DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Semangat untuk Bangkit


__ADS_3

Tiara yang baru selesai mandi sedang menyisir rambutnya. Tangannya dengan perlahan merapikan rambut lurus panjangnya. Tatapannya kosong. Pikirannya entah kemana.


Alvaro yang menyadari istrinya masih bersedih, menghela napas. Mendekati Tiara dan mengambil alih menyisir rambut istrinya.


"Kalo nyisirnya gak selesai-selesai. Kapan kita tidurnya." tegur Alvaro dengan nada lembut.


Alvaro tahu apa yang di khawatirkan istrinya. Ini adalah hal baru untuk keduanya. Hamil saja sudah hal yang berat untuk istrinya yang masih belia. Apa lagi di tambah pikiran tentang kehamilan yang beresiko seperti ini.


Tiara memaksakan senyumnya. "Kamu kan bisa tidur dulu Al.."


"Sebelum anak-anak lahir dan kamu sibuk sama mereka, aku mau tiap malam di kelonin." ucap Alvaro membuat ekspresi merajuk. "Mau di peluk sambil bobo" rengek Alvaro manja dan memeluk istrinya dari belakang.


Caranya mengalihkan kesedihan istrinya berhasil. Tiara terkekeh melihat tingkah Alvaro.


"Kamu tuh kenapa jadi manja begini sih Al? geli tau lihatnya." Tiara masih tertawa dan memutar tubuhnya. Mencubit gemas pipi suaminya.


Alvaro berdecak. "Masa suami lagi manja, geli! jadi kamu jijik liat aku manja?" pura-pura merajuk.


"Mana mungkin aku jijik lihat suami aku yang tampannya ngalahin boyband k-pop ini." mengecup bibir Alvaro.


Alvaro balas membelai pipi istrinya. "Kalau gitu jangan sedih lagi." pinta Alvaro. "Masa ada suami yang gantengnya membahana tapi istrinya jelek begini, sedih mulu."


"Aku udah baca artikel tentang kasus yang sama kaya kamu ini. Dan gak seseram yang dokter bilang kok. Itu kan hanya resiko Ra... Namanya resiko itu kemungkinan terburuk. Masih ada peluang yang lebih besar untuk kalian semua selamat." Alvaro membawa kepala istrinya untuk bersandar di dadanya.


"Bahkan aku baca, ada orang Australi yang sudah di prediksi anak-anaknya hanya bisa bertahan beberapa minggu di kandungan, nyatanya bisa selamat sampai lahir. Meski resiko lahir prematur tetap terjadi. Tapi anak-anaknya sekarang sehat-sehat dan sudah besar." Alvaro juga tak kalah memikirkan nasib anak dan istrinya. Untuk itu dia banyak mencari artikel tentang kasus yang terjadi pada istrinya.


"Jadi, sayang.. Kita hanya perlu berusaha yang terbaik kan? kamu jagan sampai cape, jangan terlalu banyak melakukan aktifitas fisik. Banyak makan makanan bergizi dan jangan sampai stres."


Tiara mengangguk. Sebenarnya dia juga tahu seharusnua dia cukup berusaha tanpa memikirkan hasil akhir. Namun tetap saja pikirannya tidak bisa tenang. Takut terjadi apa-apa dengan anak-anaknya di dalam sana.


"Janji buat aku yank.. Janji kalau kamu gak boleh sedih lagi." ucap Alvaro di akhir. Dengan sepenuh hati mengecup puncak kepala istrinya. Menyuntikkan semangat untuk istrinya bisa semangat berjuang.

__ADS_1


"Karena aku juga akan berjanji memberikan yang terbaik untuk kalian. Berjanji juga untuk bisa cepat sembuh."


Alvaro sudah bisa lebih lama berdiri tanpa alat. Bahkan siang tadi dia sudah mulai bisa memakai tongkat. Tapi dia masih menyembunyikan kabar ini dari istrinya. Masih memakai kursi roda sampai di benar-benar biaa memakai tongkat nanti.


Tiara tidak ikut melihatnya saat terapi siang tadi di halaman belakang. Istrinya sedang menemani Shevi memilih gaun untuk pesta yang akan di laksanakan perusahaan Alvin besok malam.


***


Tiara di perlakukan sangat baik oleh keluarganya terutama sang suami. Meski Alvaro masih belum bisa berjalan. Namun dia selalu berusaha melakukan tugasnya sebagai suami dengan baik.


Menyiapkan susu di pagi dan malam hari kini menjadi rutinitasnya. Dia tidak mengijinkan siapa pun untuk membuatkan susu. Tugas itu sudah di hak paten menjadi pekerjaannya.


