DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Di Diamkan


__ADS_3

Tiara bingung kenapa Alvaro bisa berpikiran seperti itu. Dia hanya marah terhadap Sheril karena perbuatan jahat gadis itu. Tapi bukan berarti dia menyesal menikah dengan Alvaro. Meskipun awalnya tidak menerima pernikahan itu mengingat usianya yang masih belia. Tapi setelah ia menjalani beberapa hari ini, Tiara bisa menerima dengan baik status barunya sebagai istri.


Menghela napas, merasa bersalah telah menyinggung dan melukai perasaan Alvaro. Padahal Tiara tidak bermaksud seperti itu. Kini dia tidak boleh egois dan mementingkan perasaannya sendiri, dia juga harus memikirkan perasaan suaminya juga.


Berniat menyusul suaminya, bahu Tiara di tahan oleh Sheril. "Ada hubungan apa antara lo sama Alvaro?" tanya Sheril yang mendengar perdebatan antara dua orang di depannya tadi.


"Bukan urusan lo!" ketus Tiara, menyenggol bahu Sheril dengan bahunya sebelum pergi.


Semoga saja suaminya itu tidak benar-benar marah kepadanya. Akan tidak nyaman rasanya jika mereka hanya tinggal berdua tapi tidak akur.


Sheril hanya bisa menahan geram, saat Tiara sudah berlari pergi, diikuti Pricilla di belakangnya.


***


Alvaro yang sedang fokus dengan tablet di tangannya mendongak saat mendengar namanya di panggil.


Pricilla yang tahu Tiara dan Alvaro butuh privaci menutup pintu kelas dari luar.


"Al. Gue gak maksud kaya gitu tadi.. Gue cuma kesel aja kok sama Sheril." ucap Tiara yang sudah duduk di hadapan Alvaro. Namun suaminya itu hanya diam saja, tetap sibuk dengan benda persegi panjang yang ia pegang.


"Al.. jangan marah dong. Jangan diemin gue kaya gini.." rengeknya pada sang suami. Sungguh menggelikan sebenarnya. Dulu dekat saja tidak mau. Tapi lihat sekarang, Alvaro marah seperti itu saja Tiara merasa sangat bersalah dan kelabakan sendiri.


Mematikan dan memasukan tabletnya ke dalam tas, mengambil dompet dan mengeluarkan kartu dari dalamnya. "Ini tabungan gue, isi uang jajan gue selama ini dari bokap. Karena bokap udah gak ngasih uang jajan lagi, lo pegang aja. Uang bulanan buat lo, gue transfer ke situ mulai sekarang." menyerahkan kartu ATM yang di terima dengan wajah sedih oleh Tiara.


"Gue ada urusan di luar, lo bisa pulang sendiri kan?" tanya Alvaro. "Makan malamnya pesen aja gak usah masak, gue makan di luar kayaknya." imbuhnya karena istrinya diam saja.


"Al.. Tapi lo gak marah kan?" tanya Tiara saat Alvaro sudah akan mencapai pintu kelas. Pemuda itu sempat berhenti saat mendengar pertanyaan istrinya, tapi kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab apa pun.

__ADS_1


Tiara menjatuhkan tubuhnya di kursi kembali, saat sebelumnya sempat berdiri. Menunduk sedih karena tidak bisa mendapat maaf dari Alvaro.


Usapan lembut di bahu Tiara rasakan, mendongak dan tersenyum kaku ke arah sahabatnya.


"Gak usah terlalu di pikirin Ra.. Lo kan udah biasa berantem kaya gini sama Alvaro. Jadi kenapa sekarang harus dibikin pusing sih?" tanya Pricilla berlagak bodoh. Pura-pura tidak paham dengan perasaan sahabatnya hanya untuk mengetahui perasaan Tiara yang sebenarnya terhadap Alvaro.


"Tapi sekarang kan keadaannya bedan Sil. Dulu mah berantem sama dia tiap hari juga bodo amat. Tapi sekarang kan dosa, gak baik buat rumah tangga gue." lirih Tiara sembari memainkan kartu ATM yang Alvaro berikan padanya.


"Ya lagi lo ngapain masih bahas masalah kemaren? Udah sih tinggal di tutup aja tuh masalah. Toh hidup lo udah damai, gak masalah sama keusilan Sheril kemaren."


