DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - ASI


__ADS_3

Setelah beberapa jam Tiara di bawa ke ruang perawatan untuk pemulihan beberapa hari ke depan.


Di ruang perawatan sudah ada keluarganya lengkap, kecuali sang suami yang entah kemana.


"Apa yang di rasain sayang.. Ada yang sakit?" pertanyaan dari mommy Shevi menarik perhatiannya yang sedang mencari-cari Alvaro dengan matanya.


"Gak ada mom.. Semua baik. Rada dingin aja."


Pintu ruang rawatnya terbuka tepat setelah mommy Shevi menyelimutinya dua lapis.


Disana.Wajah yang sedari tadi di carinya. Orang yang selalu memberinya kekuatan dan kenyamanan -selama operasi- menatapnya dengan senyum lebar. Mendorong boks kaca berisi bayi mereka. Putranya yang baru lahir beberapa jam yang lalu.


Entah hanya perasan Tiara saja atau memang benar adanya. Ada semburat kesedihan yang sekilas ia tangkap pada wajah suaminya saat memasuki ruangan.


Suster membantu meninggikan posisi bed-nya agar setengah terduduk. Tangannya terulur meminta untuk bisa menimang anaknya.


Alvaro dengan gerakan kaku mengambil bayi merah yang sedang membuka matanya lebar dan lidah bergerak-gerak lucu seperti sedang mencecap sesuatu.


Dengan hati menghangat Tiara menerima anaknya dalam buaian. Mencium dan mengusap pipi merah itu dengan punggung jarinya.


Air matanya kembali mengalir. Rasa bahagia yang membuncah melihat buah hati yang selama sembilan bulan ia bawa kemana-mana.


Bayi yang bergerak aktif dan selalu mengganggu tidur nyenyaknya. Bayi yang di awal kehamilan membuat suaminya muntah hebat setiap hari. Membuatnya susah makan karena rasa mual.


Bayi yang di usia kehamilan tujuh bulan membuatnya tak mampu lagi berjalan dengan perut yang sangat besar karena membawa dua bayi.


"Ini abang?" tanya Tiara lirih dengan air mata yang tak henti mengalir.


Alvaro yang duduk di sampingnya, mengecup puncak kepala dan merengkuh bahunya.


"Iya ini abang.. bayi hebat yang menang bertarung dengan adeknya di dalam perut sana.." kekehan Alvaro terdengar getir di telinganya.


"Lalu ade?" matanya memandang pintu ruang rawat. Berharap ada suster yang akan mendorong bayinya yang lain.


"Ade si baik hati yang membagi makanannya dengan abang sedang dalam perawatan intensif." ada nada parau dalam suara sang suami.


"Ma-maksudnya?"


"Ade berat badanya sangat rendang. Hanya 1,5 kg. Jadi perlu di rawat di ruang intensif di ruang NICU sampai berat badannya stabil dan bisa bergabung dengan kita. Karena ade masih sangat rentan sakit atau mengalami infeksi."


"Kalau abang, berapa beratnya?" menatap anak dalam buaian dan menciumnya. Kasihan sekali anak yang setiap di tengok lewat USG sedang saling berpelukan atau perpegangan tangan kini harus di pisahkan.


"Abang 2,7 kg." Alvaro ikut membelai pipi bulat anaknya.


"Kenapa kamu gak berbagi secara adil dengan adikmu bang.. Kasihan ade kan.." ujarnya seakan sedang memarahi anaknya yang berebut mainan. Tapi dengan nada lembut dan ciuman hangat.

__ADS_1


"Ade yang terlalu sayang sama abangnya." bela Alvaro pada putra pertamanya.


"Iya. Ade kaya papa yang selalu mengalah sama mama.." kekehnya di antara isak memikirkan anaknya yang belum bisa ia lihat.


"Tapi aku bisa jengukin kan. Bisa lihat ade..?"


Alvaro mengangguk mantap. "Dia kan juga butuh ASI dari mama. Biar bisa cepat nyusul abang."


"A-ASI?"


Selamat datang di dunia nyata seorang ibu. Yang harus siap memberi ASI dalam kondisi apa pun dan kapan pun.


***


Alvaro tidak menyangka istrinya akan sebesar hati ini mengetahui satu anak mereka sedang di rawat. Atau Tiara tidak histeris -atau apa lah- karena belum melihat keadaan putranya yang tubuhnya di penuhi peralatan medis.


Semoga saja besok pun saat istrinya di perbolehkan menjenguk putra kedua mereka, istrinya masih akan sebesar hati ini.


Lengkingan suara tangis abang mengagetkan dirinya yang sedang menyuapi Tiara makan.


