DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Ternyata ini urusannya?


__ADS_3

Entah perasaan tidak nyaman apa yang Tiara rasakan sejak bangun tidur tadi. Mimpinya juga terasa menakutkan. Tapi setelah bangun dia lupa mimpi apa semalam.


Akibat mimpi, pikirannya menjadi tidak fokus. Seakan apa pun yang ia lakukan terasa salah dan kurang tepat.


"Udah lah yank. Mimpi tuh cuma bunga tidur. Dari pada mikirin mimpi yang gak perlu buat di ingat itu. Mending mikirin ujian terakhir hari ini." satu semester telah mereka lewati sebagai mahasiswa. Belajar hidup tanpa bantuan orang tua, dan mereka mampu sampai sejauh ini. Dan berkeyakinan akan selalu mampu melakukan apa pun asal terus bersama.


Berdua mereka merasa lengkap. Berdua baru merasa benar. Berdua mereka merasa aman.


Tiara tersenyum. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Membuang segala pikiran buruk yang bersemayam dalam otaknya. Menjernihkan kembali otaknya untuk bisa menyelesaikan ujian terakhir hari ini.


"Hari ini aku cuma ujian satu doang. Selesai ujian aku mau ke cafe. Udah lama aku gak ke sana." ujar Alvaro disela sarapan pagi mereka.


"Tunggu aku selesai jam ke dua deh Al. Aku juga mau ikut. Kamu kan belum pernah ngajak aku kesana." rengek Tiara tidak terima di tinggal sendiri di kampus. Padahal Alvaro sering meninggalkannya jika ada pekerjaan. Bukan sekali dua kali gadis itu pulang dengan Taxi atau di antar Pricilla. Tapi hari ini entah kenapa rasanya tidak ingin jauh dari suaminya. Mungkin masih terpengaruhi mimpi yang semalam.


"Aku udah ngabarin bang Didi buat evaluasi yank. Jadi gak bisa di undur." Didi adalah kakak sepupu yang ia percayakan untuk mengurus cafe. Pemuda yang lebih tua darinya lima tahun itu yang empat tahun lalu mengusulkan untuk membuka cafe dan berjanji akan mengurusnya dengan baik.


Loyalitas dari Didi tidak diragukan lagi. Selama empat tahun cafe yang mereka dirikan cukup berkembang dan Alvaro juga mendapatkan untung yang cukup besar setiap bulannya.


"Ya udah. Nanti aku jemput lagi gimana? kamu tunggu dulu aja di kampus, setelah selesai nanti aku jemput terus ke cafe lagi." tawarnya saat melihat istrinya menekuk wajah.


"Janji ya jemput!"


"Iya sayang. Kiss dulu." pinta Alvaro dengan manja. Memjamkan mata dan memajukan bibirnya siap menyambut sentuhan hangat dari bibir istrinya yang selalu dia sukai.


Cup. Hanya sekilas dan itu sudah cukup. Dari pada keterusan dan Alvaro khilaf, lebih baik memang seperti ini. Membalas ciuman sang istri dengan pelukan hangat. Sebelum menggandeng tangan dengan jemari lentik nan halus itu menuju basment untuk berangkat menyelesaikan tugas mereka dalam pendidikan.


***


Setelah selesai ujian, Alvaro mengirim pesan kepada Tiara. Pamit untuk pergi ke cafe lebih dulu. Tahu bahwa istrinya belum selesai dengan ujian yang berjibun. Untuk sekali ujian saja bisa ratusan nomor. Makanya selama ujian ini Tiara tidak mau di ajak berhubungan.


Istrinya itu bahkan sampai lembur untuk belajar menghadapi ujian. Sering mengeluh merasa lelah dan frustasi dengan banyaknya materi yang harus wanitanya pelajari. Tapi meskipun mengeluh, mood Tiara akan langsung berubah esok harinya. Gadis itu akan kembali bersemangat seakan semalam tidak mengeluhkan apa pun.


Meski sulit, Alvaro berusaha menahan dan mengerti keadaan istrinya. Itu lah kenapa Tiara bersikeras tidak ingin mempunyai anak dulu. Pendidikan untuk menjadi dokter membutuhkan tahapan dan waktu yang panjang. Tidak cukup dengan empat tahun seperti dirinya.

__ADS_1


Tiara setelah jadi sarjana, masih harus menghadapi Koas dan ujian sertifikasi untuk lulus sebagai dokter. Belum ujian-ujian lain untuk istrinya bisa melakukan praktek.


Sebenarnya Alvaro lebih ingin istrinya berada di rumah merawat dan menjaga anak-anak mereka kelak. Biar dirinya saja yang bekerja. Biar ilmu yang Tiara dapat saat kuliah hanya sebagai bekal istrinya melakukan pertolongan pertama jika ada anggota keluarga mereka yang sakit. Tidak perlu sampai menjadi dokter.


