DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Terimakasih


__ADS_3

Ternyata semua memang perlu di bicarakan baik-baik. Mengatakan apa yang kita tak suka agar pasangan mengerti dan begitu juga sebaliknya.


Malam ini hati Alvaro lebih lega. Tidak ada lagi rasa hampa yang sempat ia rasakan.


Rasa cinta dan sayangnya untuk sang istri memang tak pernah berkurang. Hanya sedang tenggelam tertimbun rasa hampa karena kesibukan mereka masing-masing.


Benar kata daddy Alvin. Kini ia merasakan cintanya kembali bersemi. Begitu pun ia bisa merasakan cinta yang sang istri berikan.


Dan ia akan selalu menyiram cintanya agar selalu tumbuh bersemi setiap hari agar tidak tertimbun perasaan lain yang membuatnya lupa jika cinta itu ada. Jika cinta itu ia miliki.


Pada wanita dalam dekapannya, ia serahkan seluruh hatinya. Pada wanita yang sudah melahirkan kedua anakny, ia serahkan masa depan di tangannya. Hanya dia. Tiara. Dan Alvaro berjanji tidak akan menatap wanita lain selain istrinya.


"Jadi dimana anak-anak?" tanya Tiara selepas pergumulan panas mereka.


"Dibawa mommy." jawab Alvaro sekenanya. Pria itu sedang mencium dalam-dalam puncak kepala istrinya. Menghirup wangi sang istri agar ia tidak lupa dan tidak tergoda dengan wangi-wangi yang lain.


"Kenapa dititipin segala?!" terdengar nada protes dalam pertanyaan istrinya.


"Kalau gak di titipin, mana mungkin kita bisa begini di jam segini sayang.." Alvaro tidak tahan untuk tidak mencubit pipi istrinya. Kenapa wanita ini tidak mengerti jika ia ingin waktu berdua.


"Ya kita kan bisa begini lebih malam lagi nanti. Seperti biasa."


Alvaro menjauhkan kepalanya. Menatap istrinya lekat dan berdecak. "Aku kan pengen quality time sama kamu sayang. Coba untuk saat ini jangan pikirin anak-anak dan tugas kuliah."


Giliran sang istri yang memutar bola matanya. "Mana bisa begitu!"


"Makanya di coba sayaaaang. Pikirin aja gimana cara muasin aku." bisik Alvaro di kalimat terakhir.


"Emang tadi belum puas?"


"Puas sih. Cuman nagih." kekeh Alvaro.


Sesaat suasana menjadi hening. Dalam keadaan mereka yang masih polos dan saling melekat. Mereka bisa merasakan debar jantung pasangan. Debar jantung seakan menjadi nyanyian yang mengisi ruang kamar mereka.


"Yank.." Alvaro lebih dulu memecah keheningan di antara mereka. Jika Alvaro diam karena sesuatu yang dipikirkannya. Tiara diam karena lelah dan ingin tidur. Membuat Tiara hanya menjawab dengan dehaman.


"Kamu pengen jalan-jalan gak? kayaknya sejak kita menikah, kita belum pernah kemana-mana deh."

__ADS_1


"Ya kita kan sibuk sekolah. Di lanjut kuliah dan hamil anak-anak." jawab Tiara. "Sekarang malah lebih sibuk lagi." imbuhnya.


"Ya tapi kasihan anak-anak kan yank. Mereka belum pernah kita ajakin pergi jauh. Cuma di sini-sini aja kalo pergi."


"Gak papa lah, Al. Mereka masih terlalu kecil untuk tau jalan-jalan jauh. Meskipun dekat asal mereka senang. Aku rasa cukup."


Kata jalan-jalan serasa jauh di luar pikiran Tiara. Ia masih belum memiliki waktu untuk ke arah sana. Cukup mengajak anak ke taman bermain atau kebun binatang di setiap akhir pekan. Toh sikecil belum mengerti apa-apa pikirnya.


"Emang kamu gak pengen kita honeymoon yank, kaya orang-orang?"


Tiara terkekeh dengan pertanyaan suaminya. Dia bukan wanita seribet itu yang menikah berarti harus ada honeymoon. Atau hamil berarti harus ada babbymoon.


Apa bedanya di rumah dengan honeymoon jika mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam kamar.


Dan untuk babbymoon. Ia bahkan ketika hamil begitu lemah. Asal sehat saja rasanya sudah cukup bersyukur.


"Habis aku wisuda kita jalan-jalan ya bareng anak-anak?" tawar Alvaro begitu istrinya tidak menjawab dan hanya terkekeh geli.


"Aku gak janji ya sayang.. Tapi aku usahain." jawab Tiara.


