
Semua berjalan dengan baik. Hubungan mereka juga tanpa kendala. Satu tahun terakhir di sekolah, mereka jalani dengan suka cita. Saling berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik di ujian akhir. Berharap kali ini Tiara bisa mengalahkan suaminya.
Alvaro juga dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, dan tidak lagi menerima tawaran proyek apa pun selama tiga bulan sebelum ujian akhir sekolah.
Uang dari kerja kerasnya atas proyek perumahan daddy Alvin belum bisa ia pakai untuk mengajak istrinya berbulan madu, mengingat kesibukan mereka mempersiapkan ujian akhir.
Hubungan yang kian membaik antara keduanya tak hanya membawa kebahagiaan untuk Alvaro dan Tiara saja. Tapi untuk keluarga mereka berdua, juga untuk teman sekelas mereka yang di tahun terakhir bisa belajar dengan tenang tanpa adanya kerusuhan yang di buat oleh pasangan Mahkota Kekaisaran itu.
Hubungan mereka masih selayaknya pasangan kekasih. Mereka ingat untuk tidak melampaui batas mengingat umur mereka yang bisa di bilang masih di bawah umur. Kecupan selamat pagi dan pelukan hangat saat tidur sudah cukup untuk pasangan muda itu.
Tiara dan Alvaro kerap bercanda bersama di taman sekolah menikmati makan siang yang mereka bawa dari rumah. Dan Dika hanya mampu menatap mereka dari jauh tanpa berani mendekat. Tidak ingin menjadi pengganggu hubungan mereka.
Dika berusaha berdamai dengan kekalahannya. Mengikhlaskan gadis pujaannya berbahagia dengan pemuda pilihan gadis itu. Meski kadang sakit melihat bukan dia tempat Tiara tertawa lepas, bukan dia alasan Tiara untuk bahagia. Kebahagiaan Tiara dengan Alvaro membuatnya melangkah menjauh, menghindari pasangan itu dimana pun dia berada.
Rahasia tentang pernikahan mereka juga masih aman tersimpan. Membuat kehidupan Alvaro dan Tiara di sekolah berjalan bagaimana mestinya.
"Al.. buruan dong.. ngapain aja sih lo lama banget?" teriak Tiara dari ruang televisi, menunggu sang suami yang tidak juga keluar, padahal hari semakin siang. Bisa-bisa mereka telat jika suaminya tak keluar juga.
"Iya sabar sayang.. Lagian ngambil surat kelulusan doang." mendekat kearah istrinya yang melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah di tekuk.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir yang mengerucut menggemaskan itu. "Jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang."
"Terus kalo gue gak cantik lagi, lo mau apa? cari cewek lain?" Tiara semakin kesal di buatnya.
Alvaro menghela napas. Istrinya jika sedang PMS memang kadang menyebalkan.
"Ya gak lah sayang.. Mana mungkin ada cewek yang lebih cantik dari istri gue ini." mencubit kedua pipi istrinya. "Kalo pun ada, gue gak mungkin ke goda. Cintaku padamu itu seperti bola. Gak ada ujungnya." gombalan receh di pagi hari. Nyatanya Tiara terkekeh juga mendengar gombalan tak bermutu dari suaminya yang memang tidak pandai merayu dengan kata-kata romantis.
__ADS_1
"Gitu dong ketawa." mengusap puncak kepala sang istri, memberikan ciuman di sana.
"Udah yuk, ntar tambah kesiangan." ajak Alvaro.
Tiara mengangsurkan tangannya untuk di gandeng sang suami dengan ekspresi menggemaskan. Membuat Alvaro langsung menyambut tangan Tiara dan mencium punggung tangannya sebelum menggandenganya keluar apartemen.
***
Suasana sekolah sudah riuh dengan anak-anak kelas 12 yang sedang deg dengan menunggu pengumuman yang akan di sampaikan secara langsung oleh kepala sekolah.
Banyak anak yang membawa cat semprot, smokebomp(asap warna warni), holy powder (tepung/bubuk warna), serta tak lupa sepidol aneka warna untuk membubuhkan tanda tangan atau kata kenangan pada baju seragam teman-teman mereka.
Tiara juga menyiapkan satu spidol dalam sakunya dengan warna greenlight. Sebagai tanda jika teman-temannya telah memberikan warna terang dan ceria dalam kehidupan SMA-nya.
"Pokoknya gue mau jadi yang pertama yang coret baju lo!" seru Tiara saat melangkah ke lapangan, berbaris dengan siswa-siswi yang lain menunggu pengumuman.
