
Alvaro merasa kecewa karena ternyata hanya dia seorang diri yang merasa bahagia dengan pernikahannya. Seharusnya Alvaro bisa mengerti perasaan istrinya yang belum menerima pernikahan mereka. Melihat seberapa bencinya Tiara selama ini kepadanya, benci terhadap ulah usilnya kepada gadis itu hanya untuk membohongi perasaannya sendiri.
Tapi pemuda itu kira, dengan sikapnya yang lebih lembut dan tidak lagi mengajak Tiara bertengkar, juga sikap istrinya yang tidak lagi galak terhadapnya. Itu semua bisa membuat Tiara menerima keberadaannya sebagai seorang suami.
Alvaro menghela napas setelah sampai di dalam kelas yang kosong, karena memang hampir semua siswa berada di lapangan atau kantin sekolah.
Setelah menata hati dan emosinya. Kini Alvaro lebih bisa mengerti maksud dari istrinya tadi. Siapa yang tidak akan marah di jebak seperti itu, membuat dia harus menikahi orang yang dia benci. Kalau dia yang berada di posisi Tiara, mungkin dia juga akan melakukan hal seperti tadi atau bahkan lebih.
Selama ini dia diam saja dengan ulah Sheril itu karena disini dia merasa di untungkan. Bisa terbebas dari perjodohan dengan gadis yang tidak dia sukai dan berakhir dengan menikahi gadis yang sudah sejak lama ia cintai dalam diam.
Diantara kemelut yang sedang melandanya, ponselnya berbunyi. Ada nama daddy di layar ponselnya. Ternyata mertuanya itu meminta untuk dia datang ke kantor.
Setelah di ingat-ingat, selama satu minggu mereka menikah, Alvaro belum pernah memberi istrinya itu uang. Dan berencana akan memberikan salah satu tabungannya kepada sang istri untuk kebutuhan bulanan rumahtangga dan kebutuhan pribadi Tiara.
Saat sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya pada Ipad-nya. Alvaro mendongak ke arah pintu kelas, dimana istrinya memanggil namanya.
Alvaro mengacuhkan istrinya yang sedang berusaha untuk meminta maaf padanya. Melihat jam di pergelangan tangannya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Alvaro mengambil dompet dan mengeluarkan salah satu kartu. Menyampaikan akan mengirim uang bulanan untuk istrinya ke tabungan itu. Tabungan yang berisi uang bulanan dari ayahnya yang tiga tahun ini tidak pernah ia pakai.
Berpesan untuk istrinya agar tidak perlu memasak dan tidak menunggunya. Mengacuhkan lagi Tiara yang bertanya apakah dia marah. Tentu saja marah, tapi Alvaro tidak sepenuhnya menyalahkan Tiara. Tapi biarlah gadis itu merasa Alvaro marah terhadapnya. Anggap saja ini hukuman karena telah melukai perasaannya.
***
__ADS_1
Alvaro mendapat sambutan yang sangat baik oleh ayah mertua dan karyawan lainnya. Dia langsung ikut ke ruang meeting dimana daddy Alvin menunjuk secara langsung menantunya sebagai arsitek untuk proyek yang akan mereka garap.
Berawal dari Alvaro yang suka menggambar dan berlatih secara otodidak menggunakan aplikasi khusus arsitek saat masih SMP, hingga ketika mulai mahir, pemuda itu mengikuti lomba mendesain rumah impian. Disana Alvaro mendesain rumah yang ia harap bisa ia bangun untuk keluarganya di masa depan. Dan siapa sangka jika desainnya mendapatkan juara satu. Hingga mulai banyak tawaran yang masuk padanya. Dan membuat Alvaro lebih banyak lagi belajar tentang arsitek dan desain.
Perusahaan daddy Alvin yang bergerak di bidang property memang sangat cocok dengan keahlian Alvaro sebagai arsitektur muda. Ia bahkan sudah mendapatkan beberapa penghargaan dengan hasil karyanya yang di pakai oleh beberapa perusahaan besar seperti milik daddy Alvin ini.
