
"Ra.. Buka dong pintunya.. gue ngantuk nih.." seru Alvaro dari depan pintu. Mengetok pintu berulang kali karena istrinya tak urung juga membukakan pintu kamar.
"Lo tidur aja di luar!" balas Tiara dari dalam kamar.
"Tega banget sih lo Ra. Gue udah cape kerja seharian, masa lo tega nyuruh gue tidur di sofa." coba Alvaro sekali lagi berharap istrinya tidak sungguh-sungguh menyuruhnya tidur di luar. "Kenapa si Ra? emang gue salah apaan?"
"Gue maluu.. pokoknya lo tidur di luar."
"Malu tuh kalo gak pake baju! itu pun gak perlu malu orang udah nikah." gerutu Alvaro yang berbalik dan merebahkan dirinya di sofa. Kenapa juga malu, mereka bahkan sudah menikah, bukan melakukan hal yang di larang. Begitu pikir Alvaro.
Tiara menatap langit-langit kamar. Berperang dengan pikirannya sendiri. Dosakah dia menyuruh suaminya tidur di luar, padahal suaminya tidak salah apa-apa. Tapi Tiara masih sangat malu dan belum siap untuk bertemu Alvaro. Mereka bahkan baru menikah satu minggu, tapi dirinya sudah berani mencium pemuda itu. Apa yang Alvaro pikirkan tentangnya. Bahkan gadis itu sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa seberani itu, dan alasan apa yang mendorongnya melakukan hal tersebut.
Selama satu jam, mata Tiara tidak bisa juga di ajak untuk terpejam. Pikirannya masih berkelana memikirkan suaminya yang tidur di luar. Membawa bantal dan selimut, berharap suaminya sudah tidur.
Membuka pintu dengan sangat perlahan dan berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi. Taira melangkah ke arah suaminya yang ternyata sudah tertidur. Wajah suaminya memang terlihat sangat lelah. Gadis itu menjadi semakin tidak tega. Namun jika untuk membangunkan suaminya rasanya gengsi.
Mengangkat kepala Alvaro perlahan untuk menyematkan bantal di bawah kepala suaminya itu, serta menyelimuti dengan selimut yang ia bawa.
Tiara cukup lama berjogkok tepat di depan wajah Alvaro. Memandang wajah yang terlihat sangat menggemaskan kala tidur. Alvaro itu tampan-sangat malah. Dan ketika tidur wajahnya terlalu imut menurut Tiara untuk ukuran wajah laki-laki. Dan sayangnya Tiara menyukainya.
Orang bilang, antara benci dan cinta itu beda tipis. Atau ada yang bilang juga, Benci ialah benar-benar cinta. Dan sepertinya Tiara sedang mengalaminya. Rasa yang ia anggap hanya sebuah rasa benci yang menggunung terhadap suaminya ini, ternyata membuatnya hampa ketika pemuda itu mendiamkannya. Merasa takut kehilangan saat suaminya marah terhadapnya. Dan merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya. Merasa menemukan kesenangannya tersendiri.
Inikah cinta? sebuah rasa yang ia masih belum akui keberadaannya. Tapi yang jelas, Tiara hanya ingin selalu berada di dekat Alvaro saat ini. Tidak ingin suaminya mendiamkannya lagi seperti kemarin. Tidak ingin suaminya mencari wanita lain di luar sana.
Aahh kenapa harus Alvaro yang hatinya pilih untuk berlabuh. Cowok yang sangat menyebalkan dan hanya bisa mengganggu ketentraman hidupnya saja.
Tapi setelah di pikir-pikir, setelah menikah perlakuan Alvaro terhadapnya sedikit berubah si. Alvaro menjadi lebih lembut meski kadang masih menyebalkan.
"Makanya kalau suka ngaku aja."
__ADS_1
Tiara terjingkat dan jatuh terduduk ke belakang saat tiba-tiba Alvaro berucap dan membuka mata menatapnya lekat.
"L-lo be-belum ti-tidur Al?" tanya Tiara dengan suara tergagap. Sudah malu karena perbuatannya tadi. Sekarang di tambah malu tertangkap basah memperhatikan suaminya diam-diam.
"Gimana suamimu ini bisa tidur si 'sayang' kalau badan cape tapi di suruh tidurnya di sofa sempit begini." jawab Alvaro dengan nada sindiran dan menekankan kata sayang, agar Tiara paham seharusnya dia tidak memperlakukan suaminya seperti ini.
"Ya.. Y-ya.." Tiara bingung akan membalas Alvaro apa.
