
Semalam setelah Tiara memeriksakan kandungannya ke rumah sakit, rumah orang tuanya ramai di kunjungi keluarga mereka.
Dari Nenna dan Uncle Rasya beserta si kembar. Aunty Sera serta keluarganya. Juga Oma dan Opa. Semua datang untuk memberi selamat dan turut bahagia mendengar kabar calon anggota baru keluarga mereka.
"Gila lo Ra... Kecil-kecil udah begituan, sampai hamil lagi." goda Rasya yang duduk di karpet ruang keluarga menemani anak-anak bermain. Bunda Karina memukul pelan bahu anak bungsunya.
Tiara mencebik dan cemberut. Malu? jelas saja. Dia memang masih muda. Teman-temannya jika malam akan pergi nonton atau jalan dengan pacar atau teman mereka. Tapi Tiara jika malam selalu sibuk di ajak olahraga oleh suaminya.
Mana yang berbuat tidak bertanggungjawab membelanya saat ini. Tiara memilih memeluk mommy-nya. Menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu. Membuat yang hadir tertawa melihat tingkah gadis yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu.
"Nanti kalo aku nikah, aku juga mau tiap malem bikin lah. Biar gak kalah sama Tiara." ucap Rasya yang langsung mendapat toyoran dari kakak sulungnya Shera.
"Calon aja belum ada! udah mau bikin anak lagi aja!"
"Lihat saja nanti kak. Aku bawa pulang calon istri biar kak Shera gak nyuruh-nyuruh aku mulu kalo dateng ke rumah."
"Apa hubungannya kamu punya istri sama aku yang nyuruh kamu?"
"Sory sory aja nih kak. Kalo aku udah punya istri, istriku akan jadi prioritasku. Jadi aku gak mau lagi di suruh-suruh sama kakak."
Begitulah keramaian rumah Alvin tadi malam. Selain Alvin, kedua orang tuanya dan juga Bunda Karina juga sangat bahagia dengan kabar tersebut. Mereka bisa melihat cicit mereka di usia mereka yang masih muda. Menasehati Tiara tentang apa yang boleh di lakukan dan makan serta yang tidak boleh.
***
Sinar matahari menyapa lembut lewat celah jendela kamar. Tiara menggeliat dan mengerjapkan matanya. Selalu sedih ketika bangun tidur. Sudah berapa lama dia bangun dan tidak melihat wajah suaminya di sana.
Tiara menghela napas. Mengeluarkan sesak dan menggantinya dengan semangat.
"Masih pagi gak boleh sedih. Nanti anak mama juga sedih." ucapnya mengusap perutnya yang masih rata. "Pagi kesayangan mama. Siap untuk mengunjungi papa?" tanyanya bersemangat.
Ketika bangun, kepalanya seperti dihantam. Rasa pusing berkunang-kunang menyerangnya. Tekanan darah Tiara memang masih belum normal. Sehingga masih pusing dan lemas. Apa lagi kata mommy di awal kehamilan memang pusing dan mual. Untung Tiara tidak mengalaminya. Malah Alvaro yang setiap hari muntah-muntah. Tapi Tiara tidak tahu juga itu karena dia sedang hamil atau benar tidak cocok dengan obat barunya.
Saking semangatnya untuk membawa kabar gembira ke rumah suaminya, hingga lupa kondisi tubuhnya sendiri.
"Sepertinya nanti saja ya sayang. Mama masih pusing." ucap Tiara kembali dengan memegang kepalanya kuat.
Shevi membawa sarapan serta susu hamil ke kamar anaknya.
"Masih pusing sayang?" tanya Shevi yang duduk di samping anaknya yang memejamkan mata dan memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Iya nih mom. Pusing banget."
"Nanti kalau tekanan darah kamu udah normal juga gak pusing lagi. Paling hanya pusing sedikit selama awal kehamilan. Itu juga dulu mommy hanya pagi aja pusingnya. Kalau sudah siang, sudah sehat lagi."
Tiara yang sudah terduduk dan bersandar di kepala ranjang mengangguk dan ber-ooh ria.
"Terus apa lagi keluahannya mom?"
"Tiap ibu hamil itu beda-beda. Dulu mommy tiap pagi muntah-muntah. Bahkan saat hamil adek sampai usia hamir tujuh bulan masih suka muntah meski gak sering."
"Ooh ya?" Tiara ngeri membayangkannya. Ini saja baru satu mingguan kondisinya seperti ini rasanya sudah tidak sanggup.
