DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Masa Lalu


__ADS_3

Hari-hari mereka berlalu dengan lancar. Dengan damai meski terkadang ada perdebatan-perdebatan kecil sebagai bumbu dalam rumah tangga.


Mereka saling melengkapi dan menjadi penyembuh untuk satu sama lain. Berbagi tawa canda, berbagi keluh kesah, berbagi kehangatan di malam hari setelah tubuh merasa lelah dengan kegiatan dunia luar. Kehangatan yang semakin mempererat hubungan mereka, kehangatan yang mengembalikan energi untuk siap menghadapi hari esok.


Hampir tidak ada kendala yang berarti untuk keduanya menjalani status pernikahan di usia mereka yang masih belia.


"Al. kamu gak usah gantiin ayah buat jadi CEO ya? Kerja kamu sebagai arsitek udah cukup kok buat biaya hidup kita. Apa lagi tar kalo kita udah lulus kan kamu bisa makin fokus sama kerjaan." pinta Tiara. Memainkan jari telunjuknya di atas dada bidang suaminya yang masih belum terbungkus pakaian setelah kegiatan panas rutin mereka malam ini. Dada yang masih di penuhi keringat sisa pergumulan mereka.


"Kenapa emang?" sahut Alvaro. Tetap memejamkan matanya dengan napas yang masih belum teratur.


"Gue takut kejadian daddy terulang lagi." belum pernah sebelumnya Tiara menceritakan kisah menyakitkan saat dirinya masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah perpisahan, bahkan pada Pricilla sekali pun. Karena baginya, itu hanyalah kecerobohan yang daddy Alvin buat yang tidak perlu orang luar mengetahuinya. Biar yang hanya orang luar lihat adalah keluarganya yang harmonis saat ini. Kedua orang tuanya memang harmonis kok, kecuali kisah pilu yang satu itu.


"Emang daddy kenapa?"


"Dulu mommy pernah pergi dari rumah. Oma dan yang lain bilang kalo mommy lagi sibuk kerja makanya gak sempet pulang ke rumah karena jauh." tatapan mata Tiara jauh menerawang ke masa lalu yang di laluinya dengan perih. "Mommy dulu emang baru mau ngebuka sekolah musiknya kan. Tapi aku gak sekecil itu untuk tau apa yang terjadi sebenernya."


"Hari kedua mommy gak pulang, setelah daddy nemenin aku tidur, diem-diem aku turun dari ranjang setelah daddy keluar kamar. Aku lihat daddy di marahin sama Opa. Katanya daddy tidur dengan sekretarisnya di kantor saat gak pulang."


Mata Alvaro melebar mendengarnya. Karena yang dia lihat selama ini. Ayah mertuanya sangat mencintai mommy Shevi. Bahkan mereka tidak malu untuk menunjukan kemesraan mereka di hadapan anak-anak mereka termasuk dirinya.


"Dulu aku kira yang namanya tidur ya tidur. Gak tau maksud tidur bagi orang dewasa itu seperti apa. Aku sempet marah dalam hati sama mommy. Kenapa mommy marah dan gak pulang cuma karena daddy tidur dengan sekretarisnya? apa mommy gak mau berbagi daddy dengan orang lain? apa mommy juga marah jika daddy tidur sama aku? aku masih gak ngerti. Meski hampir setiap hari aku tantrum gara-gara mommy gak pulang-pulang." suara Tiara sudah bergetar. Dapat Alvaro rasakan rasa sakit dalam suara istrinya.


"Aku marah. Kenapa mommy gak pulang? apa mommy gak sayang lagi sama aku? apa mommy mau ninggalin aku sama kaya daddy dulu?" menjauhkan dirinya untuk bisa menatap mata suaminya. "Kamu tau kan Al, kalo aku lahir tanpa status pernikahan?"

__ADS_1


Alvaro mengangguk meskipun merasa tidak enak hati. Sekaligus merasa bersalah dengan apa yang sering ia lakukan kepada istrinya di masa lalu hanya untuk membunuh rasa sukanya pada gadis di hadapannya ini.


"Aku udah pernah ngerasain hidup tanpa daddy selama hampir lima tahun aku hidup Al. Aku sering sedih saat di sekolah temen-temen aku di anter sekolah sama daddy-nya. Sedih saat acara sekolah keluarga mereka lengkap, sedangkan aku cuma ada mommy. Meskipun ada uncle Ray yang sangat sayang sama aku. Tapi aku cukup tau kalau dia bukan daddy aku." kembali membenamkan wajahnya pada dada suaminya.


"Aku baru tau rasaanya punya keluarga lengkap. Aku baru ngerasain bahagia bisa dapat kasih sayang seorang ayah. Tapi kenapa gantian mommy yang pergi. Apa mereka gak peduli sama perasaan gadis kecil yang selalu mengharapkan pelukan keduanya secara bersamaan. Kenapa mereka tega sama aku?"


Alvaro hanya diam. Antara bingung untuk menanggapi seperti apa dan menunggu istrinya melanjutkan mengeluarkan unek-unek yang mungkin gadis itu pendam selama ini.


"Hingga suatu hari wanita dengan perut membesar masuk dalam rumah. Wanita yang memperkenalkan dirinya untuk aku panggil dengan sebutan mama. Aku tahu yang namanya mama itu sama aja mommy. Dan aku gak tau kenapa aku harus manggil dia mama, hingga wanita itu menjelaskan kalau dia sudah menikah dengan daddy dan ada adik bayi di dalam perutnya. Sampai saat itu aku tahu kenapa mommy pergi dari rumah dan enggan untuk pulang. Karena yang aku tau, menikah berarti saling menyayangi, saling mencintai seperti mom and dad. Dan jika daddy menikah dengan wanita lain bahkan akan segera mendapat adik bayi, berarti daddy udah gak cinta sama mommy. Aku sedih, aku sakit membayangkan mommy menangis seorang diri. Percayalah Al, rasanya sangat menyakitkan melihat mommy menangis." air mata Tiara membanjiri dada Alvaro.


