DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Terapi


__ADS_3

Sudah dua hari Tiara tidak datang mengunjungi rumah Alvaro. Membuat lelaki itu merindukan sosok sang istri.


Biasanya, meski Alvaro akan mengurung diri di kamar jika ada Tiara. Tapi pemuda itu masih bisa melihat istrinya dari balik jendela kamar saat istrinya datang atau pergi.


Tapi dua hari ini, gadis itu bahkan tidak memberi kabar apa pun. Bahkan hanya sekedar pesan di ponselnya saja tidak.


Sejak pertemuan terakhir mereka di halam belakang. Tiara tidak lagi menghubunginya. Puluhan pesan yang setiap hari di terimanya kini hening.


Diluar ibu sudah memanggilnya untuk segera bersiap. Hari ini ia akan menjalani terapi lagi. Tak ada semangat untuk menjalaninya. Mengingat kegagalannya beberapa kali membuatnya ingin berhenti saja. Apa lagi hari ini sumber semangatnya masih hilang entah kemana.


"Ayoo bang. Nanti kita telat!" seru ibu yang sudah tidak sabar dan memilih menyusul anaknya ke dalam kamar. Mendorong kursi roda menuju pintu utama.


Alvaro masih mencoba mencari-cari Tiara. Siapa tahu hari ini istrinya datang terlambat. Padahal waktu itu Tiara sendiri yang bilang akan selalu datang hingga ia menyadari butuh kehadirannya.


Alvaro mendesah bertepatan mobil keluarga berhenti di depannya. Seorang sopir membantu dirinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Cari siapa sih bang? cari Tiara?" tanya ibu saat mendapati anaknya menengok ke kiri dan kanan saat mereka keluar dari gerbang.


"Gak bu. Siapa yang cari dia!" sangkal Alvaro gengsi.


"Kamu tuh anak ibu." ibu mengusap rambut anaknya. "ibu tahu kamu merindukan istri kamu itu."


"Siapa juga yang kangen sama dia."


"Mommy-mu kemarin telfon. Katanya Tiara sakit jadi tidak bisa datang beberapa hari ini."


Alvaro langsung menoleh menatap ibunya. Istrinya sakit? memang saat mereka bertemu saja kondisi Tiara sedang tidak baik. Tapi dia kira hanya sakit biasa yang hanya butuh istirahat dan besok akan sembuh.


"Sakit apa bu?" laki-laki itu tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Ibu belum tahu. Soalnya Tiara tidak mau di ajak ke dokter katanya."


"Mereka kan punya dokter keluarga! Om Tiara juga dokter! bisa-bisanya Tiara tidak di periksa!" emosi Alvaro. Khawatir dengan keadaan istrinya.


"Istrimu yang tidak mau. Bukan keluarganya yang tidak ingin. Katanya Tiara cuma mau istirahat aja biar sembuh."


Alvaro memalingkan wajahnya lagi ke luar jendela. Deru napasnya masih terdengar kasar. Membuktikan jika pemuda itu sedang marah.

__ADS_1


"Kalau kamu khawatir, nanti setelah terapi kita jenguk istrimu di rumah orang tuanya."


"Sudah lah bu. Biarkan saja. Dia yang keras kepala tidak ingin sembuh. Jadi biarkan saja dia."


Ibu menghela napasnya. Anaknya ini sama saja keras kepala seperti suaminya. Dan sekarang malah mengatai istrinya keras kepala.


"Bagaimana pun dia masih istrimu bang. Mungkin dia rindu sama kamu makanya sakit. Siapa tahu jika kamu yang membujuk, Tiara mau untuk di ajak ke dokter.


Alvaro memikirkan saran ibunya. Tapi jika dia melakukan itu, nanti istrinya bisa kembali berharap padanya.


***


Alvaro menghela napas. Merasa bosan datang ke ruangan itu lagi. Dia hanya berharap kali ini Tuhan sedikit berbaik hati padanya. Sedikit saja memberinya kemajuan. Memberinya sedikit harapan agar dia bisa kembali semangat untuk sembuh.


Kali ini dokter mencoba mengangkat satu kaki Alvaro yang duduk di kursi roda. Kakinya di angkat perlahan hingga tubuhnya membentuk sudut sembilan puluh derajat.


"Coba di tahan posisi seperti ini ya. Saya akan melepasnya perlahan." dokter melepasnya perlahan pegangannya pada kaki Alvaro. "Jangan terlalu di paksa. Kalau tidak kuat lepaskan saja. Kita coba pelan-pelan saja."


