
* Shevi POV
Pagi ini rasanya malas sekali untukku bangun. Bagaimana tidak, jika hari ini aku harus menyaksikan suamiku sendiri menikah lagi. Menikah dengan wanita yang dia hamili.
Melihat mereka tidur bersama saja hatiku rasanya remuk redam. Apa lagi saat tahu ternyata wanita itu hamil anak dari suamiku. Duniaku seakan runtuh saat itu juga. Ujian apa lagi yang lebih berat dari hal menimpaku saat ini.
Tapi aku tidak ingin egois memiliki Alvin sedangkan ada anak dalam kandungan wanita lain yang juga berhak mendapatkan kasih sayang dan memiliki suamiku.
Tok Tok Tok
Pintu kamarku diketuk dan muncul wajah wanita yang aku cintai. Bunda yang selalu ada disaat suka dan dukaku.
" Udah siap sayang " Bunda mendekat dan membelai rambutku. Hal yang selalu aku sukai saat bunda atau Alvin melakukannya.
Hah.. mengingat namanya saja membuatku sedih. Aku menghela nafas dan mengangguk kepada bunda.
Aku beruntung bunda tidak banyak bertanya. Karena aku memang butuh ketenangan saat ini. Semakin banyak kata penghiburan justru semakin membuatku sedih karena berarti semua ini semakin terasa nyata bagiku. Karena aku masih berharap kalau semua ini adalah mimpi.
Bunda menggandeng tanganku untuk menuju rumah Alvin. Semalam aku memutuskan untuk menginap di rumah bunda agar aku tak perlu bangun pagi buta hanya untuk menghadiri pernikahan yang aku sangat benci ini.
Aku juga mengajak Tiara untuk menginap di rumah bunda. Karena sudah lama juga aku tidak tidur dengan anakku itu.
Kami menuju rumah Alvin dengan mobil diantar sopir keluarga kami. Shera yang ada disebelahku terisak sejak pagi tadi dia datang diantar oleh kak Bayu suaminya.
Mungkin kakakku ini merasakan juga rasa sakit yang aku rasakan. Aku juga sebenarnya ingin menangis dan meneriakkan kata makian untuk kedua orang yang akan menikah itu. Tapi aku menahannya, Aku tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka berdua. Karena akulah pemenangnya nanti. Atau setidaknya itu yang dikatakan papi mertuaku saat dirumah sakit kemarin.
" Udah dong kak.. Jangan nangis terus.. Udah mau sampe nih " Ku hapus air mata kakakku itu dengan tisu karena sebentar lagi kami sampai di rumah mertuaku.
__ADS_1
" Aku juga maunya udahan nangisnya viii.. Tapi air matanya gak mau berhenti tau. Hatiku tuh sakit.. Dan aku tahu itu yang kamu rasain saat ini " Shera menjawab dengan nada sedikit kesal. Tapi dari sorot matanya aku tahu kalau Shera mengasihaniku atas takdir hidupku kali ini yang membuatku terkekeh meski hatiku tidak ikut tertawa.
" Uuuhhh kakakku sayang " Aku memeluk dan membelai punggungnya.
" Ayo turun " Bunda membuka pintu dan mengajak kami berdua untuk turun. Sebenarnya aku sudah melarang Shera untuk ikut. Tapi si gadis bodoh ini memaksa ikut walaupun dari tadi tidak berhenti menangis.
***
Hanya ada mertuaku dan dua orang sopir Papi Dion dari pihak Alvin sebagai saksi. Dan dari Tania hanya ada seorang laki - laki paruh baya yang mungkin adalah keluarganya. Karena setahuku Tania disini merantau dan keluarganya tidak ada yang bisa hadir.
Berulang kali aku menarik nafas sambil menunduk menenangkan hati dan jantungku yang rasanya sangat sesak. Atau jangan - jangan sekarang aku yang punya penyakit jantung ?? Kenapa rasanya sakit sekali ??
Aku baru mengangkat kepalaku saat Pak Kiyai memanggil namaku dan menanyakan apakah aku ikhlas dan ridho jika Alvin menikah lagi.
