DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Sekolah


__ADS_3

Tiara sekarang tidak lagi di antar supir pribadi untuk ke sekolah, kini ada suami yang siap mengantarkan dia kemana pun gadis itu ingin pergi.


"Buruan! telat kita kalo lo lama begitu!" seru Alvaro di depan pintu kamar, menunggu Tiara yang sedang memakai sepatu setelah sarapan.


"Bawel lo ah! hari ini kan cuma classmeeting! gak bakal di hukum juga kalo telat!" gerutu Tiara saat sudah berada di samping Alvaro.


Dengan menaiki mobil pemberian ayah Alvaro sebagai hadiah pernikahan mereka, mobil melesat melalui jalan di pagi yang sibuk.


"Lo mau turun dimana?" tanya Alvaro memecah keheningan di antara mereka yang hanya di isi oleh lagu yang di putar pada audio mobil.


"Maksud lo? ya turun di sekolah lah. Gue kan mau sekolah!"


"Ya kali mau turun di halte. Katanya mau rahasiain pernikahan kita." jawab Alvaro tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.


"Kan yang mau di rahasian stausnya. Kenapa harus turun di halte segala?" tanya Tiara yang masih belum tahu maksud Alvaro.


"Terus kalo pada nanya kenapa kita berangkat bareng, lo mau jawab apa?"


"Ya jawab aja kita sekarang temenan." jawab Tiara tidak ingin ambil pusing, dan tidak ingin repot-repot jalan dari halte.


"Terserah lo lah! gue sih gak masalah walau satu sekolah tau juga." jawab Alvaro santai, sembari mengedikkan bahunya.


Benar saja. Sampai di sekolah, yang melihat mereka turun dari mobil yang sama merasa heran. Dua murid yang tidak pernah terlihat akur, tiba-tiba hari ini berangkat bersama dan tidak terlihat saling membenci seperti biasanya. Walau pun tetap saja saling cuek satu sama lain.


Tiara langsung meninggalkan Alvaro untuk menuju kelas mereka. Tidak ada niat Tiara untuk jalan bersama dengan "teman" barunya itu.


Alvaro memegang tas yang dia bawa di sebelah bahunya, dan satu tangan lagi ia masukkan saku celana. Berjalan dengan muka dingin tanpa senyuman. Tidak peduli dengan tatapan bingung atau kagum dari siswi yang ia lewati.


Selama ini Alvaro tak tersentuh. Terlalu dingin dan terlalu tidak peduli. Alvaro juga siswa yang banyak di gilai siswi SMA Putra Bangsa, selain tampan dia juga selalu menjadi juara umum.


Tapi setelah kedatangan Dika, banyak fans-nya yang merubah haluan menjadi pengagum Dika. Cowok yang lebih hangat dan ramah kepada semua.


Cocok sebenarnya Dika dengan Tiara, mereka sama-sama friendly dan mudah bergaul.


Tapi bukankah perbedaan itu lebih berwarna, apa lagi jika bisa saling menghormati. Tak sedikit juga hubungan yang memiliki banyak persamaan malah merasa bosan dan berpisah. Hubungan sukses bukan karena banyaknya persamaan antara pasangan, tapi banyaknya rasa saling percaya, memegang kepercayaan dan saling memahami.


Itu juga harapan Alvaro. Walaupun dia dan sang istri banyak perbedaannya. Tapi pemuda itu berharap, perbedaan mereka yang akan selalu menayatukan mereka. Membuat mereka saling melengkapi dan saling membutuhkan.

__ADS_1


***


Kegiatan pembuka hari ini ternyata pertandingan bola basket antar kelas. Masing-masing kelas harus menyiapkan satu tim basket, dan untuk ketua tim di minta mengambil bola undian nomor urut mereka bertanding.


Kelas 11IPA1 mendapat urutan pertama melawan kelas 11IPS1. Alvaro sebagai ketua tim basket berhadapan dengan Dika yang juga menjadi tim basket kelasnya.


"Cie.. laki lo lawan gebetan lo tuh. Mau dukung yang mana?" bisik Pricilla di telinga Tiara di pinggir lapangan.


"Gak dukung dua-duanya! gue dukung kelas kita!" seru Tiara.


"Bagus deh! akhirnya lo nyadar diri juga. emang cuma gue yang boleh dukung Dika!" seru Sheril yang baru datang dan berdiri di sebelah Tiara.


