DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Tembakan Dika


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir classmeeting, karena besok tinggal tugas orang tua untuk mengambil rapot. Melihat hasil kerja keras anak-anak mereka selama satu semester ke belakang. Banyak orang tua yang pulang dengan bangga karena anaknya mendapatkan hasil memuaskan, bahkan sampai dapat peringkat. Tapi tak jarang pulang orang tua yang pulang membawa emosi ingin segera menjewer kuping anaknya, karena nilai-nilai anak mereka yang merah.


Semua sudah berusaha keras, ayah berusaha mencari uang untuk biaya hidup dan pendidikan anak, ibu berusaha merawat anak agar tumbuh dengan baik. Dan anak juga sudah berusaha belajar dengan maksimal untuk membalas jerih payah orang tuanya dengan prestasi, mencoba membuat orang tuanya bangga punya anak seperti mereka. Apa pun hasilnya, jangan sampai saling melukai. Cukup saling mendukung dan memberi semangat. Mendekap sang anak dan ucapkan bangga karena si anak sudah bekerja keras.


Pasangan muda yang baru menyandang status pernikahan beberapa hari yang lalu juga sedang berdebat di dalam mobil, mendebatkan siapa yang akan jadi anak kesayangan orang tua mereka.


"Gue yakin, pasti besok gue yang jadi juara kelas! biar mommy gak banggain lo mulu!" ujar Tiara dengan yakin. Dia merasa kesal dengan mommy Shevi yang selalu membanggakan Alvaro dan selalu bilang menantu idaman. Udah ganteng, pintar katanya. Padahal Tiara juga tidak kalah pintar, tapi di mata mommy Shevi, Alvaro selalu yang terbaik. Bahkan setiap kali telepon, yang di tanya selalu Alvaro.


"Sejak kapan sih lo pernah gantiin posisi gue di juara umum?" sombong Alvaro.


"Jangan sombong tuan muda! gue cuma kebanyakan kena skorsing aja, makanya gak pernah naik podium!"


"Lomba kali ah, podium!" celetuk Alvaro, membuat Tiara melirik tajam.


"Besok siapa yang ambil rapot lo Al?" tanya Tiara setelah lama hening mengambil alih.


"Daddy." jawab Alvaro pendek.


"Kok daddy?" pekik Tiara tidak terima.


"Ya kan mommy yang ambil rapot lo! jadi daddy bilang mau ambilin rapot gue!"


"Emang ibu gak mau ambilin Al?" tanya Tiara hati-hati, takut membuat suaminya sedih.


"Bukan gak mau. Tapi gue gak kasih tau!" jawab Alvaro biasa saja. "Kan gue mau buktiin dulu kalo gue bisa sukses, baru gue balik ke rumah itu. Jadi biarin dulu gue pinjem bokap lo!" imbuhnya.


Tiara menatap sedih suaminya. "Daddy kan juga bokap lo Al, jadi lo gak perlu minjem. Itu emang tugas daddy." suara Tiara berubah lembut.


"Tumben lo manis sama gue!" goda Alvaro tidak ingin Tiara merasa bersalah dengan keadaannya saat ini.


"Maaf ya Al, gara-gara daddy nyuruh kita nikah, lo jadi di buang." Tiara menunduk sedih.

__ADS_1


"Siapa bilang gue di buang! ayah cuma lagi menempa gue biar bisa jadi lelaki kuat dan bertanggung jawab." ucap Alvaro sembari mengusap rambut Tiara, mencoba menenangkan.


"Tapi tetep aja-" ucapannya terpotong saat Alvaro memajukan tubuhnya, membuat mereka dalam jarak yang sangat dekat. Tiara yang merasa gugup, memundurkan kepalanya agar sedikit menjauh. "L-lo mau ngapain?" tanya Tiara terbata.


"Gak perlu merasa bersalah. Anggap aja gue jadi bisa jagain lo dari cowok-cowok brengsek yang mungkin suatu hari nanti deketin lo. Dan lo bantuin gue buat lebih mandiri." ucap Alvaro dengan lembut.


Posisi mereka yang sangat dekat membuat Tiara bisa merasakan napas hangat suaminya, membuat jantungnya berdetak tak karuan. Hingga bunyi "klik" terdengar dan terlepasnya sabuk pengaman dari tubuhnya yang Alvaro lepaskan.


"Udah sampe, ayo turun! tar dikira kita mesum di mobil lagi." ujar Alvaro santai dan menjauhkan tubuhnya, tidak sadar sudah membuat jantung Tiara jungkir balik.