"Sering aja ajak baby-nya ngobrol. Ajak dia buat bisa kerjasama sama kamu. Kadang itu beneran lho kak. Kaya dulu pas mommy hamil kamu." Shevi mengusap perut anaknya. Membayangkan saat dirinya muda dulu. Tepat seusia Tiara dulu dia mengandung anak itu.
"Hamil usia muda mungkin berat. Apa lagi tubuh kamu masih kecil begini. Mommy yang lebih tinggi dari kamu aja harus operasi dulu."
Tiara ikut mengusap perutnya. Dalam hati ia mengajak anaknya berbicara dan berdoa semoga bisa melahirkan dengan lancar dan normal.
"Aku mau ke rumah Al mom."
"Iya gak papa. Tapi mommy antar ya?"
"Kan mommy cuma mau antar." ucap Shevi. "Paling ngobrol-ngobrol bentar sama besan."
"Terus aku pulangnya gimana mom?"
"Nanti kamu telfon aja. Nanti mommy jemput lagi. Mommy di studio."
Tiara mengangguk setuju.
"Kamu fokus ke Alvaro aja. Bujuk dia biar mau pulang. Gunain anak kalian sebagai senjata."
Tiara kembali mengangguk dan tersenyum melihat semangat Shevi. Jika mommy-nya saja semangat ingin menantunya kembali dengannya. Masa dia tidak semangat untuk berjuang lagi hari ini. Apa lagi saat ini sudah ada yang menambah kekuatan dan semangat untuknya.
Satu alasan yang tidak bisa membuat Alvaro menjauh darinya. Lelaki itu harus bertanggung jawab dengan anak dalam kandungannya. Jangan cuma pas bikinya aja semangat tiap malam. Giliran sudah jadi anak begini kabur.
Jika sampai Alvaro tidak luluh juga dengan anaknya. Akan Tiara jambak-jambak rambut suaminya itu.
Selesai sarapan dan membersihkan diri, Tiara di antar Shevi menuju rumah mertuanya. Dengan semangat baru yang dia miliki membuat gadis itu tersenyum dan terus saja memegang perutnya. Seakan jika ia melepaskan tangannya, anaknya akan hilang dari sana.
__ADS_1
Ketika sampai, gerbang langsung di buka ketika tahu siapa yang ada di dalam mobil.
Terlihat ibu sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
"Ibu.." seru Tiara berlari memeluk mertuanya. Membuat Shevi yang baru turun dari mobil ngeri melihatnya.
Ibu tersenyum dan mengusap punggung menantunya.
"Kamu tuh kak! inget yang di perut, jangan lari-lari begitu!" seru Shevi saat sudah berada di dekat mereka. Tak lupa menyapa dan bercipika-cipiki dengan besannya.
Tiara menggaruk tengkuknya. Meringis. "Maaf mom. Lupa. Abis kangeng berapa hari gak ketemu ibu."
"Kangen ketemu ibu apa anak ibu?" goda ibu mertuanya.
"Tentu saja kangen.... anak ibu." terkekeh. "Tapi kangen ibu juga kok, meskipun gak sebesar kangen sama abang." memeluk ibu mertuanya dari samping.
Shevi hanya tersenyum dan menggeleng saja.
"Maksudnya inget yang di perut, apa nih?" tanya ibu saat mengingat poin penting yang terasa janggal tadi.
"Sebentar lagi kita akan jadi nenek jeng." ucap Shevi mendului Tiara untuk menjawab. Membuat anaknya mencebik.
Ibu Alvaro menutup mulutnya dan menatap Tiara tidak percaya. "Ini beneran Ra? kamu hamil sayang?"
Tiara mengangguk, ikut berkaca-kaca saat melihat ibu mertuanya meneteskan air mata saat akan memeluknya.
"Ibu seneng banget dengarnya. Pokoknya kamu harus jaga baik-baik calon cucu ibu."
Tiara mengangguk dalam dekapan sang mertua. Shevi yang berdiri di samping Tiara ikut mengusap punggung anaknya.
Dari dalam rumah, Alvaro melihat itu semua dari balik kaca jendela kamar barunya di lantai bawah. Semenjak menggunakan kursi roda Alvaro tidur di kamar tamu.
Alvaro penasaran apa yang mereka bicarakan. Ibunya dan istri serta mertuanya yang tersenyum. Kemudian mereka menghapus air mata di pipi mereka, membuat Alvaro semakin penasara apa yang mereka obrolkan. Apakah mereka masih menangis untuknya?
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya kawan 🤗💕