DEMI DIA

DEMI DIA
Langit Malam


__ADS_3

Saat Alvin dan Shevi menyampaikan kabar tentang kehamilan kepada para orang tua, mereka sangat antusias dan bahagia dengan kabar tersebut. Apa lagi saat ada kemungkinan anak yang Shevi kandung adalah kembar.


Bunda Karina selalu mewanti - wanti untuk Shevi memakan makanan bergizi walaupun tidak nafsu. Dan selalu mengingatkan untuk meminum vitamin. Bunda Karina tidak ingin kejadian waktu hamil si kembar terulang lagi. Dulu bunda sangat susah untuk makan karena terlalu sering mual. Dan sering terlupa juga untuk minum vitamin, hingga akhirnya salah satu dari bayinya lahir dengan jantung lemah. Maka dari itu bunda tidak ingin hal tersebut terulang kembali.


" Kamu pengen makan apa yank ? " Sekarang mereka tengah duduk bersandar di atas tempat tidur.


" Mmmm apa ya? Aku belum pengen apa - apa. Pengen peluk kamu aja mas. " Alvin semakin mengeratkan pelukannya kepada sang istri.


Sekarsng setiap pagi Shevi muntah hebat padahal tri semester pertama sudah lewat. Tapi rasa mual Shevi masih belum berkurang, hingga rasanya Alvin tidak tega melihatnya. Untung itu tidak berjalan lama, menjelang siang istrinya kembali sehat seperti tidak terjadi apa - apa dipagi hari.


Dan hampir setiap tengah malam istrinya selalu lapar. Kadang ingin makan masakan yang dimasak langsung oleh Alvin. Kadang minta dibelikan makanan yang tidak banyak di jual ditengah malam. Untung Alvin sabar menghadapi istrinya meskipun pekerjaannya di kantor juga sangat banyak dan melelahkan.


" Mau aku siapin apa buat nanti malam. Nanti pasti kamu laper.. " Tawar Alvin lagi.


" Kalau aku mau es krim boleh gak? " Shevi mendongak menatap penuh harap kepada suaminya.


" Gak boleh kalo es krim. Jangan sering - sering lah yank. Gak inget kata mami kalo kamu sering makan es krim takutnya dedeknya kegendutan. Katanya pengen lahiran normal! Jadiiii kamu harus menjaga berat badan anak - anak kita." Mengusap perut istrinya yang sudah mulai membuncit diusia kehamilan empat bulan. Anak mereka juga sudah dipastikan kembar.


Shevi sudah konsultasi dengan dokter kandungannya untuk melahirkan secara normal. Dan kata dokter Shevi bisa melahirkan normal karena panggulnya tidak sekecil dulu dan luka transversalnya rendah ( sayatan horizontal rendah di uterus). Dan dia juga harus sering olah raga dengan berjalan kaki, latihan pernafasan, senam yoga, mengikuti terapi dan pijat induksi semua Shevi lakukan hanya karena ingin merasakan nikmatnya melahirkan secara normal.


Shevi menghela nafas. " Iya deh. Demi adek nih mommy gak makan es krim. " Ikut mengusap perut yang sedang suaminya usap.


" Mau aku bikinin susu gak?? " Mengangguk antusias. Tak ada es krim, susu pun jadi.


" Ya udah, kamu tunggu sebentar biar aku bikinin dulu. " Alvin sudah akan beranjak saat tangannya ditahan sang istri.


" Kenapa yank? Ada yang kamu pengen lainnya? " Shevi menggeleng.


" Terus? " Menaikkan sebelah alisnya bingung.


" Aku mau minum susu, tapi... di taman deket studio ya?? Disana kan kalo malem bintangnya bagus masss. " Menatap sang suami dengan tatapan memohon.


" Ini udah hampir tengah malem sayang.. Di luar sana dingin. Gak baik buat kesehatan. " Jawab Alvin dengan lembut. Karena sekarang istrinya sangat sensitif dan mudah sekali menangis.


" Tapi aku pengennya minum disana.. " Menunduk dan memainkan jarinya sedih.

__ADS_1


" Liat bintang dari balkon atau roftop depan aja gimana? " Shevi menggeleng dengan wajah yang masih menunduk.


" Tapi nanti saat kita sampai disana susunya pasti udah dingin dan gak enak yank. " Mencari alsan agar istrinya membatalkan keinginannya.


" Kan bisa pake tempat minum yang termos. " Cicit Shevi.


Alvin menghela nafas mengalah. " Ya udah ayo. Kamu pake jaket dulu gih yang tebel. Biar aku turun dulu bikinin susunya. Sama tolong bawain jaketku juga yank. " Shevi bangun dengan semangat dan mengangguk mengambil jaket untuknya dan Alvin.


