
Pelukan memang sebuah obat untuk banyak hal. Obat kala kita takut, kala kita kecewa, kala kita sedih, kala kita merasa dunia tak memihak kita, dan masih banyak lagi. Terutama pengobat rindu.
Tiara yang rapuh karena rasa rindu yang semakin mencekiknya. Kini mulai mendapatkan kekuatannya kembali.
Hanya dengan memeluk suaminya, gadis itu percaya akan mampu melewati semua. Hanya dengan pelukan yang tak terbalas itu, Tiara merasa aman dan nyaman. Hanya dengan kembali mencium aroma suaminya, dia mampu untuk kembali berjuang.
Berjuang mendapatkan suaminya kembali. Membuat lelaki yang sedang tidak percaya diri itu berdiri di sampingnya lagi. Memeluk saat dia membutuhkan lagi. Memberinya kekuatan setiap ia membutuhkan lagi.
Tiara tidak akan menyerah hanya dengan Alvaro yang mengacuhkannya. Tidak akan menyerah hanya karena suaminya tidak mau membukakan pintu. Tidak akan menyerah walau ribuan kali Alvaro mengusir dirinya.
Tiara akan datang lagi dan lagi sampai Alvaro kembali luluh. Akan datang lagi dan lagi sampai Alvaro mau tersenyum untuknya. Akan datang lagi dan lagi sampai suaminya mau kembali pulang bersamanya.
"Aku kangen Al... Aku kangen... kangen banget sama kamu.." tangis Tiara pecah. Memeluk Alvaro erat meski lelaki itu tidak membalas pelukannya.
"Kenapa kamu tega jauhin aku, setelah kamu dapetin semua yang ada di diri aku?! Kamu dapetin semua kan Al. Kamu dapet cinta dan bahkan tubuh aku!" ucap Tiara di sela isak tangisnya. "Tapi kenapa setelah kamu dapetin semuanya sekarang kamu suruh aku menjauh! memang hatiku kamu anggep mainan? kenapa kamu permainin perasaan aku kaya gini?
Alvaro tetap terpaku. Berusaha kuat agar hatinya tidak goyah. Berusaha keras menahan tangannya untuk tidak bergerak merengkuh tubuh yang ia juga rindukan. Meski hatinya serasa di remas mendengar tangis dan ucapan istrinya.
Dia akan membiarkan Tiara memeluknya sebentar lagi. Hanya untuk membuat gadisnya tenang dan mengobati sedikit rasa rindunya kepada gadis yang sudah ia sakiti ini.
"Aku janji akan kembali Ra. Tunggu sampai aku sembuh! tapi aku tak ingin memberimu harapan lebih, aku takut aku tak bisa kembali berjalan dan hanya akan menyusahkan kamu nanti." ucap Alvaro dalam hati. Meskipun nanti mungkin saja gadis itu telah menjauh karena lelah. Dia siap untuk bersujud dan meminta Tiara kembali padanya. Tapi untuk kali ini, ijinkan dia seperti ini. Karena Alvaro tidak ingin memberikan harapan apa pun saat ini.
Tiga kali terapi yang ia jalani belum membuahkan hasil apa pun. Bahkan hanya untuk menggerakkan jari kakinya saja harus mengarahkan seluruh tenaga yang ia miliki.
Perlahan, Alvaro mendorong Tiara menjauh. "Kenapa masih kesini aja sih? gue kan udah nyuruh lo berhenti datang! mending pergi kuliah dari pada ngelakuin hal gak berguna kaya gini!"
Tiara terperanjat mendengar ucapan Alvaro. Meskipun sudah tahu akan begini pada akhirnya. Namun tetap saja hatinya sedih menerima perlakuan seperti ini.
"Kapan sih lo mau dengerin gue? belum puas lo bikin gue celaka gara-gara lo gak mau dengerin gue?! coba kali ini aja lo dengerin gue kalo emang lo masih anggep gue ini suami lo?" seru Alvaro. Padahal sudah berulang kali dia mengusir istrinya ini. Berulang kali tidak mau menemuinya. Tapi kenapa istrinya keras kepala sekali.
"Al. Aku.." kalimat yang akan ia sampaikan dari rumah, tertelan semua mendengar kata-kata suaminya.
"Mau lo tuh apa sih Ra?! tinggal pergi kuliah aja sana! cari hal yang lebih bermanfaat buat masa depan lo!"
"Tapi aku pengen disini nemenin kamu." ucap Tiara dengan bergetar. Air mata yang sudah mengalir saat melihat suaminya pertama kali kini semakin memgalir deras.
__ADS_1
"Buat apa? buat ngetawain gue karena gue cacat?!"
Tiara menggeleng tegas. "Aku cuma mau jalanin kewajiban aku buat ngerawat kamu Al."
"Itu sama aja! itu karena lo mikirnya gue gak mampu buat ngelakuin apa-apa. Karena gue cuma akan nyusahin lo!"
