
Rasa panik menyergap Alvin saat mami Lyra menelepon dan mengabarkan kalau Shevi sudah berada di rumah sakit. Dari pagi selepas Alvin berangkat istrinya itu sudah mulai merasakan kontraksi - kontraksi kecil. Rasa mulas yang berawal dari satu jam sekali berangsur bertambah intensitasnya menjadi setengah jam sekali dan terakhir sebelum di larikan ke rumah sakit, Shevi sudah merasakan rasa mulas tiap lima belas menit sekali.
Semenjak kehamilan Shevi menginjak usia delapan bulan, Alvin memboyong anak dan istrinya kerumah orang tuanya. Karena hanya mami Lyra yang tidak bekerja dan dapat menjaga Shevi dengan baik.
Alvin sempat marah karena tidak diberitahu sejak awal. Tapi amarahnya tergantikan dengan rasa cemas yang amat sangat ketika mendengar istrinya menjawab dengan rintihan yang tertahan. Alvin tahu istrinya mencoba menenangkannya, tapi Alvin lebih tahu jika istrinya sedang kesakitan dan menahannya. Jadi yang dilakukan Alvin saat ini adalah membawa mobilnya dengan kecepatan penuh untuk segera sampai di rumah sakit.
Membunyikan klakson sambil mengumpat saat mobil didepannya tak kunjung jalan padahal lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Mengendurkan dasinya secara kasar dengan perasaan yang kian tak menentu.
Berbagai macam pikiran bersliweran di otaknya. Akankah istrinya sanggup untuk melahirkan kedua anak mereka? Akankah dia mampu dan tega melihat istrinya kesakitan? Haruskah ia membujuk Shevi untuk melakukan operasi saja? Tapi dia tau itu takan mungkin terjadi. Semua orang sudah membujuk, tapi istrinya itu tetap teguh dengan keinginannya untuk melahirkan normal.
Sesampainya Alvin di rumah sakit, dia langsung berlari menuju ruang bersalin yang sebelumnya mami Lyra infokan. Di depan ruangan itu sudah ada Mami serta papinya dan Rasya.
" Kamu cepat masuk. Sepertinya anak - anakmu hanya sedang menunggumu untuk lahir. " Kata Mami Lyra mengusap lengan anaknya begitu Alvin mendekat. Alvin mengangguk dan langsung memasuki ruangan bersalin.
Istrinya menyambut Alvin dengan senyuman yang terlihat letih, mendekat menggenggam tangan istrinya dan memberi kecupan di dahi wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan anak - anaknya.
" Kamu kuat sayang. Kamu pasti bisa. Aku akan di sini nemenin kamu. Jadi kamu harus semangat ya sayang. " Kata penyemangat dari Alvin membuat semangat Shevi untuk melahirkan anak - anaknya semakin bertambah.
Bunda yang sebelumnya menemani Shevi kini keluar setelah Alvin datang. Tim dokter dan perawat sedang sibuk menyiapkan segala perlengkapan untuk proses persalinan.
Shevi berbaring dengan posisi miring. Sesekali dia akan meremas tangan Alvin kuat dan merintih kesakitan saat kontraksi itu datang. Alvin dengan sabar mengelap keringat diwajah, mengusap perut dan bunggung sang istri bergantian sembari terus memberikan kata sayang dan penyemangat. Sesekali juga mengajak anaknya berbicara agar mereka mau berjuang dengan Mommy mereka agar mereka bisa cepat bertemu. Dan tentu saja agar istrinya segera terbebas dari rasa sakit itu.
" Sakit maaass.. " Rintih Shevi lagi. Alvin sendiri sangat gugup dan khawatir yang dia coba tutupi.
" Sabar ya sayang. Kamu harus kuat demi anak - anak kita. Tiara dirumah pasti udah gak sabar nunggu adik - adiknya pulang. " Kalau bisa, dia ingin menggantikan rasa sakit yang istrinya rasakan. Alvin sungguh tidak tega melihat wajah pucat istrinya yang dipenuhi peluh dan ringisan rasa sakit.
__ADS_1
Alvin membantu istrinya untuk minum, untuk sedikit menambah energi istrinya. Berusaha tenang agar istrinya tidak ikut panik. Ini proses melahirkan secara normal pertama bagi istrinya. Alvin tahu ada rasa khawatir yang tidak pernah Shevi sampaikan kepadanya.
" Mas.. Aku kaya pipis tapi banyak. " Ucap Shevi dengan setetes air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
" Hah? " Alvin bingung. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung memanggil dokter dan memberitahu yang tadi istrinya katakan.
" Saya cek dulu ya Mom.. " Kata dokter kandungan yang menangani Shevi dari awal kehamilan dengan lembut. Dokter mengecek bagian inti Shevi.
" Baik Mom. Pembukaanya sudah lengkap dan ketuban sudah pecah. Sekarang ikuti instruksi dari saya dan bersiaplah mengejan seperti yang diajarkan pada kelas hamil. Mom ingat kan? " Shevi mengangguk dengan menahan rasa sakit.
" Untuk daddy-nya, suport dari daddy sangat berarti bagi mommy dan anak yang akan di lahirkannya. Jadi bantu dengan suport dan doa ya.. " Alvin juga mengangguk. Membelai dan memberikan kecupan di dahi istrinya.
" Kamu pasti bisa yank.. " Cengkeraman Shevi semakin kuat saat kontraksi itu datang.
