DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Papa? Mama?


__ADS_3

Masa-masa lelah fisik dan pikiran karena skripsi/Tugas Akhir sudah usai. Alvaro bahkan sudah selesai sidang dua hari yang lalu. Tinggal menunggu pengumuman hasil sidang untuk bisa wisuda dan ia akan resmi sebagai Sarjana Arsitrktur (S.Ars). Tugas beratnya kali ini hanya membawa keluarganya untuk hidup harmonis. Juga mengumpulkan pundi-pundi materi untuk kehidupan anak istrinya agar hidup layak dan tidak kekurangan.


Disaat papa muda itu tengah sibuk dengan beberapa berkas kerjasama, Dika menyembul dari balik pintu.


"Ada yang nyari bos!" seru Dika dengan nada yang seperti tidak suka.


Tanpa perlu bertanya, Alvaro tahu siapa tamu yang dimaksud Dika.


Satu-satunya tamu yang bisa membuat wajah Dika menjadi kurang ramah hanya Pita. Entah ada masalah apa di antara mereka. Dan ketika suatu hari ia bertanya alasan asistennya itu, Dika hanya mengedik dan berujar. "Gue gak suka aja, orang yang pernah gue sayang tersakiti."


Kurang ajar memang. Tapi ia juga tak bisa marah pada Dika. Karena yang di ucapkan Dika memang benar. Istrinya pasti akan sakit jika tahu ada wanita lain yang sering mengunjunginya bekerja. Bahkan hampir setiap hari.


Yaa walau tidak bisa di bilang berkunjung juga, karena Pita datang hanya untuk meminta bantuannya saja.


Dan entah untuk apa kali ini gadis itu datang. Bukankah masalah tugas akhir sudah selesai? berarti tidak ada lagi yang perlu ia bantu. Dan rasa-rasanya mereka tidak pernah ada janji bertemu atau ada suatu keperluan.


Demi untuk mengetahui tujuan apa gadis itu datang. Ia harus cepat keluar bukan?


***


Pita menutup ruang sidang dan langsung berteriak lega karena sidang berjalan lancar dan ia yakin akan lulus bisa segera di wisuda.


Ia tahu banyak mata yang melirik tak suka ke arahnya. Tapi Pita tak ambil pusing. Masa bodo dengan mereka semua.


Pita memang tidak banyak memiliki teman dekat. Bahkan bisa di bilang teman dekatnya hanya Alvaro. Ah ada satu lagi orang yang sering ia sebut sahabat sesama perempuan. Tapi bahkan saat ini ia meragukan pertemanan mereka.


Sahabatnya itu bahkan tidak mau saat ia minta untuk menemani hari ini. Karena temannya juga sudah sidang dua hari lalu, dihari yang sama dengan Alvaro. Dan hari ini ada acara.


Pita tidak ambil pusing. Meski ia tak memiliki teman setelah ia sudah lebih dari satu tahun menjadi mahasiswi disana.


Toh setelah ia sudah lulus tidak mungkin bertemu mereka lagi jika bukan karena ketidak sengajaan. Jadi... Dari pada memikirkan sesuatu yang tidak enak di hati. Lebih baik ia menemui Alvaro untuk memberitahu kabar gembiranya ini. Sekaligus merayakan kecil-kecilan dengan anak-anak yang ada di kantor milik pria itu.


Sebelum meluncur ke kantor Alvaro, Pita lebih dulu memesan pizza dan banyak lagi makanan serta minuman untuk dikirim ke "Kaisar Company"


Dan disaat yang bersamaan juga, pesanannya sampai di saat ia baru turun dari mobil.


"Pesanan atas nama Lupita ya mas?" tanya Pita pada kurir yang sedang melihat alamat pengiriman.


"Iya mba. Benar alamatnya disini?" sepertinya kurir itu masih baru, sehingga masih bingung.

__ADS_1


"Iya mas. Ayo tolong bawain masuk ya."


Pita membawa beberapa minuman dan masuk kedalam kantor di ikutin kurir, langsung di sambut heboh oleh Bobby yang sedang duduk di loby bersama beberapa karyawan lainnya.


"Wiihh pesta nih, Pit?" tanya Bobby heboh melihat begitu banyak makanan dan minuman.


"Yoi. Ngerayain gue yang mau LULUS!" Pita berteriak saat menyebut kata 'Lulus'


Pita bahkan datang ke sana masih lengkap dengan kemeja putih dan rok hitamnya. Jelas terlihat jika gadis itu habis sidang langsung datang ke sana.


