DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Kenapa Jadi Seperti Ini?


__ADS_3

Ada yang merasa terkhianati. Ada yang marah. Ada yang kecewa. Ada yang merasa di bohongi. Dan satu rasa yang sama kedua perempuan itu rasakan. Sakit.


Keduanya sakit oleh pria yang sama. Pria yang mereka sama-sama cinta dan percaya.


Hanya bedanya antara yang berhak dan tidak.


Disini Tiara berhak marah. Jelas. Dengan hati remuk redam meski masih bisa menguasai emosinya agar tak pecah disana. Mama muda itu bawa kakinya melangkah menuruni tangga dengan berat. Tangga yang tidak terlalu tinggi itu serasa panjang dan sulit untuk ia lewati.


Berulang kali Tiara menarik napas dan menghembuskannya kuat agar air matanya tak tumpah. Agar setidaknya ia tidak terlihat menyedihkan dimata selingkuhan suaminya itu.


Dibawah orang-orang menatapnya iba. Membuat ia tertawa getir.


"Lo tau, Bob?" suaranya lemah tapi masih terdengar. Bobby mengangguk dengan perasaan bersalah.


"Lo juga tau, Dik?" Dika dengan santai mengangguk. Dia sudah berulang kali memperingati Alvaro. Tapi bosnya itu sendiri yang bebal dan tak mau mendengarkan. Jadi rasakan saja sendiri akibat perbuatannya itu.


"Kalian semua juga tahu?" tatapan Tiara berpindah dari satu karyawan ke karyawan lain. Dan semuanya mengangguk.


Lagi-lagi Tiara tertawa getir. Tawa yang lemah tanpa cahaya. Merasa dibodohi dan dibohongi. "Kalian semua tahu dan tidak ada satupun yang memberitahu saya?"


Nada sakit begitu terdengar di telinga semua orang yang mendengar. Dan tak ada yang berani menjawab. Hanya raut menyesal yang mereka berikan.


"Anak-anak dimana? ada yang bisa tolong antar kami pulang? atau pesankan taxi juga gak papa."


Bobby menghela napas dan membimbing Tiara untuk duduk. "Biar gue yang anter pulang. Gue panggil anak-anak dulu di cafe."


Anak-anak memang di ajak Nila untuk ke cafe membeli es krim. Mencegah bocah itu mendengar pertengkaran orang tuanya.


"Kuasai diri lo. Jangan sampai anak-anak lihat mamanya sedih." Dika menepuk bahu wanita yang pernah di cintainya itu.


Tiara menunduk. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


***


Sedang di atas sana, Alvaro yang sudah akan menyusul sang istri langsung berhenti begitu tangannya di tarik oleh Pita.


"Urusan kita belum selesai!"


"Sori, Pit. Gue harus nyusul istri gue." Alvaro mencoba melepaskan cekalan tangan Pita pada lengannya.

__ADS_1


"Lo anggap gue apa sih, Al? setelah lo sakitin perasaan gue, lo tinggalin begitu aja?" Pita menggeleng tak percaya. Pria yang ia cintai selama ini ternyata tak pernah menganggapnya lebih. Tak pernah memperdulikannya.


Alvaro diam. Sesekali matanya melirik ke arah tangga berharap semoga istrinya belum pergi.


"Gue yakin lo juga ada rasa kan sama gue? lo jelas beda ke gue di banding ke temen-temen kita yang lain di kampus! jawab, Al! lo juga ada rasa kan sama gue!"


Pita terus saja meneriaki Alvaro dengan nada tinggi. Meluapkan amarah dan rasa sakit dalam dirinya.


"Sori, Pit. Gue gak pernah bermaksud buat nyakitin, lo. Dan sekali lagi, Sori, istri dan anak-anak gue lebih penting."


Alvaro dengan tega meninggalkan Pita yang meraung menangis. Gadis itu bahkan sampai terduduk, masih meraung dan memukuli dadanya yang terasa sesak. Merasa di campakkan.


Mungkin ia memang terlalu berharap. Mungkin sebenarnya memang selama ini Alvaro tidak ada rasa terhadapnya. Tapi bukan salahnya juga ia berpikir mereka memiliki rasa yang sama ketika Alvaro mau membantunya. Menghabiskan waktu bersama setiap hari beberapa bulan tentu membuat Pita mensalah artikan kedekatan mereka.


