DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Ingat Kebahagiaan yang Dia Beri Untuk Memaafkan


__ADS_3

Tiara tengah tenggelam dalam permainan piano. Memainkan lagu River Flows in You milik pianis idolanya-Yiruma.


Bermain dengan tempo pelan hingga tempo paling cepat, secepat kemampuan tangannya.


Piano seperti jiwanya. Dia akan melupakan segalanya ketika jari lentiknya sudah menari di atas tuts-tuts piano. Memejamkan mata dan menikamati permainannya sendiri. Biasanya.


Lagu selanjutnya yang menemani kesendiriannya adalah lagu yang mommy Shevi ciptakan. Disini ia baru bisa merasakan bagaimana beratnya mommy Shevi ketika hamil dan membesarkan dirinya seorang diri. Ia saja yang mendapat dampingan dari suaminya penuh selama hamil dan melahirkan kadang masih mengeluh.


Contohnya saat ini. Alvaro hanya sibuk bekerja dan belum bisa meluangkan waktu untuknya dan anak-anak. Dan itu pun tidak setiap hari. Hanya saat-saat tertentu saja.


Tapi kenapa dia bisa semarah ini?


Tapi tidak, yang membuatnya marah hanya karena ucapan Alvaro yang bilang banyak wanita manis di luar sana yang sering menggoda suaminya.


Dan mungkin jika itu di ucapkan ketika dia sedang tidak marah dan lelah, ia hanya akan mencibir dan menekuk muka. Tidak akan seperti semalam kejadiannya.


Tiara menghela napas. Kembali menyesali sikapnya yang meledak-ledak dan mudah terpancing. Meski disini tidak sepenuhnya kesalahan ada pada dirinya.


Tiara menggeleng keras. Sebenarnya ia sedang menyesal atau tidak? antara menyesal dan egonya yang tinggi. Ia sendiri bingung.


***


Setelah memastikan kedua buah hatinya tidak akan terbangun, Alvaro kembali menuruni tangga. Berbelok menuju ruang keluarga.


Kini lantunan lembut terdengar. Jika tidak salah itu adalah lagu yang berjudul If milik Taeyeon yang sering Tiara nyanyikan. Tapi kali ini wanita itu tidak bernyanyi. Tatapan matanya kosong entah kemana meski jari lentiknya menari dengan lincah diatas tuts-tuts piano tanpa ada yang terlewat.


Cukup lama Alvaro hanya berdiri di ambang pintu penghubung. Dan selama itu pula tatapan istrinya entah kemana hingga tak menyadari kehadirannya yang kini sudah berada di hadapannya. Berseberangan dengan Tiara dengan grand piano sebagai pembatas antara mereka.


Karena tidak ada tanda-tanda Tiara bangun dari lamunan yang entah apa, Alvaro mendekat, membungkukan tubuhnya dan memeluk perut istrinya dari belakang. Menyandarkan dagu pada bahu sang istri untuk bisa mengecup pipi halus yang seharian ini ia rindukan.


"Mikirin apa sih sayang.." tanyanya lembut. Tiara sempat kaget melihat dari tubuh wanita itu yang sedikit berjengit.


"Kapan pulang? anak-anak mana?" tanya Tiara yang kini fokus pada pergerakan jari-jari lentiknya.


"Anak-anak di kamar. Tidur di jalan tadi." jawab Alvaro yang kini berpindah posisi untuk duduk si sebelah sang istri.


"Bisa tidak kalau mau ajakin mereka bilang dulu? apa fungsi ponsel udah berubah?" nada suara Tiara masih dingin dan enggan menatap suaminya.

__ADS_1


"Maaf yank.. Tapi aku kan juga papanya anak-anak."


Tiara seketika menoleh dan menghunuskan tatapan tajam dan suara "Jreenng" yang memekakan telinga akibat sentakan jari Tiara di atas piano.


Alvaro hanya mengerjapkan matanya berkali-kali. Kali ini ia tidak tahu apa yang salah dengan perkataannya. Apa yang salah dengan dia bilang dia ayahnya anak-anak. Bukankah kenyataannya seperti itu?


Tanpa mengucapkan apa pun, Tiara berlalu begitu saja meninggalkan Alvaro yang masih terpaku di tempat.


***


Tiara merasa tenggorokannya kering ketika terbangun tengah malam. Ketika menggerakan tangannya, wanita itu tak menemukan sang suami yang biasa tidur di sampingnya. Kecuali semalam atau malam-malam ketika Alvaro pergi keluar kota urusan pekerjaan.


