
Selepas pulang dari acara euforia kelulusan di sekolah, Alvaro mengajak istrinya untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sudah lama pemuda itu tidak mengunjungi kedua orang tua serta adiknya.
"Wahh... anak-anak ibu hebat banget. Pada dapet nilai bagus, bedanya cuma dikit banget lagi." seru Ibu merasa senang melihat hasil kelulusan anak dan menantunya.
"Iya dong bu, anak siapa dulu." seru Alvaro dengan bangga.
"Ayah pasti bangga sama kalian." ayah memang belum pulang dari kantor jika langit belum menggelap.
"Ayah belum pulang memang bu?" tanya Tiara yang melihat jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul setengah enam.
"Ayahmu pulangnya nanti kalau udah mau makan malam. Berangkatnya pagi. Ayah itu loyal banget sama kerjaannya. Makanya ayah mendidik keras Alvaro biar bisa seperti ayah." ucap ibu yang sudah terbiasa dengan sikap ayah yang lebih mementingkan kerjaannya dari pada keluarga. "Tapi ibu gak mau kamu mengabaikan keluarga kamu demi kerjaan seperti ayah bang." nasihat ibu.
"Ibu tenang aja. Abang gak mungkin mentingin kerjaan di banding istri abang yang cantik ini." ucap Alvaro membuat Tiara yang duduk di sebelah ibu tersipu.
Alvaro yang hidup dengan kekurangan kasih sayang seorang ayah, tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Dulu ketika kecil, ia sering mendekati ayah di ruang kerja untuk membanggakan hasil ulangannya yang selalu sempurna. Tapi jangankan memuji hasil kerja kerasnya. Ayah malah menyuruhnya keluar dan bilang, "Anak ayah memang harus dapat nilai sempurna. Jika tidak, berarti bukan anak ayah."
Bagi ayah, anak-anaknya memang harus mendapat nilai yang sempurna. Itu sudah seperti kewajiban setiap anak-anak ayah. Terutama Alvaro, anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu.
Untung ada ibu yang sangat peduli dan menyayangi mereka bertiga. Sehingga mereka tidak terlalu tertekan dengan semua sikap ayah kepada mereka selama ini. Asal ada ibu, mereka bahagia.
"Apaan! lo juga kalo udah mulai gambar, sampe sore baru keluar ruang kerja." adu Tiara pada ibu mertuanya.
"Ya kan nyelesein kerjaan sayang. Tapi kan waktu dari sore sampe pagi lagi cuma buat istri gue tericinta." bela Alvaro yang tidak ingin di samakan dengan ayahnya yang workaholic.
"Gak usah sok-sokan cinta-cintaan deh. Geli dengernya." protes Anindira, adik perempuan Alvaro yang usianya hanya terpaut dua tahun.
Kakaknya Alika, lebih memilih kuliah di Jogja dan jauh dari keluarga. Usianya juga hanya dua tahun lebih tua dari Alvaro. Tiara belum pernah bertemu dengan kakak perempuan Alvaro itu.
"Makanya cari cowok biar gak jomblo mulu." ledek Alvaro kepada adik perempuannya.
"Alah sok-sokan nasehatin buat cari cowok. Lo juga kalo gak di paksa nikahin kak Tiara, masih jomblo lo bang." seru Anindira tidak mau kalah.
__ADS_1
Tiara tertawa terbahak mendengar kalimat adik iparnya itu.
"Diem deh yank! kaya yang udah pernah pacaran aja selain sama gue." sungut Alvaro tidak terima di serang kanan kiri.
"Iya ya.. apes bener gue. Belum juga pacaran, udah nikah aja."
Giliran Anindira yang menertawakan kesialan kakak iparnya. Ibu hanya menggelengkan kepalanya, memaklumi mereka yang masih muda dan saling ejek. Jika suaminya sudah di rumah, rumah tidak akan seramai ini.
"Tapi enak kan kak, pacaran udah nikah tuh. Apa-apa udah halal. Gak takut hamil di luar nikah."
"Apaan. Kita tuh belum yang begitu. Masih di bawah umur."