Percobaan pertama. Alvaro sama sekali tidak bisa menahan posisi kakinya. Begitu juga ketika mencoba kaki sebelah lagi.


Ibu terus memberinya semangat. Mengelap keringat di dahi anaknya. Memberi minum dan mengecup dahi anaknya.


Ibu bersorak senang. Begitu juga dengan Alvaro yang kini bisa sedikit saja tersenyum.


Hatinya melambung. Ada kembali harapan untuk meraih istrinya kembali. "Aku bisa bu." ucapnya bergetar. Tenggorokannya tercekat dengan rasa bahagia.


Beberapa kali terapi tidak membuahkan hasil dan mematahkan semangatnya. Hari ini Tuhan mengabulkan doanya. Tuhan kabulkan untuk memberinya sedikit perkembangan.


"Kamu bisa! ibu yakin kamu bisa!" ibu juga tak kalah bergetar dengan mata yang berkaca-kaca.


Alvaro masih semangat untuk kembali mencoba. Tapi dokter menyuruhnya untuk datang lagi lusa. Ototnya baru bisa di gerakan, jadi tidak boleh terlalu di forsir. Takut malah menambah cedera.


Alvaro menerima saran dokter. Tidak apa. Begini saja sudah cukup. Dia yakin bisa saat kembali nanti, akan ada perkembangan yang lebih dari ini.


Alvaro sudah tidak sabar untuk bisa berdiri tegak di hadapan istrinya. Merengkuh dan mungkin menggendong Tiara. Bayangannya sudah berkelana. Hingga pemuda itu meminta ibunya berhenti mendorongnya.


Di lorong yang sama dengannya. Dengan jarak pandang yang cukup jauh. Istrinya sedang tersenyum dan berbicara dengan lelaki lain. Lelaki yang Alvaro juga mengenalnya.

__ADS_1


Alvaro mendengus. "Katanya sakit! ternyata malah berkeliaran dengan laki-laki lain!"


"Siapa bang?" tanya ibu bingung. Mentap sekeliling dan menemukan sosok yang sedang membuat anaknya uring-uringan.


"Itu menantu ibu?" tanya ibu dengan menyipitkan matanya agar penglihatannya jelas. Takut salah lihat.


"Siapa lagi!" jawab anaknya sinis.


"Mau disamperin bang?"


"Tidak usah bu. Langsung pulang saja."


Ibu menghela napas. Mau sampai kapan anak dan menantunya seperti ini. Kenapa anaknya harga dirinya tinggi sekali. Jika memang rindu, kenapa tidak ketemu saja? Jika cemburu, kenapa tidak di tegur saja?


Pikiran anak sekarang kenapa ribet sekali. Dulu bahkan ibu tidak malu untuk mengatakan suka lebih dulu kepada ayah. Sampai sekarang pun jika cemburu, ibu akan langsung menegur tanpa kode-kodean. Bukankah dengan seperti itu tidak ada lagi yang namanya salah paham.


Hati Alvaro rasanya sangat panas melihat Tiara berdua dengan Dika. Kenapa istrinya itu bisa berdua dengan lelaki itu di rumah sakit seperti ini? Ada urusan apa mereka berdua?


Huh. Dasar Tiara. Suaminya sedang membutuhkan semangat, dia malah jalan dengan lelaki lain!


Alvaro terus saja memaki istri dan mantan rivalnya di SMA dulu.


Semangatnya ketika tadi terapi langsung surut seketika. Dadanya bergemuruh. Emosinya memuncak. Tapi apa yang bisa di lakukan orang cacat sepertinya saat ini?


Bahkan untuk mempertahankan apa yang dia miliki saja rasanya dia belum cukup memiliki muka.


"Apa aku terlalu lama membuat kamu menunggu yank? apa kamu terlalu lelah aku maki dan abaikan?"


Haruskah ia mundur saja. Melepaskan Tiara untuk bahagia dengan pria lain?


"Jangan berpikiran buruk dulu bang. Siapa tahu mereka tidak sengaja bertemu di sini." ucap ibu menenangkan. Tahu perasaan anaknya saat ini.


*


*


*

__ADS_1


BTW itu aku belum riset ya. Cuma nonton di sinetron terapi begitu 😋 Maapkeun ketidaktahuanku 🙏


__ADS_2