
"Jadi.. kita udah baikan?" bisik Alvaro yang berjalan dibelakang para orang tua dengan jari yang saling bertaut dengan sang istri seakan tidak akan pernah melepaskan.
"Menurut, lo?" goda Tiara dengan menaikan satu alisnya.
Alvaro memberengut. "Kok masih lo aja sih?"
Tiara terkekeh dengan kelakuan suaminya. Setelah tawanya terhenti, gadis itu berucap lirih. "Maaf ya pah?"
"Maaf untuk apa?" Alvaro kira istrinya meminta maaf karena keterlambatannya tadi. "Makanya kalau dandan jangan kelamaan. Jadi gak telat. Aku kira kamu masih marah, terus gak mau datang. Lagian udah cantik, mau di apain juga tetep cantik sayang."
"Ck. Bukan untuk itu."
"Terus?" Alvaro menunggu dengan menaikan sebelah alisnya.
"Maaf udah kelamaan marahnya." cicit Tiara yang lebih terdengar seperti bisikan. Membuat Alvaro tersenyum. Tapi pria itu tidak ingin menyela. Biar istrinya menyelesaikan dulu kalimatnya. Ia tahu, istrinya pasti menyimpan sejuta kata untuk masalah mereka kemarin.
"Harusnya aku instrospeksi diri juga." rasa sesal benar-benar terlihat dari ekspresi wajah Tiara. Mereka berhenti sejenak di taman, membiarkan para orang tua dan anak-anak ke tempat parkir lebih dahulu.
"Harusnya aku gak raguin cinta kamu ke aku. Harusnya aku sadar, kalau kamu bisa sampai dekat dengan wanita lain di belakang aku, berarti memang akunya yang salah."
Alvaro menggeleng tegas. Tapi Tiara semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Memohon untuk tidak di sela dulu.
"Aku memang terlalu fokus sama kuliah. Pulang kuliah fokusnya sama anak. Sampai-sampai aku gak ada waktu buat merhatiin kamu. Gak ada waktu buat sekedar bertanya apa kabar kamu hari ini baik? Apa kerjaan kamu lancar? Atau apa pun yang sering kita lakuin dulu." Tiara tertunduk ketika matanya mulai memanas. Suaranya juga bergetar menahan tangis.
"Bahkan untuk sekedar bilang makasih untuk usaha keras kamu demi keluarga aja aku gak sempet."
Alvaro menarik sang istri ke dalam rengkuhan. Seketika dadanya basah karena Tiara tidak tahan lagi untuk menahan laju air matanya.
"Bukan semua salah kamu sayang. Aku juga salah. Harusnya aku lebih hati-hati lagi dalam berteman. Kalau aku tau dia belum tau aku sudah menikah. Kalau aku kasih tau dia lebih awal. Mungkin kejadiannya gak bakal kaya gini. Mungkin dia sama seperti cewek-cewek lain di kampus yang pada gak berani deketin aku, karena tau betapa cintanya aku sama kamu."
Bukannya berhenti, Tiara malah semakin terisak.
"Harusnya aku juga ngertiin kamu yang capek ngurusin kita dari pagi sampai malam. Belum lagi harus kuliah. Harusnya aku sebagai kepala rumahtangga bisa lebih bijak mendukung kamu, bukan malah merasa nyaman dengan kehadiran wanita lain yang gak akan bisa sehebat istri aku ini." Alvaro menangkup wajah istrinya dan sedikit mengurai pelukan mereka agar dapat melihat wajah cantik istrinya.
Wajah cantik wanita muda yang sudah berjuang dengan hebat untuk keluarga kecil mereka.
__ADS_1
Memberikan ciuman hangat nan lama di dahi sang istri. Membuat Tiara memejamkan mata menerima kehangatan yang suaminya berikan.
"Maaf mama.. Maaf karena papa gak bisa jaga perasaan mama. Maaf karena papa sudah menorehkan luka di hati mama yang mungkin tidak akan pernah sembuh. Tapi papa janji. Papa akan berusaha lebih keras lagi buat bahagiain kalian, mutiara hati papa."
***
Tiada orang tua yang tidak bahagia melihat rumah tangganya kembali harmonis. Bahkan mommy Shevi sampai menyusut air matanya berkali-kali ketika melihat Tiara dan Alvaro saling melempar senyum dan tak sungkan untuk saling menyuap.
Hatinya sebagai seorang ibu bahagia melihatnya. Hanya ini yang ia harapkan dari putri sulungnya itu. Keharmonisan rumah tangga. Tak penting baginya kesuksesan Tiara dalam pendidikan. Itu sudah jadi urutan nomer sekian setelah Tiara menikah dan punya anak.