" Saya ikhlas dan ridho suami saya menikah lagi dengan saudari Tania Pak Kiyai " Aku menjawabnya dengan menahan sekuat yang aku bisa agar suaraku tidak bergetar karena rasa sakit yang semakin terasa dalam.
Setelah acara selesai aku pamit untuk pergi bekerja. Walaupun sebenarnya itu hanya alibiku saja. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat menyesakkan itu.
Setelah sampai di rumah bunda, aku langsung mengambil mobilku dan mengendarainya menuju taman yang tidak jauh dari Tiara's studio. Disana biasanya jika hari keja begini sepi. Aku hanya ingin mencari tempat untuk menenangkan hatiku saja.
Dan benar saja. Ditaman itu hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Aku mencari tempat yang teduh dan tidak ada orang.
" AAAAAA LO JAHAT VINN... LO JAHAT SAMA GUE... !! " aku berteriak sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sesak dihatiku.
" Apa salah gue hiks.. Apa yang gue lakuin samape lo tega begini vin.. hiks.. hiks.. " Aku terduduk lemas dan terisak. Mengeluarkan segala sumpah serapah dan air mata yang sedari tadi aku tahan.
Ingin rasanya aku mati saja jika tidak ingat ada Tiara. Aku bahkan baru saja kehilangan calon anak yang aku bahkan belum tahu kalau dia ada. Dan sekarang aku harus merelakan suamiku menikah lagi. Memang itu aku yang menyuruhnya, Karena aku gak mau egois dan Tania merasakan apa yang aku rasakan saat hamil Tiara dulu. Tapi kalau aku yang menyuruhnya kenapa sakit sekali Tuhan.. kenapa tidak Kau ambil saja sekalian hatiku ini biar aku tak lagi merasakan sakit seperti ini.
__ADS_1
Aku terlonjak dan segera menghapus air mataku saat ada seseorang yang menepuk pundakku.
" Kak Nathan ?? " Tanyaku heran. Kenapa orang ini ada ditaman jam kerja begini.
" Kakak ngapain disini ?? bukannya ini hari kerja ?? " Kak Nathan menunjuk jam pada pergelangan tangannya.
" Ini udah masuk jam makan siang ibu bos.. Dan saya disini mau makan siang " Kak Nathan mengangkat paperbag ditangannya yang satu langi.
" Ooh.. Ya udah aku permisi dulu " Sungguh aku malu kalau sampai kak Nathan tahu tadi aku teriak - teriak seperti orang gila memaki - maki Alvin.
" Makan bareng yuk.. Kebetulan aku beli dua sandwichnya " Aku menggeleng sebagai jawaban.
" Udah ayooo " Kak Nathan menarikku berdiri dan mencari bangku taman agar aku tidak duduk di atas rumput seperti tadi.
" Kalau butuh temen curhat, aku bisa kok vii.. Jangan teriak - teriak sendirian kaya tadi " Aku tersenyum canggung karen malu ternyata benar kak Nathan mendengarnya.
" Aku tau masalah keluargamu saat ini berat.. Tapi gak baik kamu maki - maki suamimu di tempat umum seperti tadi.. Untung cuma ada aku gak ada yang lain " Kak Nathan tersenyum kemudian mengeluarkan sandwich untuk kami makan. Sebenarnya aku sama sekali tidak berselera untuk makan. Tapi aku tetap menerimanya menghargai usahanya untuk menghiburku walaupun hanya aku pegang tanpa aku makan sedikitpun.
" Aku juga gak akan maksa kamu buat cerita sebenarnya ada apa lagi sama kalian setelah tau kalau wanita itu hamil.. Tapi aku harap kamu kuat menghadapinya ya vii.. " Mataku mulai memanas dan berkaca - kaca kembali.
" Aku yakin kalau Alvin tidak mungkin seperti itu.. Karena aku bisa melihat sendiri bagaimana dulu Alvin memperlakukan kamu waktu kita sekolah.. Dari sana aja aku yakin kalau Alvin udah cinta mati sama kamu " Hah cinta mati dari hongkong kak. Aku hanya berani menyahutinya dalam hati
*
*
*
__ADS_1
Akhirnya bisa up part ke dua 💕