"Bukan gitu Al." Tiara bingung bagaimana agar suaminya mengerti.
Gadis itu menggenggam kedua tangan milik suaminya. Manatap kedua mata suaminya lekat. "Dengerin aku Al! aku gak peduli seberapa pun sulitnya hidup kita nanti. Kita pasti mampu Al! karena berpisah dari kamu nyatanya lebih sulit untuk aku jalani."
Alvaro diam saja. Memalingkan wajahnya menatap apa saja asal bukan mata istrinya. Dia tidak ingin menemukan keseriusan dari kata-kata istrinya di bola mata indah itu. Dia harus menguatkan hati. Membentengi dan menebalkan hatinya agar tidak mudah luluh.
"Aku mau kamu kembali.." suara Tiara terdengar putus asa karena suaminya tak mau menatap matanya. " Aku pengen kita kaya dulu lagi Al. Ijinin aku buat nemenin kamu di proses penyembuhan ini."
"Gue gak butuh kehadiran lo!"
"Gak papa kalo hari ini kamu belum butuh. Tapi aku akan datang tiap hari sampai kamu menyadari kalau kamu membutuhkan kehadiranku nanti."
"Terserah lo aja! yang penting gak usah berharap lebih dari ini!"
"Ooh iya Al. Tadi aku masakin sop buntut kesukaan kamu. Kata ibu kamu lagi gak doyan makan karena sering muntah-muntah ya?"
Alvaro diam saja. Tapi ujung matanya mengawasi istrinya yang sedang mengambil kotak makan dalam paperbag di sampingnya.
Saat gadis itu membuka penutup kotak, wangi masakan yang istrinya buat langsung memenuhi indra penciumannya. Mengoda perutnya yang belum terisi makanan apa pun. Jangankan untuk makan berat. Makan roti sedikit saja perutnya sudah seperti di aduk-aduk. Pemuda itu bisa menelan buah tanpa muntah saja sudah sangat bersyukur.
Untuk ukuran Alvaro yang porsi makannya tidak bisa di bilang sedikit, hanya makan buah saja itu kurang untuknya. Dan sekarang, melihat masakan istrinya membuat air liurnya mengalir deras di dalam mulut.
"Aku suapin ya Al." tawar Tiara dengan wajah berseri. Berharap suaminya akan memakan dengan lahap masakannya ini seperti dulu saat pertama kali gadis itu membuatnya ketika suaminya mendiamkannya.
"Gue gak laper!" tolak Alvaro ketus.
Tak lama, terdengar perutnya berbunyi. Membuat pemuda itu meruntuki perut kurang ajar yang tidak bisa di ajak kerjasama.
Tiara mengulum senyum agar tidak berubah menjadi tawa saat mendengar bunyi itu.
__ADS_1
"Cobain dikiiiittt aja Al. Kalo kamu gak suka gak papa."
Alvaro menimbang antara malu dan lapar. Melihat sendok yang sudah berada dekat dengan mulutnya.
"Ya udah kalo lo maksa." Satu sendok sop buntut dengan potongan buntut di dalamnya langsung masuk ke dalam mulutnya.
Dalam hati pemuda itu tersenyum saat bisa merasakan kembali makanan selain buah. Apa lagi ini buatan istrinya langsung. Meski rasanya tidak seenak buatan ibu, tapi Alvaro tetap menyukainya.
Beberapa suap berhasil Alvaro telan. Bahkan hampir menghabiskan setengah porsi nasi dan sup itu. Begitu satu suap lagi masuk ke dalam mulutnya, perutnya serasa di aduk. Sekuat tenaga Alvaro menahan agar makanan yang berhasil ia makan tidak di keluarkan kembali. Ini masakan istrinya. Tidak akan dia buang.
"Udah Ra. Gue kenyang." tolak Alvaro dan mengambil botol air yang berisi jeruk hangat buatan Tiara dan meminumnya.
"Sedikit lagi ya Al."
"Gue bilang kenyang Ra!" seru Alvaro.
"Ini sedikit doang abis kok. Masa kamu tega gak abisin masakan aku." ucapTiara memasang mimik sedih.
Ketika Tiara akan kembali menyuapi Alvaro, pemuda itu menepisnya hingga makanan itu tumpah berantakan.
"Tuh kan! gue bilang tuh kenyang. Lo sih maksa banget! bukan salah gue kalo itu tumpah!" ketus Alvaro.
Tiara menatap iba makanan yang ia masak dengan susah payah di tengah kondisinya yang kurang baik. Tapi lihatlah sekarang berakhir di atas rumput seperti itu.
Berulang kali gadis iu menarik napasnya agar air matanya tidak tumpah. Juga agar dirinya tidak terbawa emosi yang akan semakin memperkeruh hubungannya dengan sang suami.
"Ya udah gak papa. Yang penting kamu udah makan."
*
*
*
__ADS_1
Hai hai.. Adakah yang menunggu? sayang kalian semua 🤗