"Gue tuh masih kesel sama tuh manusia jadi-jadian. Gara-gara dia gue gak punya kesempatan buat ngerasain wedding dream gue! Gak ngerasain kaya apa rasanya di lamar sama orang yang kita cintai! Gak ngerasain deg-degan dengan rasa berbunga-bunga!" seru Tiara menggebu-gebu. "Bukan kaya gini pernikahan yang gue pingin Sil! gue juga pengen menikah dengan cara romantis, bukan karena kecelakaan kaya gini!"


"Jadi bener kata Al, lo nyesel sama pernikahan kalian?" ucap Pricilla sendu. Kasihan terhadap Alvaro juga Tiara. Satu pihak kasihan karena terpaksa menerima pernikahan, sedangkan yang satu kasihan karena tidak di terima dengan tulus kehadirannya.


"Gue bukan nyesel Sil. Gue cuma masih kesel aja. Tapi gue udah mulai nerima pernikahan ini kok." ucap Tiara lagi dengan lirih. Bingung atas keinginannya sendiri.


***


Tiara di antar Pricilla sampai ke depan gedung apartemen yang ia dan suaminya tinggali. Sebelumnya ia juga mengajak sahabatnya itu untuk berbelanja kebutuhan rumah yang mulai habis.


Walaupun tadi di sekolah Alvaro berpesan untuk dia tidak usah memasak. Tapi Tiara akan tetap memasak sebagai permintaan maafnya.


Setelah menata barang-barang belanjaan pada tempatnya masing-masing. Tiara berganti baju rumahan dan menguncir rambutnya.


Duduk di depan televisi, menelfon ibu mertua. Bertukar kabar sekaligus bertanya tentang resep dan cara bikinnya makanan kesukaan suaminya. Tadi saat akan berbelanja Tiara hanya bertanya menunya saja lewat pesan.


Malam ini ia akan masak makanan kesukaan Alvaro. Menyenangkan hati suami itu ibadah bukan?

__ADS_1


Lama Tiara mengobrol dengan ibu mertuanya, bahkan sampai bercerita tentang masa kecil Alvaro yang menggemaskan bagi ibu. Hingga hari mulai petang dan ibu juga harus memasak untuk makan malam di rumahnya, mereka baru sama-sama mengakhiri sambungan dan memasak di rumah masing-masing.


Tiara mulai menggoreng buntut sapi yang sudah di bumbui. Dan memotong serta memasuka bahan pelengkap ke dalam kuah seperti wortel, kentang, daun bawang dll. Mengikuti intruksi yang di berikan ibu mertuanya. Menambahkan bumbu sesuai takaran, berharap rasanya sama seperti masakan ibu, agar suaminya dapat terkesan dan memaafkannya.


Cukup lama Tiara berkutat di dapur, hingga badannya lengket penuh keringat. Tiara meyakinkan dirinya, jika itu ia lakukan untuk suaminya, hingga membuatnya kembali semangat. Jika di rumah orang tuanya, mana mungkin gadis itu mau memasak, ke dapur saja jarang. Kecuali di rumah nenna yang sering memaksanya membantu untuk memasak.


"Selesai!" seru gadis remaja itu dengan mata berbinar setelah mencicipi dan rasanya cukup enak. "Semoga Alvaro suka." imbuhnya lagi setelah di pastika masakannya matang.


Mematikan kompor dan berlalu menuju kamar. Membersihkan diri yang rasanya sudah sangat gerah dan lengket.


Padahal jam sudah menujukkan pukul tujuh malam saat dia keluar dari kamar mandi, tapi kamarnya masih kosong tanpa tas dan sepatu yang biasanya Alvaro letakkan sembarangan. Yang berarti suaminya belum juga pulang.


Menghela napas, mengambil buku dan membawanya ke ruang televisi. Memilih membaca buku untuk mengisi waktunya menunggu Alvaro.


Saat jam sudah berada persis di angka delapan, Tiara menuju dapur dan memanaskan sup lalu menghidangkannya pada mangkuk. Berharap sebentar lagi suaminya akan pulang.


Buku di tangannya sudah habis ia baca, tapi suaminya tak kunjung pulang. Hingga ia mengirimkan pesan bertanya Alvaro ada dimana, tapi bahkan pesannya di baca pun tidak.


Menyandarkan kepalanya pada meja makan. "Lo kemana sih Al? segitu marahnya ya sama gue?" ucapnya sendu, hingga tak terasa tertidur di meja makan.


*


*


*


Yuk jangan kasih kendor Like, Komen dan Vote-nya. Makasih buat semangatnya 💕

__ADS_1


__ADS_2