DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Ngaku Juga


__ADS_3

Keringat dingin menyerang Alvaro. Melihat istrinya begitu seksi, membuat otaknya sulit bekerja dengan baik.


Bahkan menelan ludah saja rasanya begitu sulit. Inginnya langsung membawa sang istri pada kungkungannya dan tak akan melepaskan sebelum pagi.


Tapi mana mungkin bisa begitu. Alvaro mengerang dalam hati. Ini pembalasan yang sangat kejam untuknya.


Sedangkan wanita yang memberinya masalah sedang mengolesi wajahnya dengan berbagai macam produk kecantikan.


Padahal hari masih sore, untuk apa istrinya berdandan?


Melempar pandangan kemana saja asal bukan ke arah sang istri yang sedang sangat mengujinya. Hanya melihat punggungnya saja sudah membuatnya belingsatan dengan sengatan yang tak ia harapkan datang saat ini.


Hingga tiba-tiba wanita itu berbalik dan melipat tangannya di depan dada.


"Sekarang, apa yang perlu gue denger?" Alvaro tidak bisa berkonsentrasi pada suara angkuh yang istrinya keluarkan. Pria itu malah menatap gundukan yang semakin menggoda dengan posisi istrinya yang seperti itu.


Alvaro berdeham. Memejamkan mata dan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Mencoba mengendalikan akal sehat yang saat ini sangat di butuhkan.


Satu kata saja ia salah ucap. Maka matilah dirinya.


Menghadapi istrinya yang tengah marah seperti ini lebih menegangkan di banding presentasi di depan banyak klien. Tidak akan sebanding dengan itu semua.


"Aku sama Pita gak ada apa-apa, yank." akhirnya dengan segala kekuatan ia bisa mengucapkan kata itu dengan lancar dan sarat permohonan untuk istrinya mengerti.


"Terus?"


Alvaro mengernyit tidak mengerti. Kenapa istrinya jadi setenang ini?


Atau ini hanya tenang sebelum badai?


Alvaro tidak bisa meraba arah istrinya saat ini.


"Y-ya.. pokoknya gitu. Aku gak selingkuh! bahkan nyentuh dia aja aku gak pernah kok. Aku sama dia emang hampir tiap hari ketemu di kantor buat ngerjain TA bersama. Tapi itu juga di ruang tunggu yang tadi. Bukan di dalam ruanganku."


Tiara masih diam saja. Kini wanita itu malah mengnyilangkan kakinya. Memperlihatkan seberapa mulus kaki itu hingga ke ujung terdalam. Membuat Alvaro semakin merasa panas di makan gairah.


"Yank. Bisa ganti baju dulu gak? baru kita omongin lagi?" pada akhirnya Alvaro tidak tahan juga.

__ADS_1


"Lho? kenapa? orang gue pengen pake baju ini kok? gak pantes emang? kata mommy padahal aku seksi pakai ini." Tiara berucap dengan polosnya. Tidak merasa bersalah membuat Alvaro panas dingin belingsatan sendiri.


"Justru karena terlalu seksi." erang Alvaro dalam hati.


"Rasakan!" Tiara tertawa jahat dalam hati. Sangat yakin suaminya sedang tergoda. Terlebih mereka sudah lama tidak melakukan rutinitas malam karena tamu bulanannya.


Alvaro menghela napas. Tahu pasti jika istrinya tidak akan menuruti perintahnya kali ini.


Ditariknya selimut dan didekati sang istri. Membalutkan selimut itu pada tubuh istrinya bagai kepompong. Menyembunyikan tubuh yang saat ini bukan waktu yang tepat untuk ia lihat.


"Apaan sih, Al!! lepas gak!!" Tiara memberontak dan membentak suaminya.


"Diem atau aku bawa ke atas tempat tidur!" gertak Alvaro.


"Berani lo bawa gue ke tempat tidur. Jangan harap besok kita ketemu lagi!" ancam balik Tiara dan melempar selimut sembarangan.


"Mau kamu tuh apa sih, Ra?!" Alvaro emosi. Emosi karena tak bisa menyentuh istrinya di saat terindah.


Tiara tertawa mendengar pertanyaan tidak tahu malu dari suaminya. "Mau gue apa? lo lagi ngigo, Al?"


