DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Rutinitas Baru


__ADS_3

Bukan hal mudah untuk Tiara merawat Alvaro. Selain tubuhnya yang kalah besar. Kondisinya yang hamil juga membuatnya khawatir saat mengangkat tubuh suaminya yang berat.


Masih harus banyak belajar untuk membantu Alvaro melakukan aktifitasnya. Seperti pagi ini, saat bangun tidur dan Alvaro merasa mual. Tiara yang bingung dan panik lebih memilih mengambil ember kecil yang sering ia gunakan untuk merendam kaki saat malam hari semenjak hamil. Membawa ember itu ke hadapan sang suami dan membantu Alvaro dengan memijat tengkuk saat Alvaro memuntahkan isi perutnya.


"Kamu setiap pagi muntah begini Al?" tanya Tiara yang membantu membersihkan mulut suaminya dengan tisu basah untuk membersihkan mulut suaminya.


Tidak ada rasa jijik untuk Tiara melakukan itu semua. Dia dengan telaten membantu Alvaro.


"Iya. Sejak kita berpisah." jawab Alvaro yang sudah merebahkan lagi badannya dan memejamkan mata. Perutnya masih serasa di aduk-aduk. Rasa tidak nyaman yang setiap pagi menyerangnya.


"Mungkinkah ini sindrom couvade?"


"Sindrom apa?" tanya Alvaro tidak mengerti.


"Sindrom couvade atau sindrom kehamilan simpatik. Aku pernah baca tentang hal itu. Dimana sang suami yang mengalami gejala kehamilan. Seperti mual, pusing, sakit punggung." ucap Tiara menjelaskan. "Soalnya aku semenjak hamil juga gak penah mual-mual. Makanya aku gak tau pusing kemarin itu gara-gara hamil."


"Bisa begitukah?" tanya Alvaro tertarik.


"Bisa Al. Malah ada juga suaminya yang mengidam. Ingin makan atau melakukan hal yang kadang tidak masuk akal. Banyak yang bilang hal itu bisa terjadi karena ikatan batin kita yang kuat Al. Atau bisa karena terlalu besarnya rasa cinta kamu buat aku."


Alvaro merentangkan tangan meminta istrinya untuk memeluknya. Tiara dengan senang hati menyandarkan kepalanya di atas dada Alvaro dan memeluk suaminya erat.


Alvaro daratkan kecupan di puncak kepala sang istri. "Cinta aku emang besar banget buat kamu sayang. Cinta yang terus tumbuh dari masa puber dulu."


Memang benar. Cinta yang Alvaro miliki sangat besar untuk sang istri. Cinta yang tidak pernah padam. Justru cintanya semakin hari semakin bersemi.


"Terus, kamu ngerasain apa di kehamilan ini?"


"Aku tiap hari pusing. Tekanan darah aku rendah. Mungkin karena banyak pikiran juga kan akhir-akhir ini."


"Apa itu gak papa? apa itu gak bahaya buat kalian?" Alvaro melepaskan pelukannya. Menatap wajah Tiara dengan cemas. Jangan sampai karena perbuatan bodohnya membuat anak dan istrinya dalam bahaya.


Tiara tersenyum. Menangkup wajah sang suami. "Itu wajar untuk ibu hamil. Dan aku sama anak kita baik-baik aja."

__ADS_1


"Bener kan? itu bukan sekedar omong kosong buat bikin aku tenang aja kan?"


"Enggak sayang. Itu normal kok. Kalau kamu gak percaya. Nanti setelah kamu selesai terapi, kita bisa mampir untuk tanyakan langsung sama dokternya. Sekalian tanya keluhan kamu yang gantiin aku mual-mual."


Alvaro mengangguk. "Aku gak papa gantiin kamu mual. Muntah gak ada apa-apanya di banding kamu yang harus hamil dan melahirkan nanti."


"Makasih sayang.." Tiara mengecup wajah suaminya.


"Maaf ya Ra.. Maaf gak bisa nepatin janji buat gak bikin kamu hamil sampai lulus kuliah." sebenarnya mereka sudah menggunakan metode masa subur. Tapi mungkin Tuhan percaya jika mereka mampu untuk menjadi orang tua. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mereka bagi Tuhan. Dan mereka akan menerima pemberian dari Tuhan itu dengan hati yang lapang.


