DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Sadar


__ADS_3

Dua hari pasca operasi, kondisi Alvaro di nyatakan stabil. Kini pemuda itu di pindahkan ke ruang perawatan VIP.


Tiara tidak pernah meninggalkan rumah sakit, sekali pun untuk membeli makan. Untuk itu mommy Shevi maupun ibu mertuanya selalu bergantian untuk menemani dan membawakan gadis malang itu makanan.


Karena Tiara yang enggan meninggalkan suaminya. Daddy Alvin memesankan dua bed di ruangan itu. Agar putri sulungnya bisa istirahat dengan nyaman setelah seharian menunggu suaminya.


Tiara selalu mengajak Alvaro bicara meski suaminya belum sadarkan diri. Seperti saat ini, ketika pemuda itu sudah satu minggu nyaman dalam tidurnya dan belum berkeinginan untuk bangun.


"Pagi Tiara. Om periksa cintanya dulu ya?" sapa Dokter Bayu suami dari Shera, sekaligus menghibur keponakannya yang murung.


"Iya Om. Bilangin juga sama dia suruh bangun jangan tidur mulu. Tar aku di ambil cowok lain baru tau rasa!"


Bayu terkekeh mendengar Tiara berucap dengan wajah sendu seperti itu, sangat tidak sinkron.


"Dia capek kali ngadepin kamu yang susah di antur, makanya mending milih tidur."


"Mana ada! yang ada tuh dia nempel mulu tiap malem." serunya "Gimana Om?" ingin mendengar perkembangan apa yang terjadi hari ini.


"Semua baik kok. Kalo kamu ajak ngomong juga dia pasti denger. Bisa jadi besok atau hari ini dia bakal bangun."


"Bener Om?" wajah yang terlihat sendu kini berbinar. Berharap apa yang di katakan Om sekaligus dokter yang menangani Alvaro benar adanya.


"Kita berdoa aja. Tapi Alvaro udah nunjukin perkembangan yang cukup baik kok." ucapnya melihat tabel pemeriksaan Alvaro. Membandingkan hasil kemarin dan hari ini. "Om periksa yang lain dulu ya?"


Tiara mengangguk semangat. Duduk di sebelah Alvaro, memegang tangan Alvaro yang tidak di pasang jarum infus.


" Aku harap yang di bilang Om Bayu bener ya Al. Semoga hari ini kamu bangun." ucapnya mengajak Alvaro berbicara seperti biasa.


"Emang kamu gak kangen sama aku?" tanyanya lagi. "Aku kangen lho Al. Gak ada yang meluk pas tidur lagi. Gak ada yang kasih ciuman biar semangat kalo pagi-pagi."


Tiara menghela napas, saat suaminya tetap bergeming. Gadis itu sudah lebih kuat sekarang. Tidak lagi menangis dan lebih banyak mengajak suaminya berbicara.


"Kamu gak kangen sama aku Al?" lirihnya dengan perasaan sedih.


Tiara mendekatkan tangan yang di genggamnya ke bibirnya. Mencium dalam tangan yang selalu memeluknya hangat. Memberinya rasa aman dan nyaman. Tangan yang sudah bekerja keras untuk menghidupinya hampir dua tahun ini. Suami yang bertanggung jawab dan mencintainya.

__ADS_1


"Maaf ya Al. Maaf karena aku gak mau dengerin penjelasan kamu saat itu. Kemaren Lala dateng jenguk kamu dan jelasin semuanya. Aku tetep gak suka sih sama cewek itu. Tapi aku gak marah lagi kok sama kamu. Karna bukan kamu yang cium dia, dan karena kamu juga di paksa."


Saat Tiara sedang mengajak Alvaro berbicara seperti biasa, sahabat masa kecil Alvaro datang menjenguk dan menjelaskan semuanya kepada Tiara kemarin. Gadis itu juga meminta maaf kepada Tiara, gara-gara perbuatannya Tiara dan Alvaro menjadi salah paham dan berakibat buruk seperti saat ini.


"Makanya bangun dong Al. Kamu seneng banget ya liat wajah sedih aku kaya gini? kata mommy, aku jadi jelek tau Al." membaringkan kepalanya di sebelah bahu suaminya. Memeluk tubuh yang tak bergerak itu. "Masa istri kamu yang cantik ini di bilang jelek. Kan aku sebel! kalo pas kamu bangun terus liat aku jelek terus kamu jadi gak ngakuin aku sebagai istri kamu lagi kan gak lucu Al!" celotehnya panjang lebar. Tanpa merasa lelah. Mengadukan atau menceritakan hal yang terjadi sampai hal teremeh sekalipun.


Berharap dengan aduanya, membuat Alvaro tergugah untuk sadar dari tidur panjangnya.