Kemana Alvaro tengah malam seperti itu belum tidur dan masuk ke dalam kamar.


Tadi selepas makan malam dan membacakan dongeng untuk buah hatinya, Tiara memang langsung masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya.


Ketika kelopak matanya sudah tidak bisa di ajak bekerja sama, akhirnya Tiara menyerah dan memutuskan untuk tidur tanpa menunggu sang suami masuk kamar seperti biasanya.


Dimana Alvaro setelah makan malam?


Tentu saja sedang berkencan dengan pekerjaannya di ruang kerja. Kemana lagi pria itu berada.


Tiara mengencangkan tali jubah tidurnya. Menurunkan kedua kaki dan membawa gelas kosong yang ada di atas nakas, keluar.


Dia akan mengambil air sekaligus mencari keberadaan suaminya.


Meski Tiara masih kesal dengan Alvaro, tapi ia tidak mau ayah dari anak-anaknya sakit karena terlalu keras dalam bekerja dan mengabaikan istirahat.


Ketika menapaki anak tangga satu persatu, dia mendengar suara televisi yang masih menyala. Dan wanita itu di buat menggeleng dengan keadaan ruang tengah.


Dimana Alvaro sedang memaki pada layar datar besar yang ada di sana dengan stik game berada dalam genggaman tangan kokoh yang seharusnya sedang memeluknya hangat.


Meja kaca dipenuhi dengan plastik kosong bungkus makanan ringan. Kaleng minuman soda juga berserakan di sana.


"Bukannya istirahat, malah main PS!"


Suara Tiara mengagetkan Alvaro yang langsung meringis dan menggaruk bagian belakang kepalanya.

__ADS_1


"Abis aku gak bisa tidur yank, sendirian." jawab Alvaro dengan menekuk wajah dan memajukan bibirnya. Persis seperti Fari ketika sedang merajuk.


"Emang udah gak punya istri, tidur sendiri?" kerus Tiara seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa yang bersebelahan dengan sang suami.


"Eh?" Alvaro melongo di buatnya.


Barusan Tiara memberi kode kalau dia boleh tidur di kamar bukan sih? batin Alvaro antara bingung juga girang.


"Ma-maksudnya aku boleh tidur di kamar yank?" tanya Alvaro mencari kejelasan. Dia tidak ingin langsung masuk kamar yang ternyata nantinya ia di usir lagi.


"Emang siapa yang ngelarang buat tidur di kamar?"


Alvaro tersenyum. Meski ekspresi dan nada suara istrinya belum bisa di bilang hangat, yang terpenting wanitanya sudah memberinya lampu hijau untuk tidur bersama lagi. Ternyata istrinya masih peduli. Alvaro bersorak dalam hati.


"Tapi kalau gak mau ya gak apa-apa. Tidur aja disini bareng-"


"Aku mau!" seru Alvaro memutus kalimat Tiara yang belum selesai.


Bahkan Alvaro langsung mematikan game dan televisi.


Tiara menggeleng. Wanita itu jadi mengingat ketika mereka masih tinggal di apartemen. Ketika belum mengenal kegiatan malam yang melenakan, Tiara selalu di paksa untuk menemani suaminya begadang bermain game.


Jika mengingat masa awal mereka menikah ternyata lucu juga. Bahkan hal yang dulu sangat menyebalkan ketika di jalani. Saat ini ketika dia mengingat rasanya ingin tertawa.


Ternyata hal-hal yang kita lewati, meski memalukan sekalipun. Ketika sudah menjadi kenangan akan terasa berharga dan mengundang tawa ketika mengingatnya.


Kecuali kenangan yang menyakitkan dan menyedihkan mungkin. Karena luka akan tetap menjadi luka. Hanya bagaimana kita menyikapi dan menutupi luka itu dengan kebahagiaan.


Dan kini Tiara lebih bisa memaafkan kesalahan suaminya. Karena satu kesalahan tidak bisa dibandingkan dengan seribu kebahagiaan yang sudah suaminya berikan.


Ketika pasangan kita berbuat salah. Ingat juga apa yang sudah ia lakukan untuk membuat kita bahagia. Tapi tergantung seberapa besar juga kesalahan yang pasangan kita lakukan.


Dan kesalahan Alvaro kali ini jauh, jauh dan jauh tidak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan yang pria itu beri.


"Beresin dulu mejanya. Kerjaan bibi udah banyak!" seru Tiara yang sudah melangkah ke dapur untuk mengambil minum.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2