak-anak mereka sedang saling berpelukan.

__ADS_1


Membuat hatinya sebagai orang tua menghangat. Melihat keakraban keduanya sejak dalam kandungan.


Tidak bisa Alvaro bayangkan akan seperti apa kompakan mereka nanti setelah lahir dan besar. Pasti dia dan sang istri akan menjadi orang tua yang sangat bahagia.


"Iya ih! kamu jadi gak ada waktu terus buat aku sama anak-anak."


Alvaro hanya tersenyum menanggapi protes dari sang istri. Mau bagaiamana lagi. Jika proyeknya tidak segera di selesaikan, justru konsentrasinya terbagi-bagi dan berujung dengan hasil yang tidak maksimal.


Untuk itu dia sering lembur demi menuangkan ide dalam kepalanya sebelum menguap. Hanya sempat menemani istrinya hingga tertidur sebelum kembali melanjutkan hingga dini hari.


Lelah? jangan di tanya. Badannya sudah remuk redam. Jika dia perempuan mungkin sudah mengeluh sana sini dan menjerit meluapkan tangisnya.


Belum jika ada tugas yang kadang dengan tenggang waktunya yang tidak kira-kira. Membuatnya harus jungkir balik mengatur waktu sedemikian rupa agar semua tugasnya aman terkendali.


Namun, saat semua tugas dapat ia pegang. Kerjaan, kuliah, tugas dan terapi -yang untung hanya seminggu sekali yang ia pilih di akhir pekan- justru tugasnya dalam suami dan calon ayah yang justru sering terabaikan.


Istrinya sering menggerutu ketika menginginkan sesuatu dan dia malah menyuruh mamang untuk membelikan. Atau seperti saat periksa kandungan kemarin, Tiara sampai mendiamkannya semalaman karena tidak bisa menemani.


Alvaro memeluk pinggang Tiara dan mengecup perut besarnya.


Setiap Alvaro selalu membahas uang, sebenarnya Tiara ingin membantah. Toh mereka punya orang tua kaya. Toh orang tua mereka tidak mungkin membiarkan mereka kesusahan. Dan toh toh yang lain. Tapi gadis itu selalu mengurungkan niatnya.


Masih ingat jelas di ingatannya ketika Alvaro merasa terluka egonya karena ucapannya itu.


Bagi Alvaro kini ia dan anak-anak adalah tanggung jawabnya. Bukan lagi tanggung jawab daddy Alvin atau ayah Alvaro sekalipun.


Jadi apa pun kebutuhan Tiara dan anak-anak, ia yang akan menyanggupinya. Ia yang akan menanggung dan memenuhi segalanya. Dengan semampunya. Sesuai kapasitas penghasilannya yang tidak sebanding dengan apa yang daddy Alvin selalu tawarkan dan suguhkan kepada Tiara.


"Tapi kamu juga jaga kesehatan Al. Kamu tuh jadi kurus begini." suaranya bergetar, hatinya teriris melihat pipi Alvaro yang tidak seberisi dulu.

__ADS_1


Entah sudah berapa banyak berat badan suaminya turun. Makan tak terarur. Tidur kurang. Lengkap sudah siksaan yang Alvaro ciptakan untuk tubuhnya sendiri.


"Aku gak papa sayang. Aku mah emang susah naik berat badannya. Udah makan sebanyak apa juga gak gendut-gendut kaya ini." selorohnya menunjuk perut Tiara yang membuncit, berusaha agar istrinya tidak terlalu serius menanggapi kondisi tubuhnya dan malah kepikiran.


Gadis itu mencibir, namun tetap dengan tatapan sendu. "Kamu boleh kerja Al. Tapi harus inget waktu. Jangan keseringan begadangnya. Harus bisa bagi waktu buat istirahat juga. Makan juga yang teratur dong Al!"


Bukan sekali dua kali Tiara mengingatkan suaminya untuk menjaga pola makan dan istirahatnya. Tapi sebanyak itu pula hanya di jawab "iya." tanpa tindakan yang pasti.


"Sebentar lagi anak kita lahir. Jadi aku pengen kerjaan kelar sebelum hari itu datang. Biar aku punya banyak waktu buat bantuin kamu jagain mereka."


"Kamu gak perlu mikirin itu! Di rumah banyak orang.. banyak yang bantuin aku Al! yang penting sekarang kamu atur waktu kamu yang bener. Aku gak mau kamu sering tidur dini hari dan mengabaikan aku!"


"Seberapa pun uang yang kamu dapat, gak akan bisa buat ngebayar waktu yang kami lewati tanpa kamu Al." Tiara menunduk sedih. Tangannya mengusap rambut suami yang masih memeluk pinggangnya.


"Kamu mau, tiap kenangan yang aku sama anak-anak miliki, kamu gak ada di dalamnya?" tanya Tiara yang membuat Alvaro diam seribu bahasa. Mengingat masa kecilnya sendiri.


"Kamu bilang, kamu gak akan jadi kaya ayah." tambah Tiara lirih dan hampir tak terdengar. "Kamu akan selalu bagi waktu kamu dengan adil. Kamu akan selalu ada buat aku sama anak-anak. Gak akan workaholic. Tapi nyatanya, aku baru hamil empat bulan aja, kamu udah lebih mentingin kerjaan."


"Padahal kamu tau lho Al, kalau ibu hamil itu butuh dukungan dari orang-orang terdekat. Butuh perhatian kamu juga buat jadi penyeimbang mood aku. Anak-anak juga pasti pengen di bacain cerita sama papanya."


"Tapi kamu sekarang gak ada bedanya sama ayah Al. Sibuk sama kerjaan dan hanya memikirkan uang."


"Aku bukan hanya mikirin uang sayang... Tapi itu kebutuhan. Kita butuh uang itu. Tabungan aku udah tinggal dikit.. Aku takut gak bisa nyambut anak kita dengan layak." ucap Alvaro menyangkal tentang tuduhan ia hanya memikirkan uang. Sungguh, ia justru memikirkan agar pekerjaannya cepat selesai agar memiliki banyak waktu dengan istri dan dua anaknya.


"Dan tampa kerja keras, gak mungkin sukses kan Ra? dan ini selagi aku masih muda.. masih kuat buat begadang." imbuhnya yang membuat Tiara mendengus dan berlalu untuk naik ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke leher.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2