"Kok kamu tega diemin aku sih Al? Kamu marah sama aku Al? atau kamu gak sayang lagi sama aku, makanya kamu milih tidur aja." sekuat apa pun dia bertahan, pada akhirnya pertahanan yang coba dia bangun setelah masa kritis Alvaro lewat runtuh juga. Air matanya tak kuasa gadis itu bendung lagi.


"Sayang kamu." samar Tiara seperti mendengar suara Alvaro. Suara yang begitu lirih ssperti bisikan. Bahkan seperti hembusan angin yang membuat gadis itu berpikir jika dirinya halusinasi.


"Aku juga ngarepin jawaban kaya gitu saat kamu bangun nanti. Aku harap kamu bangun dan tersenyum buat aku. Bilang kalo kamu cinta sama aku. Gak cuma halusinansi seperti sekarang."


"Cin-ta ka-mu." suara itu kembali terdengar. Sekarang sedikit lebih keras dan terbata.


"Iya Al. Aku harap kamu ngomong gitu ya nanti. Aku tuh sedih liat kamu kaya gini." air mata masih setia mengalir di kedua sudut matanya.


"Maaf."


"Gak perlu minta maaf Al. Harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku, kamu jadi kaya gini."


"Abang." serunya berlari mendekat.


Tiara bingung. Kenapa? kenapa ibu mertuanya memanggil suaminya dengan ekspresi seperti itu? kenapa dengan suaminya?


Gadis yang masih menangis itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah suami yang sedang tersenyum kepadanya.


"A-Al.. Ka-kamu sadar?" ucap Tiara tidak percaya dengan penglihatannya. Masih mengira ini semua hanya halusinasi.


Alvaro mengangguk lemah. Senyum masih terukir di wajahnya. Jika mampu tertawa, ingin sekali Alvaro menertawakan ekspresi terkejut istrinya saat ini.


"Ta-tadi..?"


"Ta-di aku yang ngo-mong. Bu-kan ha-lusi-nasi kamu."

__ADS_1


Tiara mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih merasa tidak percya. Ibu mertuanya menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Waahh akhirnya kamu beneran bangun Al." seru dokter Bayu dari ambang pintu saat melihat Alvaro yang sudah membuka matanya.


"Untung kamu bangun hari ini. Kalau sampai besok kamu belum bangun, bisa-bisa Om kena amukan istri kamu gara-gara kasih dia harapan." seloroh dokter Bayu yang sedang memeriksa Alvaro.


"Makasih Om." ucap Alvaro lirih. Maksudnya makasih sudah merawatnya, tapi Alvaro hanya mampu mengucapkan kata makasih.


Beberapa tes di lakukan untuk memeriksa efeksamping dari kecelakaan maupun operasi. Untuk ingatan Alvaro semua masih normal. Berarti operasi pada kepala tidak menimbulkan efeksamping.


Hingga pada saat dokter menyuruh pemuda itu untuk menggerakan oragan geraknya. Alvaro baru menyadari bahwa kakinya mati rasa.


"Ka-ki saya kenapa Om? kaki saya gak bisa di gerakin!" seru Alvaro. Rasa takut membuatnya memiliki tenaga untuk berteriak.


Dokter Bayu memeriksa kaki Alvaro. Mengetuk lututnya, mencubit, dan Alvaro masih tidak bisa merasakan apa pun.


Alvaro histeris. Dia tidak bisa menerima kakinya yang cacat.


"Gak mungkin! aku gak mungkin cacat kan Om?! ini pasti cuma efek koma aja kan?!"


Tiara dan ibu menangis berpelukan. Melihat Alvaro yang mengamuk melempar semua bantal dan selimut ke sembarang arah. "Aku gak cacat!"


"Kamu harus tenang Al. Kita perlu melakukan pemeriksaan secara mendetail. Dan Om yakin ini cuma lumpuh sementara. Kamu masih bisa sembuh! kamu masih bisa jalan lagi! percaya sama Om." Dokter Bayu memegang bahu Alvaro kuat. Meyakinkan dan menenangkan keponakannya itu.


"Kamu pasti sembuh Al." ucap Tiara mendekat.


Alvaro langsung menyambut istrinya dengan pelukan. "Kaki aku Ra.. Kaki aku gak bisa gerak. Aku lumpuh Ra."


Tiara menggeleng tegas. "Kamu gak lumpuh. Ini cuma sementara aja. Kamu bisa sempuh. aku akan bantu kamu sembuh Al."


Semua orang meninggalkan pasangan yang sedang saling menguatkan itu.


*


*

__ADS_1


*


Eh ngomong-ngmong ibu sama ayahnya Alvaro belum aku kasih nama ya? ada yang bisa kasih saran? daku bingung 😁


__ADS_2