"Aku udah sering lihat mommy nangis diem-diem dulu di New York. Mungkin dulu mommy kangen sama daddy yang entah dimana. Setelah menikah, aku gak pernah liat mommy nangis lagi. Bahkan yang aku lihat hanya kebahagiaan yang sama dengan yang aku rasain saat bisa bersama daddy. Dan saat itu aku gak bisa bayangin mommy nangis sendirian."


Tenggorokan Alvaro tercekat. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya jika daddy Alvin pernah menikah dengan wanita selain ibu mertuanya. "Jadi daddy pernah menikah dengan wanita lain." tanya Alvaro dengan suara lirih.


Tiara mengangguk. "Seenggaknya untuk beberapa bulan. Bahkan gara-gara masalah itu, mommy sampai keguguran. Mommy gak tau dia hamil sampai calon adikku pergi."


Tiara kembali menceritakan bagaimana daddy-nya di usir dari rumah dengan mama tirinya, gara-gara mommy Shevi marah saat memergoki mama tirinya memaksa dia untuk makan dengan mencengkeram dagunya. Hingga berujung mereka berdua di usir dari rumah Opa tanpa fasilitas apa pun.


"Tapi cuma berapa bulan doang gitu aku lupa. Katanya daddy cuma di jebak. Daddy gak pernah khianatin mommy selama itu. Semua hanya jebakan dan anak itu bukan anak daddy."


Alvaro memeluk erat tubuh kecil yang sudah melalui banyak waktu berat dalam hidupnya itu. Mencium dahi istrinya bertubi-tubi sebagai ucapan rasa bangga karena istrinya bisa melalui masa sulit itu dengan baik. Tumbuh dengan baik sampai bisa menjadi istrinya saat ini.


"Makanya aku gak mau kejadian itu terulang lagi Al. Aku gak mau kamu kegoda sama sekretaris kamu nanti. Daddy aja yang gak kegoda bisa di jebak sampai rumah tangganya hampir hancur. Apa lagi kalo kamu sampai kegoda. Mommy wanita hebat. Wanita yang kuat. Hamil tanpa suami. Ngurus aku sebagai ibu tunggal. Baru nikah udah dapet maslah kaya gitu. Mungkin kalo aku yang jadi mommy, aku lebih milih bunuh diri Al. Pokoknya aku gak nerima yang namanya pengkhianatan. Aku juga gak mau jadi janda!" seru Tiara tegas.

__ADS_1


"Kamu gak akan ngalamin masalah rumit seperti itu lagi. Aku janji yank. Kamu akan jadi wanita kuat nemenin aku tanpa cara yang sama seperti mommy. Aku percaya kamu wanita kuat untuk menjadi pendamping hidup aku sampai rambut kita sama-sama memutih. Tubuh kita sama-sama renta. Kita akan selalu berpegangan tangan. Jangan pernah melepaskan pegangan tangan kita apa pun yang terjadi." Tiara mengangguk setuju.


"Setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing. Mungkin mommy di uji dengan hamil tanpa suami dan di khianati. Daddy di uji dengan di jauhkan dengan cinta pertamanya dan tidak di percaya. Aku juga yakin, suatu hari nanti akan ada ujian juga untuk rumah tangga kita." mengeratkan pelukannya. Meskipun dalam mulut dia berkata seperti itu. Tapi dalam hati Alvaro ngeri sendiri jika badai dalam rumah tangganya hadir dan memisahkan mereka.


"Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi terjangan badai yang akan datang untuk kita nanti. Kita hanya perlu memupuk cinta dan kepercayaan kita agar kokoh dan gak goyang sebesar apa pun terjangan badai yang kita terima nanti." menyentuh dagu istrinya agar menatap matanya.


"Kamu mau kan terus menggenggam tangan aku apa pun yang akan terjadi nanti?" Tiara mengangguk tegas.


"Kamu percayakan kalo kita mampu melaluinya?" lagi. Tiara mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.


Alvaro membalas senyum sang istri dan mendaratkan kecupan sekilas di bibir ranum istrinya. "Terimakasih sayang. Kamu harus ingat ini! Aku akan selalu jadi tameng untuk kamu apa pun yang terjadi di depan sana. Aku akan berdiri tegak untuk membawa kamu hingga hari tuaku. Tidak akan ada yang dapat melepas jalinan jari kita yang saling menggenggam dengan kekuatan cinta kita."


Rasanya lega mendengar kata-kata suaminya. Bagi gadis yang memiliki masa lalu yang menyakitkan seperti dirinya, sulit untuk Tiara menaruh kepercayaan penuh pada laki-laki. Tapi kini dia percaya jika Alvaro bisa membawanya menuju kebahagiaan hingga hari tua. Percaya jika pemuda itu akan memegang kata-katanya malam ini.


"Ngomong-ngomong, kalau pun aku harus nerusin usaha ayah. Aku akan cari sekretaris cowok aja biar kamu di rumah gak khawatir."


Banyak mimpi untuk keluarga yang ia bangun dengan Tiara. Tidak mungkin dia hanya menjadi arsitek panggilan seperti saat ini. Setidaknya dia harus punya perusahaan besar yang dia bangun sendiri.


*


*


*

__ADS_1


Ahh boleh gak sih, Alvaro-nya buat aku aja 😭


Ini panjang lho. Awas kalo like, komen sama vote-nya dikit. Aku ngambek nanti 😑


__ADS_2