"Gak janji lah Ra.. Kan gue barisannya juga bareng anak-anak cowo. Masa gue harus nyari lo dulu." protes Alvaro tidak setuju. Terlalu terlihat bucin menurutnya.
"Kalo untuk itu paduka ratu tenang aja. Paduka raja sudah menyiapkan tempat istimewa di hati untuk ratu." selorohnya. Membuat Tiara melayangkan pukulannya di lengan sang suami dan mereka tergelak bersama.
Tepat setelah mereka memasuki barisan masing-masing, acara di mulai. Di depan, kepala sekolah menyampaikan rasa bangga dan sedih untuk melepas mereka semua. Di lain sisi, dewan guru membagikan surat kelulusan yang masih terlipat rapi dalam amplop kepada siswa sesuai dengan nama mereka.
"Sebahagia apa pun kalian nanti, ibu harap segala bentuk euforia hanya di lakukan di sekolah. Jangan membawa segala kerusuhan yang tak terkendali di luaran sana. Lakukan euforia kalian semau kalian di sini, tapi tetap jaga prasarana yang ada. Mengerti?" wejangan kepala sekolah setelah selesai dengan pidatonya.
"Mengerti!" seru seluruh siswa bersamaan.
"Sekarang kalian boleh membukan surat yang kalian pegang."
Dengan hati berdebar, Tiara dan seluruh siswa lainnya membuka surat yang masih tersegel. Berharap melihat tulisan "LULUS" di dalamnya. Dan jika boleh berharap lebih, ingin mendapatkan nilai yang bagus agar mereka bisa masuk Universitas impian mereka.
__ADS_1
Para siswi memekik dan memeluk sahabat yang ada di sebelah mereka, termasuk Tiara yang langsung memeluk Pricilla bahagia. Sedangkan para siswa hanya bersorak gembira.
Tidak ada yang tidak lulus hari itu. Mereka dapat memulai kehidupan bersama tanpa ada yang tertinggal. Merasakan kebahagiaan bersama tanpa ada yang bersedih. Yang ada hanya rasa haru dan sedih akan berpisah dengan sahabat dan teman yang telah melewati bagaimana lelahnya belajar selama tiga tahun ini. Tertawa bersama, mengeluh jika dapat tugas tambahan, kesal kepada guru jika kena hukuman, bertengkar dan segala keusilan mereka kepada teman yang tidak akan mereka rasakan lagi setelah ini.
Jalan menuju kedewasaan sudah terbentang di depan mereka. Kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang akan menempa mereka menjadi dewasa. Memperjuangkan mimpi yang telah lama mereka cita-citakan. Penentuan masa depan mereka akan seperti apa.
"Sekarang, ibu minta lulusan terbaik untuk memberikan kata perpisahannya." semua siswa saling tengok, bertanya siapa lulusan terbaik tahun ini.
"Dengan nilai rata-rata.."
Anak IPA1 yang percaya pasti lulusan terbaik lahir dari kelas mereka, semua berharap jika nilai mereka yang di sebut oleh kepala sekolah.
"92,67.. atas nama Alvaro Kaisar."
Semuanya bertepuk tangan saat nama Alvaro di panggil untuk maju ke depan. Kecuali Tiara yang mendesah kecewa dengan hasil yang hanya berbeda 0,02 saja. Nilai yang sangat tipis dan menyebalkan. Lagi-lagi kalah dengan suaminya yang selalu menjadi idola mommy-nya.
"Gue lebih unggul lagi.." bisik Alvaro tepat di telinga Tiara ketika melewati gadis itu untuk maju ke depan.
Tiara berdecak dan melirik tajam. Namun dalam hati ia turut bangga mempunyai suami yang cerdas seperti Alvaro.
Sebenarnya jika mau, Alvaro dan Tiara serta beberapa siswa unggulan lainnya di tawari untuk loncat kelas saat duduk di kelas 11 lalu. Namun karena Tiara menolak dan lebih memilih menikmati masa SMA-nya sebagaimana mestinya, diam-diam Alvaro juga mengikuti keputusan Tiara tersebut.
*
*
*
Di lanjut besok ya.. Kalo gak males tapi 😁
__ADS_1
Aku lagi sedih soalnya level "My Annoying Soulmate" bulan ini turun 😭
Jangan biarin AlvaroTiara juga turun ya. Tinggalin jejak jangan lupa 🤗💕