" Mari kita mulai. Tarik nafas dalam - dalam dan dorong!! " Shevi mengikuti apa yang di instruksikan.
Sungguh Shevi tidak pernah membayangkan rasanya akan sesakit ini. Rasa panas dan nyeri yang menjalar disepanjang tulang punggungnya dan perut. Dan rasa sakit yang teramat saat kontraksi itu datang. Adakah rasa sakit yang seperti ini. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan.
Kata orang, sakitnya orang melahirkan seperti dua puluh tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Tapi Shevi ikhlas merasakannya. Dengan membayangkan bayi - bayi mungil yang sebentar lagi akan ia dekap.
" Ayo mom tarik nafas lagi dan dorong. Kepala baby'nya sudah terlihat!! " Shevi semakin bersemangat saat dokter menyampaikan hal tersebut setelah percobaan mendorong beberapa kali yang nyaris membuatnya menyerah jika tidak ingat bayi - bayinya dalam bahaya jika tidak segera ia lahirkan. Dan untung suaminya setia menemani dan memberikan support meskipun dapat ia lihat wajah suaminya yang basah karena air mata.
" Huft.. huft.. huft.. Uuuggghhhh.. " Sekali lagi Shevi mendorong dan suara tangisan pertama terdengar.
" Ooeeekkk.. Oooeekkk.. " Tangisan yang begitu kuat keluar dari bibir mungil anaknya.
__ADS_1
Hati Alvin bergetar hebat hingga air matanya semakin deras tanpa ia sadari. Ini tangisan bayi pertama yang ia dengar. Dan rasanya tidak bisa dijabarkan dengan kata - kata. Tidak ada kebahagiaan yang dapat melebihi saat ia mendengar suata tangis anaknya untuk pertama kali sesaat setelah lahir kedunia.
" Selamat Mommy dan Daddy, anak pertama yang lahir laki - laki. " Alvin tersenyun saat prediksinya benar. Ada jagoan didalam perut istrinya.
" Raka Jovan Mahesa. " Celetuk Alvin saat bayi itu di letakkan di atas dada sang istri untuk menyusui dini.
" Nama yang bagus. Aku suka. " Jawab Shevi lirih membelai putra pertama dalam keluarga kecilnya. Wajah Shevi juga tak kalah banjir dengan air mata.
Tak lama Shevi merasakan kontraksi kembali. Suster mengambil Raka untuk dibersihkan, sedangkan Shevi kembali lagi menarik nafas dan berusaha mendorong anaknya keluar. Proses kelahiran anak yang ketiganya ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Alvin membelai dan mengecupi istrinya berkali - kali. Bukan hanya untuk menenangkan istrinya, tapi juga untuk menenangkan hatinya sendiri yang serasa jungkir balik.
" Uuuggghhh.. " Dorongan kedua Shevi upayakan dan kembali terdengar suara yang lebih pelan dari suara Raka yang begitu kuat.
" Kalau yang ini cantik seperti mommy-nya. " Dokter kembali meletakkan bayi yang baru saja Shevi lahirkan ke dada Shevi setelah sebelumnya memotong tali pusarnya.
" Kalau yang ini siapa namanya mas? " Tanya Shevi saat suaminya tidak langsung memberi nama seperti tadi. Saat menengok ternyata suaminya sedang terduduk lemas di lantai. Merasa lega yang luar biasa saat kedua anaknya lahir dengan selamat dan istrinya sehat. Lutut Alvin rasanya seperti mau copot saking lemasnya. Tapi sekuat tenaga dengan berpegangaan pada tepian bed dia berdiri dan menciumi seluruh wajah istrinya.
" Makasih sayang.. Makasih sudah mau mengandung dan berjuang untuk melahirkan anak - anakku. Aku janji akan memperlakukan kamu dengan baik. Aku melihat sendiri bagaimana kamu berjuang. Dan aku akan lebih nurut sama mami. Karna seperti ini juga usaha mami untuk aku lahir ke dunia. " Shevi tersenyum dan mengangguk.
" Princess daddy yang satu ini daddy kasih nama Reina Almahyra Mahesa. " Jawaban untuk pertanyaan Shevi sebelumnya dengan memegang tangan mungil anak ketiganya. Putri kecil yang cantik dan mirip istrinya.
Alvin mengadzani kedua bayinya bergantian setelah menemani istrinya menyelesaikan proses persalinan. Kebahagiaan keluarga itu semakin lengkap dengan kehadiran bayi kembar mereka. Menutup segala duka lara yang pernah mereka lalui. Mengganti semua kesedihan Shevi dalam menjalani rumah tangga ini dengan kebahagiaan yang lebih besar dari kedua bayinya dan juga putri sulungnya. Diusianya yang sebentar lagi dua puluh enam tahun, kini Shevi sudah menjadi ibu beranak tiga. Shevi tersenyum bahagia dengan setatus barunya kini. Kebahagiaan yang bukan hanya dirinya saja yang merasakan, tapi juga orang - orang disekeliling yang menyayanginya.
- TAMAT -
*
__ADS_1
*
Kebahagiaan juga buat author karena sudah menyelesaikan season satu. Ditunggu untuk season duanya yah.. Makasih sudah menemani Shevi dalam suka dan dukanya sampai akhir selama tiga bulan ini. Jangan lupa Like, Komen dan jika ada poinnya biar authornya tambah semangat garap season dua 💕