Tentu saja ia sedikit banyak mendapatkan bantuan sang ayah yang mengenalkannya pada beberapa klien-nya, dan tak jarang dari mereka yang tertarik untuk memakai jasa Alvaro, meskipun sebelumnya mereka sudah punya arsitek tersendiri.
Karena kesibukannya untuk sekolah, dia hanya menerima beberapa proyek dalam sebulan. Belum lagi permintaan desain dari teman atau kenalan keluarga atau temannya yang ingin membangun rumah dan mempercayakan desainnya kepada Alvaro.
Dari hasil jerih payahnya sebagai arsitek selama satu tahun, dia bisa membuka cefe yang tidak terlalu besar tapi banyak di sukai kaula muda untuk nongkrong. Berawal dengan bangunan sewa, dua tahun ini perkembangannya cukup bagus sehingga sudah memiliki lima cabang yang tersebar di Jakarta.
"Jadi daddy akan bangun perumahan elit di kawasan Jakarta Barat. Daddy mau kamu yang merancang untuk desain perumahannya. Bikin hunian yang nyaman dan memiliki fasilitas yang lengkap. Jangan lupakan juga untuk sediakan taman hijau di tengah komplek perumahan." Alvaro mengangguk paham. Alvaro juga di bantu dua arsitek yang perusahaan daddy Alvin miliki. Saling bertukar pendapat dan menambahkan jika ada sesuatu yang kurang.
Menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi membahas perumahan yang akan mereka bangun, hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia khawatir istrinya takut karena sendirian di apartemen, hingga pemuda itu menyudahi diskusi mereka. Dan berjanji akan mengerjakan desainnya sebaik mungkin.
Dengan pikiran yang khawatir memikirkan istrinya, Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung jalanan sudah berdamai dengannya, perjalanan lancar dan hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke apartemen.
Memarkir mobilnya di basement, Alvaro berlari memasuki lift. Mengetuk-ketukan kakinya tidak sabar menunggu lift yang terasa lambat.
Sesampainya di lantai unitnya berada, Alvaro langsung menuju unit tempat tinggalnya dan memasukan passcode dan membuka secara perlahan. Mengatur napasnya agar kembali normal dan tidak terlihat khawatir.
__ADS_1
Televisi di ruang tamu masih menyala, Alvaro mengedarkan pandangannya dan menemukan istrinya yang tertidur di meja makan.
"Udah di bilang gak usah masak, gak usah nungguin, kenapa keras kepala sih?!" gumamnya pelan ketika sudah berada di samping istrinya.
Kedua sudut bibirnya melengkung mendapati makanan kesukaannya terhidang di atas meja. Pasti istrinya sedang mencoba menarik perhatiannya.
Mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar, meletakkan dengan hati-hati di atas tempat tidur.
Dipandanginya dengan sayang wajah cantik istrinya yang tertidur pulas seperti bayi. Merapikan anak rambut yang berhamburan, mengecup dahi istrinya cukup lama. Kecupan kedua setelah ijab kabul waktu itu.
"Istri nakalku." ucapnya dengan bibir yang masih saja tersenyum.
Meninggalkan istrinya untuk membersihkan diri dan makan malam. Di kantor daddy Alvin memang sudah di belikan makan malam, tapi ketika yang lain makan, tadi Alvaro memilih untuk menyelesaikan salah satu desain rumah milik teman arisan ibunya yang sebentar lagi akan di bangun. Sehingga melupakan makan malamnya.
Setelah wangi dan bersih, Alvaro menuju dapur. Menghangatkan kembali sup buntut yang sudah dingin agar lebih nikmat untuk di santap. Tersenyum bahagia saat rasanya tidak terlalu buruk dan rasanya lumayan mirip dengan masakan ibu di rumah. Masakan yang selalu membuatnya rindu untuk pulang dan menikmati makanan yang di masak dengan penuh cinta.
*
*
*
__ADS_1
Terjawab yes Alvaro kerja apaan 😁