"Wiiih keren.. keren!" puji Bobby tulus. "Anak pindahan bisa wisuda barengan!"


"Iya dong! Alvaro ada?"


Bobby hanya mengangguk dan mengedikan dagunya ke arah tangga menuju lantai dua. Memberitahu tanpa suara jika Alvaro ada di ruangannya. Mulutnya sudah penuh dengan makanan dan susah untuk menjawab.


Pita membawa beberapa makanan serta minuman yang Alvaro suka ke lantai atas. Karena tahu kebiasaan Alvaro yang tidak suka membawa tamu kedalam ruang kerjanya, Pita menunggu di sofa yang ada di ruang terbuka di sana. Tempat biasa mereka mengerjakan skripsi.


Sedangkan Alvaro sedang di panggilkan oleh Dika. Asisten yang entah kenapa selalu menatapnya tak suka. Bicaranya pun selalu tak ramah. Padahal ia tidak pernah membuat ulah ketika di kantor mereka itu.


"Haii Pit. Sori lama."


"Santai aja, Al. Gue rela kok nungguin sampai sore juga." seloroh Pita yang membuat Alvaro menggeleng dan balas tersenyum.


"Makan siang bareng ya, Al. Gue udah beli makanan. Anak-anak juga lagi pada makan di bawah." ucap Pita yang mengangsurkan makanan kedepan Alvaro.


Alvaro melihat jam pada pergelangan tangannya yang memang sudah waktu makan siang. Bahkan sudah lewat sedikit.


"Dalam rangka apa nih?" Alvaro mulai menyesap minuman yang di berikan Pita.


"Sidang gue lancar tanpa hambatan kaya jalan tol!!" seru Pita dengan bangganya. Masih terlalu bahagia dalam euforia keberhasilannya. Membuatnya sangat bangga memberitahu semua orang.


"Selamat ya.." ucap Alvaro dengan tersenyum.


"Gitu doang ngasih selamatnya?" cibir Pita dengan wajah di buat pura-pura merajuk.


"Memangnya ngucapin selamat harus seperti apa?"


"Peluk kek. Cium."

__ADS_1


Jawaban Pita seketika membuat Alvaro menyemburkan makanan yang baru beberapa kali ia kunyah. Membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk.


Pita terkekeh dan mengangsurkan minum milik pria itu. "Becanda elahh. Serius amat."


Padahal dalam hati, Pita memang membayangkan Alvaro akan memeluknya dan berucap. "Selamat ya Pita sayang. Kamu hebat. Kerja kerasmu membuahkan hasil. Aku bangga."


Tapi yah, itu memang hanya akan ada dalam angan-angannya saja.


"Bisa aja lo becandaanya." ucap Alvaro begitu bisa menguasai diri kembali.


"Tapi kalo lo mau peluk gue beneran.. Gue gak nolak kok." Pita masih mengucapkan dengan nada becanda. Bahkan mengedipkan sebelah matanya.


'Inget Al. Cuma Tiara yang lo cintai. Stop tergoda dengan wanita lain.' batin Alvaro mencoba mengusir pikiran sesat dalam tempurung kepalanya. Pria itu bahkan tidak pernah tahu jika Pita tidak tahu ia sudah beristri.


"Sayangnya gue gak suka meluk yang gak halal." Alvaro kembali memakan makanannya. Lapar juga ternyata. Tadi pagi memang hanya sempat makan roti karena kesiangan.


"Makanya halalin dong." .


"PAPA!!" jawaban Pita tidak terdengar oleh Alvaro karena ada dua anak berlari dan berteriak memanggilnya.


Baik Alvaro maupun Pita menoleh ke arah suara.


Alvaro tersenyum senang dan langsung meletakan makanannya dan menangkap kedua bocah dua tahun lebih yang melompat ke pangkuannya.


"Papa?" gumam Pita lirih dengan dahi mengernyit bingung. Mencoba mengamati keadaan.


"Sama siapa kalian?" suara Alvaro masih terdengar jelas di telinganya. Bahkan pria itu mencium dengan gemas kedua bocah yang begitu serupa itu.


"Cama mama." ucap salah satu dari kedua bocah itu.


"Mama?" gumam gadis itu lagi.


Hingga ia melihat seorang perempuan muda muncul di tangga menghampiri mereka.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2