
Tiara baru selesai mandi, masih dengan handuk membungkus kepala ketika wanita itu keluar kamar dan di sambut aroma wangi yang mampu membangkitkan nafsu makannya.
Alvaro memang berkata akan menyiapkan makan siang untuk mereka yang sudah terlewat dari jamnya. Tapi Tiara kira pria itu akan memesan lewat online biar cepat.
Tiara mengamati punggung suaminya yang tengah sibuk memasukan bahan masakan dalam panci. Memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu dekat, tapi masih bisa menjangkau semuanya.
Apa dirinya terlalu keras untuk membenci?
Apa ia masih belum bisa memberi kesempatan kedua?
Ingin sekali ia memeluk punggung yang sangat ia rindukan itu. Tapi rasa gengsi dan ego lebih besar menguasai dirinya.
"Sudah selesai mandinya?" suara Alvaro mengagetkannya. Sejak kapan suaminya itu berjalan mendekat? aduh malunya ketahuan memperhatikan diam-diam.
Kini bahkan Alvaro tengah melepas lilitan handuk di kepalanya dan membantu mengeringkan.
"Sayurnya sebentar lagi mateng. Kamu harus makan yang banyak. Kamu makin kurus." ada nada sedih yang Tiara tangkap dari suara suaminya. Tangan yang membelai pipinya juga sangat hati-hati. Seakan usapannya bisa meremukan wajahnya.
Hati Tiara bergemuruh. Matanya memanas. Tapi sebisa mungkin perempuan itu menguasai dirinya dengan berdecak dan menepis tangan Alvaro dari wajahnya. "Ck. Gak usah lebay deh. Gue capek kuliah. Jelas aja tambah tirus!"
Tiara bukan tak melihat sorot sakit ketika ia menepis tangan itu. Tapi ia berusaha untuk tidak peduli. Lebih memilih berlalu menuju dapur dan duduk di salah satu kursi tinggi pada minibar.
"Buruan! gue lihatin dari sini. Gue takut lo kasih banyak garam buat ngeracunin gue!" ucapnya dengan sengit. Padahal ia memilih duduk di sana agar lebih leluasa melihat suaminya memasak.
Terdengar helaan napas berat Alvaro sebelum kembali memegang alat masak sembari bergumam. "Aku gak mungkin lah ngeracunin jiwa aku sendiri."
Hati Tiara semakin tak menentu ketika mendengar kalimat itu.
Apa Alvaro bilang?
Jiwanya sendiri?
Benarkah dirinya yang di maksud lelaki itu?
Tiara menggeleng tegas. Tak mau termakan rayuan basi dari suaminya.
***
Tak butuh waktu lama untuk Alvaro menyiapkan makanan yang ia buat special untuk sang istri.
__ADS_1
Meski suasana makan sore itu masih dingin. Tapi setidaknya Alvaro bisa bernapas lega ketika Tiara makan dengan lahap.
Semenjak istrinya marah, ia memang kurang memperhatikan makan sang istri.
Kadang sarapan, ia selalu duluan. Karena entah kenapa Tiara selalu telat turun ke meja makan. Begitu makan malam ia juga tidak terlalu memperhatikan porsi makan istrinya. Karena Tiara masih berusaha menjauh darinya. Bahkan wanitanya duduk di kursi terjauh dari sisinya.
"Enak?" tanyanya memecah keheningan.
Tiara mengedik. "Lumayan. Karena gue belum makan siang aja jadi lahap." kilahnya. Padahal dalam hati wanita itu sudah berbinar merasakan masakan suaminya yang sangat enak dan membuatnya seperti orang kelaparan tidak makan tiga hari.
"Aku mau masakin kamu tiap hari, asal kamu makan banyak kaya sekarang."
"Uhuk.. Uhuk.. " Tiara tersedak mendengar penuturan suaminya yang seperti mengetahui jika dirinya tengah berkelit. Menenggak habis air minum yang ada di sampingnya.
"Elo mau gue jadi gendut?! biar gue gak cantik lagi dan lo bisa cari yang lebih cantik dari gue, iya?!"
"Bu-bukan yank. Lagian mana ada yang lebih cantik dari kamu. Dan apa pun bentuk kamu, aku akan tetap cinta sayang."