Daddy Alvin memeluk pinggang istrinya. "Kenapa lagi, sayang?" suara daddy Alvin mengalihkan pandangan Tiara dan yang lain yang tengah makan di restoran untuk merayakan kelulusan Alvaro. Semua menatap mommy Shevi heran. Karena hanya wanita itu yang menangis.
"Sepertinya kita bakalan nambah cucu." seloroh mommy Shevi mengalihkan rasa harunya.
Semua orang berganti menatap Tiara dan Alvaro yang bahkan saat makan mereka masih saling berpegangan tangan. Kecuali saat akan menyuap. Itupun Alvaro lebih sering di suapi oleh istrinya.
"Iya. Kalau akur seperti ini, sepertinya tidak lama lagi Fari sama Vindra bakal jadi kakak." imbuh ibu Alvaro dengan senyum hangat dan mata teduh yang berbinar.
"Enggak lah bu. Mom." protes Tiara "Kuliah aku lagi sibuk banget. Belum ngurus anak-anak di rumah. Aku belum sanggup untuk nambah anak lagi. Nanti aja kalau sudah lulus, sudah punya banyak waktu."
"Tentu dong papa sayaaang.. Kata aunty Indah. Justru suami harus lebih ekstra di perhatikan, karena suami lebih kekanak-kanakan dari pada anak-anak."
Semua tergelak mendengar penuturan Tiara dan wajah cemberut Alvaro.
"Aku gak ke kanak-kanakan, yank!" protes Alvaro tidak terima.
"Itu. Kaya gitu aja ngambek. Itu namanya kenaka-kanakan!" seru Tiara. Memeletkan lidah untuk menggoda suaminya.
Mommy Shevi berharap hidup anaknya kedepan akan lebih bahagia lagi. Belajar dari pengalaman yang sudah keduanya lalui, semoga semakin mendewasakan anak dan menantunya itu.
Seperti dirinya dan sang suami. Cukup sekali mereka terlibat salah paham yang berujung dengan pertengkaran. Bahkan nyaris dengan perpisahan. Membuat mereka kehilangan calon anak mereka dulu.
Tapi mommy Shevi bersyukur. Dari kejadian itu, suaminya yang memang awalnya sangat menyayanginya menjadi lebih sayang lagi. Tidak ada lagi masalah besar menerpa keluarga mereka.
Jika hanya perdebatan kecil, itu hal biasa dalam rumah tangga.
__ADS_1
Kurang pas rasanya kalau tanpa debat-debat kecil. Bagai sayur tanpa garam kalau kata orang.
Karena perdebatan kecil itu lah bumbu-bumbu rumah tangga. Agar rumah tangga semakin enak untuk di nikmati. Tidak monoton dan membosankan.
Berdebat adalah gula-gula rumah tangga. Yang semakin memberi kesan manis untuk mereka kenang.
Hal buruk hari ini, jika kita kenang di kemudian hari, belum tentu menjengkelkan. Kadang bisa menjadi sesuatu yang manis tergantung seberapa dewasa kita menyikapinya.
"Ayoo kita foto mom.." guncangan di tangannya menyadarkan mommy Shevi dari lamunan. Wanita itu tersenyum dan mengikuti putrinya keluar dari restoran menuju taman yang ada di belakang restoran.
Mengabadikan momen penting untuk menantunya. Padahal tadi di kampus sudah.
Tapi baginya ini adalah pengabadian keharmonisan keluarga kecil putrinya.
Senyum yang terbingkai dalam foto semoga selamanya akan mengembang. Tawa anak-anak semoga tidak akan pernah menjadi tangis karena pertengkaran orang tua di kemudian hari.
Jika mommy Shevi boleh serakah. Ia hanya memohon pada Tuhan. Semoga kebahagiaan selalu melingkupi keluarganya. Semoga kebahagiaan hari ini akan abadi.
...-TAMAT-...
*
*
*
Kisah mereka berakhir sampai disini ya gaes 😊
Tapi jangan khawatir. Nanti aku kasih ekstra part yang banyak asal kalian gak bosen hihihi
Terimakasih untuk kalian yang menemani Tiara sampai sejauh ini. Shevi-Alvin juga Tiara-Alvaro bukan apa-apa tanpa kalian..
Aahhh sedih aku tuh.. sini aku peluk online kalian semua 🤗🤗🤗
Ketemu lagi besok yang semoga aku bisa ngasih yang manis buat kalian..
__ADS_1
Jangan di unfav dulu biar tetep dapat notif.. Kan masih banyak ekstra part wkwkwk