DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Menempatkan Diri


__ADS_3

Shevi bangga pada suaminya. Ternyata sekarang pria yang pernah mematahkan hatinya berulang kali lebih dari sepuluh tahun silam, kini sudah benar-benar menjadi pria dewasa. Menjadi ayah yang baik untuk putra putri mereka.


Setelah sebelumnya Shevi membuat sekretaris sabg suami mengerutkan dahi dan menahan tawa karena wanita itu bersembunyi di balik meja kerjanya itu saat Alvaro keluar dari ruangan Alvin. Kini wanita itu langsung masuk dan menyapa mesra sang suami.


"Suamikuuuu.." sapaan riang itu membuat Alvin yang sudah kembali sibuk dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya menatap curiga pada sang istri.


"Tumben manggil suamiku.. Mesra banget lagi manggilnya."


Shevi masih menampilkan senyum terbaiknya untuk sang suami.


"Pasti ada maunya nih! uang bulanannya kurang?" tuduh Alvin yang masih merasa aneh dengan istrinya. Terlebih saat ini wanita itu tengah bergelayut manja di bahunya.


Shevi berdecak dan menjauhkan tubuhnya. "Aku punya penghasilan sendiri kalau uang bulanannya kurang, mas!"


"Terus.. Kenapa manja banget gini? kamu hamil lagi?" seru Alvin dengan wajah yang ikut merekah bahagia.


Shevi menatap suaminya dengan mulut terbuka dan bola mata membulat. "Yang bener aja mas! kita udah jadi kakek-nenek masih mau punya anak?!"


Alvin mengangkat kedua bahunya. Menandakan bahwa ia tak masalah memiliki anak lagi meski mereka sudah memiliki cucu dari Tiara.


"Terus?" tanya Alvin yang semakin tak mengerti dan malas menebak tingkah aneh istrinya ini. Tingkah yang biasanya hanya akan muncul ketika mereka tengah berdua di dalam kamar. Bukan di tempat seperti ini. Itu pun jarang terjadi.


"Jadi mas masih sering jatuh cinta sama aku?" tanya Shevi dengan senyum malu-malu dan memainkan dasi sang suami. "Aku ini musim seminya mas, atau apa?"


Alvin mengerutkan dahinya. Dan menahan senyum geli melihat tingkah sang istri. "Jadi istriku yang cantik ini dari tadi menguping pembicaraanku sama menantuku?"


Pria itu merengkuh pinggang sang istri dan membawanya ke pangkuan.


"Gak bermaksud menguping sih.. Cuma gak sengaja aja." balas Shevi dengan mengangkat kedua bahunya.


Alvin terkekeh. "Gak sengaja kok detail gitu tahunya." cibir Alvin. "Terus kesini ngapain?"


Shevi menepuk dahinya. "Nganterin makan siang. Tapi bentar... ketinggalan di depan."


Wanita itu setengah berlari keluar ruangan untuk mengambil makan siang yang tertinggal di meja sekretaris suaminya. Gara-gara sembunyi dari Alvaro sampai ia lupa dengan tujuan awalnya datang menemui sang suami.


***


Tiara baru saja selesai kelas terakhirnya hari ini. Bersama Ika-sahabat barunya sejak menjadi mahasiswa-berdua mereka berjalan beriringan meninggalkan kelas.

__ADS_1


"Ra.. Pulang bareng yuk." ajak pemuda yang langsung merangkul bahu Tiara tanpa permisi.


Membuat perempuan itu mendesis sebal dan mengenyahkan tangan kekar itu dari bahunya.


"Dijaga deh tangan lo!" seru Tiara merasa risi dengan temannya satu ini yang sok akrab.


Selama ini ia juga tidak pilih-pilih teman. Asal mereka tahu batas kesopanan saja.


"Duileeehhh galak bener lo, Ra.. Kayak induk ayam." goda pemuda itu dengan terkekeh.


"Gak usah godain cewek yang udah ada lakinya, Ndra." Ika mengingatkan pemuda yang bernama Chandra itu.


"Selama janur kuning belum melengkung, sah-sah aja lah gue usaha." Chandra tak gentar. Ia kira, laki yang Ika maksud adalah pacar.


"Iya gak, Ra.." imbuhnya kemudian dengan memainkan kedua alisnya.