Tak ada yang benar-benar salah di sini. Dan tak ada yang benar-benar paling menjadi korban. Semua salah, dan semua juga korban. Karena semua tersakiti.


"Mana Tiara?" cecar Alvaro pada karyawannya yang masih berkumpul di bawah. Tapi tak ada istri juga anak-anaknya di sana.


"Baru keluar. Mau di antar Bobby pulang." jawab Dika, menggerakan dagunya ke arah pintu keluar yang belum lama dilalui Tiara.


"Tolong anterin Pita pulang, Dik!" pesan Alvaro sebelum berlari menyusul istrinya.


Dika menggeleng dan mendengus. "Siapa yang bikin ulah, gue juga yang ikut kebagian." gerutu pemuda itu yang tetap menuruti perintah atasannya.


***


Alvaro langsung menggendong Vindra yang sudah akan menaiki mobil Bobby di kursi belakang.


"Pulang bareng aku aja, yank."


Tiara menghela napas. Sungguh ia butuh waktu sebentar saja untuk menguasai hatinya. "Selesaikan aja dulu masalah sama cewek itu. Gue pulang bareng Bobby aja."


Tiata sudah akan mengambil Vindra dari gendongan Alvaro. Ketika pria itu berseru dengan nada tinggi.


"Aku bilang, pulang bareng aku!!"


Vindra terlihat jelas takut. Begitu juga Fari yang sudah duduk manis di dalam mobil.


"Mamaaaa..." cicit Vindra dengan bibir bergetar yang sebentar lagi pasti akan menjadi tangis.

__ADS_1


Tiara menghela napas dan mengalah untuk anak-anak. Ia tak ingin anak-anaknya takut pada papanya sendiri.


"Ayo abang. Kita pulang bareng papa." ajak Tiara pada Fari yang langsung bersorak.


"Yeeyyy papa!!"


"Thank's ya, Bob." ucap Tiara menepuk bahu sahabat suaminya itu dan berlalu mengikuti sang suami yang berjalan menuju mobilnya.


Tiara duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi yang sudah di bukakan oleh Alvaro. Fari Alvaro ambil alih dan duduk di belakang dengan saudara kembarnya.


Sepanjang jalan Tiara hanya diam dan memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Mama.. alan-alan.."


"Gak jadi sayang. Besok lagi aja ya.. mama capek ingin pulang terus bobo."


"Abang au alan-alan.." rengek Fari. Sedangkan Vindra tetap duduk tenang tak bersuara. Tapi dari sorot matanya, Tiara bisa melihat permohonan di dalamnya.


"Besok lagi ya sayang.. Besok kita main bareng Oom Raka sama aunty Reina."


"Kita mampir aja dulu. Kasihan anak-anak ingin jalan-jalan. Mumpung sudah di luar juga kan?"


Tiara menatap suaminya tak percaya. Mumpung sudah di luar katanya? tak tahukah Alvaro jika hatinya sedang hancur saat ini. Jika perasaannya sedang tak karuan. Tak tahukah jika sejak tadi ia sudah berusaha keras menahan amarah yang siap membeludak. Tangis yang siap tumpah?


"Ayoo maaa.. main..." Fari terus saja merengek bahkan menangis ingin jalan-jalan sesuai janji yang mamanya berikan pada mereka saat di rumah tadi.


"Mama bilang besok, ya besok!" seru Tiara kelepasan. Karena sungguh kepalanya sudah mendidih dan siap meledak. Jadi di pantik sedikit saja, ia tak kuasa menguasai diri.


"Huaaa... Mama dahat.. Mama malah..." Fari semakin berteriak menangis. Disebelahnya Vindra juga menunduk takut. Jari mereka saling menggenggam. Jika tidak duduk di carseat pasti mereka sudah saling berpelukan.


"Maaf sayang.. Mama capek. Jadi abang sama ade juga dengerin mama biar mama gak marah."


Tak ada ibu yang tak menyesal setelah membentak anaknya. Apa lagi Tiara yang tidak pernah melakukan hal tersebut. Hatinya sakit melihat anaknya ketakutan seperti itu.


"Maafin mama sayang.." Tiara tak kuasa untuk tak ikut menangis. Yang justru semakin membuat kedua buah hatinya semakin keras menangis.


Alvaro menghela napas dan memijit pelipisnya. Kenapa semua jadi seperti ini?


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2