"Aku gak nyangka sebenernya bakal jadi ayah secepat ini. Apa lagi kamu kan nolak terus. Aku sempet mikir saat kita hubungan. Apa kamu bakal marah kalau seandainya terjadi pembuahan. Dan aku gak nyangka banget kamu akan menerima anak kita dengan sebahagia ini." Alvaro memang sempat mengkhawatirkan Tiara akan menolak kehadiran anak mereka. Makanya saat tahu istrinya hamil dan menerima dengan bahagia, itu kejutan yang luar biasa bagi Alvaro.


"Aku dulu cuma takut Al. Tapi pas tau ada yang tumbuh di dalam sini." Tiara mengusap lembut perutnya "Hati aku rasanya meledak luar biasa. Gak nyangka juga sih sama perasaan yang aku rasain. Tapi rasa bahagianya tiada tara."


Alvaro tersenyum dan memeluk istrinya semakin erat. "Sekarang bantu aku mandi ya?"


Tiara membantu Alvaro berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. Begitu juga dari kursi roda ke kursi yang di sediakan di dalam kamar mandi untuk memudahkan Alvaro mandi.


Tiara membuka kaos yang di kenakan suaminya. Ketika akan membuka celana boxernya, ada rasa ragu dan malu untuk melakukannya.


"Celananya gak usah di buka ya Al. Kamu bersihin bagian dalamnya sendiri. Aku bantuin bagian yang lain aja."


Alvaro mengulum senyumnya. Wajah istrinya yang memerah menjadi hiburan di pagi harinya ini. Berapa lama ia tidak mendapatkan hal seperti ini.


"Kamu bahkan sering ngeliat aku gak pake baju yank. Masa mandiin doang malu." goda Alvaro. Sejujurnya dia sendiri juga malu jika di mandikan dengan tanpa sehelai benang pun.


"Beda lah Al. Itu kan lagi kebawa nafsu. Ini kan gak." gerutu Tiara. Mengalihkan pandangannya untuk mengambil perlengkapan mandi seperti sabun dan shampo.


"Ya udah, pake nafsu juga aja sekarang."


Tiara menoleh dan menatap tajam suaminya. Bisa tidak, jangan berpikiran yang kotor terus.


Alvaro terkekeh. "Ya udah. Kamu yang lain aja."

__ADS_1


Setelah membantu Alvaro mandi dan berpakaian. Giliran Tiara untuk mambersihkan dirinya sendiri. Memilih berendam air panas untuk melemaskan ototnya yang terasa pegal. Hari pertama merawat suaminya. Sehingga tubuhnya belum terbiasa. Biasa tangannya hanya untuk menari di atas papan ketik ponsel dan laptop. Kini harus mengangkat tubuh berat sang suami.


Meski melakukannya dengan ikhlas. Namanya cape dan pegal tetap saja terasa bukan.


"Yank... Buruan. Mommy udah manggil buat sarapan." suara Alvaro terdengar di balik pintu.


Tiara buru-buru membilas badannya dan keluar kamar.


"Al. Gimana kalau kita pulang ke apartemen lagi aja." ucap Tiara di tengah kesibukannya memakai berbagai perawatan wajah.


Dari belakang, Alvaro membantu mengeringkan rambut istrinya dengan hairdryer.


"Apa tidak repot Ra? kalau di apartemen, nanti semua kamu lakuin sendiri. Aku gak tega. Apa lagi lagi hamil begini." Alvaro semakin meyakinkan dirinya untuk cepat sembuh. Dia tidak mungkin menjadi beban untuk istrinya terus menerus seperti ini.


"Aku bisa Al. Lagian cuma masak sama ngerawat kamu aja, masa aku gak bisa. Itung-itung latihan sebelum anak Kita lahir. Sekarang aku belajar ngerawat bayi gedenya dulu." ucap Tiara sembari terkekeh kecil.


"Bukan masalah gak bisanya sayang. Tapi kamu lagi hamil, gak boleh ngangkat yang berat-berat."


Tiara menghela napas. "Ia juga sih. Tapi kamu kan bisa bantu aku kaya tadi."


"Udah lah Ra. Aku gak mau bertengkar pagi-pagi. Itu kita omongin nanti saja." Alvaro membantu mengikat rambut panjang istrinya. Kebiasaan Tiara jika makan tidak mau ribet dan terganggu dengan rambutnya sendiri.


Tiara mengalah dan menghela napas. Suaminya jika sudah punya keputusan memang sulit untuk di rubah. Padahal, Tiara hanya ingin hidup normal lagi seperti sebelum kecelakaan.



*


*


*


Udah pada di upgrade belum aplikasi NT/MT nya. Biar bisa vote dengan cara baru 😁💕

__ADS_1


__ADS_2