Begitu juga malam ini saat makan malam, Alvaro sudah menyiapkan susu di meja tempat istrinya duduk untuk makan malam.


"Daddy ada proyek lagi Al. Kamu mau kan pegang proyek daddy lagi kali ini?" kali ini Alvin dapat proyek pembangunan untuk sebuah mall milik keluarga Dawson. Proyek yang Andrian-suami sahabat sang istri- percayakan padanya.


Mereka memang sudah lama menjalin kerjasama. Sejak perusahaan masih di pegang oleh orang tua mereka masing-masing.


Alvaro masih tidak percaya diri untuk kembali bekerja. Tapi dia juga butuh uang untuk menghidupi anak dan istrinya. Meski masih punya tabungan, tapi dia harus memikirkan anak mereka yang membutuhkan biaya baik saat melahirkan maupun setelahnya.


"Kamu tenang saja. Dia sudah tahu perumahan yang kamu kerjakan. Dia tahu kemampuan kamu yang kompeten. Makanya dia lngsung minta kamu yang buat." Alvin ingin menantunya kembali semangat. Agar Alvaro bisa membuat Tiara semangat juga. Tapi memang Andrian tertarik dengan kemampuan Alvaro.


"Daddy juga sudah cerita kalau kamu masih sakit. Sudah daddy tawarkan arsitek daddy yang lain. Tapi dia memilih untuk menunggu kamu sembuh dari pada di pegang yang lain katanya."


"Memangnya klien daddy kali ini siapa dad?" Alvaro penasaran. Benarkah ada perusahaan besar yang benar-benar tertarik dengan kemampuannya. Sampai rela menunggunya sembuh.


"Kamu tahu Dawson Company kan? dia salah satu perusahaan dagang yang sudah tidak perlu di pertanyakan lagi."


Alvaro sampai tersedak. Dan langsung meminum air yang di sodorkan istrinya.


"Kok perusahaan besar seperti mereka mau percaya sama Al yang hanya amatiran dad? bahkan mau nunggu Al sembuh."

__ADS_1


"Yang menganggap kamu amatiran itu cuma kamu sendiri Al. Orang yang melihat hasil kerja kamu pasti tahu kalau kamu profesional. Bahkan banyak klien daddy yang tidak percaya kalo proyek-proyek mereka di gambar sama anak kuliahan seperti kamu. Mereka pikir itu hasil kerja orang yang sudah puluhan tahun di bidangnya."


"Bener Al. Kamu tuh terlalu merendah diri. Atau lebih tepatnya menganggap remeh diri kamu sendiri." timpal Tiara yang masih memasukan segala makanan yang diberikan khusus untuknya dari sang mommy.


"Jadi gimana, kamu mau kan? kalau mau, nanti daddy atur pertemuannya biar mereka datang ke rumah."


Alvaro diam beberapa saat untuk memikirkannya. Ini proyek besar, dia takut tidak mampu mengemban tanggungjawab yang di berikan padanya ini.


"Baiklah dad. Al mau." putusnya kemudian. "Tapi bertemu di luar aja. Al gak enak kalau mereka yang datangin Al kerumah."


"Gak usah khawatir Al. Mereka datang ke rumah juga karena istrinya mau main ke sini juga." kali ini Shevi yang menjawab. Dan di jawab anggukan oleh Alvin.


"Tante Indah-istrinya om Andrian-sama mommy itu udah sahabatan dari jaman sekolah Al. Udah kaya saudara. Udah jadi mama ke berapaku juga." Tiara kembali menimpali. Semua sahabat Shevi sudah seperti ibunya sendiri.


"Kalau begitu terserah daddy aja. Biar besok Al pindahin alat kerja Al yang di apartemen ke sini."


"Biar nanti daddy minta orang aja buat mindah-mindahin. Kamu sebutin saja apa yang perlu di bawa."


Alvaro mengangguk pasrah. Daddy-nya walaupun tidak pernah bersikap keras. Namun tetap keinginannya tidak bisa di bantah.


Tiara tersenyum Alvaro mau untuk kembali bekerja. Setidaknya pikiran Alvaro bisa teralihkan dan tidak terpuruk terus. Terlebih pasti suaminya juga memikirkan kehamilannya juga. Dan kini saatnya dia juga untuk semangat seperti suaminya.


*


*


*


Up sore, soalnya malam mau pergi. Takut gak biaa up 🤗


Malah yang lainnya yang belum up 🤧 padahal biasanya jam segini udah pada kelar tinggal Tiara. Tapi ini yang lain belum nulis sama sekali 😋

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya gaes 💕


__ADS_2