
Selama satu minggu Alvin dan Shevi menghabiskan waktu dengan menjelajah semua wisata yang ada di Santorini. Mereka memanjakan mata dengan menyelam. Gunung berapi menciptakan pemandangan luar biasa di bawah laut. Mereka bisa melihat formasi lava, menikmati pemandangan spons laut warna-warni, serta berbagai binatang laut. Terdapat pula kapal-kapal tua yang tenggelam untuk dieksplor.
Lalu satu hari penuh mereka wisata museum. Alvin mengajak Shevi mengunjungi hampir semua museum yang ada di Santorini. Shevi yang sebenarnya tidak menyukai jalan - jalan di museum sedikit tertarik karena penjelasan Alvin yang tidak membosankan. Sebenarnya yang meraka lakukan berdua tidak akan pernah terasa bosan bagi Shevi.
Mereka juga tak lupa berwisata kuliner. Mencoba semua masakan khas dari Santorini. Ada satu masakan yang kurang cocok di lambung Alvin sehingga membuat pria beranak satu itu diare semalam penuh sampai membuat Shevi khawatir. Tapi untungnya besok paginya sembuh setelah malamnya dia meminum obat yang dibelikan oleh karyawan tempat mereka menginap.
Selebihnya hanya mereka manfaatkan untuk memadu cinta di dalam kamar. Menebar benih yang Alvin harap akan segera tumbuh di dalam rahim istrinya. Dulu saja hanya sekali langsung jadi. Apa lagi sekarang yang hampir setiap malam mereka melakukannya pasti kemungkinannya lebih banyak bukan.
Seperti malam ini, setelah mereka melepaskan hasrat mereka sebelum besok pulang ke tanah air, mereka tidak langsung tidur. Bereka berbincang hanya berbalutkan selimut untuk menutupi tubuh mereka
" Semoga kecebongnya ada yang jadi yank ?? " Alvin mengusap perut datar milik istrinya dengan lembut.
" Jadi apa ?? jadi kodok " Shevi terkekeh namun seketika langsung cemberut saat dahinya di sentil sedikit keras oleh suaminya.
" Kamu tuh kalo ngomong suka asal !! Ya jadi anak lah.. doa tuh yank !! Bukannya di aminnin juga !! " Seru Alvin sebal.
" Hehe iya sayang.. Kita kan udah berusaha jadi ya tunggu aja hasilnya gimana.. Gak usah terlalu memaksakan !! Toh kita udah punya anak " Bagi Shevi kapan pun dirinya dipercaya untuk hamil lagi dia akan siap. Apa lagi sekarang sudah ada suami yang mendampinginya. Tapi kalau pun belum dia tidak akan kecewa, karena memang sejujurny Shevi belum terlalu ingin memiliki anak lagi. Dia masih ingin membangun usahanya. Dan dia juga masih ingin menikmati masa mudanya bersama teman - temannya yang sudah dirinya lewati.
" Iya sih yank.. Tapi aku pengen juga nemenin kamu hamil.. Pengen ngerasain gimana rasanya menikmati setiap tumbuh kembang anak kita dari dalam kandungan sampai tumbuh besar.. Karena Tiara kan aku taunya udah jadi gadis cantik dan pinter kaya sekarang.. Aku udah ngelewatin masa emas yang gak akan bisa aku ulang langi dalam hidup Tiara " Alvin menerawang dengan tatapan kosong membayangkan kira - kira seperti apa Tiara dulu. Meskipun Alvin banyak melihat tumbuh kembang Tiara dari dalam perut samapi terakhir sebelum bertemu dengannya dari semua foto dam video yang Shevi abadikan.
" Udah lah mas.. Yang udah terjadi gak usah di inget - inget mulu.. Aku tuh jadi makin ngerasa bersalah sama kalian berdua tau ga !! " Disentuhnya pipi suaminya dan diusap dengan lembut kemudian diberinya kecupan singkat dibibir Alvin.
" Ya kamu emang salah besar yank !! Tapi aku juga gak bisa nyalahin kamu karena semua kesalahan berawal dari diriku sendiri " Alvin menghela nafas dan tersenyum ke arah istrinya.
__ADS_1
" Tidur yuk.. Besok kan kita bakalan menempuh perjalanan jauh " Alvin semakin mengeratkan pelukannya sebelum kemudian memberikan ciuman bertubi - tubi di dahi istrinya.
***
Pagi - pagi sekali Shevi membangunkan Alvin untuk bersiap - siap untuk pulang. Saat Alvin sedang mandi, Shevi membereskan barang - barang mereka. Kemarin Tiara sudah menelfon dan menanyakan kapan mereka akan pulang. Anak itu sangan merindukan mommy'nya yang membuat Alvin merajuk karena tidak di rindukan.