Tiara menaikan alis dan tersenyum miring. "Jadi sekarang lo ngakuin kalo lo udah main api sama tuh cewek?" nada bicaranya sangat tenang. Padahal hatinya tercabik-cabik dan ingin memaki atau bahkan memukul kalau bisa.


"AKU NGGAK SELINGKUH!!" teriak Alvaro yang semakin frustasi. Harus dengan cara apa dia menjelaskan semuanya.


"Gak usah teriak-teriak!! disini gue yang marah! kenapa lo yang malah teriak-teriak?!!" Tiara ikut menggunakan nada tinggi.


Padahal sedari tadi ia sudah menahan agar tidak meledak-ledak, agar buah hati mereka tidak mendengar pertengkaran mereka.


"Ya kan aku udah minta maaf. Berapa kali sih aku minta maaf dan kamu gak mau denger?" kali ini Alvaro menurunkan nada suaranya. Tidak ingin masalah semakin melebar.


"Apa bedanya sih selingkuh sama yang lo lakuin? hem?"


"Selingkuh itu kalau aku jalin hubungan spesial sama Pita. Yang memungkinkan untuk aku nyium atau berhubungan badan sama dia mungkin." Alvaro mengedikkan bahunya.


Tiara tertawa. Disaat seperti ini saja suaminya masih menyebut-nyebut nama wanita itu.


"Kalau lo sampe berhubungan badan sama dia itu namanya bukan selingkuh. Tapi cari MATI!" Tiara menekankan kata 'mati' saking geramnya. "Terus hubungan lo sama tuh cewek harus gue sebut apa? selingan?"

__ADS_1


Alvaro menelan ludah mendengar kata mati. Juga melihat posisi istrinya yang semakin lama semakin menantang.


"Aku sama dia cuma dekat aja. Gak lebih."


Lagi-lagi Tiara tertawa. "Oke. Kalo bagi lo itu 'hanya sekedar dekat' dan bukan selingkuh. Gue juga bisa ngelakuin hal yang sama. Dan itu gak masalah dong buat lo?" Tiara mengangkat kedua tangannya di samping kepala membuat tanda kutip saat mengucap kata hanya sekedar dekat.


"GAK BOLEH!!"


"Ataga Al! bisa gak sih, lo gak usah teriak-teriak?!" Tiara sampai mengusap telinganya yang berdenging. "Gue belum budeg! tapi lama-lama bisa budeg kalo lo teriak-teriak mulu!"


"Pokoknya aku gak akan biarin kamu dekat sama cowok mana pun!"


Alvaro sudah menggertakan gigi dan menatap tajam istrinya.


"Lho. Kenapa? kalau lo boleh. Kenapa gue gak boleh?" tantang Tiara dengan memainkan rambutnya. Membuat gerakan menggoda. Membuat suaminya semakin memejamkan mata dan menggeleng. menjernihkan kembali otaknya.


"Lo sendiri kan yang bilang kalo yang seperti lo lakuin itu bukan selingkuh? Itu hanya sekedar dekat, Al! harusnya lo gak masalah, karena itu bukan sebuah pengkhianatan."


Alvaro menjatuhkan diri duduk di tepi ranjang. Menarik rambut dengan kedua tangan yang bertumpu pada pahanya.


"Tenang aja. Nanti kita pasti baikan lagi kalau aku udah punya yang dekat juga kaya lo."


Napas Alvaro semakin memburu. Dicekam emosi juga birahi. "Sialan!!" maki Alvaro pada diri sendiri.


"Padahal kalo ada yang deketin gue, gue langsung jaga jarak dan bilang kalau gue udah punya anak dan suami. Gue baru ngerasa rugi sekarang." wanita itu berdecak. Kakinya bergoyang-goyang.


Tapi Alvaro masih menunduk dan memaki dalam hati. Tak ingin semakin terpancing emosi dan birahinya.


"Oke aku ngaku salah. Aku memang sempat tergoda. Tapi kamu ingat waktu aku kasih surprise di atas. Di hari itu aku udah sadar kalau yang aku lakuin itu salah. Dan aku udah gak ketemu dia lagi. Tadi siang dia datang karena ngerayain sidangnya yang sukse."


Tiara tertawa geli. Meski hatinya menangis. "Akhirnya ngaku juga." wanita itu bahkan sampai bertepuk tangan dan berdiri. "Dan akhirnya gue tau maksud dibalik lo ngelakuin surprise itu."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2