Tapi Alvaro juga tidak bisa memutuskan impian istrinya begitu saja. Apa lagi mereka masih muda. Masih punya semangat yang tinggi untuk memperjuangkan apa yang mereka inginkan untuk masa depan mereka.


Alvaro melajukan kuda besinya membelah jalanan ibu kota. Menuju cafe yang tidak terlalu jauh dari universitas tempatnya menimba ilmu. Hanya butuh setengah jam, Alvaro sudah sampai di cafe pusat miliknya.


***


Tiara tak sempat membuka ponsel setelah ujian pertama selesai. Gadis itu memilih merebahkan kepalanya di meja demi menunggu ujian kedua.


"Gak ketemu laki lo Ra?" tanya Pricilla yang sedang bermain dengan ponsel di meja sebelahnya.


"Al lagi ke cafe."


"Cafe yang kata lo, Al rintis pas masih SMA itu?" Tiara hanya berdeham sebagai jawaban.


"Kenapa ngajak abang? pacar lo kemana?" tanya Tiara heran. Menegakkan tubuhnya menghadap sahabat yang masih serius dengan benda pipih di tangannya.


"Putus gue minggu lalu."


Tiara menepuk dahinya. Kenapa dia punya sahabat doyan sekali gonta ganti pacar begini. "Kenapa lagi?"


"Dia ngajak gue gituan masa! emang gue semurahan itu apa!" sungut Pricilla. Bukan kali ini saja gadis itu putus dengan pria yang baru menjadi kekasihnya beberapa bulan dengan alasan yang sama. Tiara bangga dengan sahabatnya yang tidak mudah termakan rayuan yang mengatas namakan cinta yang justru menyesatkan.


"Gue yakin, lo bisa dapet cowok yang baik yang bisa jagain lo. Bukan malah ngerusak lo." ucap Tiara bangga. Memeluk bahu Pricilla dan menyandarkan kepalanya di sana.


***


Tiara merasa geram dengan suaminya. Gadis itu sudah mengabari Alvaro sejak setengah jam yang lalu, tapi suaminya tak kunjung menjemput. Hanya mengirim pesan jika suaminya masih ada urusan di cafe. Dan menyuruh Tiara menunggu sebentar lagi.


"Gue anter aja yuk. Lo tau alamat sama namanya kan?"

__ADS_1


Tiara mengangguk dan menyetujui saran Pricilla. Mereka berdua meninggalkan taman sebelah kampus dan menuju alamat yang pernah Alvaro sebutkan, alamat cafe yang pertama kali pemuda itu dan bang Didi sepupunya dirikan.


Tidak sulit menemukan cafe yang di maksud. Selain lokasinya yang cukup strategis, juga desain depan cafe yang berbeda dengan yang lain. Membuat siapa saja yang melewati jalan di depannya pasti tertarik untuk melihat.


"Gue tau suami lo arsitek. Tapi gue gak tau kalo tuh cowok punya ide secemerlang ini unuk menarik pelanggan." ucap Pricilla kagum dengan ide Alvaro. Begitu juga Tiara yang mengangguk setuju dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya.


Begitu masuk, aroma wangi kopi memenuhi penciuman keduanya. Desain cafe yang nyaman dan kekinian tersaji di dalam. Hampir semua meja terisi oleh muda-mudi yang asik mengobrol dengan teman, pasangan dan ada juga yang datang sendiri dengan laptop di hadapannya.


"Eeh.. Ibu negara kesini?" seru bang Didi di balik meja bar yang sedang membuat kopi untuk pelanggan di depannya. "Nyari pak bos ya?"


"Hai bang. Apa kabar?" sapa Tiara. Tak lupa mengenalkan Pricilla kepada sepupu suaminya.


"Pak bos ada di ruangannya. Ke sana sendiri aja ya. Lagi banyak pelanggan." ucap Didi merasa tidak enak membiarkan istri sepupunya mencari suaminya sendiri.


"Santai aja bang. Dimana ruangan Al?"


Tiara serta Pricilla berlalu menuju ruangan yang di tunjukan oleh Bang Didi di lantai dua yang katanya ruangan khusus milik suaminya.


Tanpa mengetuk pintu, Tiara membuka daun pintu yang bertuliskan "Owner" dengan ukiran kayu jati.


Setelah pintu terbuka lebar. Baik Tiara maupun Pricilla mematung dengan mata membelalak.


Rasa panas dalam dada membuat Tiara merasa sesak dan sulit untuk bernapas. Dadanya bergemuruh. Emosinya memuncak. Matanya memanas, tapi sekuat tenaga Tiara menahannya. Berusaha untuk tidak terlihat lemah dengan menjatuhkan air matanya di hadapan dua manusia di dalam sana.


"Tiara?" lirih Alvaro.


*


*


*


Harap tenang. Ini ujian 😁

__ADS_1


__ADS_2