" Jangan sampe ada yang ketinggalan yank " Alvin yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya ikut membantu membereskan sisa yang belum dikemas oleh Shevi. Istrinya itu sudah cantik dengan celana jeans dengan atasan kaos yang di padu dengan kemeja yang tidak dikancing. Gaya andalan Shevi jika bepergian jauh agar merasa lebih nyaman dari pada harus menggunakan dress.
" Sudah semua mas.. " Shevi menupuk tangannya dan siap dengan ransel kecil dipunggungnya yang hanya muat dompet, ponsel serta make up.
" Ayo kita turun.. Biar nanti petugas hotel yang bawakan semuanya " Barang bawaan mereka bertambah dua kali lipat dengan semua belanjaan yang Shevi beli disekitar Oia dan Fira.
Perjalanan dari Oia menuju Bandar Udara National Santorini mereka lewati selama dua puluh menitan menggunakan mobil yang Alvin sewa selama di Santorini.
" Kita bisa datang lagi kapan - kapan sama anak - anak kita " Alvin mengusap pundak Shevi yang ada dalam pelukannya.
" Anak aja baru satu, anak - anak " Shevi terkekeh dengan sikap Alvin yang sudah tidak sabaran untuk segera menambah momongan.
" Nanti kalo udah sampe aku bakalan sering sibuk di kantor yank.. Proyek yang aku tangani lumayan banyak dan udah aku tinggal selama seminggu.. Walaupun ada Jodi yang bantu tapi untuk persetujuan tetap saja harus melewatiku " Alvin malas sebenarnya untuk kembali ke Jakarta karena sudah ditunggu segudang pekerjaan. Dia enggan untuk meninggalkan anak serta istrinya walau hanya untuk bekerja sekalipun.
" Gak papa kok mas, aku ngerti.. Kamu harus bertanggung jawab sama kerjaan kamu baru aku bisa percaya kamu mampu bertanggung jawab sama aku dan Tiara.. " Shevi mengusap telapak tangan Alvin yang berada dipangkuannya sambil mendongak menatap suaminya diiringi senyuman.
" Aku juga akan sibuk ngurusin usaha baruku.. Udah ada beberapa teman yang bantu dan untuk gedung bunda udah dapet di tempat yang strategis "
__ADS_1
" Kok kamu gak minta bantuan aku malah minta tolong bunda ??!! " Alvin kesal dengan istrinya yang tidak mengandalkanya.
" Bukanya aku gak mau minta tolong bantuan kamu mas.. Tapi aku tau kamu sibuk.. Dan itu juga bunda nawarin karena ada iklan pemasarannya jadi bunda kasih tau aku siapa tau aku minat.. "
" Kamu udah liat - liat gedungnya ?? "
" Udah mas.. Dan aku cocok sama bangunannya " Beberapa hari sebelum mereka berangkat honeymoon Shevi melihat tempat yang ditawarkan oleh sang bunda.
" Kamu beli atau sewa ?? " Setidaknya Alvin ingin sedikit saja membantu.
" Beli sekalian mas.. Walaupun harganya fantastis tapi itu kan bisa buat investasi properti juga " Shevi mengeluarkan ponselnya menunjukan gambar yang dirinya ambil sewaktu melihat - lihat.
" Kamu punya uang sebanyak itu yank buat beli ?? " Alvin ternganga melihat bangunan yang besar. Walaupun masih setandar sekolah tapi pasti mahal. Alvin sendiri tidak punya uang sebanyak itu, Karena dirinya pun belum genap satu tahun bekerja diperusahaan papinya. Jadi dia hanya punya tabungan uang jajan dan gajinya beberapa bulan. Gajinya memang besar, tapi jika untuk membeli gedung tidak akan cukup. Papinya akan memberikan saham kalau papi sudah pensiun.
" Gak punya lah kalo langsung lunas.. Aku pinjem uang ke Om Julian.. Bayarnya aku cicil sama hasil dari saham aku di perusahaannya.. Tabunganku aku pake buat beli alat musik dan lain - lainnya.. Toh kebutuhan aku dan Tiara udah kamu tanggung sekarang.. Jadi uang aku bisa buat berbisnis " Shevi tersenyum sangat manis.
Sebenarnya Alvin malu kepada Shevi yang lebih banyak tabungannya dibanding dirinya. Mungkin kalau dia minta tolong papinya akan dikasih. Tapi toh istrinya bisa melakukannya sendiri tanpa meminta bantuannya. Jadi dia hanya akan mensuport tanpa melukai harga diri istrinya. Meski sekarang harga dirinya yang terluka.
*
*
*
__ADS_1
Semangat beraktifitas 💕