***


Sepanjang perjalanan Shevi sangat bahagia. Padahal hanya di ajak ke taman untuk melihat bintang. Tapi rasanya seperti di ajak ketaman hiburan dihari libur pertama setelah sekolah selama satu semester.


Mulutnya juga tak henti menyanyikan lagu mengikuti lagu yang di putar di audio mobil suaminya. Alvin sampai menggeleng melihat kebahagiaan istrinya. Bukan seperti mengajak seorang istri. Tapi seperti mengajak putri kecilnya jalan - jalan.


Mobil berhenti di tempat parkir. Alvin turun dan memutari mobil untuk membuka pintu mobil sebelah istrinya.


" Silahkan tuan putri, kita sudah sampai." Shevi terkekeh melihat Alvin membungkukkan tubuhnya ala pengawal kerajaan.


" Sepi ya mas.." Mereka berjalan mencari bangku terdekat.


" Gak usah ngomong yang aneh - aneh deh mas!! Aku lagi pengen liat bintang disini, kamu malah nakut - nakutin !! " Serunya dengan bibir mengerucut.


Alvin terkekeh dan menarik Shevi duduk dibangku didekat mereka. " Kenapa harus takut? Kan ada Aa, neng !! "


" Iiihh.. " Memukul pelan dada suaminya kemudian terkekeh.


" Nih sambil diminum susunya. " Alvin memberikan tumbler berisi susu untuk istrinya dan tumbler berisi kopi untuk dirinya sendiri. Dia butuh asupan kafein untuk pulang nanti karena badannya yang lelah akan mudah mengantuk.


" Mas bawa apa lagi?? " Alvin menyerahkan paperbag yang berisi roti dan beberapa cemilan serta buah kepada istrinya.


" Wahh banyak banget mas. Kaya mau camping aja !! "


" Takutnya kamu pengen makan sesuatu yank. Ya udah aku bawa aja semuanya biar kamu bisa milih. " Memeluk istrinya dari samping.


" Makasih ya sayang. Kamu gak pernah mengeluh menuruti semua kemauan aku."

__ADS_1


Cup. Kecupan Shevi mendarat dipipi sebelah kanan Alvin. Membuat pria itu tersenyum dan berdebar, padahal mereka sudah menikah lama dan hal seperti itu sudah sering mereka lakukan. Tapi tetap saja, setiap sentuhan dan kontak fisik masih membuat jantung mereka masing - masing berdebar dan jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


" Kamu kan sedang berjuang buat anak kita. Jadi aku juga harus berjuang buat senengin kamu dan anak - ank yang sedang sama - sama berjuan. " Kecupan dari Alvin juga mendarat dipuncak kepala istrinya.


" Makasih ya mas.. " Mengeratkan pelukannya kepada sang suami.


" Kamu kesini mau liat bintang, apa cuma mau peluk aku nih?? " Tanya Alvin saat sedari datang istrinya sama sekali tidak melihat bintang yang berada di atas mereka.


" Dua - duanya." Tak melepaskan pelukan dan menatap langit di atasnya.


" Bintangnya banyak banget ya mas.. Disalah satu bintang itu pasti ada ayah. " Shevi tersenyum getir saat mengucapkannya.


" Jangan sedih lagi. Ayah pasti udah bahagia di surga. Dan kamu harus bahagia disini. " Mengusap rambut Shevi dengan lembut.


" Aku pasti bahagia asal mas dan anak - anak selalu disamping aku. "


" Pasti dong. Emang aku sama anak - anak mau kemana tanpa kamu. Lagi pula kami gak akan bisa hidup tanpa mommy yang cantik ini. " Mencubit pipi istrinya yang mulai berisi.


" Cih. Gombal banget si mas!! "


" Kata siapa gombal. Ini serius yank. Mana bisa aku sama anak - anak hidup tanpa kamu.. " Memegang dagu sang istri agar menatapnya. Alvin mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Shevi.


Shevi memejamkan matanya saat bibir mereka menyatu. Kecupan yang awalnya ringan berubah menjadi pagutan kecil. Alvin menarik tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Baru melepaskan ciuman saat nafas mereka sama - sama habis. Menyatukan dahi dan mereka tertawa bersama.


Langit malam dan taburan bintang menjadi saksi keharmonisan dan kebahagiaan mereka.


*


*


*


Itu pengalamam teman aku ya gaes. Dia lahiran pertama Caesar, 18 bulan kemudian dia hamil lagi tapi bisa ngelahirin normal. Tapi tentunua harus konsul sama dokter ya.


Oiya Season satu tinggal beberapa episode lagi ya gaes. Nanti aku bakal lanjutin season dua setelah My Annoying Soulmate tamat. Aku lanjutnya disini, jadi jangan di unfavorit oke. Slaam manis untuk semua. Sehat selalu 😘💕

__ADS_1


__ADS_2