"Haha.. masa kakak kalah sama temen gue kak. Dia aja udah begituan sama pacarnya." ucap Anindira yang langsung menutup mulutnya, lupa jika di sana ada ibunya.
"Adek awas ya, jangan meniru yang seperti itu!" ucap ibu dengan menajamkan matanya.
"Hehe gak lah bu. Aku pengen kaya abang aja, langsung di nikahin gak usah pacaran." ucapnya setengah hati, hanya bercanda.
"Eh ayah. Adek cuma bercanda yah. Biar nanti adek cari sendiri. Kalo adek udah nemu yang adek suka, adek akan langsung minta dia nikahi adek tanpa perlu pacaran. Adek janji yah!" seru Anindira mengacungkan jari tengah dan jari telunjuk membentuk huruf v, takut dengan penawaran sang ayah.
"Makanya sekolah aja yang bener. Jangan mikirin pacaran apa lagi nikah kaya abang kamu ini."
Semua hanya diam, tidak ada yang berani membantah. Tiara yang biasa kondisi di rumahnya santai, merasa tidak nyaman dalam keluarga yang kaku seperti ini. Padahal sebelum ayah mertuanya datang, suasana masih terasa santai dan biasa menurutnya.
"Bagaimana dengan hasil ujian kalian? ayah harap tidak mengecewakan."
Ibu mendekat dan memberikan surat kelulusan ke tangan suaminya. Ada sinar bangga di mata ayah, namun karena gengsi dan mempertahankan wibawanya sebagai orang yang patut di hormati di rumah ini, ayah hanya berucap.
"Syukurlah, nilai kalian tidak memalukan."
Alvaro yang sudah terbiasa hanya diam saja. Tapi Tiara yang sudah biasa di puji di keluarganya mendengus dalam hati dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Tiara? kenapa bibirnya maju begitu?" semua mata tertuju pada Tiara.
"Tiara kan pengen di puji dengan hasil kerja keras Tiara di sekolah." ucapnya langsung. Namun seketika tersadar dan terkekeh. "Hehe gak papa yah. Maksudnya Tiara gak papa kok."
Ayah hanya mengeleng dan melangkah pergi. Di ikuti oleh ibu masuk ke dalam kamar.
"Ayah dingin banget sih Al?" bisik Tiara mendekati suaminya.
"Ya emang ayah kaya gitu dari dulu. Jadi lo harus terbiasa ya." ucap Alvaro membelai rambut istrinya dan menepuknya pelan. Menyemangati Tiara untuk menerima keadaan keluarganya yang jauh berbeda dengan kehangatan keluarga yang biasa Tiara dapatkan.
"Pokoknya gue gak mau lo kaya ayah Al." seru Tiara masih dengan berbisik.
"Gak akan sayang. Emang selama ini aku kaya gitu? apa lagi kalo kita udah punya anak. Aku pasti bakal lebih sayang lagi sama kalian."
"Jadi sekarang sayangnya
cuma setengah?" tanya Tiara dengan mata yang melotot tajam.
"Ya gak dong yank. Mana ada sayang cuma setengah. Sayang gue ke elo itu utuh, penuh hati gue buat mencintai Tiara Ashana." gombal Alvaro dengan mencium punggung tangan istrinya.
"Mual lama-lama gue disini." sindir Anindira yang memilih meninggalkan pasangan yang sedang kasmaran. Tidak kasihankah mereka pada jiwa jomblo Anindira. Dia kan juga ingin di perlakukan sama seperti Tiara oleh pacarnya. Tapi sayangnya, jodohnya masih di tangan Tuhan dan belum terlihat seperti apa bentuknya.
Anindira hanya berharap, dia akan mendapatkan suami yang sayang dan hangat kepada keluarga. Tidak ingin memiliki suami yang seperti ayahnya. Sudah cukup ia mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya. Tidak ingin mendapatkannya lagi dari suaminya kelak.
Beruntung ayah mendapatkan wanita sesabar ibu. Yang mau menerima dan menemaninya hingga kini. Tanpa mengurangi binar cinta di mata ibu untuk ayah.
*
*
*
__ADS_1
Holla.. Alvaro datang lagi. Bawa neng Tiara yang cantik 💕