DEMI DIA

DEMI DIA
Permintaan Konyol Shevi


__ADS_3

Alvin dan Bunda Karina serta Rasya yang mendengar Shevi teriak pun panik dan langsung naik ke atas.


Shevi mengatakan kalau dia mendengar ada sesuatu yang jatuh dan Tidak ada respon Shera dari dalam. Shevi dengan derai air matanya serta kecemasannya pun memeluk bunda Karina dan meminta maaf.


" Maaf bunda.. Gara - gara aku Shera jadi marah " Alvin sedang berusaha mendobrak kamar dibantu mang Udin.


Setelah pintu berhasil terbuka Bunda dan Shevi langsung memekik khawatir saat mendapati Shera tergeletak di lantai dengan wajah memucat dan bibir yang membiru.


Alvin dan mang Udin langsung membawa Shera ke Mobil di ikuti Shevi dan Bunda, Mereka langsung menuju rumah sakit dengan mobil dikendarai Alvin.


Shevi duduk didepan disamping Alvin sedangkan bunda duduk dibelakang memangku Shera dan terus memanggil nama anak sulungnya itu.


***


Sudah tiga puluh menit Shera diperiksa. Semua masih menunggu dengan cemas. Sampai akhirnya dokter kardiologi yang biasa menangani Shera keluar.


" Gimana keadaan Shera dokter ? " bunda yang melihat dokter keluar langsung bertanya dengan khawatir


" mari ikut ke ruangan saya bu Karina " ajak sang dokter yang memang sedari Shera lahir beliau yang menangani.


Setelah sampai diruangannya dokter Fendy mempersilahkan ibu karina untuk duduk.


" Begini bu Karina. Kondisi Shera lebih lemah dari sebelumnya. Bukankah setahun ini kondisinya cukup stabil. Tapi kenapa bisa sampai drop seperti ini ? " dokter Fendy heran kenapa bisa langsung drop padahal belum lama Shera periksa dan kondisinya masih stabil.


" Iya dok memang tadi ada sedikit masalah dirumah " jawab bu Karina yang teramat sedih mendengar kabar tersebut.


" Saya harap ibu dan keluarga bisa membuat suasana hati Shera kembali bahagia agar kondisi jantungnya tidak semakin melemah. Dan Shera harus dirawat agar bisa dilakukan serangkaian pemeriksaan dan untuk mempermudah pemantauan keadaanya."


Dokter Fendy hanya menyarankan hal tersebut. Karena mau bagaimanapun kondisi jantung Shera memang tidak dapat sembuh hanya perlu menjaganya agar tidak lelah dan banyak pikiran agar tidak semakin parah.


Bu Karina meninggalkan ruangan dokter dengan hati yang amat sakit. Anak yang selama ini dia perjuangkan nyatanya harus drop karena cinta. Dan dia bisa apa kalo Alvin tidak mencintai Shera. Alvin hanya menganggapnya adik. Dan kalau tak salah tangkap dari mata Shevi, dia juga bisa melihat jika anak gadisnya yang satu lagi itu juga punya rasa yang sama terhadap Alvin. Walaupun Shevi terus mengelak dari Shera dan Alvin tapi dia sebagai seorang bunda bisa merasakannya.

__ADS_1


Karina tidak mungkin bisa memilih antara Shera dan Shevi. Karena keduanya sama - sama putri yang amat dia cintai. Dia takan mungkin tega menyakiti hati salah satu dari putrinya hanya untuk membahagiakan yang satunya.


Shevi yang melihat bundanya mendekat dengan wajah yang sendu dia langsung memeluk sang bunda dan bertanya bagaimana hasilnya.


" Kak Shera gimana bun? Kak Shera baik-baik aja kan? " Shevi makin mempererat pelukannya pada sang bunda dengan tak kuasa menahan tangis yang membasahi baju Bunda Karina.


" Jantung kakak makin melemah. Kita hanya harus menjaganya agar tidak bersedih agar kondisinya tidak semakin parah kak " bunda juga tak kalah kuat memeluk Shevi untuk saling menguatkan.


***


Ditaman rumah sakit Shevi dan Alvin sedang duduk dibangku yang hanya diterangi lampu yang redup. Lama mereka hanya duduk dengan pikiran mereka masing-masing.


