
"Ayo.. gue anter pulang." Dika membereskan perlengkapan makan yang tadi Sheril bawa.
Setelah kejadian paling awkward yang tadi terjadi. Dika langsung mengalihkan keadaan dengan kembali memakan makan siangnya. Meski sebenarnya perutnya tidak merasa lapar lagi. Karena rasa malu terhadap Alvaro dan gadis di sebelahnya. Juga makian yang dia lontarkan dalam hati untuk dirinya sendiri. Kenapa dia begitu bodoh hingga bisa mencium Sheril begitu saja.
Apa yang akan di pikirkan gadis itu terhadapnya?
Apa Sheril akan berpikiran jika dia lelaki brengseek karena menciumnya tanpa permisi? bahkan di saat hubungan mereka yang masih abu-abu.
Bodoh memang dirinya. Bisa-bisanya dia melakukan hal yang tidak ia pikirkan terlebih dahulu.
Bahkan Sheril hanya diam menunduk setelah kejadian itu.
"Eh, gak usah Dik. Gue pulang sendiri aja. Lo kan lagi kerja."
Sheril masih malu dengan kejadian tadi. Bagaimana mungkin Alvaro masuk saat dirinya dicium secara tiba-tiba seperti itu.
Apa Alvaro masih berpikir jika dia wanita penggoda?
Jujur saja, dia pernah mengirimkan foto dirinya yang topless untuk menarik perhatian kakak tingkat yang di sukainya saat SMP dulu.
Dan sialnya laki-laki itu adalah sahabat sekaligus sepupu Alvaro.
Dan Alvaro menggunakan foto itu untuk mengancamnya saat dia terus menganggu Tiara di bangku SMA.
"Gak papa. Lagian tugas gue udah kelar kok."
Karena tidak ada alasan untuk menolak lagi, akhirnya Sheril mengangguk pasrah.
"Lo tunggu di depan dulu. Gue pamit dulu sama si bos."
Lagi. Sheril hanya mengangguk dan membawa paperbag berisi tempat makan yang sudah tandas isinya untuk keluar.
Dika masuk ke ruangan di sebelah ruangannya berada.
"Bos."
Panggilan dan suara pintur yang terbuka membuat Alvaro yang tengah sibuk dengan sketsa gambar di hadapannya mendongak.
"Kenapa?" jawabnya acuh, kembali menekuri pekerjaannya.
"Gue cabut dulu ya.. Nanti kalau sempet, gue kesini lagi." ijinnya pada sang atasan.
Kerja di tempat itu memang tidak mengikat waktu. Karena memang rata-rata karyawannya adalah mahasiswa.
__ADS_1
Asal semua pekerjaan yang menjadi tanggungjawab masing-masing bisa selesai dan terkendali dengan baik. Alvaro tidak pernah mempermasalahkan walau mereka kadang hanya masuk kantor 3 sampai 4 kali dalam seminggu.
"Pergi dah sono.. Nikmati masa mudamu nak." seloroh Alvaro pada bawahannya. Mereka kini sudah berteman baik.
"Sok tua lo." cibir Dika.
"Weiiist biar gue muda begini, tapi pengalama gue jauh di atas lo!" sombong Alvaro. "Fari sama Vindra bukti autentiknya." imbuhnya dengan gelak tawa.
Dika berdecak dan menggeleng. "Gak nyesel apa Tiara nikah sama orang kaya lo, Al?"
"Dia mana mungkin nyesel... yang ada dia tuh takut kehilangan gue." bangganya.
"Terserah.. Terserah.. gue pergi dulu."
Alvaro hanya melambai sebagai tanggapan. Pekerjaannya masih banyak. Melihat apa yang dilakukan Dika dengan Sheril tadi, membuatnya merindukan sang istri. Ingin mendekap istrinya sepanjang malam.
***
Dika menyerahkan helm yang di pinjamnya dari kantor pada Sheril. Membantu gadis cantik itu menaiki motornya.
Sheril mengernyit saat Dika melepas jaketnya. Padahal hari begitu terik. Matahari sedang semangat-semangatnya memancarkan cahaya yang dia yakin tak lama mereka berdiri di bawah terik tanpa perlindungan, pasti kulit tubuh mereka akan terlihat gosong.
"Jangan di sodakohin mulu. Kesenengan laki-laki yang pada lihat." ucap Dika yang sedang menutup paha mulus Sheril dengan jaket yang baru di lepasnya.
