
Pagi ini Tiara semangat pagi-pagi buta sudah bangun. Dan saking semangatnya sudah duduk manis di meja makan dengan rapi, siap untuk berangkat sekolah padahal sang ibu baru akan menyiapkan sarapan.
"Kamu ngapain pagi-pagi udah rapi begitu?" tegur Shevi sembari membuat susu untuk anak-anak dan kopi untuk suaminya.
"Mau berangkat sekolah lah mom.. Masa mau ke pasar!" mulai mengoleskan selai pada roti ditangannya.
"Gak mau sarapan sandwich telur? Bibi lagi bikinin." tawar Shevi yang melihat anaknya buru-buru mengoles selai.
"Gak mau mom. Kelamaan. Aku udah mau berangkat soalnya." jawab Tiara dengan mulut penuh dengan roti.
"Pelan-pelan makannya. Lagian ini masih kepagian Ra. Kamu mau bantuin ngepel disekolah dateng sepagi ini?"
"Aku udah kangen banget kesekolah mom. Udah ya mom, Ara berangkat dulu." mencium pipi ibunya dan berlari keluar rumah.
Dengan di antar sopir pribadi, Tiara menembus jalanan ibu kota yang belum terlalu ramai. Menuju sekolah yang amat ia rindukan.
Sesampainya di sekolah baru segelintir siswa yang sudah datang. Tiara bersenandung riang berjalan menuju kelasnya di lantai dua. Saat memasuki kelas dia memutar bola matanya malas, karena yang dia dapati di kelas hanya ada Alvaro. Cowok usil yang gak pernah ada habisnya mengganggunya.
Mengangkat dagunya tinggi dan melangkah dengan percaya diri siap melewati tempat dimana Alvaro duduk dengan angkuh.
Namun naas. Tiara tidak melihat kaki Alvaro yang melintang menghalangi jalannya sehingga dia jatuh tersungkur.
"Aaawww.." pekiknya saat merasakan nyeri pada kedua lututnya.
Berdiri dan merapikan bajunya, berkacak pinggang siap menyemprotkan makian untuk pria menyebalkan di hadapanya yang sedang berpura-pura bermain ponsel. "Lo tuh ya! gak bisa apa, sehariiiii aja gak cari gara-gara sama gue!! Hari indah gue masuk sekolah setelah lima hari kena skors hancur tau gak gara-gara ulah nyebelin lo!!"
"Salah lo sendiri. Jalan tuh liat ke bawah bukan keatas!! emang kaki lo di atas!!" balas Alvaro tetap memfokuskan dirinya pada layar ponsel yang sedang memainkan game online.
"Kalo kaki lo gak ngalangin jalan gue. Gue gak akan jatoh begee!!"
"Yang begoo tuh elo!! Juara umum begini di katain begoo. Lagian suka-suka gue mau nyimpen kaki gue dimana!!" meletakkan ponselnya di atas meja dan merubah posisi duduknya menatap gadis yang mukanya merah menahan geram di hadapannya.
__ADS_1
"Tuan ALVARO KAISAR yang terhormat, yang gayanya SOK KAYA RAJA. Ini jalan umum bukan cuma lo yang bisa pake. Jadi tolong itu kaki untuk di kondisikan!! Atau gue tendang tuh kaki!!"
"Lo tuh cewek tapi ngomongnya kasar banget sih??" tanya Alvaro dengan santai.
"Orang kaya lo emang pantes di kasarin. Di manisin yang ada ngelunjak!!"
"Emang lo pernah nyoba manis sama gue?? Kenapa bisa nyimpulin kaya gitu??" berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada meja dengan memasukkan telapak tangannya di saku celana.
"Mimpi aja lo! gue mau bersikap manis sama lo!!"
"Jangan terlalu benci. Nanti lama-lama lo cinta lagi sama gue. Bukan apa-apa. Hanya saja lo bukan tipe cewek yang gue pengen buat dampingi gue." mulut Tiara menganga lebar mendengar penuturan cowok rese di hadapannya. Mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya.
"Sok kegantengan banget lo jadi orang!!"
"Gue emang ganteng sih. Semua orang juga tau itu. Cuma cewek buta yang gak langsung bilang gue ganteng." Alvaro mengedikkan bahunya.