Shevi menghela nafasnya dan menengok ke Alvin yang berada tepat disebelahnya.


" Bang Al beneran cinta sama Shevi ? " tanya Shevi dengan suara yang mulai bergetar


" Iya dek. Gue udah jatuh cinta lama sama lo. " jawabnya dengan tak merubah pandangannya lurus kedepan.


" Ngelakuin apa? " Alvin menoleh sambil mengernyitkan alisnya tajam.


Sekali lagi Shevi menarik nafasnya. Berat memang mengatakannya. Tapi ini demi Shera agar tetap bertahan.


" Bahagiain kak Shera bang, beri dia kekuatan buat bertahan. Cuma lo yang bisa nguatin dia sekarang bang " Shera mengucapkannya dengan suara bergetar karena tangisnya.


" Dengan cara apa? " tanya Alvin lemah.


" Ajak kak Shera tunangan bang. Berjanjilah padanya bahwa lo akan belajar buat mencintainya " pinta Shevi sambil sesenggukan.


" Lo gila ya !! " Teriak Alvin tak terima


" Bukannya selama ini gue juga udah berusaha buat dia bahagia !! Bukannya selama ini gue udah selalu jagain dia !! Emang lo pikir gue mau bikin dia drop kaya sekarang !! gue juga sayang sama dia, pengen dia sehat dan bahagia. Tapi sayang gue cuma sebagai kakak. Ngerti ga si lo Shev !! " Bentakan serta rentetan kata itu keluar dari mulut Alvin tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


Alvin nggak habis pikir dengan gadis yang ada disebelahnya ini. Dia pikir segampang itu apa merubah perasaan cintanya berpaling. Apa dia nggak mikir kalo permintaannya menyakiti Alvin.


" Please bang.. Demi gue kalo emang lo beneran cinta sama gue. Gue gak mau dibenci kak Shera. Gue gak mau kak Shera kenapa-kenapa gara - gara gue bang " Shevi menangkupkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya sambil menangis pilu.


Alvin sungguh tak tega melihat gadisnya menangis seperti itu. Dia merasa hatinya tersayat mendengar tangisannya. Tapi dia juga nggak bisa semudah itu menuruti permintaan Shevi.


***


Dua hari sudah Shera dirawat dirumah sakit dan Alvin tidak pernah menampakkan dirinya lagi semenjak mendengar permintaan konyol dari Shevi.


Sedangkan Shera langsung sadar keesokan harinya. Akan tetapi dia tak mengijinkan Shevi untuk masuk menjenguknya. Walau Shera tahu Shevi tidak pernah meninggalkan ruang tunggu didepan ruang rawatnya. Tapi Shera masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.


Shevi masih punya banyak harapan untuk bahagia. Sedangkan Shera hanya Alvin lah harapannya untuk bahagia menjalani harinya. Tapi kenyataanya Alvin pun lebih memilih bahagia bersama Shevi.


Kondisi Shera sangat lemah. Belum pernah dia selemah ini bahkan saat ayahnya meninggalpun. Sekarang dosis obatnya ditingkatkan dan dokter berharap tidak ada komplikasi diorgan lain mengingat dosis obat yang semakin tinggi.


Bunda dan Shevi sangat terpukul mendengar diagnosis dokter. Tapi mereka harus saling menguatkan demi Shera.


Shevi jarang makan dan minum walau sudah dibujuk oleh bunda. Istirahatpun kurang karena dia hanya tidur di kursi tunggu. Shevi merasa bersalah dengan keadaan Shera saat ini. Dia gagal memenuhi janjinya didepan pusaran sang Ayah. Dia gagal membuat Shera bahagia bahkan dialah alasan Shera sakit hati dan semakin drop.


Shevi bingung harus bagaimana menjelaskan pada Shera tentang yang terjadi. Sungguh Shevi tak ingin dibenci seperti ini oleh saudara kandungnya sendiri.


Mungkin dulu mereka sempat tak saling tegur sapa. Tapi mereka masing sering makan bareng dan berpapasan minimal. Tapi sekarang Shera sama sekali tak mau melihat Shevi. Sedangkan teman - teman Shevi berkunjungpun Shera masih mau menerimanaya.


*


*


*


Happy Reading 💕

__ADS_1


__ADS_2