Tiara hanya memutar bola matanya jengah.


"Ancaman gue kemarin gak main-main! lo liat kan, kemarin gue bisa jebak lo sama Alvaro. Kalo lo masih deket-deket juga sama Dika! gue gak segan-segan buat nyebar foto-foto kalian!"


Tiara lebih memilih melihat pertandingan dari pada mendengarkan ocehan Sheril. Membuat Sheril kesal dan menghentakkan kakinya lalu pergi.


Pricilla terkikik melihat ekspresi Sheril yang di acuhkan oleh Tiara.


"Gue kan gak deket-deket Dika! terus kenapa mesti takut?"


Pricilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga sih!"


***


Di babak pertama kelas Alvaro tertinggal enam poin. Dapat Tiara lihat jika Alvaro dan timnya sedikit kurang percaya diri menghadapi ketua tim basket sekolah.


"IPA1 GAK PERNAH KALAH!! KALIAN BISA!!" teriak Tiara dari pinggir lapangan, membuatnya menjadi pusat perhatian. Termasuk Alvaro yang tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang berteriak sambil meloncat-loncat.


"ALVARO SEMANGAT!! ATAU GUE ADUIN MOMMY KALO LO KALAH MAIN BASKET!! BIAR LO GAK JADI KESAYANGAN MOMMY LAGI!!"


Pricilla dan Alvaro membulatkan mata mereka dengan mulut yang menganga. Sedangkan siswa lain yang tidak mengerti maksud dari kalimat Tiara hanya ikut memberi semangat untuk jagoan mereka masing-masing.


"Ra! lo mau bikin satu sekolah curiga?" bisik Pricilla, menarik lengan Tiara agar berhenti meloncat-loncat.


"Gak bakal tau juga mereka!"

__ADS_1


Di babak kedua, terlihat anak IPA1 lebih bersemangat dan bisa menguasai lapangan. Hingga pertandingan berakhir dan kelas IPA1 unggul 3 poin. Sebenarnya Alvaro juga jago bermain basket, tapi pemuda itu tidak berminat mesuk ke dalam tim basket sekolah. Ia lebih suka ekstrakulikuler yang berbau pelajaran.


Sorakan keras datang dari pasukan kelas IPA1 "RASIS! RASIS! RASIS!" teriak mereka serempak. Rasis atau Ras Of IPA Satu adalah nama kompak kelas mereka.


Alvaro duduk berselonjor di pinggir lapangan beserta anak basket yang lain, melepas lelah mereka. Tiara mendekat membawa botol air mineral dan menyerahkannya kepada Alvaro.


Alvaro menaikkan sebelah alisnya dan menerima uluran botol tersebut. "Tumben baik sama gue!" ucap Alvaro yang sudah meminum airnya.


"Takut durhaka gue!" celetuk Tiara.


Alvaro menggelengkan kepalanya. Dari tadi Tiara seperti tidak pernah menutupi hubungan mereka.


"Makan gue mana? laper gue?" tanya Alvaro, membuat Tiara memelototkan matanya.


Gadis aneh memang, dari tadi dia yang selalu menyerempet. Sekarang giliran Alvaro ikutan, gadis itu malah panik.


"Ambil sendiri di kelas!" seru Tiara dengan jutek dan pergi bersama Pricilla.


Tingkah istrinya itu memang selalu membuat Alvaro geleng kepala.


Dika melihat semua interaksi dua pasangan di pinggir lapangan itu. Membuat hatinya terbakar cemburu. Dia tidak akan membiarkan situasi ini berlangsung lama. Dika harus bertindak cepat, sebelum Tiara berhasil di miliki oleh laki-laki lain.


"Sweet banget ya mereka! capek abis main basket, di kasih minum!" ujar Sheril yang sudah duduk di samping Dika.


"Kurang ngelapin keringet sih sebenernya. Coba aja tadi Tiara ngelakuin itu. Pasti tambah sweet banget deh mereka!" imbuh Sheril memanas-manasi Dika.


Sedangkan yang sedang di panasin malah tidak peduli dan memilik pergi. Membuat Sheril geram.



*


*


*


Jangan lupa jejak dan semangatnya kawan 💕

__ADS_1


__ADS_2