Kuliahnya masih terlalu sibuk untuk bisa di tinggal. Ia juga ingin cepat lulus dan benar-benar menjadi dokter yang berilmu tanpa absen dari kelas meski hanya sekali.


Tiara mengangguk dan tersenyum lebar. "Kamu juga. Kalau aku pulang cepat, kamu juga harus langsung pulang! jangan kerja terus."


Alvaro balas tersenyum dan menyatukan bibir mereka sebagai penutup kegiatan mereka malam itu.


***


Pukul sepuluh malam, mereka baru sempat makan malam. Dengan makanan yang bahkan sudah dingin. Tapi begitu bibi akan menghangatkannya Tiara menolak karena kasihan melihat sudah waktunya wanita paruh baya itu istirahat.


Ditengah makan malam mereka, bel rumah berbunyi nyaring dan berulang-ulang.


"Siapa sih, malam-malam begini?" tanya Tiara yang mengikuti sang suami yang akan membukakan pintu. Ikut penasaran. Pasalnya mereka bukan orang yang biasa menerima tamu malam-malam begini.


"Lama banget sih kalian!" seru tamu yang ternyata mommy Shevi yang tengah menggendong Vindra yang tengah menangis kencang. Begitu juga dengan Fari yang berada di gendongan daddy Alvin.


"Maaf mom.. Lagi makan." ucap Tiara ketika mengambil alih putranya. Alvaro juga mengambil Fari dari gendongan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Anak mama kenapa? kok nangis kejer gini?" Tiara berusaha menenangkan Vindra dengan mengusap punggung dan menciuminya. Rasanya rindu juga dengan dua jagoannya ini.


"Mereka nangis minta pulang terus. Padahal biasanya juga anteng gak ingat sama mamanya yang sok sibuk."


Tiara berdecak di sindir mommy Shevi. Mama muda itu tak tinggal diam dan balik menyindir. "Iya. Kaya aku yang gak inget mommy saking sibuknya."


"Masih mending aku berangkat pagi pulang sore cuma kuliah. Dulu mommy kan malah lebih gak ada waktu lagi buat aku! waktunya cuma buat kuliah sama manggung doang." imbuhnya.


Mereka kini duduk di ruang keluarga. Atau lebih tepatnya mommy Shevi dan daddy Alvin yang duduk. Karena Tiara dan Alvaro sedang menimang anak mereka agar tidak menangis dan lekas tidur.


"Kalau gak kaya gitu, kamu gak bakal makan!" kini sindiran di tujukan pada sang suami yang langsung tersenyum kikuk.


Tiara dan Alvaro terkekeh melihat daddy Alvin yang tak berkutik.


"Maka dari itu, ada masalah sekecil apa pun itu di bicarakan baik-baik dan cari solusi bersama. Jangan di pendem sendiri. Di hadapi sendiri. Yang akhirnya susah sendiri kan?" ucap daddy Alvin setelah berdeham beberapa kali agar wibawanya kembali.


"Buat kalian nih yang masih pada muda. Kalian harus saling terbuka. Kalau tidak suka bilang! kalau suka, ucapkan terimakasih." daddy Alvin bergantian menatap antar Alvaro dan Tiara.


"Meski hanya kata sederhana. Hanya terimakasih. Itu saja kita masih sering lupa untuk mengucapkannya. Padahal itu sangat berharga bagi pasangan kita. Membuat mereka merasa di hargai dan semakin semangat untuk melakukan kebaikan dalam rumahtangga."


"Ujung tombak keluarga ada disiapa sih?" tanya daddy Alvin pada semua. "Suami? atau istri?"


Mereka hanya menyimak tanpa berani menyela.


"Ujung tombak tuh ada di keduanya! Suami sebagai pemimpin rumah tangga. Sebagai pelindung juga sebagai sumber kehidupan. Dan istri tak kalah penting. Wanita hebat yang mampu mengurus rumahtangga agar berjalan baik. Mendidik anak-anak supaya berbudi dan berkepribadian yang baik. Mengurus suami dalam segala hal. Dan gak akan habis kalau daddy jelasin satu-satu."


Semuanya mengangguk setuju.


"Makanya. Ucapkanlah terimakasih untuk segala jeripayah yang sudah pasangan kita lakukan dengan porsinya masing-masing. Saling menghargai itu penting."


Alvaro mendekat pada sang istri. Sebelah tangannya memeluk wanita itu dan mengecup dahinya. Berbisik "Terimakasih untuk kerja keras hari ini sayang."


Tiara tersenyum dan membalas hal yang sama. "Terimakasih juga papanya anak-anak. Tanpamu, apa jadinya aku."


Mommy Shevi dan daddy Alvin yang duduk berangkulan tersenyum melihat anaknya akur.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2