
Jangan lupa yang belum di upgrade aplikasinya segera di upgrade. Biar vote kalian terhitung di sistim yang sekarang.
Happy Reading 💕
👑👑👑
Tiara dan Alvaro berangkat ke rumah sakit untuk melakukan terapi. Sekalian mau meminta dokter untuk mengirim terapis ke rumah saja, agar mereka tidak repot bolak balik.
Sebenarnya bisa saja menghubungi Bayu dan meminta langsung padanya untuk mengirim terapisnya. Sebagai pemilik rumah sakit, tentu itu hal yang sangat mudah Bayu lakukan. Terlebih itu untuk keponakannya sendiri.
Tapi, karena Alvaro ingin melihat langsung calon anaknya, sehingga mereka memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Sekaligus menanyakan kondisi Alvaro yang sering muntah-muntah.
Alvaro di bantu sopir untuk keluar dari mobil dan berpindah ke kursi roda. Di kejauhan Tiara seperti melihat orang yang ia kenal.
Tiara mendorong Alvaro menuju orang itu. Orang yang sedang berjalan menunduk memakai baju pasien.
"Sheril.." panggil Tiara saat mereka sudah dekat.
Sheril mengusap air matanya cepat dan mendongak. Menatap gadis yang sempat di benci saat dirinya SMA dulu.
"Wah..Wah.. Lihat siapa yang berdiri di depan gue sekarang. Pasangan yang gue jebak untuk di hancurkan, tapi malah bersatu dan menikah." ucap Sheril, masih dengan gaya menyebalkannya seperti saat dulu mereka saling bermusuhan.
Entah salah apa Tiara pada gadis itu. Sehingga Sheril amat membencinya. Bahkan hingga saat ini. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu. Dan di awal pertemua setelah sekian lama ini, Sheril masih menatapnya dengan kebencian.
"Oops ternyata bukan berdiri.. Sory Al, gue gak tau kalo sekarang lo... Lumpuh."
Tiara menarik napasnya dalam. Mencoba untuk tidak emosi kepada Sheril. Gadis itu terlihat jelas sangat lemah. Wajah pucat, mata merah bekas menangis, pipi yang lebih tirus serta mata cekung yang membuat Tiara iba. Sepertinya Sheril melewati hari yang berat.
"Lo sakit Sher?" tanya Tiara, mencoba peduli dan tak menghiraukan ejekan gadis itu pada suaminya.
"Bukan urusan lo!" jawab Sheril sinis. "Urus aja suami lo yang cacat itu!"
Tiara tahu, Sheril sedang menutupi kelemahannya dengan berkata kasar seperti itu. Berlagak kuat agar orang tak memandangnya lemah.
__ADS_1
Tiara seperti melihat dirinya dulu. Ketika SMA, Tiara mencoba menjadi gadis urakan, hanya untuk melindungi diri. Agar teman-teman sejenis Sheril ini tidak menghina dan merendahkannya.
Yaa meskipun itu tidak berlaku untuk Sheril and the geng. Tapi setidaknya tidak ada selain mereka. Coba jika Tiara masih Tiara yang lemah seperti saat Alvaro jahili saat SMP dulu. Yang hanya bisa menangis dan menatap benci dari jauh, tanpa berani melawan, tanpa berani mengadu. Mungkin jika di SMA dia masih gadis cengeng yang sama, akan banyak Sheril-Sheril yang lain yang akan menghina dan menjatuhkannya.
"Lo gak perlu khawatir. Suami gue tercinta ini, sudah pasti gue urusin kok." ucap Tiara dengan membelai pipi Alvaro dari belakang.
"Gue juga gak niat buat ngurusin lo juga sih. Cuma sebagai seseorang yang saling kenal di masa lalu, gue hanya sekedar ingin tau keadaan rival gue saat ini." imbuhnya tak kalah pongah.
Sheril berdecih. "Bagus lah. Se-enggak-nya gue tau gak hanya gue yang menderita." ucap Sheril dengan melirihkan suaranya di akhir kalimat.
"Udah ayo yank. Udah di tungguin sama dokternya." Alvaro tahu, tidak akan selesai jika istrinya sudah berdebat dengan Sheri. Jadi lebih baik ia mengajak istrinya untuk menyingkir dari sana.
"Cepet sembuh Sher. Gue duluan." meski dengan nada tidak ramah. Tapi doa yang Tiara sampaikan tulus.
Tiara berharap Tuhan memberikan kesembuhan untuk Sheril dari apa pun penyakit yang di deritanya saat ini. Melihat gadis itu tidak sebersinar dulu, rasanya Tiara tidak tega.
Tiara akan lebih memilih berdebat dan berkelahi dengan Sheril yang sehat. Dari pada melihat rivalnya yang lemah seperti itu.