Anak pertamanya yang sedang di gendong mommy Shevi dan di kerubuti oleh keluarga besar mereka menangis sangat kencang.


"Kenapa mom?"


"Terus.. aku harus ngapain?" tanya Tiara dengan polosnya.


Entah istrinya memang benar-benar tidak tahu jika bayi lapar itu harus menyusu. Atau istrinya panik karena tangisan anak mereka yang semakin menjadi.


"Di kasih ASI kak.. Ayo buka kancing atasnya. Biar mommy bantu gimana kasih nennya."


Tiara menatapnya horor. Memandangi sekeliling ruangan yang penuh dengan keluarga mereka.


"Maluuu moomm..." cicit Tiara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuat yang ada di ruangan tertawa.


Alvaro berdeham dan berbisik di telinga istrinya. "Kalo buat papanya gak malu." yang langsung mendapat sikutan dan tatapan tajam dari Tiara.


"Ya udah para ayah mohon keluar dulu.. Biar mama baru tidak malu." saran ibu yang langsung membuat daddy Alvin mengajak ayahnya untuk minum kopi di kafetaria.


Sedangkan nenna dan Oma sudah menghubungi sopir menjemput mereka. Mengucapkan beberapa wejangan dan ciuman hangat untuk Tiara juga abang, sebelum keluar ruang rawat.


"Kamu juga keluar sana Al.." usir istrinya yang langsung ia tolak mentah-mentah.


"Gak mau! lagian aku biasa lihat. Masa malu sama aku."


Tiara langsung mencibir dan mencubit pinggangnya. Membuat mommy dan ibu menggelengkan kepala dengan senyum geli.

__ADS_1


Ibu membantu meletakan bantal di pangkuan Tiara untuk bisa menyangga bayi mereka dalam posisi lurus.


Dengan perlahan mommy Shevi melatakan abang dalam buaian Tiara dan di sangga bantal. Membantu melepaskan beberapa kancing atas baju pasien Tiara dan mengeluarkan sumber kehidupan bayi mereka.


Ibu juga mengajari jika Tiara perlu memijat sumber kehidupan dengan tungkai tangannya sebelum di susukan kepada buah hati mereka.


Dengan perlahan tapi pasti, abang yang memang sudah menjerit lapar langsung melahap sumber kehidupannya. Mencecap dengan kuat.


"Ade pasti lapar juga." lirih Tiara dengan suara yang bergetar.


Alvaro tahu perasaan istrinya yang mungkin sedang tidak menentu. Melihat satu anak menangis kelaparan, pasti ia ingat dengan anak mereka yang satu lagi.


"Biar aku tengokin ade ke sana." Tiara mengangguk setuju.


Tepat saat dirinya meraih handle pintu. Seorang suster masuk.


"Gimana bunda.. apa ASInya lancar?" tanya suster dengan ramah. "Jika lancar, biar saya perah yang satu lagi agar baby yang lain bisa menyusu juga."


Niatnya untuk melihat bayi kecilnya di ruang NICU ia batalkan demi mengetahui apa yang akan suster lakukan.


Baru beberapa saat abang menyusu, sudah kembali menangis dengan lengkingan yang bahkan lebih kuat.


Tiara yang panik di tenangkan oleh suster. Ternyata ASI istrinya belum keluar. Sehingga anak mereka yang sudah kelaparan itu mengamuk karena sudah berusaha mencari sumber kehidupan tapi tak ada hasil yang ia dapatkan.


"Jangan panik ya bunda. Biar baby-nya tidak ikut panik."


"Ibu yang baru melahirkan memang banyak yang tidak langsung keluar ASInya. Bahkan kadang ada yang sampai tiga atau empat hari baru keluar. Itu normal dan tidak berbahaya."


"Untuk sementara karena adik bayinya sudah ngambek dan lapar. Ayah bisa membelikan susuformula. Hanya sampai ASI bunda keluar."


"Sering di susukan ya bun, karena itu bisa merangsang produsi ASI cepat lancar. Juga makan makanan yang bergizi. Perbanyak minum air dan istirahat yang cukup."


"Bisa di bantu dengan di pijat untuk meningkatkan jumlah ASI."


"Mudah-mudahan besok sudah keluar ya.. Biar adik gantengnya bisa cepat dapat ASI."


Alvaro mengucapkan terimakasih saat suster pamit. Ia juga pergi membeli keperluan kedua anaknya yang tadi di sarankan suster.


*


*


*


Othor-nya termasuk yang tiga hari gak keluar dulu 😭

__ADS_1


__ADS_2