DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Ade Pangeran Jagoan Mama


__ADS_3

Pemandangan di depannya meremukan hati. Meluluh lantakan perasaannya. Ia kira, di rawat intensif hanya sekedar di hangatkan dalam inkubator. Tidak sedikitpun terbayang dalam benaknya, bayi mungilnya di tempeli banyak sekali selang medis. Dari alat bantu pernapasan, selang makanan, infus dan monitor.


Ibu mana yang tidak sakit dan sedih melihat anak yang baru lahir harus menjalani perawatan sedemikian rupa. Tapi itu semua demi kebaikan anaknya. Menguatkan si kecil agar bisa bertahan dan berkembang dengan baik. Itu semua demi agar mereka bisa berkumpul menjadi keluarga sempurna versi dirinya. Karena tidak ada kesempurnaan di dunia.


"Anak mama kuat sayang.. Ade bisa berjuang buat bisa bareng abang, mama papa." Tiara hanya mampu membelai kaca inkubator.


"Pangerannya mama kan jagoan. Gak akan menyerah dengan keadaan."


Tiara menyusut air matanya. "Sini abang, Al."


Alvaro mengangsurkan anak pertama mereka dalam buaian Tiara yang duduk di kursi roda.


"Hai adee.. Cepat besar ya.. biar kita bisa berpelukan lagi. Bisa bobo bareng lagi. Bisa main bareng mama papa.." Tiara menoleh ke samping untuk menghapus air matanya.


Alvaro meremas bahu istrinya lembut. Mengalirkan kekuatan untuk Tiara. Memberikan ciuman hangat di puncak kepalanya.


Setelah memastikan kondisi anak keduanya aman. Tiara, Alvaro dan anak mereka kembali ke ruang perawatan.


Melihat kondisi Tiara yang sudah membaik. Dokter mengizinkan Tiara untuk pulang besok. Meski harus meninggalkan si kecil sampai kondisi dan berat badannya cukup baru akan di perbolehkan pulang.


"Aku boleh gak di sini aja.." Tiara menatap mata suaminya penuh harap. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan anak mereka yang masih begitu lemah sendirian.


"Om Bayu pasti akan ngijinin kamu untuk tetap tinggal selama yang kamu mau." mereka sedang duduk berhadapan di brankar tempat Tiara di rawat. Dengan abang yang sedang menyusu pada ibunya. "Tapi apa kamu tega abang di sini. Di tempat dimana abang sangat gampang terpapar penyakit dan infeksi?" imbuh Alvaro yang langsung mendapat gelengan dari Tiara.


"Kita harus selamatkan anak kita yang lain juga bukan?"


"Ade disini sedang menjalani perawatan agar sehat dan mampu hidup di samping kita."


"Ade di sini bukan lagi di siksa kok.. Tapi justru lagi di jaga sedemikian rupa. Lebih dari yang kita mampu."


"Dan selama ade berjuang untuk stabil dan sehat. Kita perlu membawa abang ke tempat teraman dan ternyaman yang kita miliki untuk abang."


Tiara mengangguk meski berat. Ini demi kebaikan semua. Dia tidak mungkin menemani ade, tapi harus mempertaruhkan kesehatan abang.


***


Di rumah. Serangkaian penyambutan Tiara dan abang sudah di persiapkan.


Yang paling antusias mengadakan penyambutan adalah Pricilla.


Kedua sahabat itu sudah sangat lama tidak berkumpul. Terakhir bertemu saat libur semester beberapa bulan lalu. Itu pun tidak bisa lama karena Pricilla harus segera ke bandara untuk pergi berlibur dengan keluarga.

__ADS_1


Maka saat mommy Shevi menghubungi Pricilla untuk mengadakan acara penyambutan di rumah. Gadis itu sangat berantusias.


Terlebih Tiara tidak cerita jika sudah melahirkan. Bahkan sebelum operasi pun sahabatnya itu tidak memberitahunya. Sebal sekali bukan? sahabat apa yang tidak memberi kabar saat ada momen besar seperti itu.


Untung dia baik hati, sehingga bisa memaafkan sikap menyebalkan sahabatnya itu. Pikir Pricilla.


"Kenapa kak?" tegur Reina yang melihat tingkah aneh sahabat kakaknya yang terkekeh sendiri saat mereka sedang menata beraneka macam balon warna biru.


"Gak papa.. Ayo lanjut. Keburu Tiara sama baby-nya pulang."