"Bohong! lo gak akan bisa mastiin, Al! karena gue belum gendut!" salak Tiara jengkel. "Udah, Ah! gue udah gak napsu makan!"
Tiara meninggalkan meja makan dengan menghentakkan kaki. Padahal memang wanita itu sudah kenyang saja. Sudah makan sebanyak itu dan masih bilang tidak nafsu makan?
Alvaro mnggeleng dan menghela napasnya. Harus lebih banyak stok sabarnya.
***
Dari ruang tamu hingga ruang keluarga semua terisi.
Alvaro langsung bergabung dengab para bapak-bapak di ruang tamu. Tentu saja obrolan mereka tentang bisnis yang tak menarik minat Tiara sama sekali.
Setelah menyalami daddy Alvin dan para uncle di sana. Tiara melipir ke ruang keluarga yang berisi para ibu-ibu dan anak-anak yang saling bergerombol dengan usia masing-masing.
Nasibnya yang tak memiliki teman sebaya, membuat Tiara bergabung dengan para ibu-ibu setelah memastikan kedua buah hatinya ada di sana.
"Ini nih. Mama muda yang harusnya menyambut yang tua malah baru dateng!" seru aunty Indah begitu Tiara menyalami wanita sebaya ibunya itu.
"Jadi aunty mengaku tua nih? Padahal mommy menolak tua katanya." seloroh Tiara dengan memainkan alisnya.
"Kamu kok kurusan sih, Ra? suami kamu ngebet banget apa sampe gak tidur tiap malam? apa gak di kasih makan di sana?" giliran aunty Shera yang bertanya. Wanita yang sangat serupa dengan ibunya itu terlihat khawatir.
__ADS_1
"Makan ati akuuuu." adunya.
Tidak berniat mengadu sebenarnya. Hanya mungkin sesama seorang istri, mereka bisa saling bertukar pikiran dan saling memberi saran apa yang harus ia lakukan.
Pasalnya tidak ada satupun teman dekatnya yang sudah menikah. Apa lagi Pricilla yang sedang sibuk mengurus skripsi. Jadi jelas saja ia tidak bisa berbagi cerita. Bukan malah mendapatkan solusi, yang ada hanya membuka aib saja.
"Makan ati kenapa? Alvaro macam-macam sama kamu?" giliran mommy Shevi yang terlihat garang.
"Udah lama sih. Aku mergokin Alvaro lagi makan siang berdua di kantor." lalu mengalirlah semua cerita yang ia tahu dari versi Alvaro ketika suaminya itu menjelaskan padanya tempo hari.
"Emang gini banget ya rasanya di khianatin, mom? sampe tidur gak nyenyak. Makan gak napsu. Pengennya tuh maraaaaah mulu?"
Mommy Shevi menghela napas dan membelai lembut surai hitam anaknya yang tengah bersandar padanya.
Merasa kasihan juga bersalah karena tak memberitahu masalah ini lebih cepat.
Tapi itu semua ia lakukan karena suaminya bilang, Alvaro pasti bisa menangani masalah rumahtangganya sendiri tanpa campur tangan mereka. Takutnya akan semakin runyam bukan malah cepat selesai.
"Alvaro tuh bukan selingkuh dari kamu sayang. Dia cuma lagi hilang arah aja. Dia lagi tersesat dan gak tahu jalan pulang?"
Semua orang mengernyit termasuk Tiara. Karena itu bukan tanggapan yang tepat yang seorang ibu berikan ketika tahu anaknya di selingkuhi.
"Daddy udah kasih arahan supaya Alvaro tidak salah jalan. Dan sekarang dia udah lurus lagi kan? dia udah gak belok kemana-mana bukan? matanya gak lirik sana-sini lagi?"
Semua memicing menatap curiga pada mommy Shevi. Yang di tatap merenges menunjukan giginya yang putih rapi.
"Mommy tau?!"
"Lo tau?!"
"Lo udah tau dan lo diem aja?!"
Seru Tiara dan semua sahabat mommy Shevi bersamaan. Mereka tidak menyangka nenek muda itu bisa menyembunyikan masalah seserius ini dari yang bersangkutan.
Dan apa katanya tadi?
Yang penting sudah di kasih tahu jalan pulang?
*
__ADS_1
*
*