Perjalanan menuju ruang terapi di isi dengan keheningan. Pikiran Tiara masih berkelana. Bertanya-tanya sakit apa yang membuat Sheril bisa semenyedihkan itu.
"Gak papa. Cuma lagi mikiri gimana perkembangan kamu kali ini." kilah Tiara. Alvaro tidak akan suka Tiara memikirkan hal lain. Semenjak tau hamil, Alvaro melarangnya banyak berpikir. Katanya dia hanya perlu menikmati masa kehamilannya dan biar Alvaro yang bertuga membuatnya bahagia. Agar bayinya sehat dan tumbuh ceria.
"Kamu gak perlu mikirin itu sayang." tuh, lihat kan?
"Aku akan berusaha untuk kembali bisa berjalan untuk menyambut anak-anak kita. Tidak lucu jika aku harus berlatih berjalan bareng mereka. Jangan sampai mereka lebih dulu bisa berlari dari pada aku."
Tiara terkekeh dan mengecup kepala suaminya dari belakang. "Pasti kamu bisa. Papa-nya anak-anak kan pria paling hebat. Jadi papa yang akan menemani mama melahirkan. Dan saat itu, papa sudah tidak lagi memakai kursi roda ini." ucap Tiara yakin
Dalam hati, Tiara mengaminkan ucapannya sendiri. Berdoa dengan setulus hati untuk kesembuhan suaminya. Agar Alvaro kembali bisa beraktifitas seperti biasa.
Tiara juga sebenarnya rindu ingin di gendong Alvaro. Semacam ngidam begitu. Tapi Tiara tidak mungkin memintanya kan? sudah gila apa dia ngidam ingin suaminya menggendong dengan kondisi seperti itu.
"Iya. Terakhir kali, aku kan sudah bisa bertahan saat di angkat kakinya."
__ADS_1
"Oh ya? waahh aku seneng dengernya yank. Aku yakin kali ini kamu lebih hebat lagi. Karena hari ini terapinya di temani mama dan adek. Jadi papa harus lebih semangat dari yang sudah-sudah. Oke?"
Tiara membungkukan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan sang suami. Memiringkan kepala dan menatap suaminya dari samping. Alvaro mengangguk dan tersenyum. Mengecup bibir istrinya sekilas sebelum memasuki ruang terapi.
Terapi masih di lakukan seperti waktu itu. Dokter mengangkat kaki Alvaro agar lurus dengan posisi duduknya. Alvaro berusaha menahan kakinya dalam posisi itu selama yang dia mampu.
Tiara bersorak senang, saat Alvaro mampu menahan kakinya lebih dari satu menit. Berlatih itu berulang-ulang.
"Ke tahap selanjutnya ya dok. Kan ini sudah bisa lumayan lama."
"Waah ada yang semangat dan tidak sabar untuk kembali berjalan." goda dokter laki-laki yang menjadi terapis Alvaro.
Beberapa kali Alvaro memang seperti tidak ada semangat. Jadi saat melihat Alvaro semangat seperti itu membuat sang dokter juga semangat.
"Iya dong dok. Kan di temani anak istri. Malu kalau tidak semangat." ucap Alvaro dengan bangga.
"Waah lagi hamil? saya yang lebih tua malah kalah star ya. Masih jomblo saja saya ini." kelakar dokter. Membuat Alvaro, Tiara dan dua perawat yang ada di sana tertawa.
Kali ini dokter membantu Alvaro untuk berdiri.
"Kita latihan berdiri. Jangan dulu jalan. Kamu cukup diam beberapa saat. Kalau kamu merasa belum kuat, langsung duduk saja jangan di paksakan. Tapi kalau bisa lebih dari satu menit, kamu coba langkahin kaki kamu perlahan" ucap dokter memberi instruksi. "ingat! per-la-han." dokter menekankan poinnya.
Alvaro mengangguk. Dokter dan perawat melepaskan tubuh Alvaro secara perlahan. Tiara menutup mulutnya saat Alvaro bisa berdiri tanpa di pegangi.
Tapi saat dokter memperbolehkan Alvaro untuk melangkah, Alvaro langsung terjatuh. Untung ada suster laki-laki yang siap di depan Alvaro
"Sudah. Tidak apa-apa. Kita bisa mulai lagi besok. Bisa coba jalan dengan berpegangan nanti kalau sudah lancar berdirinya. Bisa coba jalan pakai tongkat dulu juga." dokter memberi semangat.
Alvaro yang kembali duduk di atas kursi roda menunduk sedih. Semangatnya padahal sudah luar biasa hari ini Tapi tetap saja gagal.
*
*
__ADS_1
*