"Jadi maksud lo, gue cewek buta itu?" Tiara makin geram sekarang.
"Gue sih gak bilang itu elo. Tapi kalo lo nyadar ya sukur lah." Tiara menatap tajam mata Alvaro yang dingin.
Hampir seluruh siswa SMA Putra Bangsa tau hobi mereka berdua yang suka ribut. Dan entah siapa yang memulai, kini julukan mereka adalah Mahkota Kekaisaran. Dari nama Tiara dan Kaisar.
"Nih monyet satu yang pagi-pagi udah gangguin gue." Tiara melengos pergi kebangkunya sendiri diikuti oleh Pricil.
***
Saat usai upacara, lapangan di gemparkan dengan siswa pindahan yang diperkenalkan langsung didepan oleh kepala sekolah. Yang katanya, siswa pindahan dari luar kota yang masih saudara jauh dari kepala sekolah itu sendiri.
"Ibu harap, Radika bisa memperkuat tim basket kita. Karena dia juga pemain basket terbaik di kota tempat dia tinggal sebelumnya."
Bisik-bisik siswi yang mengagumi ketampanan Radika mulai berdengung mengalahkan suara kepala sekolah yang menggunakan pengeras suara.
__ADS_1
"Gantengnyaaaa Raa.." Pricil juga ikut memuji pemuda yang sedang tersenyum di depan sana.
"Gak usah lebay. Biasa aja!!" Tiara mentoyor kepala sahabatnya itu.
"Iiiihh emang beneran ganteng kok. Lo aja yang buta, semua cowok lo bilang jelek. Alvaro juga sama lo bilang jelek. Padahal ganteng begitu." Pricil menatap curiga sahabat satu-satunya yang dia miliki disekolah ini.
"Jangan-jangan lo punya kelainan seksual lagi, makanya semua cowok lo bilang jelek. Lo gak suka kan sama gue??" tanya Pricil horor dengan pikirannya sendiri.
"Gue emang suka sama lo. Kalo gak ngapain gue mau lo deket-deket gue." jawab Tiara dengan mengulum senyumnya agar tidak menyembur sebagai tawa.
"Ma-maksud lo. Lo beneran kelainan?? lo suka sama gue?? lo cinta sama gu..mmm" Suara Pricil semakin lama semakin tinggi hingga akhirnya diam setelah Tiara membekap mulut temannya itu.
"Gue becanda begoo.. Gila apa gue kelainan. Bagi gue cowok ganteng cuma daddy gue. Kalo masih dibawah daddy berarti jelek." Pricil langsung menepuk dahinya begitu tahu alasan Tiara.
"Gue tau si, cinta pertama anak perempuan itu ayahnya. Tapi gak selebay lo juga kali." kini gantian Pricil yang mentoyor kepala Tiara.
"Ya mau bagaimana, emang daddy gue ganteng." Tiara masih tidak mau kalah.
"Ya ya ya.. Om Alvino Mahesa emang yang paling ganteng. Puas!!" melirik malas dan meninggalkan Tiara di lapangan. Membuat temannya itu tertawa dan mengejarnya.
Dari atas lapangan Radika mengawasi pergerakan kedua gadis itu. Sejak pertama kali melihat gadis itu tadi pagi ketika baru berangkat sekolah, ia langsung terpesona pada pandangan pertama.
Bagaimana gadis itu tersenyum dengan manis dan menyapa siswa yang dia lewati dengan ramah. Bagaimana gadis itu bersenandung dengar merdu meskipun dia tidak terlalu jelas mendengarnya. Bagaimana rambutnya berkibar tertiup angin. Dan bagaimana dia saat bertengkar dengan teman satu kelasnya. Karena tanpa sadar, kakinya melangkah mengikuti gadis itu sampai di kelas.
Sayangnya dia tidak sekelas dengan gadis itu. Karena gadis itu ada di kelas unggulan IPA1. Sedangkan dirinya hanya bisa masuk kelas IPS.
Nilai akademiknya memang tidak terlalu bagus. Tapi kemampuan olahraganya sangat menonjol. Dia memenangkan penghargaan pemain basket terbaik seprovinsi di kotanya. Dan itu mungkin bisa dia jadikan modal untuk mendekati gadis incarannya itu.
*
__ADS_1
*
*