Tiara menggeleng dan berdecih. Memang tidak semua mahasiswa tahu statusnya yang sudah bersuami. Tapi bagi Tiara itu tidak masalah. Toh yang penting ia sadar dengan statusnya sebagai seorang istri. Dan ia bisa menempatkan dirinya dimanapun asal tetap ingat dengan status dan tanggungjawab yang ia emban.


Karena keputusan untuk kuliah ia yang ambil, jadi ia juga yang harus bertanggungjawab untuk bisa menghendle antara kuliah dan keluarga semua berjalan seimbang.


Ika tertawa keras di samping Tiara. "Ketinggalan berita banget sih, lo!" serunya dengan gelengan kepala. "Jangankan janur kuning. Buntutnya aja udah dua."


"Anak!"


"Anak siapa?" tanya Chandra yang otaknya belum konek.


"Yassalaam... Dari tadi kita lagi ngomongin siapa oncom???!!" seru Ika dengan gemas. Bahkan gadis itu sampai mengepalkan kedua tangannya erat di sisi wajahnya.


"Ngomongin Tiara." jawab Chandra polos. Masih belum konek juga.


"Ya berarti anak yang gue bilang juga anaknya Tiara!"


Tiara yang menjadi bahan perdebatan mereka hanya tertawa melihat kedua temannya berdebat. Merasa lucu melihat sahabatnya yang terlihat sangat gemas, sedangkan Chandra dengan tampang begoonya.


Sepertinya Chandra mabok tugas, sampai diajak ngomong tidak nyambung seperti itu. Karena tugas mereka memang sedang sangat banyak.


"Lo udah punya anak?" tanya Chandra dengan syok begitu pemuda itu mengerti apa yang Ika maksud.


Tiara mengangguk dengan senyum bangga dan memperlihatkan layar ponselnya. Dimana disana fotonya bersama sang suami dan kedua jagoan mereka, ia gunakan sebagai wallpaper.

__ADS_1


"Lo, MBA?" tanya Chandra masih heboh tak percaya. Sekaligus kecewa karena gadis yang ia dekati ternyata sudah bersuami bahkan memiliki anak.


Chandra kira mereka seumuran. Karena wajah Tiara yang masih terlihat seperti anak SMA. Tak di sangka ternyata sudah meiliki anak bahkan dua.


"Enak aja!" seru Tiara tidak terima di kira menikah karena kecelakaan. "Jangankan MBA, udah nikah beberapa bulan aja gue baru berani di ajak produksi."


Ika langsung tertawa terbahak mendengar penuturan sahabatnya. Jika banyak orang di luar sana yang belum menikah sudah terbiasa dengan proses produksi. Ini sahabatnya malah tidak berani.


Chandra tak kalah kaget dengan ternganga dan berkedip berkali-kali. "Terus ngapain lo nikah muda kalo gituan aja lo takut?"


"Ya adalah... Lo gak perlu tau!" ucap Tiara yang masih merasa bete di kira MBA dan sekarang malah di tertawakan.


"Usia lo berapa sih?" Chandra merasa belum puas. "Lo nikah abis lulus SMP?"


Tiara berdecak. "Ck! ya gak lah! gue nikah pas kelas 3 SMA. Gue hamil pas semester 2 kuliah, makanya gue DO. Baru kuliah lagi bareng kalian. Jadi sebenarnya gue senior tau!"


Chandra mengangguk-angguk. Mereka berhenti di area parkir.


"Suami lo juga sama masih mahasiswa? atau malah om-om?" meski patah hati karena pujaan hatinya sudah bersuami. Tapi mereka masih bisa berteman kan?


Tiara kembali berdecak tapi kemudian mengangguk. "Anak kampus sini juga! lagi skripsi sekarang."


"FK juga?"


"Kepo banget sih lo?" salak Ika dengan derai tawa.


"Gue cuma pengen tau, cowok kaya apa yang berhasil dapatin gadis cantik model Tiara begini. Biar gue bisa belajar."


Tiara dan Ika tertawa bersama. Menertawakan sikap polos Chandra.


"Lo udah keren Chan. Pasti banyak yang mau sama lo." ucap Tiara mencoba membesarkan hati Chandra. "Atau sama Ika nih. Masih jomblo dia."


Baik Ika maupun Chandra sama-sama melirik dan bergidik ngeri. Membuat Tiara tergelak melihat tingkah keduanya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2