"Udah Ah, ayo tidur. Gue cape." Alvaro membantu istrinya berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Tiara yang bingung hanya mengikuti saja tanpa adanya protes sama sekali. Hingga mereka sama-sama memposisikan tubuh mereka untuk tidur.
"Ra." panggil Alvaro menoleh menatap istrinya yang kini juga menatapnya.
Ragu bagaimana mengatakannya. Tapi Alvaro ingin hubungannya dan sang istri lebih ada peningkatan.
"Maksud ciuman lo tadi, itu berarti hubungan kita udah ke tahap lebih lanjut gak si?" tanya Alvaro dengan jantung dag dig dug. Takut sebenarnya bukan itu maksud istrinya.
"Kan kata lo kita jalanin hubungan ini berproses dari pertemanan. Tapi masa temen cium temennya. Jadi mulai sekarang kita pacaran aja ya Ra?" tanya Alvaro dengan polosnya.
Benar juga yang di katakan suaminya. Mana ada berteman tapi berani mencium. Dengan wajah berpaling menahan malu, Tiara mengangguk tanda setuju.
Alvaro tersenyum dan bersorak dalam hati. "Boleh pegangan tangan dong Ra? kan udah sah pacaran kita?"
Tiara berdecak tapi mengulurkan tangannya juga. "Pacaran kan pakai perasaan Al? emang lo ada perasaan sama gue?" tanya Tiara memberanikan diri. Mencoba melawan rasa malunya agar lebih bisa berpikir logis.
"Gue cinta sama lo Ra." jawab Alvaro dengan serius. "Dari SMP malah." imbuhnya lagi.
Tiara membelalakan matanya saat mendengar pernyataan suaminya. "Jangan becanda deh Al. Yang ada lo benci banget sama gue, makanya lo bikin gue nangis mulu dulu." Tira lebih percaya suaminya sedang mengerjainya dari pada percaya ucapan suaminya serius.
__ADS_1
"Gue serius Ra. Tapi gue gak bisa jelasin sekarang. Bakalan gak tidur kalau gue ceritain."
"Emang panjang banget ceritanya?" tanya Tiara semakin ingin tahu.
"Iya. Makanya sekarang mending kita tidur aja. Nanti kalau gue ada waktu, gue pasti bakal cerita kok."
Tiara mengerucutkan bibirnya. Inginnya mendengar sekarang sebenarnya. Tapi kasihan juga melihat wajah lelah sang suami, hingga akhirnya ia lebih memilih mengangguk dan menarik selimut hingga ke dada.
Mengusap rambut istrinya yang begitu patuh malam ini. "Tadi kan lo udah cium gue. Kalo gue peluk lo sebentar boleh gak?"
Sudah sejak lama Alvaro ingin sekali memeluk Tiara. Akan seperti apa rasanya memeluk orang yang kita cintai.
"Iissh dasar. Di kasih jantung minta hati. Tadi minta tangan, udah di kasih tangan tinggal minta peluk." protes Tiara dan membalikan badan memunggungi suaminya.
"Aah.. Padahal udah jadi pacar. Masa pegangan tangan doang. Padahal sendirinya cium-cium." gerutu Alvaro lirih. Namun masih dapat di dengar telinga Tiara. Membuat gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya karen kembali mengingat kecupannya tadi kepada sang suami.
Di saat Alvaro akan berbalik ikut memunggungi Tiara, gadis itu berbalik dengan sangat cepat dan langsung memeluknya.
"Peluk aja! jangan lebih!" ucap Tiara dengan nada galak. Padahal dia sendiri juga senang.
Alvaro tersenyum bahagia, membalas pelukan sang istri dengan erat. Membenamkan kepala Tiara di dalam dadanya. Rasanya sangat membahagiakan. Membuat jantungnya berpacu sangat cepat, tapi menimbulkan sensasi yang menyenangkan dalam jiwanya. Alvaro tidak bisa menggambarkam perasaan bahagianya saat ini seperti apa. Pun demikian dengan Tiara. Gadis itu juga tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Yang ia tahu, jantungnya berdegup sangat keras dan berlomba-lomba dengan jantung Alvaro yang tak kalah keras.
Alvaro menempelkan bibirnya di atas dahi Tiara cukup lama. Menikmati rasa bahagianya malam ini.
*
*
*
__ADS_1
Udah ya.. Jangan nagih up lagi besok. Mungkin sore atau malam seperti biasa baru up.
Selamat tahun baru 2021.. Semoga tahun ini adalah tahun kebangkitan dari semua hal baik untuk kita semua aamiin 🙏