Reina mencibir. Padahal yang sedari tadi melamun dan tertawa sendiri Pricilla. Tapi kini malah menyalahkannya.


***


Alvaro sedang membantu istrinya untuk berganti pakaian, saat ibu sedang membantu mengemas semua perlengkapan Tiara dan abang untuk di bawa pulang.


"Besok, sekalian aku berangkat kampus. Aku bawa ASIP kamu buat ade."


Dihari kedua, ASI Tiara mulai lancar. Dan di hari ke empat ini ASI Tiara sangat melimpah. Tidak menyangka dengan bentuk segitu bisa menghasilkan ASI yang begitu banyak. Bahkan ia harus sering memompa, karena hanya abang yang menyusu langsung darinya.


"Aku ikut aja. Sekalian nengokin ade."


"Tapi pulangnya gimana?"


Alvaro mengangguk setuju. Yang penting semua bisa berjalan baik, dia tidak keberatan.


Terdengar pintu di ketuk dengan salam orang dari luar. Alvaro yang beranjak untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang sedikit tertegun.


"Hai Al.." sapa gadis itu, karena Alvaro diam di tempat tanpa menyapa atau mempersilahkannya masuk.


"Eh. Hai Sher.. Masuk.." membuka pintu lebar-lebar agar kursi roda Sheril bisa masuk.


"She-Sheril.." Tiara juga sama tidak menyangkanya jika yang datang menjenguknya adalah Sheril. Dengan di dorong Dika di belakangnya.


"Gimana Ra.. Sehat kan proses lahirannya?"


Tiara sempat melirik suaminya yang tersenyum ke arahnya. "Sehat Sher, Alhamdulillah."


"Duduk Dik."


Tiara masih dapat melihat pancaran sendu di mata Dika tiap melihatnya. Entah harus bagaimana Tiara membantu Dika untuk melupakan perasaan untuknya.

__ADS_1


Meski awalnya terasa canggung. Tapi obrolan mereka semakin mencair saat abang yang sudah segar sehabis mandi di antar suster ke ruangan mereka.


Sheril juga mengucapkan terimakasih untuk Alvaro yang mau menemui Dika dan membujuknya untuk mau menemani dimasa terburuknya.


Sheril saat ini sudah di nyatakan sembuh. Hanya tinggal masa pemulihan saja. Dan Tiara bersyukur atas hal itu.


Tiara berharap Dika bisa membalas cinta tulus dari Sheril untuknya.


"Balik yuk Sher.. Bentar lagi dokter Wahyu ke ruangan."


Sheril mengangguk dan pamit pada Tiara dan Alvaro. Berterimakasih sekali lagi untuk kebaikan mereka yang telah menyelamatkannya dulu di rooftop.


Setelah Sheril dan Dika pergi. Dokter spesialis anak datang untuk memeriksa abang dan tak lama dokter yang menangani Tiara juga datang untuk pemeriksaan terakhir, sebelum hari ketujuh ia harus kembali ke rumah sakit bersama abang untuk kontrol.


Kini mereka menyempatkan mampir ke ruang NICU. Menjenguk ade yang akan mereka tinggal pulang.


"Mama papa sama abang pulang dulu ya sayang. Besok mama kesini lagi bacain ade cerita sama makanan paling bernutrisi di dunia ini buat ade."


"Ade cepat besar ya.. Biar kita bisa pulang sama-sama."


Sekuat apa pun Tiara menguatkan dirinya. Tetap saja ada air mata setiap kali melihat bayi kecilnya yang masih harus mempertahankan peralatan medis.


Tiara menggendong abang di pangkuan. Di dorong oleh suaminya di atas kursi roda.


Sebelumnya ia sudah bersikeras untuk jalan saja. Namun Alvaro melarangnya dengan alasan ruangan ade yang jauh.


Padahal jika ia jalan, suaminya bisa membantu membawa koper berisi perlengkapannya dengan abang yang sedang di bawa ibu.


Sesampainya di halaman rumah. Tiara menggerutu.


"Mommy tuh kemana sih Al? udah lah gak jemput di rumah sakit. Sekarang boro-boro di sambut di depan rumah."


Alvaro terkekeh dan membantu istrinya turun dari mobil dengan perlahan.


"Bukan cuma kamu anak mommy. Ada Raka sama Reina juga yang harus di urusin."


Karena Tiara bersikeras untuk jalan. Jadi Alvaro membawa koper dan ibu yang menggendong abang.


Saat membuka pintu utama, "SURPRISEEEE!!!! WELCOME HOME ABANG..."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2