
Sesampainya dirumah Alvin langsung menghampiri maminya yang sedang sibuk membantu pelayan dirumah memasak makan siang.
" Assalamualaikum mih. " Alvin langsung memeluk maminya dari belakang dan mencium pipnya.
Alvin sangat menyayangi maminya. Apalagi dia anak satu-satunya jadi cenderung manja jika sedang bersama maminya.
" Kamu dari mana baru pulang sayang. " usapan lembut dikepala dia dapatkan dari mami.
" Tadi nungguin Shevi mih.. Dia ada tambahan kelas musik. " Alvin beranjak duduk dimeja makan dan memakan bolu yang terhidang disana.
" Tumben pulang bareng Shevi.. Bukannya kata kamu dia kaya nggak kenal. " mami jadi tertarik saat mendengar Shevi
Karena diantara anak sahabatnya Karina yang dekat dengannya hanya Shevi. Walupun sayangnya kepada Shera dan adiknya juga sama besarnya.
" Iya katanyanya dia takut sama fans-fans Alvin disekolah mih.. Tadi juga karena mang udin gak masuk aja makanya dia mau berangkat sama pulang bareng Alvin. "
mami terkekeh saat tahu alasan Shevi tak mau dekat dengan Alvin disekolah.
" Ada-ada saja kalian tuh.. Ya sudah sana ganti baju, mami tungguin kita makan siang. " titah ibu negara.
" Siap bu, laksanakan! "
Alvin beranjak berdiri dan memberi hormat layaknya polisi. Lalu mengambil tas dan melangkah pergi menaiki lantai dua dimana kamarnya berada. Mami hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
***
Sementara dikediaman Shandika Shera yang tengah duduk dibalkon rumahnya melihat saudara kembarnya pulang diantar Alvin, abang kesayangannya.
Terbesit rasa iri yang tak sepatutnya dia rasakan untuk Shevi. Dia sadar dia tak boleh merasa seperti itu. Toh mereka hanya pulang bersama. Bukan apa-apa, ya bukan apa-apa. Dia meyakinkan hatinya sendiri.
__ADS_1
Sejak ayahnya tiada perasaan Shera kepada Alvin berubah. Rasa itu mulai tumbuh. Bukan lagi rasa sayang untuk abangnya. Tapi rasa seorang remaja kepada lawan jenis.
Karena Shevi sibuk menemani dan menghibur bundanya. Sehingga Alvin yang mendapat tugas untuk menghibur Shera. Menemaninya setiap hari, mengajaknya jalan-jalan sebagai pengalihan dari rasa sedihnya.
Shevi terlihat lebih kuat. Makanya mami menyuruhnya menghibur Shera.
Karena interaksinya yang sering itulah rasa sayang iu tumbuh menjadi sayang kepada lawan jenis.
Shera keluar dari kamarnya menuju kamar Shevi yang berada tepat disebelah kamarnya.
Tok tok tok
Dia mengetuk kamarnya beberapa kali dan tak lama kemudian daun pintu itu menampakan adiknya yang kelihatanya habis dari kamar mandi, terlihat dari mukanya yang masih basah serta handuk yang menyampir dipundaknya.
" Kak Shera.. Ayo masuk kak. " ajaknya sambil membuka pintu lebar-lebar.
" Tadi pulang bareng bang Alvin ya dek? " Shera langsung bertanya dan mendudukan dirinya di sofa yang ada kamar Shevi.
Shevi juga langsung duduk disebelah kakaknya.
" Iya kak.. Tadi pagi ga dapet taxi kebetulan abang lewat jadi nebeng deh.. " kikik Shevi
Dan mulailah cerita dirinya disekolah sampai hal terkecil. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam kalau sudah saling bercerita seperti ini.
Kedua kembar itu memang dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Shevi juga bisa menangkap jika Shera mulai menyukai Alvin sebagai seorang remaja dari setiap antusiasnya bertanya tentang Alvin. Dari setiap binar matanya jika nama Alvin disebut.
Shevi tidak keberatan jika kakaknya menyukai Alvin. Toh Alvin cowok yang baik dan dari keluarga baik juga. Jadi dia rasa Alvin dapat menyayangi dan menjaga saudara kembarnya ini.
" abang kaya gimna si dek kalo lagi disekolah ? " tanyanya dengan mata berbinar
__ADS_1
" gimana ya ka.. hmmm dia tuh cool si kalo disekolah, keren si.. banyak juga yang ngejar - ngejar abang, selalu aja ada cewek yang nempel ngintilin. makanya kalo istirahat suka ngajakin gue ke kantin. katanya biar ga ada yang nempel kaya ulet bulu hahahah " Shevi terbahak jika mengingat gimana cewek - cewek seniornya yang nempelin Alvin
" kak Shera suka ya sama abang ? hayooo ngaku " ledeknya lagi.
" apa si dek.. ga ya " kilahnya sambil memalingkan mukanya yang bersemu.
" abang baik kok.. Shevi si setuju aja kakak sama abang " imbuhnya kemudian.
Shevi sellalu ingin yang terbaik dan akan melakukan apapun agar bunda, kakak dan adiknya bahagia.
Shevi memang lebih dewasa dalam bersikap. Dia juga lebih bisa menguasai hati dan emosinya. Terbukti dari ketegarannya saat sang ayah pergi untuk selamanya.
" Kakak kapan bisa kaya kamu ya dek.. Punya banyak temen, punya banyak cerita. " akhirnya rasa keputusasaan yang selama ini dia pendam keluar juga dari bibirnya.
" Kak Shera.. " Shevi paling tidak bisa melihat keluarganya bersedih.
" Kakak jangan ngomong gitu dong.. Kakak harus semangat dan rajin minum obatnya biar kakak bisa makin membaik. " peluknya memberi semangat dan melanjutnya lagi kata-katanya.
" Katanya kak Shera pengen jadi dokter.. Jadi kakak harus semangat biar bisa kuliah dan meraih mimpi kak Shera ya. "
" Kakak ga tau dek apa kakak bisa jadi dokter.. Kamu tahu sendiri kan jadi dokter tuh perjuangannya berat.. Kakak mana mampu. " Shera melepaskan pelukan adiknya sambil berkaca-kaca.
" Yang aku usahain sekarang hanya agar aku bisa sehat dan tidak lagi drop. Biar kalian ga sedih lagi. Terutama bunda, kasihan bunda sudah berjuang keras buat kita. Jadi aku ga mau nambahin beban bunda dengan penyakitku. " sebuah senyum dia tampilkan agar dia terlihat tegar didepan adiknya yang lebih dewasa ini.
Bunda yang niatnya mau melihat anak-anaknya saat baru pulang kerja, kakinya berhenti diambang pintu saat mendengar curhatan hati anak sulungnya.
Ibu mana yang tak sedih mendengar anaknya berkata seperti itu. Akhirnya dia tak jadi masuk dan berlalu pergi dari kamar tersebut.
Happy Reading.. selamat beraktifitas 💕
__ADS_1