Alvaro yang sudah menutup pintu mobil mengernyit saat Tiara tak juga keluar. Memutar mobil dan membuka pintu dimana Tiara duduk.


"Ayo turun! mau gue kunciin!" ancam Alvaro. Tiara mencebik dan segera turun, masih dengan jantung yang belum bisa gadis itu kondisikan.


"Modus banget lo! bilang aja kalo mau di bukain pintu!" cibir Alvaro yang berjalan lebih dulu.


Tiara menghentakkan kakinya kesal. Bagaimana mungkin jantungnya berdetak tidak karuan sama cowok menyebalkan model Alvaro.


Cinta siapa yang tahu kapan dan pada siapa dia akan berlabuh. Seperti Dika yang tidak bisa mengendalikan perasaannya kepada Tiara. Gadis yang baru ia kenal satu semester ini.


Melihat Tiara yang semakin hari kian dekat dengan Alvaro, membuat ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada gadis pujaannya itu. Dika tidak ingin kalah dari Alvaro untuk mendapatkan cinta Tiara. Tanpa Dika tahu, sebenarnya pemuda itu memang sudah kalah telak dari Alvaro.


Alvaro bukan hanya memiliki Tiara sebagai kekasih. Tapi dia memiliki Tiara sebagai teman hidup yang akan dia jaga dan sayangi sampai mati.


Alvaro melambatkan langkahnya, manatap bingung pada kerumunan siswa yang memenuhi lapangan utama. Hari ini memang hanya tinggal pembagian hadiah bagi yang memenangkan lomba-lomba seminggu kemarin.


"Ada apa ya Al, rame banget?" tanya Tiara yang sudah di samping Alvaro. Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya.


Semakin mendekat, seperti sudah terkomando, lautan manusia itu membuka jalan untuk Tiara agar menuju ke pusat keramaian itu.


Tiara yang tidak curiga apa pun, berjalan semakin ke tengah lapangan. Disana ada Dika berdiri dengan memegang pengeras suara dengan satu tangan di belakang punggung.

__ADS_1


"Akhirnya yang di tunggu datang juga." ucap Dika yang menjadi pusat perhatian. "Aku udah hampir gosong nungguin kamu Ra!" imbuhnya lagi sembari terkekeh.


"Lo ngapain sih Dik?" bisik Tiara, menoleh ke kiri dan kanan, malu karena menjadi pusat perhatian, banyak juga bisik-bisik yang berdengung.


"Sory ya Ra, kalau cara aku kampungan." ucap Dika pelan. Tapi tetap saja namanya pakai pengeras suara pasti semua dapat mendengarnya. "Aku hanya ingin semua orang tahu." imbuhnya.


"Mungkin kita memang baru mengenal beberapa bulan ini. Tapi setiap momen yang kita lalui bersama, itu sangat berharga buat aku."


Tiara sekarang tahu kemana arah dan maksud Dika. Gadis itu melirik ke belakang, dimana Alvaro berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ada Pricilla juga di sebelah Alvaro.


"Kamu gadis pertama yang mampu menggetarkan hati aku, gadis pertama yang mempu membuat aku nyaman di dekat kamu." Dika melangkah lebih dekat dengan Tiara, mengikis jarak hingga menyisakan beberapa langkah saja.


"Aku gak tau kapan perasaan ini bermula, tapi setiap melihat senyum manismu, aku terpaku. Setiap melihat mata indahmu, aku membeku. Tiara, aku cinta padamu." Dika mengulurkan buket bunga mawar kepada Tiara.


Tiara membeku di tempat, padahal ia sudah mengira akan begini akhirnya. Namun tetap saja, di situasi begini rasanya sungguh tidak nyaman bagi seorang Tiara.


"Tiara Ashana Mahesa, maukah kamu menjadi kekasihku." sorak sorai mengiringi mereka. Ada yang bersorak untuk di terima. Ada yang bersorak histeris karena patah hati. Seperti Sheril yang langsung pergi dengan sejuta emosi.


Tenggorokan Tiara rasanya kering, membuatnya susah untuk menelan ludahnya sendiri. Bingung harus menjawab apa. Saat menatap suaminya, Alvaro hanya mengangkat sebelah alisnya dan pergi menjauh.


"Ra?" panggil Dika.


Tiara menerima buket bunga. "Mmm Dika..."


*


*


*


Kira-kira gimana nih? di terima gak?

__ADS_1


Kencengin dong Like, Komen sama vote-nya 😁💕


__ADS_2