Tidak salah dia menyukai pria yang sedang membawa kuda besi besar ini membelah jalanan ibu kota.
Dika pria yang baik. Memperlakukan wanita dengan sopan. Sheril semakin jatuh hati pada pria ini.
"Pegangan. Gue bukan tukang ojek lo!" seru Dika di tengah deru kendaran lainnya.
"I-iya.." dengan ragu Sheril memegang ujung jaket di samping tubuh Dika.
"Kalo lo pegangannya begitu, masih ada 50% kemungkinan buat lo jatoh."
Tanpa permisi, Dika menarik tangan kanan Sheril untuk melingkar di atas perutnya. Berganti dengan tangan kiri yang ia tumpukan di atas tangan kanan gadis itu.
Jantung Sheril berdebar tak karuan. Gadis itu yakin Dika bisa mendengar jantungnya yang melompat-lompat karena kedekatan mereka.
Sheril tidak berharap lebih. Bisa dekat dengan Dika saja dia merasa senang. Tidak muluk-muluk untuk mendapatkan hati dan perhatian pria yang tengah dipeluknya.
"Nyokap lo gak marah, lo bolos kuliah?" kini mereka tengah duduk di taman dekat komplek perumahannya.
Dika meminta istirahat dulu. Katanya haus.
__ADS_1
Padahal mereka bisa minum di rumahnya nanti. Yaa meski dia tahu alasan kenapa Dika lebih memilih minum di taman dari pada di rumahnya.
Maminya memang selalu bersikap tak ramah pada semua temannya. Bukan hanya pada mereka. Pada dia sendiripun tak ramah.
Dan Sheril juga tak ingin beramah ria dengan wanita yang sudah merebut daddy dari mommy-nya.
"Gue hari ini gak ada kelas. Makanya gue bisa masakin lo."
Sheril mulai kembali kuliah setelah dirinya dinyatakan bersih dari kanker yang di deritanya.
Dia kuliah di tahun yang sama dengan Tiara. Jadi mereka kini satu angkatan. Hanya berbeda jurusan, karena dirinya mengambil bisnis management. Satu jurusan dengan Dika tapi beda angkatan.
"Nyokap lo masih suka ngebentak-bentak lo?" bukan hanya sekali dua kali Dika lihat wanita paruh baya itu membentak Sheril saat dirinya datang menemani gadis itu pengobatan beberapa bulan lalu.
Bahkan disaat Sheril sakit seperti itu dengan teganya wanita itu membentak dan memarahi Sheril hanya karena membuat wanita itu menunggui Sheril di rumah sakit.
Tapi jika ada ayah Sheril. Wanita itu paling hanya memasang wajah sinis tanpa berkata apa pun.
Dan hebatnya, Sheril mampu bertahan dengan perlakuan ibu tirinya itu.
"Apa sih yang bisa gue harapin dari wanita itu, Dik? wanita yang bahkan mungkin mengharapkan kematian gue." Sheril tersenyum getir.
Dika tidak mampu membalas perkataan Sheril. Ia menatap lurus ke depan, dimana danau hari itu sedang sangat tenang.
Beruntung ia yang hidup di tengah keluarga yang utuh dan harmonis. Meski ia pernah di asingkan di kampung bersama nenek dan kakeknya. Tapi saat ini ia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.
Menjadi keluarga utuh yang selama masih kecil selalu ia harapkan. Keluarga utuh yang setiap ia ulang tahun selalu tantrum karena tidak ada satupun dari mereka yang pulang kampung hanya sekedar memeluk dan menuturkan doa dan harapan mereka pada dirinya.
Kedua orang itu sibuk mencari pundi-pundi uang dan hanya menyuruh neneknya membeli kue dan membuat nasi kuning untuk dirinya.
Hanya di temani para sepupu dan bu lik untuk meniup lilin dan bernyanyi. Hari paling menyedihkan yang terulang setiap tahun hingga ia berusia 16 tahun.
Semua orang mempunyai sisi kelamnya masing-masing. Begitu juga dirinya dan Sheril. Yang tidak bisa menikmati masa kanak-kanak hingga remaja dengan keluarga yang sempurna.
*
*
*
Biar gak bosen Dika sama Sheril dulu lah ya..
Aku mau bikin konflik buat Tiara sebelum end soalnya. wkwkwk
__ADS_1